Terpaksa Menikahi CEO Duda

Terpaksa Menikahi CEO Duda
Shaka menemui Mitha


__ADS_3

''Halo. Bisa kita bertemu.? Baiklah, aku akan mengirim alamatnya.''


Shaka berencana menemui Mitha. Ya orang yang berbicara dengan Shaka lewat telepon adalah Mitha.


Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, Shaka memanggil sekretarisnya ke ruangannya untuk memberitahukan tugasnya.


''Permisi tuan.'' Mila mengetuk pintu ruangan Shaka.


''Silahkan masuk.''


''Apa ada yang tuan butuhkan?'' Mila berjalan mendekat ke meja Shaka.


''Mila, mulai hari ini Ken sudah cuti sampai waktu yang tidak ditentukan. Saya ingin untuk sementara kamu menggantikan mengurus tugasnya. Apa kamu bersedia.?''


''Mengurus tugasnya? Jadi saya harus mengantar jemput tuan juga?'' Tanya Mila hati-hati.


''Tidak, kamu hanya perlu mengurus tugasnya selama di kantor dan di luar kantor.''


''Baik tuan.''


''Jadwal saya kedepannya kamu yang urus, semua berkas kerjasama perusahaan kamu urus seperti biasanya. Kalau kamu butuh sesuatu untuk di tanyakan, hubungi Ken.'' Jelas Shaka.


''Baik tuan, saya mengerti.''


''Kalau begitu, pulanglah. Besok kamu akan sibuk.''


''Kalau bos belum pulang, sekretaris juga belum bisa pulang tuan.'' Ucap Mila hati-hati, karena selama ini Ken selalu menekankan kalimat itu ketika dia hendak pulang duluan dari kantor.


''Saya sudah mau pulang. Saya hanya ingin memberitahukan tugas barumu. Jadi mulai besok kamu harus mengatur semuanya. Sekarang pulang lah.''


''Baik tuan, kalau begitu saya permisi.'' Mila berlalu meninggalkan Shaka di ruangannya.


''Mulai besok aku akan semakin sibuk. Baiklah mari kita pulang.'' Shaka bermonolog sendiri.


Dia menuju tempat dia akan menemui mitha. Sesampainya di restoran Shaka memarkirkan mobilnya. Dia nyetir sendiri karena sejak siang dia sudah menyuruh supirnya untuk pulang lebih awal.

__ADS_1


"Mas, kamu sudah sampai. Duduk dulu. Kamu tumben ngajak bertemu." Ucap Mitha langsung ketika Shaka sudah ada di depannya berdiri.


Shaka duduk di depan Mitha.


''Ayok mas, kamu pesan makan dulu.'' Mitha menyodorkan menu restoran ke depan Shaka.


''Aku tidak akan lama.'' Shaka menggeser menu yang di depannya ke samping.


''Atau pesan minum dulu mas. Ini mbak nya udah nungguin.'' Mitha belum kehabisan akal untuk meminta Shaka memesan sesuatu di restoran itu.


''Kalau begitu, saya pesan orange juice aja.'' Ucapnya ke waitress yang sedang menunggu Shaka memesan.


''Mitha aku tidak akan berlama-lama. Aku hanya ingin memintamu untuk lebih pengertian dengan Elena.''


''Maksud kamu apa mas.?'' Tanya Mitha bingung.


''Hari ini Elena sudah berusaha meluangkan waktunya untuk menjemput anak-anak, tapi kamu mendadak menjemput anak-anak tanpa mengabari lebih dulu. Aku memang sudah memberimu ijin bertemu anak-anak tapi tidak seperti ini Mitha.''


''Elena juga berhak atas anak-anak. Ke depannya kamu harus mengabari lebih dulu jika akan menjemput anak-anak.''


''Apa Elena yang meminta kamu menemui ku. Kenapa bukan dia aja yang datang mas?'' Bukannya menjawab, Mitha justru mengatakan hal yang paling di benci Shaka.


''Kenapa bukan Elena aja yang mengabari ku lebih dulu mas. Kenapa harus aku, aku lebih berhak atas anak-anakku di banding dia.'' Mitha tersulut emosi karena ucapan Shaka.


''Tapi kamu sudah keterlaluan hari ini. Kamu tidak tahu bagaimana dia bisa berusaha agar bisa di terima oleh anak-anak. Dia benar-benar tulus menyayangi anak-anak. Jadi jangan merusak hubungan mereka.''


