
''Aku sudah berencana setelah dari sini aku hendak bertemu denganmu, nggak kusangka kita justru bertemu di sini sayang.''Ucap pria itu mendekati Elena hendak memeluknya.
''Sayang.?''Amran mengulangi kata sayang yang di ucapkan koleganya.
''Amran tolong tunggu saya di luar, ada yang ingin saya bicarakan dengannya.''
''Apa nona mengenal tuan Radit.?''
''Hmm.. tolong berikan kami waktu sebentar.'' Pinta Elena membuat Amran keluar dari ruangan itu.
''Apa kabar.?'' Radit tersenyum menarik Elena ke pelukannya.
Elena terkejut karena tiba-tiba di tarik Radit, alhasil dia tidak bisa menghindar dari pelukan Radit.
''Jangan lakukan ini Radit, lepaskan aku.''
''Biarkan seperti ini sebentar. Aku sangat merindukanmu. Aku mendengar kabar soal paman, aku turut bersedih atas kepergian paman.''
''Lepasin Radit, aku sudah nikah.!''
Radit melepaskan pelukannya tiba-tiba.
''Menikah.? Jangan bercanda kamu Len, candaan mu nggak lucu tau.'' Radit menanggapi ucapan Elena dengan santai.
''Aku nggak bercanda.'' Elena menunjukkan jari manisnya yang sudah di isi sebuah cincin. Ya cincin pernikahan mereka sudah di pakainya sejak dia dan Shaka saling menyatakan cinta.
''A.apa.! Kamu nikah sama siapa?''
''Aku nikah sama mas Shaka. Shaka Sanjaya kupikir kamu pasti mengenalnya.''
''Ck. Kamu bahkan memanggilnya mas.''
''Apa yang harus kulakukan. Kabar pernikahanmu saja tidak pernah terdengar olehku. Aku sudah merencanakan semuanya sebelum kembali ke sini.''
''Kamu saja yang kurang update. Pernikahanku di muat di berita gosip.''
''Aku serius Len. Apa yang harus kulakukan. Rinduku saja belum terobati, mendengar kabar pernikahanmu membuat hatiku makin sakit.''
''Kamu sudah ninggalin aku, tidak ada yang perlu di sesali lagi.''
''Siapa yang ninggalin kamu. Kamu tahu tidak, aku di sebuah desa yang tidak memiliki koneksi. Aku di sana selama 6 bulan. Setelah kembali aku langsung menghubungimu, tapi tidak pernah masuk. Kamu ganti nomor.?''
''Ponsel lamaku hilang.''
''Len, aku nggak ninggalin kamu. Aku hanya terlalu sibuk sampai aku lupa mengabari kalau aku harus ke desa itu.'' Radit memegang kedua tangan Elena.
''Sekarang tidak ada yang perlu di sesali lagi. Aku sudah menikah dan aku bahagia dengan pernikahanku. Kuharap kamu bisa mengerti. Aku akan mendoakan yang terbaik untukmu.'' Elena melepaskan genggaman Radit.
Radit menarik nafas panjang mencoba menerima kabar pernikahan Elena.
''Maafin aku Dit. Mungkin itu jalannya karena kita tidak berjodoh. Aku berdoa untuk kebahagiaanmu. Bagaimana pun juga kita sudah berteman cukup lama.''
''Aku akan berusaha Len, kamu tenang saja. Aku akan sangat bahagia kalau kamu bahagia. Walau itu tidak bersamaku, aku akan menerimanya.''
''Aku minta maaf karena tidak memberitahu keadaanku saat itu. Mungkin keadaan akan berbeda jika aku tidak terlalu sibuk waktu itu.''
''Memang sudah jalannya kita Dit. Tidak ada yang perlu kita sesali.''
''Bagaimana dengan perusahaan ini. Aku tahu tuan Andy adalah pemilik perusahaan ini. Aku penasaran dengan siapa aku akan mengadakan rapat, berita pengganti tuan Andy belum di beritahukan padaku.''
