
''Mas aku..'' Ucapan Elena terhenti.
Shaka benar-benar tidak membiarkan Elena berbicara.
''Elena aku tidak ingin mendengar penolakan darimu.''
''Aku tidak sengaja mendengar pembicaraan kamu dengan ayah di rumah sakit.''
''Aku sangat menyesal semua kebohongan ini terjadi pada kita.''
''Aku ingin kita menjadi pasangan suami-istri normal tanpa ada surat perjanjian itu.''
Shaka menuju meja kerjanya, dia membuka laci dan mengambil surat perjanjian yang di tandatangani oleh mereka berdua.
''Krek..krek..krek.''
Shaka merobek kertas perjanjian itu di depan Elena.
''Elena...''
''Aku menyukaimu..''
Elena kehabisan kata-kata untuk Shaka. Elena tidak diberi kesempatan untuk bicara.
Elena juga merasa sangat senang karena akhirnya kebohongan mereka akhirnya telah berakhir.
Elena sekarang tenang karena ayahnya tidak akan dibohongi sampai saatnya tiba.
Elena sadar bahwa dia juga memiliki perasaan yang sama pada Shaka.
Entah sejak kapan hatinya mulai berdebar setiap bersama Shaka. Elena juga merasa sangat nyaman bersama Shaka dan anak-anaknya.
Elena tidak langsung menjawab bahwa dia juga menyukai Shaka.
Ada hal yang harus di pastikan terlebih dahulu sebelum dia mengakui bahwa dia juga memiliki perasaan yang sama dengan Shaka.
Sekarang hatinya sudah lebih lega karena Shaka sudah mengakui perasaannya. Elena lebih tenang sekarang bahwa perceraian setelah 6 bulan pernikahannya dengan Shaka tidak akan terjadi.
Elena tersenyum
''Mas..''
''Aku..aku bingung kita mau memulai dari mana.'' Jawab Elena melihat Shaka.
Shaka tanpa berkata langsung menarik Elena kedalam pelukannya.
Shaka memeluk Elena dengan erat dan menarik nafas panjang.
''Makasih sudah bertahan sampai saat ini.''
''Aku akan menepati janjiku pada ayah bahwa aku tidak akan membiarkanmu menangis.''
Elena menatap Shaka sambil tersenyum. Hatinya bergetar melihat Shaka sedekat ini.
Sorotan mata Shaka yang sebelumnya dingin membuat Elena bergidik ngeri.
Saat ini Elena bisa menikmati wajah Shaka yang teduh dan hangat.
''Makasih mas.'' Ucap Elena.
''Makasih untuk apa.?''
''Untuk semuanya. Kamu dan anak-anak sudah mau menerima aku dan segala kekuranganku.''
''Aku sudah mempersiapkan diri untuk perpisahan sesuai dengan isi surat yang kita tandatangani.''
''Aku senang kamu menyukaiku.'' Ucap Elena malu-malu.
__ADS_1
''Yang harus berterima kasih itu adalah aku, bukan kamu. Makasih sudah mau menerima aku dan anak-anak.'' Balasnya sambil memeluk Elena.
Elena merasa Shaka memeluknya sangat erat, dia ingin lepas dari pelukan Shaka.
''Mm.. Mas aku harus ke kamar mandi.''
''Oh baiklah sayang'' Balas Shaka melonggarkan pelukannya.
Elena tersenyum lalu berlalu dari pelukan Shaka.
.
.
.
.
Di dalam kamar mandi Elena mulai gelisah. Elena bingung sekarang apa yang harus dilakukannya.
Biasanya dia akan tidur bersama Manse, sekarang setelah pembatalan kontrak pernikahan apakah Shaka akan meminta haknya.?
Elena menggelengkan kepalanya untuk menyadarkan diri dari bayangan mesum itu.
''Tidak..tidak..''
''Sekarang belum waktunya. Kami hanya akan tidur.''
''Yah benar, hanya tidur.''
Elena menarik nafas panjang dan berjalan keluar dari kamar mandi menuju ranjang mereka.
''Ada apa mas?'' Tanya Elena yang melihat Shaka mendekat ke arahnya.
''Tidak apa-apa.''
''Aku hanya mau mengingatkan, mulai malam ini kamu akan tidur di sini. Di kamar kita.'' Ucapnya senyum.
...''Mas kuharap senyuman ini tidak akan pernah berubah. Terima kasih akhirnya aku bisa melihat wajahmu sedekat ini. Ya.. teruslah tersenyum seperti itu.''...
''Apa yang kamu pikirkan.?'' Tanya Shaka menyadarkan Elena.
