
''Halo..''
''A..apa..?''
Bruk..Suara ponsel Shaka jatuh kelantai. Kakinya tidak mampu menahan tubuhnya.
''Mas.. !''
''Ada apa. Siapa yang menghubungimu.?'' Tanya Elena panik sambil berlalu ke arah Shaka.
''Pa.. paman..'' ucapnya lirih tidak mampu untuk melanjutkan ucapannya.
Shaka meneteskan air mata. Sungguh kabar yang sangat buruk untuknya.
''Paman kenapa.?''
''Mas, kamu tenang dulu. Paman kenapa. Jangan buat aku semakin panik mas.'' Tanya Elena sambil memeluk Shaka.
''Apa yang terjadi dengan tuan Andy?'' Tanya ayah Elena berjalan dengan pelan ke arah Shaka dan Elena.
''Ayah, pa..paman telah pergi.''
''Pergi untuk selamanya.'' Ucap Shaka terbata.
deg..
Ayah Elena turut sedih mendengar kabar paman Shaka. Dia sadar bahwa semua pada akhirnya akan kembali ke penciptanya.
Ayah Elena menarik nafas dan mencoba untuk kuat.
Elena ikut meneteskan air mata.
''Pa.. paman,'' ucapnya lirih.
Elena membawa Shaka untuk duduk di sofa begitu juga dengan ayahnya.
Shaka masih terlihat sedih sehingga tidak memiliki tenaga untuk berbicara.
Elena langsung menghubungi Ken.
''Ken, apa kamu sudah mendengar kabar paman Andy.?''
''Ya itu benar. Sekarang datanglah ke rumah sakit, aku tidak yakin kalau mas Shaka bisa mengurus semua ini sendiri.''
''Aku akan meminta supir untuk menjemput anak-anak dan pak Mul.''
''Baiklah, terima kasih.'' Elena memutuskan panggilannya dengan Ken.
Shaka dan Elena bersiap untuk berangkat ke rumah sakit tempat pamannya sempat di rawat.
''Ayah kami pergi dulu.''
''Ayah ikut nak.''
''Ayah aku akan meminta Ken membawa ayah. Tapi tidak sekarang.''
''Aku akan menanyakan pada dokter.'' Ucap Elena pada ayahnya.
Shaka dan Elena sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit tempat pamannya berada.
...***...
''Dokter apa yang terjadi dengan paman.?''
''Selama ini aku tidak diberitahu kalau paman sakit parah.''
''Bagaimana paman bisa pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun untukku.?''
Shaka melihat tubuh pamannya yang sudah membeku. Air matanya kembali menetes.
Shaka tidak tau harus berkata apa sekarang. Dia sudah janji akan menemui pamannya hari ini. Dia akan membawa Elena berasnya, tapi sebelum bertemu dengannya pamannya justru pergi untuk selamanya.
''Tuan Andy kena serangan jantung tuan.''
''Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi Tuhan berkehendak lain untuk tuan Andy.'' Jelas dokter.
__ADS_1
''Serangan jantung.?''
''Saya pikir paman tidak memiliki riwayat penyakit jantung.''
''Tomy apa yang terjadi.?'' Tanya Shaka pada asisten sekaligus kepercayaan pamannya.
''Maaf tuan, saya menemui tuan Andy di ruang kerjanya dengan kondisi sudah terjatuh di lantai.''Jawab Tomy.
''Tuan saya ingin berbicara dengan anda di ruangan saya.'' Ajak dokter Leo pada Shaka.
''Sebenarnya kesehatan tuan Andy beberapa bulan ini sudah menurun.''
''Tapi beliau tidak pernah mau di rawat di rumah sakit, hanya rutin melakukan perawatan terapi untuk membantunya bertahan.''
''Tuan Andy mengidap penyakit kanker. Saya dilarang untuk memberitahukan pada tuan. Beliau tidak ingin membuat anda semakin hancur.''
''Tuan Andy hanya menginginkan anda bahagia bersama dengan istri dan anak-anak anda.''
''Tapi.'' Dokter Leo menghentikan ucapannya.
''Tapi apa Dok.?'' Tanya Shaka penasaran.
''Penyebab tuan Andy meninggal bukanlah karena penyakitnya tapi karena serangan jantung tuan.''
''Beliau baru kontrol kemarin dan kondisinya masih tergolong baik.''
deg...
Jantung Shaka seolah berhenti berdetak. Apa yang sedang terjadi. Banyak pertanyaan yang ingin ditanyakan tapi seolah-olah mulutnya tidak mampu untuk mengucap.
Shaka adalah keponakan sekaligus anak bagi pamannya.
Paman dan bibinya tidak memiliki keturunan, di umur Shaka yang masih muda sudah kehilangan kedua orang tua. Akhirnya paman dan bibinya membesarkannya dan menganggap anak sendiri.
Shaka menarik nafas panjang, mencoba untuk menguatkan hatinya.
Kesekian kalinya dia harus merasakan betapa sakitnya di tinggal pergi oleh orang yang di sayanginya.