''Sementara aku yang mengurus di bantu mas Shaka Dit, mungkin rapat berikutnya kamu akan ketemunya sama mas Shaka.'' Elena sengaja membawa nama suaminya agar Radit tahu kalau dia baik-baik aja dengan pernikahannya.
''Baiklah tidak masalah. Kuharap kamu bahagia Len.'' Ucap Radit tulus.
__ADS_1
''Makasih Dit, kamu juga.''
''Sekarang sudah jam makan siang, bagaimana kalau kita makan siang bersama.?'' Tanya Radit.
''Dit aku...''
''Ayolah Len, kita sudah lama tidak bertemu. Hanya makan siang.''Radit meyakinkan Elena.
''A.. baiklah, aku akan meminta asistenku ikut.''
''Len hanya makan siang. Kamu nggak perlu kwatir, aku hanya ingin makan siang denganmu.''
''Baiklah.'' Elena akhirnya menyetujui makan siang dengan Radit tanpa Amran.
*
*
Di luar ruangan Amran tampak gelisah melihat nona nya bertemu dengan seseorang yang sepertinya sangat dekat. Dia masih berpikir apa harus melapor pada Shaka atau tidak. Hanya saja belum ada tanda bahaya nggak mungkin kalau dia melapor padahal tidak ada masalah. Selama hampir 30 menit hatinya gelisah karena membiarkan tuannya dan pria lain berada di satu ruangan.
''Amran aku akan keluar sebentar untuk makan siang dengan tuan Radit.'' Elena mendekati Amran yang masih berada di dekat pintu.
''Nona yakin kenal dengan tuan Radit.?''
''Iya, kami saling kenal. Dia sahabat lamaku, kamu nggak perlu kwatir.''
''Baik nona.''
''Saya pinjam boss anda sebentar tuan Amran.!'' Radit berjalan meninggal Amran.
Amran kembali melanjutkan pekerjaannya, dia membiarkan Elena pergi dengan Radit. Nona nya sudah meyakinkan bahwa dia tidak perlu kwatir.
*
*
*
''Paman... '' Hana dan Manse langsung berlari memanggil pamannya.
''Halo paman , Bibi.'' Sapaan Evan pada pamannya.
''Halo anak-anak, ya ampun aku sangat merindukan kalian. Maaf paman sibuk jadi tidak bisa mengunjungi kalian.''
''Ayok, kita akan makan siang dulu. Apa kalian sudah lapar.?'' Tanya Nancy mengajak mereka makan siang bersama karena dia sudah menyiapkan makan siang untuk menyambut kedatangan mereka.
''Hmm.. Shaka Mitha masih di kamarnya. Aku akan meminta keluar setelah makan siang, kasian anak-anak pasti sudah lapar.'' Ucap Mitha hati-hati karena wajah Shaka masih datar sejak mereka sampai.
Mereka menikmati makan siang bersama dengan suasana yang dingin. Shaka dengan wajah datarnya dan Randy yang hanya sibuk berbicara dengan anak-anak tanpa sekalipun mengajak Shaka bicara.
Makan siang menegangkan akhirnya selesai, kini mereka sudah berada di ruang tamu. Hana dan Manse yang masih sibuk dengan mainannya. Evan sedang berbicara dengan Randy pamannya.
''Sayang, bibi ingin bicara sesuatu.'' Ucap Nancy hati-hati pada Evan.
''Aku sudah bicara pada Evan soal ibunya.'' Shaka menimpali ucapan Nancy.
''Benarkah, sayang apa kamu mau bertemu dengan ibu kalian.?''
''Ibu.?'' Hana mendengar kata ibu dari Nancy langsung mendekati bibinya.
''Bibi, kata ayah ibu kami sudah pergi jauh. Kamu nggak bisa bertemu dengannya.''
