
Sesampainya di pintu masuk rumah sakit. Elena langsung berlari ke ruang operasi menemui Radit.
''Dit apa yang terjadi dengan mas Shaka. Bagaimana kamu bisa ada di sini. Sekarang mas Shaka gimana. Apa kata dokter.?'' Elena menghujani Radit dengan pertanyaan beruntun.
''Len kamu tenang dulu, dia pasti akan baik-baik saja. Dia sudah di tangani dokter. Kita hanya perlu menunggu dan berdoa agar operasinya bisa berjalan lancar.''
''Aku sedang dalam perjalanan, tiba-tiba ada sebuah mini bus menabrak mobil suamimu dan mobilnya berguling sampai di dekat di mana mobilku berhenti. Awalnya aku tidak mengenal mobil itu dan orang yang di dalam. Tapi karena dokter butuh tanda tangan untuk di lakukan operasi makanya saya bisa melihat dompet suamimu.'' Radit mengembalikan dompet Shaka ke Elena.
Air mata Elena sudah tidak terbendung lagi. Dia ingat betapa seramnya kecelakaan yang dia alami dulu. Dia langsung membayangkan kecelakaan Shaka pasti lebih parah dari yang di alami sampai mobilnya bisa berguling. Bagaimana keadaan suaminya sekarang itulah yang ada di pikirannya tanpa berkata sepatah katapun. Air matanya tak henti keluar membasahi pipinya.
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit dia sudah mulai jauh berpikir yang aneh-aneh.
''Len jangan seperti ini. Shaka butuh kamu kuat bukan lemah seperti ini.'' Radit berusaha menguatkan Elena.
Elena semakin m nangis sesenggukan membuat Radit tidak tau harus berbuat apa lagi. Diapun langsung memeluk Elena dan mencoba menguatkan Elena.
''Len kamu nggak percaya dengan suamimu.?'' Pertanyaan Radit mampu membuat Elena langsung melepas pelukan Radit dan bertanya.
''Kenapa kamu bilang gitu. Aku sangat percaya padanya.''
''Makanya kamu jangan menangis terus. Shaka butuh kamu kuat. Kamu harus percaya padanya bahwa dia akan berusaha untuk kuat. Lagian aku langsung membawanya ke rumah sakit, dan sudah ditangani dokter dia akan baik-baik saja. Sekarang kamu harus banyak berdoa agar suami kamu diberikan kekuatan oleh Tuhan. Menangis tidak akan membantu dia untuk sehat.''
''Sekarang sudahi air matamu, kita berdoa supaya dia bisa selamat.''
''Makasih banyak ya Dit, kamu sudah mau menolong suamiku.'' Ucap Elena menghapus air mata dari pipinya.
''Tidak apa-apa. Aku akan melakukannya pada siapapun yang membutuhkan.''
Setelah 1 jam berlalu, dokter pun keluar dari ruangan operasi. Elena dan Radit langsung menemui dokter.
__ADS_1
''Keluarga tuan Shaka.'' Panggil sang dokter paruh baya yang mengoperasi Shaka.
''Saya istrinya dok. Bagaimana keadaan suami saya.?'' Tanya Elena panik.
''Untungnya tuan Shaka langsung cepat di bawa ke rumah sakit, jadi kita dengan cepat bisa menanganinya.''
''Kami telah selesai melakukan operasi dan Operasinya berjalan dengan lancar. Saat ini tuan Shaka masih belum siuman. Kita akan menunggu sampai pasien siuman untuk pemeriksaan selanjutnya, karena..''
''Karena apa dokter.?''Tanya Elena cepat.
''Karena kami menduga tuan Shaka akan mengalami kelumpuhan di kaki dan tangannya akibat benturan yang sangat keras dan menyebabkan beberapa tulangnya patah. Bagian kepala juga mengalami luka yang sangat serius. Kami akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut dan segera memberitahukan pada keluarganya.''
''L..Lu..lumpuh.?'' Tanya Elena terbata.
''Saat ini masih dugaan kami nona, kami masih melakukan pemeriksaan lebih lanjut dan segera memberitahukannya.''
''Setelah ini, tuan Shaka akan di pindahkan ke ruangan dan keluarga sudah bisa menemani di ruangan rawat inap pasien.''