''hah.. Mas aku tau kamu menjadikannya ratu, bahkan paman pun menjadikannya wanita yang kaya mendadak tapi tidak dengan anak-anak mas. Aku lebih berhak atas anak-anakku dibanding dia. Aku nggak mau menerima permintaan kamu. Biarkan Elena yang mengabari ku lebih dulu jika hendak menjemput anak-anak.''Ucap Mitha tidak ingin mengalah pada Elena.


''Mitha, kamu jangan seperti ini. Aku sudah memberimu ijin bertemu anak-anak dengan bebas. Tapi kamu harus ikuti apa yang aku minta.''


''Aku tidak mau mas. Kamu juga harus mikirin perasaanku sebagai ibu yang melahirkan mereka. Kamu sudah menceraikan aku, jadi biarkan aku dengan bebas menemui anak-anak tanpa harus meminta ijin pada istrimu itu.''


Shaka menarik nafas panjang untuk menenangkan hatinya yang hampir tersulut emosi karena ucapan Mitha. Dia juga bisa mengerti perasaan Mitha, tapi apa yang dia lakukan hari ini salah. Dia dengan mendadak menjemput anak-anak setelah selama ini dia hanya menemui anak-anak sepulang sekolah.


''Baiklah, aku akan membicarakan ini dengan Elena.''

__ADS_1


''Kenapa harus bicara dengan dia. Ini urusan antara aku dan kamu mas. Dia tidak ada sangkut pautnya dengan anak-anak.''


''Tapi dia istriku, dia berhak tahu hal yang berhubungan dengan anak-anak.''


''Mas, aku tidak mau anak-anak juga di atur oleh dia. Kamu menjadikannya ratu tapi aku tidak bisa melakukan hal yang sama denganmu. Dia sudah bersama dengan anak-anak di rumah. Aku hanya bertemu mereka setelah pulang sekolah. Kamu sangat egois mas, kamu sangat tega padaku. Aku ibu mereka mas, aku yang berhak atas mereka.'' Ucap Mitha sambil meneteskan air mata. Dia merasa sangat sedih karena Shaka ingin membatasi waktunya bersama anak-anak dengan peraturan yang dia buat demi kepentingan istrinya.


''Mas tolong jangan lakukan itu. Aku sudah berpisah lama dengan anak-anak. Sekarang aku ingin menebusnya, jangan batasi aku dengan anak-anak.'' Mohon Mitha.


''Mitha aku tidak membatasi hubunganmu dengan anak-anak, tapi aku hanya butuh pengertianmu dengan kehadiran Elena.''


''Itu namanya kamu membatasi ku mas, kamu ingin semua yang terbaik dengan istrimu tapi tidak denganku. Mas aku mohon, jangan lakukan itu.''


''Baiklah baiklah, aku tidak akan memintamu melakukan itu.'' Shaka merasa tidak enak karena Mitha menangis dan hal itu membuat dirinya jadi bahan tontonan orang yang ada di restoran itu.


''Berarti aku bebas menemui anak-anak tanpa embel-embel harus bicara dengannya dulu.?''


Shaka mengangguk tanda setuju. Walau dengan terpaksa dia harus membuat Mitha segera berhenti menangis.


''Makasih mas.''


''Stop!'' Shaka menolak Mitha yang hendak memeluknya tiba-tiba.


''Tidak perlu melakukan itu, aku menerima ucapanmu.''


''Sekarang aku harus kembali.'' Shaka berdiri hendak pergi namun terhenti karena Mitha juga berdiri.


''Mas aku tidak bawa mobil, aku akan ikut ke rumah, nanti aku di jemput supir ke rumah. Aku akan menemui anak-anak sebentar.''


''Kamu kan bisa minta jemput supir ke sini kenapa harus ke rumah. Kamu sudah bertemu dengan anak-anak.'' Shaka menolak Mitha.


''Mas, supir lagi ada urusan dan bisanya agak malam. Kalau nggak kamu antar aku pulang aja. Aku ke sini di antar Kaka Randy. Sudah pasti kak Randy sudah di rumah atau mungkin lagi ada urusannya di luar. Kamu kenapa sih tinggal antar aja atau kita ke rumah aja.''


Shaka berpikir mana yang lebih baik akhirnya dia memilih untuk mengantar Mitha pulang ke rumah.


''Baiklah, aku akan mengantar mu pulang.''

__ADS_1


Shaka dan Mitha keluar dari restoran menuju ke parkiran tempat mobil Shaka berada.


...****************...


__ADS_2