Terpaksa Menikahi CEO Duda

Terpaksa Menikahi CEO Duda
Ayah Elena


__ADS_3

"Ayah sebaiknya istirahat sekarang. Sudah tengah malam, tidak baik untuk kesehatan ayah.'' Ucap Shaka yang tiba-tiba datang memecahkan kesedihan yang terjadi antara mertuanya dan istrinya.


''Mas Shaka benar, ayah istirahatlah.'' Ucap Elena sambil berdiri untuk membantu ayahnya berbaring di ranjang.


''Apa yang sedang kalian bicarakan sampai bisa seserius ini pembicaraannya.?'' Selidik Shaka.


Shaka bertanya seolah olah dia tidak mendengar apa yang sedang di bicarakan oleh ayah mertua dan istrinya.


Semua yang mereka bicarakan terdengar olehnya, dan itu membuat hatinya antara bahagia dan sedih.


Saat ini dia sudah benar-benar menyukai Elena, tapi dia belum mengatakan pada Elena.


Dia menyesal melihat keadaan ayah Elena, dia berpikir seharusnya sejak awal pernikahan kontrak ini tidak terjadi.


Kasihan ayah mertuanya harus mengharapkan anak dari pernikahan mereka yang hanya berstatus kontrak.


Walau ada kemungkinan, mereka bisa mengakhiri pernikahan kontrak ini, tapi sudah terlambat untuk mereka bisa memberikan cucu untuk mertuanya.


Waktu yang di sebutkan oleh dokter tidak lama lagi akan habis, artinya ayah mertuanya tidak akan bertahan lama.


Shaka sangat berharap, waktu yang di tafsirkan dokter tidak benar adanya. Dia berharap ayah mertuanya bisa sehat sampai nanti hubungan keduanya benar-benar suami istri yang sah tanpa surat kontrak hitam di atas putih.


''Tidak mas, aku hanya rindu pada ayah.'' Ucap Elena mencari alasan.


Elena menyiapkan segala keperluan ayahnya untuk tidur. Dia mulai menyelimuti ayahnya dan kembali mendekat pada Shaka di sofa yang sedang duduk.


''Kamu juga istirahat lah.'' Ucap Shaka sambil berdiri dan menyiapkan sofa yang di duduki ke mode tempat tidur.


Shaka menyiapkan bantal dan selimut untuk Elena bisa tidur dengan nyaman.


''Mas tidur di mana?'' Tanya Elena.


Melihat tempat tidurnya yang hanya sebesar sofa membuat Elena bingung, Shaka harus tidur dimana.


''Kamu tidur aja duluan, aku bisa tidur di sini nanti.''


''Aku mau memeriksa beberapa berkas.''


Ucap Shaka sambil menarik kursi sofa ke dekat Elena.


Elena yang melihat itu pun hanya bisa menganggukkan kepalanya.


Elena melihat ke arah ayahnya yang sudah terlelap.


''Baiklah, aku akan tidur duluan.'' Ucap Elena sambil menarik selimut tipisnya sampai ke lehernya.


Keheningan pun terjadi di ruangan itu. Ayah Elena sudah terlelap begitu juga dengan Elena.


Yang kedengaran hanya suara dari ketikan Shaka di labtopnya.


...***...


Jam sudah menunjukkan pukul 01:00 dini hari, Ken masih juga belum bisa memejamkan matanya.


Ken bertanya-tanya, apa yang sebenarnya ingin di bicarakan nona Elena padanya.


Ken kembali mengingat hari kejadian Elena di tabrak truk besar hingga membuatnya sempat koma dan harus di rawat secara intensif.


Ken memikirkan hal apa yang sebenarnya sedang dicari Elena.


Ken melihat ponselnya dan kembali memutar video sebelum Elena tertabrak.


Dari apa yang di lihat benar saja bahwa Elena sedang mengejar sesuatu.

__ADS_1


Ken menarik nafas panjang. Dia menenangkan pikirannya dan memutuskan besok akan menemui Elena langsung.


...***...


Malam berganti pagi, walaupun masih subuh tapi aktifitas di rumah sakit sudah mulai ramai. Begitu juga dengan kondisi ruangan ayah Elena.


Elena bangun dan langsung melihat ke arah ranjang ayahnya.


''Kamu sudah bangun?'' Tanya Shaka membuat Elena terkejut.


