Terpaksa Menikahi CEO Duda

Terpaksa Menikahi CEO Duda
Elena Mendapat Warisan


__ADS_3

Shaka mengadakan rapat dadakan dengan semua pegawai yang ada di perusahaan pamannya.


Shaka menerima banyak ucapan dan doa dari para pegawai atas kepergian pamannya.


Walau Shaka hampir tidak pernah datang ke perusahaan, mereka tahu bahwa Shaka adalah anak dari tuan Andy.


Mereka berpikir Shaka akan mengisi posisi CEO di perusahaan itu setelah kepergian tuan Andy. Itulah sebabnya rapat ini di adakan.


Betapa terkejutnya mereka ketika Ken mengenalkan orang yang akan menggantikan posisi tuan Andy.


''Selamat pagi semuanya. Tuan Shaka dan keluarga mengucapkan terima kasih atas ucapan dan doa semuanya atas kepergian tuan Andy.''


''Pagi ini saya akan mengumumkan CEO baru di perusahaan ini. CEO baru perusahaan ini adalah Nona Elena istri dari Tuan Shaka.''


''Nona Elena akan datang untuk memperkenalkan diri secara langsung.''


Kehebohan terjadi di ruang rapat. Semua pegawai salah menebak atas pengumuman CEO baru mereka.


Banyak pegawai wanita yang kecewa karena Shaka tidak menjadi CEO di perusahaan itu. Padahal mereka sudah berharap Shaka akan bekerja di perusahaan itu.


Kepala departemen di perusahaan juga merasa terkejut atas berita yang mereka dengar.


''Aku tidak menyangka tuan Andy setulus itu menyayangi Menantu keduanya itu.'' Ucap salah satu kepala departemen.


''Apa maksudmu.?'' Tanya kepala departemen lain.


''Tuan Andy memberikan warisannya kepada menantunya yaitu istri tuan Shaka. Itulah kenapa CEO bukan tuan Shaka melainkan istrinya.'' Jelasnya.


Beberapa dari mereka ada yang mengakui kebaikan dan ketulusan tuan Andy semasa hidupnya.


''Rapat di tutup, silahkan melanjutkan pekerjaan masing-masing.''


Ken langsung menutup rapat dan membubarkan seluruh pegawai.


Shaka berjalan kembali menuju ruangan pamannya di ikuti Ken dan asisten pamannya.


...***...


Setelah mengantar anak-anak ke sekolah, Elena mengunjungi kantor lamanya.


Direktur yang menyambut kedatangannya langsung menghujani Elena dengan berbagai pertanyaan.


Direktur merasa aneh karena sudah sejak lama Elena tidak datang menemui mereka.


Melihat respon direktur, Elena hanya bisa senyum dan meminta maaf.


''Maaf direktur.'' Ucapnya sambil tersenyum.


''Ada perlu apa kamu kesini. Aku tidak begitu yakin kalau kamu datang hanya untuk berkunjung.'' Tanya direktur.


''Sebenarnya..'' Elena menggantung ucapannya membuat direktur penasaran.


''Sebenarnya apa. Kamu baik-baik saja dengan tuan Shaka kan.?'' Selidik direktur curiga.


''Sebenarnya aku datang, karena ingin bertemu dengan direktur dan yang lain. Aku sangat rindu dengan pekerjaanku dulu.''


''Aku dan mas Shaka baik-baik saja kok.'' Jawab Elena dengan tersenyum.


Elena tidak berani mengatakan tujuan kedatangannya ke kantor lamanya.


Elena tidak ingin membuat direktur yang sudah dianggapnya keluarga menjadi lebih kwatir.


Elena memutuskan hanya akan memberitahu kejanggalan itu dengan Ken. Elena percaya Ken bisa membantunya untuk mencari tahu kebenarannya.


Setelah cukup lama mengobrol dengan direktur dan teman-temannya, Elena akhirnya pamit untuk pulang.


Elena berencana akan menemui Shaka di perusahaan, dia ingin mengajak Shaka makan siang bersama.


