Terpaksa Menikahi CEO Duda

Terpaksa Menikahi CEO Duda
Shaka Sadar


__ADS_3

Pagi kembali menyapa, Elena bangun dari tidurnya ketika merasakan tangannya di goyang.


''Mas, kamu sudah sadar. Dokter..!'' Elena langsung menekan tombol untuk memanggil dokter.


''Mas kamu butuh sesuatu.?'' Tanya Elena sembari menunggu dokter datang. Tapi Shaka masih diam.


''Tuan Shaka sudah sadar. Apa tuan bisa mendengar saya.?'' Tanya dokter dan Shaka menjawab dengan anggukan kecil.


''Bisakah tuan menjawab saya dengan langsung. Bukan anggukan.''Pinta sang dokter.


''I..iya Dokter.''Jawab Shaka terbata.


''Bagus. Sekarang gerakkan jari tangan anda satu persatu.'' Shaka langsung menggerakkan jarinya satu persatu sesuai arahan dang dokter.


''Kerja bagus tuan. Sekarang kita beralih ke kaki anda. Bisakah anda menggerakkan jari kaki anda.?''


''S.sa.saya tidak merasakan apapun.'' Ucap Shaka.


Dokter langsung memegang kaki Shaka dan menekannya secara perlahan dan semakin kuat.


''Bagaimana dengan ini. Apa tuan merasakan sesuatu.?'' Sang dokter menekan dengan sekuat tenaga tapi di jawab gelengan kepala oleh Shaka.


''Baiklah tuan. Apa tuan butuh sesuatu.?'' Tanya dokter untuk mengakhiri pemeriksaannya.


''A..air.''


''Ini.'' Elena yang mendengar Shaka langsung sigap mengambil air dan langsung membantu Shaka minum dengan sedotan dan tersenyum manis pada Shaka.


''Makasih mas, sudah mau bangun lebih awal.'' Ucap Elena tersenyum pada Shaka.


''Kenapa kakiku tidak bisa bergerak?'' Bukannya menjawab Shaka malah bertanya balik pada Elena.


Dokter yang mendengar pertanyaan Shaka pun langsung mendekati Shaka.


''Tuan, anda mengalami kecelakaan yang cukup parah. Beruntung tuan langsung di bawa ke rumah sakit sehingga kita bisa langsung menangani tuan. Jadi.. ''


''Jadi apa dokter. Saya lumpuh.?'' Tanya Shaka pada dokter.


''Untuk saat ini hasil pemeriksaan tuan belum keluar. Saya akan segera memberitahukan pada anda hasilnya setelah keluar. Untuk saat ini saya belum bisa memastikan apakah kelumpuhan ini bersifat sementara atau permanen. Untuk saat ini kondisi tuan sudah melewati masa kritis, tinggal pemulihan dan menunggu hasil lab. Kami akan segera menghubungi tuan dan nona terkait hasilnya.''


''Baik dokter. Terima kasih.'' Ucap Elena.


''Saya permisi mau memeriksa pasien lain. Saya akan kembali dalam 1 jam lagi.'' Dokter keluar lagi ruangan Shaka.


''S sayang, gimana kalau aku lumpuh.?'' Tanya Shaka pada Elena yang sudah duduk di sebelahnya.


''Mas kamu jangan mikirin yang tidak-tidak. Dokter akan melakukan segala upaya supaya dugaan itu tidak terjadi. Sekarang kita fokus supaya kamu bisa pulih.''

__ADS_1


''Makasih sudah membuatku tidak menunggu terlalu lama. Aku dan anak-anak merindukan kamu.'' Elena memegang erat tangan Shaka.


''Gimana keadaan anak-anak?''


''Anak-anak baik mas. Mereka terkejut mendengar kabar kamu kecelakaan. Siang ini mereka akan ke sini. Evan selalu menanyakan keadaan kamu. Aku tidak tega menolak mereka supaya tidak datang ke sini.''


''Bagaimana kalau mereka melihat aku seperti ini. Aku sudah lumpuh.'' Ucap Shaka lemas.


''Mas, kamu tidak lumpuh. Itu hanya sementara. Dokter sudah memberitahukan padaku bahwa ini hanya akan sementara. Kamu jangan berpikiran aneh-aneh.''


''Sebaiknya anak-anak tidak usah ke sini. Ini demi kebaikan mereka. Aku tidak suka mereka melihatku seperti ini.''


''Aku ingin bicara dengan pak Mul. Dimana handphone ku?''


''Aku tidak tau, pakai handphone ku saja.'' Elena memberikan ponselnya pada Shaka.


Shaka langsung mencari nama pak Mul dan langsung menghubunginya.


''Halo nona. Bagaimana keadaan tuan Shaka.? Apa nona membutuhkan sesuatu?'' Pak Mul yang melihat nona nya menelpon langsung menghujani dengan pertanyaan. Dia merasa sangat kasihan melihat Elena yang sendiri mengurus Shaka.


''Pak Mul. ini saya. Jangan bawa anak-anak ke rumah sakit. Aku akan menghubungi mereka lewat telepon. Aku sudah baik-baik saja. Sementara ini jangan bawa mereka ke rumah sakit.'' Titah Shaka.


''Tuan, Oh syukurlah tuan sudah sadar. Baik tuan saya akan mengurus anak-anak. Tidak perlu kwatir, saya akan menjaga mereka dengan baik tuan.''