''A.ti..tidak apa-apa mas.'' Ucap Elena terbata-bata.
''Aku belum memintamu untuk memikirkan hal itu.''
''A..aku tidak sedang memikirkannya mas, aku.. aku hanya kasian Manse tidur sendiri.'' Jawab Elena cepat membuat Shaka semakin tersenyum lebar.
''Emangnya kamu tau apa yang aku maksud.?'' Tanya Shaka membuat wajah Elena semakin memerah.
''A..a..aku..''
Shaka seolah-olah mempermainkan Elena sekarang, wajahnya semakin memerah dengan wajah sedikit cemberut membuat Shaka tertawa.
''Baiklah..''
''Aku akan sangat senang, kalau kamu memikirkannya segera.''
''Lebih cepat akan lebih bagus untukku.''
Ucapnya sambil tertawa.
''Mas.. Aku..'' Ucapannya terhenti.
''Cup..'' Shaka memotong ucapan Elena dengan kecupan di bibirnya.
''Sekarang istirahat lah, aku ada pekerjaan sedikit. Aku akan menyusul.''
__ADS_1
''Jangan lupa mimpikan aku.''
Shaka meninggalkan Elena menuju ruang kerjanya. Elena tersenyum dan menggelengkan kepala melihat tingkah Shaka yang membuatnya malu sekaligus berdebar.
.
.
.
.
.
''Selamat pagi tuan Shaka.'' Sapaan asisten pribadi paman Andy.
Pagi ini Shaka di dampingi oleh Ken sudah berada di perusahaan pamannya.
Kematian pamannya yang mendadak membuatnya sedikit curiga dengan apa yang terjadi dengan pamannya sebenarnya.
Ruangan kerja pamannya yang masih tertata rapi dan bersih walau pamannya sudah jarang ke kantor.
Shaka melihat foto keluarga yang dipajang pamannya di mejanya.
Fotonya sewaktu masih remaja di rangkul oleh paman dan bibinya. Shaka menarik nafas panjang.
''Kalian sudah bersatu dan sudah bertemu dengan papa dan mamaku. Terima kasih untuk kasih sayang yang tulus selama hidup pamana dan bibi.''
...''Bagaimana dengan kejadian pada waktu itu. Apa sudah ketemu siapa yang menghubungi paman?'' tanya Shaka....
''Sudah tuan, saya sudah meminta untuk bertemu dengan orangnya.''
''Hari ini jam makan siang, di restoran Xx, saya akan menemuinya bersama Ken.'' Jawab asisten tuan Andy.
''Aku akan pergi menemuinya bersama Ken.'' ucap Shaka tegas.
''Baik tuan.''
''Ini adalah surat wasiat tuan Andy.'' Asisten tuan Andy memberikan beberapa berkas wasiat dan meletakkannya di meja tempat Shaka duduk.
Shaka membaca berkas itu dari lembar pertama hingga lebar ke 20, Shaka terkejut dengan apa yang dibacanya.
Shaka melihat asisten pamannya karena terkejut.
''Kapan paman membuat surat ini?''
''Apakah saya tidak salah membaca.?''
tanya Shaka pada asisten pamannya.
''Surat ini di buat dan di sahkan bulan lalu tuan, sesuai dengan tanggal yang di dokumen.''
''Tuan Andy benar-benar ingin mewariskan seluruh harta kekayaan dan peninggalannya kepada nyonya Elena.''
''Keputusan ini di ambil karena pertimbangan yang matang. Tuan Andy benar-benar sangat menyayangi nyonya.''
''Untuk membalas kebaikan dan ketulusan nyonya kepada tuan beliau akhirnya memutuskan untuk mewariskan seluruh hartanya kepada nyonya.''
Asisten tuan Andy menjelaskan pada Shaka tentang keputusan tuannya dengan harga peninggalannya.
Shaka mengerti dengan penjelasan asisten pamannya. Shaka tidak menyangka pamannya benar-benar menyukai Elena.
Tidak heran jika dirinya sendiri juga dibuat jatuh hati olehnya. Pamannya sampai rela memberikan semua hasil kerja kerasnya pada Elena.
''Paman maafkan aku jika pertemuanku dengannya diawali dengan kebohongan. Sekarang aku sadar bahwa aku juga sangat menyukainya. Aku akan menjaga dia dengan baik dan membahagiakan dia di sisa umurku. Terima kasih sudah membuatku menikahinya.''
Shaka menarik nafas panjang. lalu menutup berkas yang ada di depannya.
__ADS_1
'' Baiklah, aku akan menerimanya dan memberitahukannya pada Elena.'' Jawab Shaka lalu memberikan berkas wasiat itu pada Ken.
...****************...