Terpaksa Menikahi CEO Duda

Terpaksa Menikahi CEO Duda
Sayang


__ADS_3

''Mas.'' Panggil Elena pelan sambil menggerakkan tangannya.


Shaka yang melihat itu langsung beranjak dari duduknya menuju ke ranjang Elena.


''Sayang.''


''Apa kamu butuh sesuatu.?'' Tanya Shaka.


Kata sayang yang di ucapkan Shaka membuat Elena terdiam mendengarnya.


Elena tidak mengatakan apa yang dia butuhkan pada Shaka. Dia justru memperjelas panggilan Shaka.


''Mas, kamu panggil aku apa.?''


''Emang aku panggil kamu apa?'' Tanya Shaka balik.


Shaka sadar bahwa dia terlalu refleks memanggil Elena dengan kata sayang.


''Kamu butuh sesuatu, biar aku ambilin.'' Ucap Shaka mengalihkan perhatian Elena.


Elena tak lagi ingin membahas panggilan Shaka, karena dia sudah sangat haus.


''Hm..''


''Mas aku haus.'' Ucapnya lemah


''Baiklah, sebentar.''


Shaka yang mendengar permintaan Elena langsung mengambilkan air dan segera membawa Elena untuk posisi duduk di ranjang.


Shaka membantu Elena minum dengan lembut.


''Sudah mas, makasih.''


''Ya sudah, lanjut lagi yah istirahatnya.'' Ucap Shaka yang ingin Elena kembali istirahat.


''Nggak mas, aku mau sandaran aja, boleh benerin ini nggak.?'' Ucap Elena sambil menunjuk ranjang di punggungnya.


Shaka langsung mengubah ranjang Elena sesuai yang Elena minta.


''Seperti ini sudah nyaman.?'' Tanyanya.


''Udah mas, gini aja. Makasih.''


''Mas bagaimana keadaan ayah.?''


''Aku belum sempat bicara dengannya. Sudah berapa lama aku seperti ini.?''


Elena sudah ingat kejadian yang menimpa dirinya. Pada saat itu dia belum sempat bicara dengan ayahnya.


Elena sangat ingin tau keadaan ayahnya saat ini, mengingat hari itu ayahnya sedang drop.


''Ayah sudah lebih sehat sekarang. Ayah selalu nanyain kamu, tapi aku nggak berani beritahu ayah keadaan kamu.''


''Kamu cepat pulih yah, biar kita bisa segera jenguk ayah.'' Jawab Shaka sambil mengelus kepala Elena.


''Hm.'' Elena mengangguk.

__ADS_1


''Oh iya mas kabar anak-anak gimana.?''


''Aku rindu sama mereka juga.''


''Kamu nggak rindu denganku.?''


Bukannya menjawab Shaka malah menanya balik Elena. Bagaimana bisa dia nggak menanyakan dirinya sama sekali. Itulah yang terlintas di benaknya.


Di saat dia hampir setengah mati kwatir melihat keadaannya, setelah sadar dia malah menanyakan anak-anak bukan dirinya.


Terlebih anak-anak adalah darah dagingnya dengan mendiang istri pertamanya.


''Mas kamu kan ada di sini saat aku sadar, ya ngapain lagi aku nanyain kamu. Aku memang rindu dengan anak-anak.'' Jawab Elena menjelaskan.


''Aku akan minta pak Mul membawa anak-anak hari ini. Mereka juga ingin melihatmu. Aku melarangnya karena keadaan kamu belum pulih. Aku takut kalau mereka menggangu kenyamanan istirahat kamu.''


Shaka memang sangat kwatir ketika anak-anak ingin minta melihat Elena. Shaka takut anak-anak akan ikut sedih mengingat hubungan mereka sudah lebih dekat.


...***...


Jam sudah menunjukkan pulang sekolah pak Mul sudah di sekolah anak-anak untuk menjemput.


Pak Mul juga sudah mempersiapkan kebutuhan anak-anak. Pak Mul berencana langsung ke rumah sakit tanpa harus pulang ke rumah.


Anak-anak Shaka sangat semangat dan gembira ketika di ijinkan menjenguk Elena.


Beberapa hari tidak ketemu membuat mereka rindu aktivitas yang mereka lakukan setiap hari.


Tanpa menunggu lama mereka akhirnya berangkat ke rumah sakit.


''Halo tuan, kami sudah sampai di rumah sakit.'' Pak Mul menghubungi Shaka.


Anak-anak berlarian menuju lift ke lantai 2, membuat pak Mul sedikit kwatir.


