Terpaksa Menikahi CEO Duda

Terpaksa Menikahi CEO Duda
Rapat Pertama Elena


__ADS_3

''Ken, tolong urus semua surat-surat kembalinya Mitha. Aku akan menceraikannya secara resmi. Tolong urus semuanya.'' Shaka menghubungi Ken untuk mengurus perceraiannya dengan Mitha.


Shaka sadar dengan rencana Ken untuknya, tapi melihat kinerjanya selama bekerja Shaka tidak pernah meragukan Ken. Dia begitu percaya pada asistennya itu. Waktu tahu tujuan Ken bekerja dengannya dia sedikit kecewa tapi Shaka tahu itu karena Ken belum tahu tentang kejadian itu. Dia juga tidak pernah mencelakai Shaka dan keluarga jadi dia sangat percaya pada Ken.


''Ba baik tuan.'' Ken menjawab dengan terbata.


Ken menerima panggilan Shaka terkejut dengan perintah yang diberikan Shaka. Dia sudah menyiapkan surat pengunduran dirinya karena merasa malu untuk bertemu dengan Shaka. Dia berpikir Shaka sudah tahu tujuan dia bekerja dengannya tapi kenapa tuannya masih memberikan perintah untuknya.


''Sayang, besok kita akan membawa anak-anak menemui Mitha.''


''Mas haruskah aku ikut.?''


''Kalau kamu tidak nyaman biar aku yang mengantar mereka.''


''Emangnya kalau aku ikut gak apa-apa? Nanti mba Mitha gak leluasa bersama anak-anak. Kamu aja yang antar mereka mas. Lagian besok aku ada urusan ke kantor. Amran sudah mengirimkan banyak pesan menyuruhku untuk ke kantor.''


''Ah.. benarkah? Istriku sebentar lagi akan jadi super sibuk nih.?'' Goda Shaka.


''Lagian kamu jadiin Amran asistenku, coba kalau Ken pasti dia tidak akan memaksaku melakukan itu.'' Elena mencoba membandingkan Ken dan Amran membuat Shaka memicingkan matanya.


Cup.


Satu kecupan di bibir Elena sebagai hukuman karena membandingkan kedua asisten yang Shaka percayai.


''Jangan membandingkan mereka, aku tidak suka. Amran sangat cocok jadi asisten mu bukan Ken. Kalau pilih Ken aku tidak akan memberimu ijin. Ken akan merasa menang dariku bisa selalu bersamamu. Aku tidak akan bisa menerima itu.!'' Shaka kesal.


Melihat respon Shaka, Elena justru gemas dengan wajah kesal Shaka. Dia tahu banget kalau Shaka sangat cemburu pada Ken. Padahal Elena hanya mencintai dirinya seorang, tidak pernah berniat untuk merespon perasaan orang lain selain Shaka.


''Cemburu masa gitu...!'' Goda Elena sambil tertawa kecil.


Shaka langsung mencium Elena yang mencoba menggodanya. Dia tidak melepaskan ciumannya walau Elena memukul dadanya. Dia menuntut agar Elena membalas ciumannya. Elena yang sadar kalau anak-anak di rumah langsung membalas ciuman Shaka dan menggigit bibirnya agar Shaka melepaskan ciumannya.


''Aw.. Kok di gigit sayang.!'' Shaka protes.


''Ada anak-anak mas, kamu ini benar-benar ya.''Elena memukul kembali dada Shaka.


*


*


*


Malam telah berlalu menjadi pagi, semua aktivitas kembali dilakukan seperti biasa. Hari ini Elena akan ke kantor karena ada hal penting yang ingin di beritahukan Amran asistennya.

__ADS_1


Elena sudah membantu anak-anaknya bersiap untuk sekolah. Begitu juga Shaka sudah bersiap ke kantor. Pagi ini seperti biasa mereka akan sarapan bersama sebelum akhirnya pisah dengan kegiatan masing-masing.


''Hari ini ayah akan menjemput kalian lagi. Ayah ingin membawa kalian ke rumah paman Randy.'' Ucap Shaka di sela-sela mereka menikmati makanannya.


Evan hanya mengangguk tandanya dia sudah tahu apa yang akan mereka lakukan dan apa tujuan mereka ke rumah pamannya.


''Kakak kenapa gak jemput kami lagi.?''Manse berucap ketika Elena selesai menyuapinya makan.


''Aku lagi ada urusan sayang. Besok setelah urusanku selesai, aku akan menjemput kalian.''Jawab Elena meyakinkan Manse.


''Janji.?''


''Hmm, janji.'' Mereka akhirnya membuat janji kelingking.


Pak Mul mengantar anak-anak ke sekolah, sedangkan pelayan masih membereskan barang-barang mereka. Sesuai ucapan Shaka mereka akan kembali ke rumah utama.


''Sayang, kalau kamu butuh bantuan segera hubungi aku.'' Ucap Shaka sebelum Elena turun dari mobilnya.


''Pasti mas. Kamu hati-hati ya.''


''Hmm..Apa aku harus mengantarmu naik.?'' Shaka menggoda Elena.


''Nggak usah mas, Amran sudah menungguku. Tuh..'' Elena menunjuk Amran yang sudah menunggunya di pintu masuk.


''Sampai jumpa nanti mas.'' Elena keluar dan berjalan menuju pintu masuk. Dia sudah di sambut oleh Amran .


