Terpaksa Menikahi CEO Duda

Terpaksa Menikahi CEO Duda
Shaka kecelakaan


__ADS_3

''Aku nggak nyangka sekarang kamu sudah nyetir sendiri mas. Dulu kamu selalu di antar jemput supir.'' Mitha mencoba membuka pembicaraan karena sejak dari restoran Shaka hanya diam dan fokus menyetir.


''Apa semuanya demi dia.?'' Tanya Mitha kembali membuat Shaka melihat kearahnya sejenak.


''Kelihatannya kamu memang sudah benar-benar jatuh cinta padanya.''


''Dia istriku, aku harus mencintainya.'' Ucap Shaka datar.


Mobil yang di kendarai Shaka dan Mitha sudah memasuki pekarangan rumah Mitha. Bertepatan dengan ponsel Shaka berdering.


Melihat nama yang tertera di ponsel Shaka membuat Mitha tersenyum sinis.


Shaka langsung menerima panggilan Elena.


''Halo sayang.'' Sapaan manis Shaka pada Elena.


''Mas, kamu kok tumben belum pulang. Kamu masih di kantor.?'' Tanya Elena heran.


''Aku udah pulang sayang, lagi di jalan.''


''Mas, kita udah sampai. Kamu mau mampir dulu atau langsung.?'' Mitha seolah sengaja menaikkan suaranya biar terdengar sampai di seberang telepon.


''Aku akan langsung pulang.''Jawab Shaka tanpa ragu.


''Baiklah, hati-hati mas. Makasih sudah ngantar aku.''


Shaka langsung memutar mobilnya keluar dari pekarangan rumah Mitha.


Elena masih tersambung dengannya.


''Mas kamu lagi sama mba Mitha?''


''Iya sayang, aku tadi nganterin dia. Dia gak bawa mobil.''


''Mba Mitha datang ke kantormu.?''


''Nggak, tadi aku kebetulan bertemu dengannya di restoran tempat aku rapat dengan klien.'' Bohong Shaka.


''Oh gitu. Ya udah kamu hati-hati ya mas. Bye..''


''Hmm.. bye sayang.'' Shaka memutuskan panggilannya.


Shaka menelusuri jalanan menuju ke rumah. Di tengah jalan ponselnya kembali berdering, dia kembali mengambil ponselnya dan melihat nama istrinya kembali menghubungi nya. Ponsel yang ada di tangannya tiba-tiba jatuh ke bawah setirnya. Dia berusaha mengambil ponselnya tapi tangannya tidak sampai. Dia melihat jalanan di sekitarnya yang agak sepi dan dia memperlambat laju mobilnya dia dengan cepat mengambil ponselnya yang terjatuh.

__ADS_1


''Tit........''


''Cit...''


''Bruk....''


Shaka tidak melihat dia melewati persimpangan. Kecelakaan pun tidak dapat di cegah. Mobil yang di kendarai Shaka di tabrak sebuah mobil mini bus yang melintas dengan kecepatan tinggi.


Mobil Shaka berguling dan berhenti di trotoar jalan raya. Jalanan menjadi macet total akibat kecelakaan itu. Banyak pengendara lain yang turun dari mobilnya untuk melihat kecelakaan itu.


Salah satu mobil yang paling dekat dengan mobil Shaka yang berguling adalah mobil yang di kendarai Radit. Dia sangat terkejut melihat dengan langsung mobil Shaka berguling. Dia keluar dari mobil melihat keadaan mobil yang sedang tertabrak.


Radit mencoba melihat orang yang ada di dalam mobil. Dia melihat dengan tubuhnya yang dipenuhi darah masih berusaha untuk bergerak.


''Tolong... Orangnya masih bergerak. Segera panggilkan ambulan.'' Radit meminta tolong kepada pengendara lain untuk membantunya mengangkat Shaka. Radit masih samar belum mengenal dengan jelas orang yang sedang di tolongnya. Dia dan beberapa pengendara lain mengeluarkan Shaka dari kemudi dan segera membawanya ke rumah sakit tanpa menunggu ambulan datang.''


Mobil mini bus sudah dikerumuni banyak warga dan pengendara jalan. Supirnya juga mengalami luka-luka dan kernetnya di sebelah mengalami luka yang cukup parah. Untungnya mini bus ini masih kosong. Rencananya mobil ini sedang menuju perjalanan menjemput kumpulan sisa untuk di bawa berlibur.


Siapa sangka kejadian naas itupun terjadi. Supir dan kernet sudah dibawa ke rumah sakit dengan ambulan.


Shaka sudah di tangani oleh dokter. Radit yang dengan cepat membawanya ke rumah sakit bisa membuat Shaka di tangani dengan segera.


''Permisi tuan, Apa anda keluarga pasien.?'' Tanya seorang dokter muda pada Radit.