''Pelan-pelan nak.'' Ucapnya sambil mengikuti langkah kaki anak-anak.


''Ayah..'' Manse yang melihat Shaka langsung berlari kepelukan Shaka.


''Ayah.'' Hana juga ikut memeluk ayahnya.


Evan yang dingin masih terlihat cuek, dan hanya menyapa ayahnya.


''Kaka kenapa Kaka bisa sakit.?'' Manse beralir ke Elena.


Elena yang melihat anak-anak sambungnya datang sedikit terharu.


Waktu yang mereka lewati sudah membuatnya sangat nyaman dan menyukai anak-anak. Elena tidak peduli jika mereka hanya anak sambung, dia sudah dengan tulus memberikan kasih sayangnya untuk anak-anak.


''Maafkan aku.'' Ucapnya sambil melihat ketiga anak itu secara bergantian.


Air mata Elena tidak bisa di tahan lagi, dia menangis melihat respon anak-anak Shaka yang ikut sedih melihat keadaannya.


Shaka langsung mendekat dan mengelus kepalanya.


''Jangan menangis, kamu membuat mereka sedih.'' Ucapnya.


''Aku sudah membuat kalian semua kwatir, aku minta maaf. Aku sudah tidak becus menjaga diri sendiri.''

__ADS_1


Anak-anak Shaka akhirnya memeluk Elena. Walau hanya memeluk sebisanya mereka karena posisi Elena yang sandaran di atas ranjang.


''Sudah sebaiknya jangan ada yang menangis. Kita harus tersenyum agar Elena cepat pulih dan bisa kembali pulang sama sama di rumah.'' Ucap Shaka.


''Nona semoga cepat pulih, rumah sangat sepi beberapa hari tanpa nona.'' Ucap pak Mul membuat Elena sedikit tersenyum.


''Makasih pak.'' Jawabnya.


Mereka melanjutkan aktivitas ngobrol sambil bercandanya bersama-sama. Walau Elena di atas ranjang tapi tetap bisa melihat dan mendengar ocehan Manse dan Hana.


...***...


Ken sudah mendengar kabar Elena yang sudah sadar dan pindah ruangan inap. Dia berencana akan ke rumah sakit berkunjung.


Sepulang dari kantor dia memutuskan untuk langsung ke rumah sakit.


''Halo Nona saya sangat senang mendengar nona telah sadar.'' Ucap Ken yang langsung masuk ke ruangan Elena setelah mengetuk.


''Makasih Ken sudah kwatir padaku.'' Ucap Elena.


Ken menelisik semua ruangan Elena tak melihat Shaka di sana.


''Tuan Shaka dimana nona.?'' Tanya Shaka.


''Ah lagi keluar Ken, tadi ngantar anak-anak pulang, mungkin sebentar lagi balik.'' Jawab Elena.


Keadaan Elena sudah lebih baik sekarang, apalagi sejak bertemu dengan anak-anak membuat semangatnya seolah-olah bangkit.


Mendengar jawaban Elena Ken hanya mengangguk tanda mengerti.


''Silahkan duduk Ken, sebentar lagi mas Shaka akan sampai.'' Ucap Elena.


Setelah beberapa saat menunggu Shaka belum juga kembali. Elena dan Ken juga tidak melakukan obrolan setelah menyapa tadi.


Ken sudah mulai sungkan mengingat Shaka sudah mulai menunjukkan perasaannya pada Elena.


Elena butuh ke kemar mandi. Dia sudah sangat tidak bisa menahannya lagi. Elena memutuskan untuk meminta bantuan Ken.


Elena sudah menganggap Ken saudara laki-lakinya jadi tidak masalah jika dia meminta bantuan Ken.


Elena masih berusaha menahan, siapa tahu Shaka sudah sampai. Tapi setelah beberapa saat menunggu kehadiran Shaka belum juga muncul.


''Ken tolong bantu aku, aku butuh ke kamar kecil.''


''Aku ingin menunggu mas Shaka tapi sepertinya masih agak lama.''


''Maaf, aku harus minta bantuan mu.''


Elena meminta Ken membantu dia ke kamar kecil.


''Ah tidak apa-apa nona. Mari saya bantu.'' Jawab Ken sambil berjalan keranjang Elena.


Ken membantu Elena turun dari ranjang lalu memapahnya berjalan menuju kamar mandi.


Ken menunggu di depan pintu kamar mandi.


Shaka baru saja sampai di ruangan Elena.

__ADS_1


''Ken apa yang kamu lakukan..?'' Tanya Shaka dingin.


...****************...


__ADS_2