''Nak, ibu kalian telah kembali. Selama ini ibu kalian sedang mencari jalan pulang ke sini. Setelah menunggu waktu yang lama ibu kalian akhirnya sampai di sini. Apa kalian mau bertemu dengannya.?'' Ucap Nancy hati-hati.
__ADS_1
''Ibu..!'' Manse yang melihat kedatangan Mitha langsung berlalu dan Mitha langsung memeluknya.
''I..ibu.?'' Shaka yang bersandar di sofa kita heran dengan respon Manse melihat Mitha.
Bukan hanya Shaka semua yang ada di sana juga terkejut dengan respon Manse.
''Apa yang terjadi?'' Randy bertanya pada Mitha.
''Maafin aku mas, aku sudah sering menemui Manse dan aku memintanya untuk memanggilku ibu. Aku bersyukur responnya tidak menolak. Jadi saya sering menemuinya di sekolah.'' Mitha mendekat ke ruang tamu dimana semuanya berkumpul.
''Evan.. Hana..'' Tak terasa air mata Mitha jatuh. Dia mendekati Evan dan Hana.
''Maafin ibu nak. Ibu baru datang sekarang. Maafin ibu.''Mitha menangis sesenggukan memeluk anak-anaknya.
''Kenapa ibu baru datang sekarang.?''
''Ibu..''
Evan , Hana membalas pelukan ibunya dan menangis bahagia karena mereka bisa kembali bertemu ibunya.
Ada rasa kecewa di hati Evan karena ibunya terlalu lama kembali, tapi Shaka telah meminta padanya agar tidak terlalu kecewa pada ibunya.
Setelah beberapa saat mereka mencoba untuk menghindari kecanggungan di antara Mitha dan anak-anaknya.
''Shaka aku ingin bicara sebentar.'' Randy mengajak Shaka ke ruang kerjanya.
''Aku minta maaf karena memaksamu untuk menerima Mitha. Aku sudah menyerah dan merasa malu atas apa yang telah di lakukannya.''
''Sebelum kamu minta maaf, kamu mungkin sudah tahu jawabanku.''
''Aku tahu, tapi aku terlalu egois karena kamu selalu berada di atasku sejak dulu. Maafkan aku, aku terlalu ceroboh.''
''Aku sudah melupakan semuanya Ran, aku sudah menerima Mitha kembali pada anak-anak.Tapi maaf aku sudah mencintai Elena.''
''Cih.. bisa-bisanya kamu mengakui perasaanmu padaku. Aku ini Kakak iparmu.!''
''Tapi ini kenyataannya, aku membawa anak-anak menemui ibunya sebagai tanda bahwa aku sudah melupakan semuanya. Aku tidak ingin semuanya berlarut-larut dalam kekecewaan. Kita keluarga.''
''Kau memang pria sejati.''
Shaka dan Randy kembali ke ruang tamu. Manse sedang tidur, melihat itu Shaka berniat akan membawa mereka kembali pulang.
''Kami akan kembali pulang, weekend aku akan mengantar mereka kembali. Atau kamu kalau mau jemput mereka tidak masalah, asal tetap kasi kabar.''
''Makasih mas.''
Ketika bersiap untuk pulang, ponsel Shaka berdering.
''Halo sayang.''
''Mas gimana anak-anak bertemu dengan mba Mitha.?''
''Semuanya lancar sayang, kamu nggak perlu kwatir. Mereka anak-anak yang baik.''
''Ah baiklah.''
''Kamu dimana.?''
''Aku lagi mau makan siang mas.''
''Hmm baiklah, sampai jumpa nanti sayang.'' Shaka mengakhiri obrolannya dengan Elena.
Mendengar obrolan mesra itu ada sedikit rasa iri dalam diri Mitha. Tapi segera dia sadarkan diri karena semuanya sudah terjadi, tidak ada yang perlu di sesali. Dia ingin fokus dengan pilihannya.
__ADS_1
...****************...