''Baiklah, aku mengerti. Tapi bisakah kamu yang memimpin rapat ini. Aku rasa aku belum bisa melakukannya. Aku butuh waktu untuk mempelajari kerjasama perusahaan ini.'' Elena sudah duduk di kursinya sedangkan Amran duduk di depannya.


''Baik nona, saya akan memimpin rapat hari ini. Nona hanya perlu menyanggah jika ada hal yang ingin nona perbaiki atau yang tidak sesuai dengan keinginan nona. Tapi silahkan nona mempelajari berkas ini.'' Amran menyerahkan berkas kerjasama dengan perusahaan itu.


''Aku akan mempelajarinya. Makasih Amran.''


''Kalau begitu saya permisi dulu nona, jika anda butuh bantuan segera hubungi saya.''Amran menghilang dari balik pintu.


Elena sibuk dengan berkas yang ada di depannya. Berkas terakhir Elena jadi teringat cita-citanya dulu.


Dulu sewaktu Elena masih kecil hingga remaja dia ingin sekali bekerja di perusahaan besar sebagai sekretaris. Tapi setelah lulus dia justru di terima sebagai wartawan. Karena Elena sebenarnya tidak memiliki bakat, hampir setiap hari dia di marahi bosnya karena tidak becus bekerja. Sampai pada akhirnya dia ditugaskan untuk mewawancarai Shaka dengan ancaman akan di pecat. Hal itu membuat Elena berusaha keras untuk bisa mewawancarai Shaka.


Tugas dari direkturnya justru mengubah hidupnya 180 derajat. Walau di mulai dengan kontrak tapi pada akhirnya dia dan Shaka justru saling jatuh cinta. Dia benar-benar berterima kasih pada direkturnya.


Saat ini, Elena justru tidak hanya bekerja sebagai sekretaris, tapi dia di tunjuk sebagai CEO. Itu hal yang sangat tidak di duga olehnya. Bagaimana bisa paman Shaka begitu mempercayainya. Apa memang ini takdirnya untuk tetap bisa bersama Shaka.?


Elena sangat bersyukur karena Shaka dan keluarganya menerima dirinya apa adanya. Bahkan dia mendapatkan banyak hal baik dari Shaka.

__ADS_1


Elena tersenyum mengingat awal pertemuan mereka.


''Mas, semoga kita selalu bersama. Maaf karena aku sempat menyerah padamu. Kini aku percaya akan cintamu. Aku akan belajar menjadi istri dan ibu yang baik.'' Elena berucap pada diri sendiri.


Jadwal rapat sebentar lagi akan di mulai. Amran datang ke ruangan Elena.


''Nona, rapat akan segera di mulai. Sebaiknya kita menunggu di ruang rapat.''


''Baik Amran, aku sudah bersiap.''


''Apa nona sudah selesai mempelajari berkasnya.?''


''Iya, tapi untuk saat ini aku akan tetap serahkan padamu.''


Elena , Amran dan kepala departemen yang lain telah menunggu di ruang rapat. Jam sudah menunjukkan pukul 10 tapi peserta rapat dari perusahaan luar negeri belum juga datang. Elena tahu bahwa mereka perusahaan dari luar negeri, jadinya Elena sedikit gugup. Ini adalah rapat pertamanya setelah di tunjuk sebagai CEO. Sebelumnya dia pernah mengikuti rapat di kantor Shaka. Tapi kali ini dia mengikuti rapat atas perusahaannya sendiri.


Elena menarik nafas panjang untuk menenangkan dirinya.


''Maafkan kami karena terlambat. Ada sedikit kendala selama perjalanan menuju ke sini.'' Ucap seseorang yang di duga tamu dari perusahaan luar negeri.


''Tidak apa-apa, silahkan.'' Amran menyambut baik koleganya dan mempersilahkan mereka duduk.


Setelah semua perwakilan duduk. Elena menangkap seseorang yang sepertinya di kenalnya. Tatapan mereka saling bertemu.


Elena terkejut, begitu juga dengan orang itu. Elena menjatuhkan pena yang dipegang dengan tidak sadar.


Amran melihat arah pandangan bosnya dan mencoba menyadarkannya.


''Nona, apa kita sudah bisa memulai rapatnya.?'' Tanya Amran.


''Oh.. Baik silahkan di mulai.'' Jawab Elena menyiapkan dirinya.


Selama rapat berlangsung Elena tidak lagi bisa fokus mendengarkan penjelasan dari semua divisi perusahaannya dan juga perusahaan yang kerja sama. Pandangan seseorang yang elena duga itu adalah CEO dari perusahaan itu sangat mengganggunya. Elena tidak nyaman ingin rasanya dia keluar dari ruangan ini.


Setelah 2 jam berlalu, sebelum menutup rapat, Amran menanyakan Elena apakah ada yang ingin di sampaikan.


''Nona, apakah ada yang ingin nona koreksi.?'' Tanya Amran.


Karena Elena memang tidak fokus, dia menuliskan sesuatu dan menunggu jawaban Amran.


''Apa ada yang menurutmu kurang dari rapat ini.?'' Amran menggelengkan kepala.


''Tidak ada, setelah rapat tolong kumpulkan semua laporan dari masing-masing divisi.'' Ucap Elena agar Amran menutup rapatnya.

__ADS_1


Amran akhirnya menutup rapat dan membubarkan semua peserta rapat. Elena menyalami peserta rapat satu persatu. Terakhir Elena ragu untuk mengulurkan tangannya karena melihat respon dari si empunya tidak menyambutnya.


...****************...


__ADS_2