''Baiklah dokter. Terima kasih.'' Jawab Radit karena Elena sudah lemas dan hampir ambruk kalau tidak di tahan Radit karena mendengar keadaan Shaka.
''Baiklah, tuan dan nona saya akan memeriksa pasien lain. Saya permisi.'' Sang dokter pun akhirnya pergi meninggalkan Elena dan Radit.
''Elena kamu harus kuat. Itu masih dugaan. Kita akan melihat hasilnya setelah Shaka siuman. Sekarang kamu istirahat dulu ya. Aku akan mengurus ruangan rawat inap agar suamiku bisa segera di pindahkan.'' Radit membawa Elena duduk di kursi besi yang ada di depan ruangan operasi. Dia pergi ke bagian administrasi dan mengurus kepindahan Shaka ke ruangan. Dia memesan Shaka ruangan VVIP di rumah sakit itu.
Radit merasa sangat kasihan dengan Elena. Elena yang sudah di tinggal kedua orangtuanya, begitu juga dengan Shaka yang sudah tidak mempunyai orang tua yang masih hidup. Radit hanya bisa membantu Elena mengurus semuanya. Mengingat Elena dan Shaka mengelola perusahaan yang berbeda.
''Halo, kirimkan nomor telepon asisten Elena padaku.'' Radit berbicara dengan asistennya lewat telepon.
''Halo tuan Amran.'' Sapa Radit.
__ADS_1
''Halo tuan Radit, ada perlu apa tuan menghubungi saya di jam segini. Apa ada yang salah dengan laporan yang kami kirimkan hari ini sampai tuan bisa menghubungi saya langsung. Laporannya sudah di periksa oleh nona Elena.?'' Amran heran karena biasanya CEO dari perusahaan kerjasama tidak pernah menghubunginya langsung. Biasanya dia akan berurusan dengan asistennya walau dia memiliki semua kontak CEO perusahaan kerjasama.
''Lupakan urusan pekerjaan, aku mau memintamu untuk mengurus semua media yang meliput kabar kecelakaan Shaka. Aku tidak tau apa sudah tersebar atau tidak. Aku hanya ingin kamu bungkam semuanya jangan sampai perusahaan Shaka berpengaruh karena kecelakaan ini.'' Jelas Radit.
''K.ke..kecelakaan.?'' Tanya Amran kaget.
''Iya, Shaka mengalami kecelakaan mobil 2 jam lalu. Saat ini sudah di rumah sakit. Segera ke sini, saya akan mengirimkan alamatnya.''
''Baik tuan, saya segera ke sana.'' Amran langsung mengambil kunci mobil dan buru-buru menuju rumah sakit.
''Ken, tuan Shaka mengalami kecelakaan, saya menuju ke rumah sakit. Aku akan mengirimkan alamatnya.'' Amran menghubungi Ken memberitahu keadaan tuannya. Amran tidak tau bahwa Ken sudah diberi cuti sejak kemarin.
''Apa maksudmu.? Aku sedang di Singapore, baru saja sampai sore tadi.'' Jawabnya bingung.
''Tuan Shaka kecelakaan.!'' Amran mengulangi ucapannya.
''Kecelakaan.?'' Ken seolah tidak percaya atas apa yang menimpa tuannya.
''Aku tidak tau kejadian sebenarnya, aku akan ke rumah sakit sekarang.'' Jelas Amran.
''Amran, aku lagi di Singapore. Aku tidak bisa ke sana malam ini. Besok aku akan langsung kembali ke sana. Tolong urus tuan Shaka dan nona sampai aku kembali ke sana.''
''Baiklah, kamu tidak perlu kwatir.'' Amran memutuskan panggilan teleponnya dengan Ken.
''Apa yang sebenarnya terjadi dengan keluarga ini. Setelah istri beberapa bulan lalu, sekarang justru suami yang mengalami musibah ini. Huh... Semoga tuan Shaka baik-baik saja.'' Amran bermonolog sendiri.
Sesampainya Amran di rumah sakit, dia langsung menemui Radit dan nona nya yang masih menunggu Shaka di pindahkan ke ruangan. Radit menceritakan tentang kecelakaan yang dialami Shaka. Sesuai dengan permintaan Radit Amran telah mengurus media untuk tidak meliput kecelakaan yang menimpa tuannya.
...****************...
__ADS_1