
''Sayang, kapan kamu akan memperkenalkan diri pada semua karyawanmu.?'' Tanya Shaka mengingatkan Elena bahwa dia harus mengurus perusahaan pamannya.
''Mas, bisakah kamu yang mengurusnya untukku. Aku harus mengurus ayah di rumah. Aku rasa sementara waktu ini aku hanya akan fokus mengurus ayah.''
''Kamu tahu kan mas, vonis dokter pada ayah beberapa bulan lalu. Sekarang sudah masuk bulan ke 4 keadaan ayah semakin baik dan sekarang sudah di rumah bersama kita.''
''Aku nggak mau menyia-nyiakan kesempatan ini mas. Ayah sudah merawat aku sejak kecil dengan baik. Aku ingin bisa bersama dengan ayah lebih lama.'' Ucap Elena panjang lebar menjelaskan betapa dia ingin mempunyai waktu lebih banyak dengan ayahnya.
''Sayang, maafkan aku. Aku terlalu sibuk dengan perusahaan sampai harus memintamu mengurus perusahaan paman.'' Balasnya.
''Bukan salah kamu mas, lagian paman yang ingin aku mengurusnya.''Balas Elena tersenyum.
''Baiklah sayang, aku akan meminta asisten paman mengurusnya.''
''Sayang, aku ada rapat di kantor. Bisakah kamu ikut aku ke kantor.?''
''Anak-anak...'' Ucapan Elena terhenti.
''Sayang, anak-anak sudah di urus oleh pak Mul, kamu nggak perlu kwatir soal mereka. Pak Mul mengurus mereka dengan baik.'' Ucap Shaka seolah tau apa yang akan Elena katakan.
''Kalau gitu aku mau ikut kamu ke kantor.''Ucapnya sambil tersenyum.
Shaka dan Elena menelusuri jalanan dari restoran ke kantor. Shaka ada rapat jam 15:00 dengan perusahaan kerjasama yang baru.
...***...
''Bagaimana dengannya.?'' Ken sedang berbicara dengan seseorang lewat telepon.
''Aku ingin dia mengakui bahwa Shaka adalah penyebab kecelakaan itu. Aku akan menggiring opini publik agar kecelakaan itu di selidiki kembali.'' Ucapnya penuh penekanan.
''Aku ingin kamu segera mengurusnya, buat dia segera muncul di hadapan Shaka.''
''Segeralah bertindak, aku tidak ingin menunggu lebih lama.''
Tut ..
Ken memutuskan panggilannya dengan sepihak. Dia sangat ingin mengakhiri hubungannya dengan Shaka.
Mengingat kondisi kakaknya yang masih belum ada kemajuan, membuat niat balas dendam nya semakin tinggi.
Entah nasib baik akan berpihak pada Ken karena niat buruknya, yang jelas dia mengikut Shaka untuk mencari tahu kebenaran tentang kecelakaan di masa lalu.
Ken sedang sibuk dengan monitor di depannya. Tiba -tiba sekretaris Shaka masuk ke ruangannya.
''Permisi tuan Ken, maaf tuan Shaka ada jadwal rapat pukul 15:00 , tapi sampai saat ini tuan Shaka belum kembali ke kantor.'' Ucapnya memberitahukan jadwal Shaka, walau sebenarnya Ken sudah tahu jadwalnya tapi Ken tidak sadar sekarang sudah pukul 14:30.
''Ah.. baiklah, saya akan mencoba menghubunginya. Kamu segera siapkan berkas untuk rapat.'' Perintah Ken.
''Baik tuan, kalau begitu saya permisi.'' Sekretaris Shaka keluar dari ruangan Ken.
Ken mencoba menghubungi Shaka untuk mengingatkan jadwal rapatnya.
''Halo tuan..'' Ken hanya menyapa tapi Shaka langsung tahu tujuan Ken menghubunginya.
''Ken saya sedang dalam perjalanan, saya akan tiba di sana tepat waktu. Kamu tunggu saya di ruang rapat, saya akan segera ke sana.'' Titah Shaka pada Ken.
''Baik tuan.'' Jawab Ken pada Shaka lalu memutuskan panggilannya.
__ADS_1
Ken lalu berjalan keluar menuju meja sekretaris Shaka untuk meminta berkas rapat hari ini.
Ken langsung menuju ruang rapat, beruntung tamu perusahaan belum hadir sampai saat ini membuatnya sedikit lega bahwa bukan hanya tuannya yang akan terlambat.
Dua puluh menit telah berlalu, tamu perusahaan telah hadir di ruang rapat. Ken menyapa dan mempersilahkan mereka duduk dan meminta maaf karena Shaka akan sedikit terlambat.
''Maaf saya sedikit terlambat.'' Ucap Shaka yang masuk ke ruangan rapat dan melihat tamu sudah duduk di kursi masing-masing.
Shaka membawa Elena masuk ke ruangan rapat. Ken yang melihat itu langsung berpindah kursi dari sebelah Shaka.
Ken mempersilahkan Elena duduk di sebelah Shaka.
''Terima kasih Ken.'' Ucap Elena berterima kasih pada Ken.
''Baiklah, kita akan mulai rapatnya.''
''Ken.'' Ucap Shaka pada Ken untuk memulai rapat.
Rapat berjalan dengan baik dan kerjasama kedua perusahaan akan selalu terjalin karena kedua belah pihak saling di untungkan.
Selama rapat Elena hanya mendengarkan antara kedua belah pihak saling beradu argumen dan saling melakukan tanya jawab.
Elena bisa melihat bagaimana Shaka dengan cepat memutuskan sesuatu yang memiliki resiko rendah untuk gagal.