*


*


*


''Selamat Siang. Tuan Shaka ada?'' Tanya Elena ramah pada satpam yang membukakan pintu untuknya.


''Maaf nyonya, tuan Shaka belum datang. Mungkin sedang rapat di luar nyonya.'' Ucapnya.


Satpam tahu betul kalau tuannya belum datang, biasanya dia akan memarkirkan mobil Shaka, tapi pagi sampai siang ini dia belum melihat kedatangan Shaka.


''Ahh benarkah.? Aku datang tanpa menelponnya terlebih dahulu.''

__ADS_1


''Aku akan menunggu di dalam sambil menghubunginya.''


''Makasih pak.'' Ucap Elena dan berjalan menuju sofa di depan sebuah resepsionis.


''Tut.. ''


''Tut..''


''Tut..''


Dering ke tiga Shaka belum juga mengangkat teleponnya, Elena akhirnya memutuskan panggilan dan mencoba mengirim pesan kepada Shaka.


Elena masih mengetik pesannya, Shaka sudah menghubunginya.


''Halo mas..''


''Iya, apa kamu sibuk?''


''Kamu lagi di kantor.?''


''Oh benarkah.?''


''Tidak apa-apa. Aku hanya ingin menelponmu.''


''Aku.. aku lagi di kantor lamaku, sekarang mau siap-siap ke sekolah jemput anak-anak.''


''Baiklah, sampai jumpa nanti sore mas.''


Elena menutup panggilannya. Hampir saja air matanya jatuh, Shaka berbohong padanya.


Jelas-jelas Shaka tidak di kantor, tapi saat di tanya dia malah bilang ada di kantor.


Elena memasukkan ponselnya ke tas dan bersiap-siap untuk pergi ke sekolah anak-anak.


Lebih baik untuknya menunggu di sana dari pada di kantor Shaka sendirian.


...***...


Di ruangan tuan Andy, Shaka sedang memeriksa beberapa dokumen dengan Ken dan asisten pamannya.


Setelah memeriksa beberapa berkas, tidak begitu banyak kejanggalan dengan berkas laporan perusahaan.


Shaka berpikir pamannya sangat lihai dalam mengolah dan membesarkan perusahaan yang dibangun sejak muda itu.


Shaka berdiri dari duduknya, melihat pemandangan dari kaca yang ada di ruangannya.


Nampak pemandangan kota yang begitu ramai dengan bangunan-bangunan tinggi.


Shaka merasakan getaran dari kantong celananya.


Ponselnya berdering.


Dia merogoh sakunya dan mengambil ponselnya. Shaka sedikit terkejut melihat istrinya menelponnya.


Ponselnya belum lama berdering, belum sempat dia mengangkat panggilan itu sudah terputus.


Shaka memutuskan untuk menghubungi Elena kembali.


''Ya sayang.''


''Tadi kamu nelpon. Ada apa.?''


''Iya aku sedikit sibuk, banyak berkas yang harus di periksa.''


''Hmm.. Aku di kantor.''


''Apa ada masalah.?''


''Kamu dimana.?''


''Hmm, baiklah. Kalau ada apa-apa segera hubungi aku.''


''Hmm..''


Shaka memutuskan panggilannya. Dia kembali duduk ke kursinya dan meletakkan ponselnya di mejanya.


Shaka kembali fokus memeriksa berkas yang masih tersisa di mejanya.


Ponselnya kembali bergetar dan Shaka menoleh sekilas.


Ada pesan dari asistennya.

__ADS_1


...''Selamat Siang tuan. Saya mau informasikan bahwa nona Elena sedang menunggu tuan di ruang tunggu lantai satu. Saya akan segera membawa nona untuk menunggu di ruangan tuan. Terima kasih.''...


Shaka terkejut dan langsung menghubungi sekretarisnya.


''Sekarang langsung bawa dia ke ruangan saya. Saya akan segera ke sana.'' Shaka menutup teleponnya.


''Ken, kita kembali ke perusahaan sekarang.''


Ken yang melihat tuannya tergesa-gesa tidak bisa lagi menanyakan masalah apa yang sedang terjadi.