''Dokter bagaimana itu bisa terjadi.?''
''Bisa saja beliau mengetahui kabar yang sangat mengejutkan. Untuk kondisi kesehatan seperti beliau tidak baik jika ada hal yang membuat hati dan pikirannya terguncang.'' Jelas dokter Leo.
''Sebagai dokter pribadi beliau, saya tau kondisinya dengan jelas.''
Ucapan dokter Leo masih terbayang di telinga Shaka. Dia bertekad akan mencari kebenaran dibalik meninggalnya pamannya.
''Tomy cari tau apa yang sedang terjadi sebelum kejadian paman jatuh pingsan.''
''Ken akan menyiapkan semuanya sampai paman dimakamkan.'' Perintah Shaka.
...***...
Di rumah duka
banyak tamu-tamu yang berdatangan termasuk para kolega pamannya untuk mengirim doa atas kepergian pamannya.
Hari ini paman Andy akan diantarkan sampai ke peristirahatan terakhirnya.
Acara selesai dan berlangsung dengan baik. Kini hanya tinggal Shaka , Elena dan anak-anaknya.
Ken mengantar tuannya ke rumah agar bisa istirahat. Mobil yang di tumpangi menyelusuri jalanan tanpa ada yang berkata.
Anak-anak lebih memilih untuk tidur dalam perjalanan menuju ke rumah.
''Ayok anak-anak kita sudah sampai. Semuanya bersihkan diri masing-masing ya.''
''Pak Mul tolong bantu Manse.'' Pinta Elena.
''Baik non.'' Jawab pak Mul sambil membawa barang-barang yang di mobil masuk.
''Mas kamu juga harus mandi.'' Elena menghampiri Shaka yang duduk di sofa kamar mereka.
''Mas..'' Panggil Elena untuk menyadarkan Shaka.
''Oh.. Kamu bilang apa.?'' Tanya Shaka kebingungan.
__ADS_1
''Kamu mikirin apa.?'' Tanya Elena duduk di samping Shaka.
''Aku merasa banyak hal aneh terjadi akhir-akhir ini.'' Ucapnya.
''Tidak ada yang aneh mas, pada akhirnya kita semua akan pergi ke sana. Hanya saja setiap orang itu beda cara dan waktunya.''
''Kamu jangan terlalu lama larut dalam kesedihan mas.'' Ucap Elena sedikit tersenyum.
''Elena.''
''Hm..''
''Makasih sudah membantu mengurus semuanya. Aku sangat bangga padamu.'' Ucap Shaka.
''Mas sudah seharusnya aku melakukan itu. Kamu nggak perlu berterima kasih.''
''Sekarang lebih baik mas mandi dulu biar segar. Aku sudah siapkan airnya.'' Ucap Elena membuat Shaka bangun dari duduknya.
Tok..Tok
''Nona, makan malam sudah siap.'' Ucap pak Mul.
''Baik pak, kami akan segera ke sana. Tolong bawa anak-anak ya pak.'' Pinta Elena.
Makan malam keluarga pun selesai, dan kini mereka sedang duduk di ruang tamu.
Hal yang selalu mereka lakukan setelah malam malam selesai. Elena menatap Shaka dan anak-anaknya. Berharap hal ini tidak akan pernah di abaikan oleh mereka kelak.
Ponsel Shaka berdering.
Shaka menjauh dari ruang tamu.
''Hmm..''
''Apa kamu yakin?''
''Baiklah, segera temukan orang itu.''
''Besok saya akan ke kantor paman.''
Shaka mengakhiri panggilannya dan kembali duduk bersama dengan anak-anaknya.
Shaka sadar mulai besok dia akan semakin sibuk dengan segala urusan aset pamannya.
...***...
''Elena aku ingin mengatakan sesuatu sama kamu.'' Ucap Shaka pada Elena yang sedang bersiap untuk keluar menuju kamar Manse.
''Mas mau bilang apa.?''
''Sini.'' Shaka menepuk sofa di sebelahnya meminta Elena duduk di sana.
''Aku mau membatalkan surat kontrak pernikahan kita.'' Ucap Shaka dengan lantang.
''Oh..'' Elena tampak terkejut dengan ucapan Shaka.
''Maksud mas apa.?''
''Iya, aku ingin kita mengakhiri kontrak pernikahan itu. Aku ingin kita menjadi pasangan suami istri sah tanpa surat itu.''
''Aku tidak tau sejak kapan aku mulai menyukaimu. Rasanya sangat sulit bagiku untuk hidup tanpamu sekarang.''
''Aku ingin kita seperti pasangan normal.''
''Aku tau aku belumlah sempurna sebagai pasangan untukmu, tapi aku akan berusaha membuatmu bahagia. Aku ingin menepati janjiku pada ayah dan paman untuk menjagamu.''
''Aku sungguh -sungguh mengatakan bahwa aku menyukaimu.''
''Jadi..''
''Mati kita mulai dari awal.''
Tanpa pikir panjang Shaka akhirnya mengakui perasaannya pada Elena.
...****************...
__ADS_1