''Tuan, pasien harus segera di operasi. Tolong segera hubungi keluarganya. Kami butuh persetujuan untuk bisa melanjutkan operasi.''


''Dokter ini dompet pasien. Mungkin bisa membantu menghubungi keluarganya.'' Seorang perawat berlari memberikan dompet Shaka.


''Ah kebetulan sekali tuan, mohon untuk segera menghubungi keluarga pasien. Mungkin ini bisa membantu. Saya akan memeriksa pasien yang lain.'' Dokter pamit dan memberikan dompet Shaka.


''Dokter tolong segera di tangani, saya akan menjadi walinya. Saya akan menandatangani persetujuannya.'' Radit tanpa mikir lagi siapa pasien yang di tolongnya itu. Dia hanya ingin keselamatannya.


''Baik tuan, silahkan ke bagian administrasi.''


Sebelum mencari keluarga orang yang ditolongnya, Radit sudah menyelesaikan administrasi dan saat ini sudah di tangani dokter di ruang operasi.


*


*


*


''Manse sayang, jangan mainin ponsel Kaka. Bukannya ayah bilang tidak boleh main ponsel. Ayok kembalikan, nanti ayah bisa menghukum kita kalau tahu kamu main ponsel kakak.'' Elena meminta ponselnya dari Manse. Entah kenapa Manse tiba-tiba memainkan ponselnya yang dia letakkan di atas meja setelah menghubungi Shaka tadi.

__ADS_1


''Mari kita liat apa yang kamu lakukan dengan ponsel Kaka. Sayang kamu mau bicara dengan ayah. Kok kamu bisa menghubungi ayah sih. Belajar dari mana kamu cara memainkan ponsel.?'' Elena heran Manse bisa menghubungi ayahnya dengan ponselnya. Memang salahnya sendiri meletakkan ponsel tanpa di kunci layarnya, alhasil Manse bisa langsung memakainya.


''Ayok sekarang kita lanjut belajarnya ya. Ayah sedang dalam perjalanan mau pulang.'' Elena mengajak Manse dan mereka kembali duduk bersama dengan Evan dan Hana.


Ditengah mereka yang sedang asyik bermain sambil belajar ponsel Elena kembali berdering.


''Sebentar Kaka ambil ponsel dulu.'' Elena berdiri dan mengambil ponselnya yang ada di meja. Dia mengerutkan kening melihat nama yang memanggilnya.


''Radit sayang.? Astaga dasar Radit. Bisa-bisanya dia menyimpan kontaknya seperti ini.!'' Elena tidak langsung menerima panggilan Radit. Dia membiarkan ponselnya berdering dan mengganti nama kontak ya g semula Radit sayang menjadi Radit.


Ponselnya berdering untuk kedua kalinya, Elena akhirnya menerima panggilan itu.


''Halo.''


''Kenapa kamu lama sekali mengangkat teleponku?. Sekarang tarik nafas dan buang. Bersiaplah ke rumah sakit, Shaka kecelakaan saat ini sedang di rumah sakit dan sudah di tangani dokter.'' Tanpa basa basi Radit langsung meminta Elena ke rumah sakit.


''Mas Shaka.. A apa yang terjadi dengannya.?'' Tanpa sadar jantung Elena langsung berdetak kencang, air matanya mengalir dan tubuhnya hampir ambruk dan dia terduduk ke lantai. Anak-anaknya yang melihat kejadian itu langsung ikut panik dan segera mendekati Elena.


''Kak apa yang terjadi.?'' Tanya Evan langsung.


''Aku akan menjelaskan di rumah sakit, sekarang datanglah. Aku akan mengirimkan nama rumah sakitnya.''


''Baiklah, aku akan ke sana sekarang. Makasih Dit.'' Ucapnya lalu menutup panggilan telepon.


Elena menarik nafas panjang dan mencoba menarik nafas dalam-dalam untuk membuat hatinya tidak panik karena ada anak-anak.


''Sayang, ayah lagi di rumah sakit. Kaka harus ke sana sekarang. Kalian di rumah ya, aku akan menemui ayah di sana. Kalian bisa paham maksud Kaka kan.?'' Tanya Elena pada anak-anaknya dan di jawab dengan anggukan.


''Pak Mul...!'' Panggil Elena berteriak.


''Ya non, ada yang bisa saya bantu.'' Pak Mul buru-buru menemui Elena, dia sadar Elena tidak pernah memanggilnya sekuat itu sampai teriak.


''Mas Shaka masuk rumah sakit. Aku harus ke rumah sakit, tolong urus anak-anak. Aku akan pergi sekarang.''


''Apa yang terjadi dengan tuan.?''


''Aku tidak tau, aku harus ke sana sekarang.''


''Baik non, anak-anak akan selalu aman. Semoga tuan baik-baik saja. Hati-hati non.''


Elen tanpa berganti pakaian dia langsung ke rumah sakit, menemui Radit yang sedang menunggunya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2