''Jika perlu antar mereka pada Mitha. Saya pikir lebih baik mereka bersama ibunya agar tidak memaksa datang ke rumah sakit.''


''Terima kasih. Saya titip anak-anak, saya akan segera pulang.'' Ucap Shaka mengakhiri panggilannya.


''Mereka mau di antar ke rumah mbak Mitha? Kenapa.?'' Tanya Elena sambil menerima ponselnya dari Shaka.


''Lebih baik mereka bersama ibunya dari pada datang ke sini.''


''Tidak mas, aku tidak setuju jika anak-anak harus ke rumah mbak Mitha. Mereka akan kasi tahu kamu kecelakaan dan mereka akan ikut panik. Biarkan mereka di rumah bersama pak Mul. Aku akan pulang melihat mereka sebentar.''


''Baiklah.''Ucap Shaka mengalah pada Elena yang sudah hampir memasang wajah cemberutnya.


''Mas kita ganti baju dulu ya. Aku akan membantu kamu bersihkan tubuhmu.'' Elena menyiapkan air dan pakaian ganti untuk Shaka. tidak lupa dia mengunci pintu terlebih dahulu takut kalau perawat atau dokter masuk dengan tiba-tiba.


45 menit berlalu, Elena telah selesai membersihkan tubuh Shaka dan mengganti pakaiannya. Sekarang Shaka kelihatan lebih segar. Tiba-tiba pintu di ketuk dari luar.


''Untung kamu sudah selesai mas, jadi tidak perlu mereka menunggu terlalu lama.'' Ucap Elena berjalan membuka pintu yang tadi di kuncinya.


''K Ken.!'' Elena terkejut melihat kedatangan Ken. Dia tau jelas kalau Ken sedang membawa kakaknya berobat di Singapura.


Halo nona. Bagaimana keadaan tuan Shaka.?'' Sapa Ken langsung.


''Kamu ngapain di sini.?'' Bukannya menjawab Elena justru menanyakan kedatangan Ken.

__ADS_1


''Nona apakah kehadiran saya tidak dibutuhkan lagi.?''


''B .. bukan begitu. Kamu bukannya di Singapura.?''


''Saya kembali ketika mendengar kabar tuan kecelakaan. Saya tau nona sendirian bahkan Amran pun sibuk dengan urusan kantor. Jadi aku memutuskan untuk kembali lebih awal. Kakak masih di sana, hari ini akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Nona tenang saja, kakak saya akan baik-baik saja. Ada Mitha yang menemaninya.''


''Mba Mitha.?'' Tanya Elena bingung. Bukannya Mitha baru tadi malam di antar suaminya.


''Iya nona. Mitha berangkat penerbangan pertama jadi dia akan menemani kakak di sana. Semuanya sudah saya atur, jadi saya bisa kembali dengan tenang.'' Jelas Ken.


''Nona sampai kapan kita berdiri di sini.?'' Tanya Ken yang masih berdiri di ambang pintu.


''Ah.. benar juga. Maaf. Mas Shaka sudah sadar.'' Elena membawa Ken melihat Shaka.


''Halo tuan, bagaimana keadaan anda.? Maafkan aku karena cuti mendadak sehingga tuan mengerjakan semuanya sendiri. Mungkin kalau aku tidak cuti semuanya ini tidak akan terjadi.''


''Apa maksud kamu.? Ini karena kelalaian saya bukan salahmu.!'' Ucap Shaka tegas.


''Ken, kamu jangan bicara seperti itu. Namanya kecelakaan kita tidak bisa memprediksi kapan akan terjadi. Mas Shaka sudah baik baik saja sekarang. Tidak ada yang perlu di salahkan.'' Jelas Elena yang tidak suka dengan ucapan Ken.


''Tapi tuan..''


''Tidak ada tapi-tapian. Semuanya akan baik-baik saja. Tidak ada yang perlu di kawatirkan.'' Potong Elena tegas.


''Bagaimana keadaan kakak kamu.?'' Tanya Shaka mengalihkan pembicaraan Ken yang merasa bersalah padanya.


''Kakak saya masih proses pemeriksaan tuan. Hari ini dokter sudah mulai menangani.''


''Kenapa kamu kembali. Kakak kamu lebih membutuhkanmu. Aku baik-baik saja.''


''Saya merasa tidak tenang di sana tuan. Saya bisa kembali kalau urusan di sini selesai. Lagian kaka di temani oleh Mitha.'' Jelas Ken membuat shaka mengerutkan keningnya.


''Mitha.?'' Tanyanya.


''Benar tuan, mendengar kabar tuan saya langsung menghubunginya supaya bisa menemani Kaka selama saya tidak ada.''


''Baiklah kalau begitu. Terima kasih Ken.'' Ucap Shaka tulus.


''Baiklah tuan, nona saya akan kembali ke rumah. Saya akan mengurus urusan kantor hari ini. Tuan dan nona tidak perlu kwatir. Saya akan urus semuanya. Tuan fokuslah untuk pulih.''


''Terima kasih Ken. Aku percayakan padamu.''


''Makasih Ken.'' Kini suara Elena.


''Baiklah tuan , nona saya pamit.'' Ken keluar dari ruangan Shaka menuju ke rumahnya. Bagaimana pun juga dia harus siap-siap ke kantor hari ini.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2