''Baik tuan.'' Ucap Ken lalu bersiap-siap turun bersama Shaka ke lantai dasar.


Mobil yang di kendarai Ken melaju dengan begitu cepat. Melihat reaksi Shaka yang begitu gelisah membuatnya juga bertanya-tanya apa yang sebenarnya sedang terjadi.


Setelah 20 menit menelusuri jalanan, Mereka telah sampai di loby perusahaan.


Shaka langsung keluar dan sedikit berlari menuju lift.


Ken yang di tinggal tanpa sepatah katapun menggelengkan kepala melihat tingkah tuannya.


Ken bertanya-tanya apa yang sedang terjadi. Ken melihat ponselnya dan melihat ada panggilan tidak terjawab dari sekretaris Shaka.


''Ada masalah apa.?'' Ucapnya lalu bergegas menuju ruangan Shaka.


''Selamat Siang tuan, Nona sed....'' Ucapan sekretaris Shaka terhenti karena orang yang di sapanya sudah buru-buru masuk kedalam ruangan.


''Untung aku paksa nona Elena menunggu di ruangan tuan Shaka. Kalau tidak dia akan sangat kecewa melihat istri tercintanya tidak ada di ruangan itu.'' Sekretaris Shaka berucap sendiri sambil tertawa kecil lalu melanjutkan pekerjaannya.


Shaka membuka pintu ruangannya dan mencari keberadaan Elena.


Elena sedang berdiri menikmati pemandangan dari dinding kaca di ruangan Shaka.


''Sayang..'' Ucap Shaka lalu memeluk Elena dari belakang.


Elena yang dipeluk dengan tiba-tiba terkejut.


''Mas .''


''Kamu kenapa tidak bilang kalau kamu datang ke sini.?'' Tanya Shaka masih memeluk Elena.


''Aku nggak mau mengganggu pekerjaan kamu mas. Kalau bukan karena sekretaris kamu yang maksa ke sini aku juga udah pulang.'' Ucap Elena nada kesal.


''Kamu sedang marah.?'' Shaka membalikkan badan Elena untuk melihat wajahnya.


''Aku nggak marah kok. Emang kamu buat salah.?''


Elena masih dengan aura kesalnya. Shaka datang dengan santai langsung memeluknya tanpa perduli pikirannya yang sedang kacau.


Shaka tertawa melihat tingkah Elena yang sepertinya sedang marah padanya.


''Cup..'' Shaka mendaratkan sebuah ciuman di bibir Elena.


''Mas.. K...''


''Cup..'' Shaka kembali mendaratkan ciuman kedua di bibir Elena.


''Ini di kantor mas. Kalau ada yang lihat gimana?'' Ucap Elena protes.


''Tidak akan ada yang lihat kok.''


''Cup.. cup..cup..'' Shaka mendaratkan ciuman bertubi-tubi di bibir Elena.


Elena terkejut dengan keberadaan Ken di depan pintu. Melihat itu Shaka mengikuti arah pandangan Elena.


Pipi Elena sudah merah padam karena malu dengan tingkah Shaka.


''Ah Ken, ternyata itu kamu.'' Sapaan Shaka pada Ken.


''Tuan, nona maaf mengganggu waktunya.''


''Ken aku minta berkas dari perusahaan paman sekarang.'' Shaka minta berkas warisan pamannya untuk di tunjukkan pada Elena.


''Sayang, paman meninggalkan ini untuk kamu.'' Shaka menyerahkan berkas warisan pamannya pada Elena.


''Apa ini mas.?'' Tanya Elena heran.


''Kamu akan tau dengan jelas setelah membacanya sayang.'' Ucap Shaka tersenyum.


''Mas ini gak benar kan.?''


Elena merasa berkas yang di bacanya tidak benar. Betapa terkejutnya dia melihat surat warisan pamannya Shaka.

__ADS_1


Bagaimana bisa pamannya begitu percaya padanya. Bagaimana jika dia dan Shaka tidak mengakhiri pernikahan kontrak itu.


__ADS_2