Elena mengagumi kecekatan Shaka. Tidak salah selama ini perusahaannya belum pernah ada yang gagal.
Tamu perusahaan berjabat tangan dengan Shaka ketika ingin kembali ke perusahaannya.
''Terima kasih, semoga kita bisa selalu bekerja sama.'' Ucap Shaka.
''Tuan Shaka, anda sangat beruntung mempunyai istri yang mau membantu anda mengurus perusahaan. Saya bisa melihatnya karena istri anda mengikuti rapat hari ini.'' Pujian itu membuat Elena tersenyum melihat Shaka.
Elena mengikuti Shaka menuju ruangannya. Ken sengaja tidak ikut bersama mereka karena tidak ingin melihat tuan dan nona nya bermesraan.
''Terima kasih sudah menemaniku.''
Cup
''Hadiah untukmu.''
Shaka memberikan kecupan di bibir Elena sebagai hadiah karena Elena menemani nya bekerja.
''Masih ada berkas yang perlu aku periksa, kamu tunggu di sini ya, aku tidak akan lama.'' Pinta Shaka pada Elena.
Elena menunggu di sofa sambil memeriksa ponselnya.
Elena membuka pesan masuk dari Ken.
''Nona, saya sudah mengatur pertemuan anda dengannya. Hari ini pukul 17:00 di restoran Xx.''
Elena langsung melihat arloji di tangannya. Lalu mencari alasan agar bisa keluar tanpa Shaka.
''Mas, bolehkah aku berkeliling. Aku belum pernah berjalan-jalan di sini. Sambil menunggu kamu selesai aku mau lihat-lihat.'' Elena mencoba untuk meminta ijin pada Shaka agar bisa keluar dari ruangan itu.
Shaka tanpa berpikir curiga langsung memberikan ijin pada Elena.
''Baiklah sayang, aku akan menyusul segera. Jangan lupa bawa ponselmu, kalau kamu butuh sesuatu segera hubungi aku.'' Ucapnya tersenyum lalu menghampiri Elena yang sudah berdiri dari duduknya.
__ADS_1
''Makasih mas. Aku akan segera kembali sebelum kamu selesai.'' Balasnya.
Shaka memeluk Elena yang hendak pergi.
''Sampai jumpa nanti sayang.'' Shaka melihat Elena keluar dari ruangannya.
Elena langsung buru-buru menuju lift turun ke lantai dasar.
Dia meminta supir Shaka untuk mengantarnya ke alamat yang di kirim Ken.
Sesampainya di restoran Elena bertanya pada pelayan.
''Mba reservasi atas nama Elena, apa teman saya sudah datang.?''
''Sebentar saya check dulu ya ibu.'' Pelayan itu lalu melihat daftar tamu tapi belum menemukan reservasi atas nama tersebut di tandai.
''Belum ada datang ibu. Ibu yang pertama datang.'' Jawab pelayan itu ramah pada Elena.
''Baik, saya akan menunggunya.''
''Mari Bu, saya antar ke meja anda.'' pelayan itu membawa Elena duduk di mejanya untuk menunggu kedatangan Mitha.
Lima belas menit menunggu, Mitha akhirnya datang, dan langsung menemui Elena di mejanya.
Elena langsung melihat Mitha yang menuju ke mejanya. Dan mempersilahkannya duduk.
''Saya tidak tahu harus mulai dari mana.'' Ucap Mitha memulai pembicaraan.
''Maafkan aku yang tiba-tiba muncul. Aku tidak bermaksud untuk kembali. Aku tidak akan menggangu kalian.''
''Aku berjanji tidak akan kembali pada Shaka. Tapi bisakah aku bersama dengan anak-anak?. Aku sudah cukup lama meninggalkan mereka, aku ingin menggantinya segera. Aku hanya butuh mereka.'' Ucap Mitha sambil menangis tersedu -sedu di hadapan Elena.
Elena mencoba menahan air matanya, dia berusaha kuat seperti yang sudah di siapkan ya.
''Kembalilah padanya. Aku sudah memikirkan semuanya dan aku memutuskan akan pergi darinya. Kembalilah demi anak-anak. Mereka sangat membutuhkan kehadiran sosok ibu kandungnya. Mereka sudah menunggu terlalu lama, jangan sampai mereka menunggu lebih lama lagi.''
''Ini adalah kesempatan untuk menjaga dan merawat mereka lagi setelah mereka menganggap bahwa tidak akan pernah bertemu dengan ibunya lagi.''
''Anak-anak membutuhkan ibunya, jadi aku datang meminta bertemu untuk meminta kamu kembali.''
Elena berbicara panjang lebar meminta Mitha untuk kembali bersama Shaka demi anak-anak.
''E..Elena.. Tidak aku tidak akan kembali, aku hanya ingin bersama anak-anak saja.'' Ucap Mitha heran dengan ucapan Elena.
''Aku sudah memutuskannya, kuharap kamu tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.''
''Aku sudah selesai, aku akan kembali. Pikirkanlah baik-baik sebelum terlambat.''
Elena berjalan keluar dari restoran tersebut. Dia menuju ke mobil dan sesampainya di mobil tanpa perduli dengan supir Shaka dia langsung menangis sekuat kuatnya.
Dia sudah berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh di harapan Mitha.
Setelah menenangkan diri, dia akhirnya meminta pada supir untuk tidak memberitahukan perjalannya yang diam-diam pada Shaka.
Sebelum menemui Shaka Elena ke kamar mandi untuk mencuci mukanya agar tidak ketahuan pada Shaka bahwa dia menangis.
...****************...
__ADS_1
SIAPA YANG AKAN DIPILIH SHAKA. MITHA ATAU ELENA.
IKUTIN TERUS YA KISAH ELENA DAN SHAKA.