''Mas, kamu nggak tidur..?'' Tanya Elena kembali tanpa menjawab pertanyaan Shaka.


''Aku nggak bisa tidur, ada banyak file yang perlu aku periksa.''


''Masih terlalu dini untuk bangun, kamu tidur lah lagi, Ayah juga belum bangun.''


''Gimana aku bisa tidur lagi mas, melihat kamu nggak tidur begini.''


''Mas kamu jangan terlalu sibuk dengan pekerjaan.''


'' Waktunya istirahat kamu harus istirahat.''


''Bukan 24 jam kamu kerja terus.''


Ucap Elena panjang lebar sambil bangun berjalan menuju Shaka.


''Kamu sebaiknya istirahat sebentar. Aku udah nggak ngantuk.'' Ucap Elena sambil menutup labtop Shaka dan menarik tangannya ke tempat dimana dia tidur.


''Aku nggak ngantuk.'' Ucap Shaka.


''Aku akan nungguin kamu sampai tidur.'' Ucap Elena sambil duduk di depan Shaka yang sudah terbaring.


Shaka akhirnya menyerah dan mencoba untuk tidur sejenak.


Shaka menutup wajahnya dengan tangannya. Setelah 15 menit mencoba untuk tidur akhirnya Shaka pun terlelap.


Elena tersenyum sambil menarik selimut tipis sampai leher Shaka.


''Aku pikir kamu sekeras di awal kita bertemu mas.''


''Aku terlalu awal menilai waktu itu. Kamu adalah laki-laki yang baik sekaligus ayah yang baik untuk anak-anak.''


Elena menarik nafas panjang. Dia berdiri dan melihat ayahnya yang masih terlelap di ranjangnya.


Elena tidak mengantuk lagi sekarang. Dia keluar dari ruangan ayahnya. Melihat ke ruangan sebelah dimana Kakak Ken di rawat di sana.


Elena hanya menatap dari pintu tanpa mencoba untuk melihat ke dalam.


''Permisi non.'' Ucap perawat yang ingin masuk ke ruangan kakak Ken.


Elena sedikit terkejut dan mundur satu langkah.


''Maaf, pasiennya adalah saudara kenalan saya.'' Ucap Elena menjelaskan pada perawat.


''Tidak apa-apa non, saya di sini juga sebagai pengganti. Orang yang biasanya merawat pasien sedang berhalangan, jadi hari ini saya menggantikannya.''


''Kalau begitu saya akan masuk.''


''Permisi.''


Perawat masuk ke ruangan pasien meninggalkan Elena yang di depan pintu.


Elena pun pergi meninggalkan ruangan itu tanpa memikirkan hal lain.

__ADS_1


Dia hanya merasa sangat simpati pada Ken yang harus menunggu kakaknya untuk sadar.


Biar bagaimana pun Ken dekat dengannya, jadi dia tau bagaimana kita menunggu kesembuhan orang yang di kasihi.


Kalau di pikir posisi mereka sama.


Elena duduk di kursi tunggu depan ruangan ayahnya. Sembari menghirup udara luar dan hanya melihat orang lalu lalang di depannya.


Tak terasa waktu begitu cepat.


''Uhuk..uhuk..''


Elena tersadar dan masuk ke dalam mendengar ayahnya batuk tandanya ayahnya sudah bangun.


''Ayah sudah bangun?''


''Ayah butuh sesuatu.?''


Tanya Elena.


''Ayah ingin ke kamar kecil.'' Jawab ayahnya sambil bangun dari ranjangnya.


''Aku akan membantu ayah.'' Elena memapah ayahnya menuju ke kamar mandi.


Sambil menunggu ayahnya selesai, Elena melihat arloji di tangannya sudah menunjukkan pukul 07:15.


''Wah cepat banget, sudah jam segini.'' Ucapnya heran.


''Klek.'' Ayahnya keluar dari kamar mandi.


Elena ingin membantu ayahnya kembali ke ranjang tapi di tolak.


''Ayah ingin keluar duduk berjemur di taman.'' Pintanya.


''Baiklah, aku akan membawa ayah ke sana.''


Dengan cepat Elena menarik kursi roda dan membawa ayahnya menuju taman.


...***...


Pantulan cahaya dari kaca di ruangan itu membuat Shaka terbangun.


Dia langsung melihat sekeliling tak menemui Elena ataupun ayah mertuanya di sana.


Shaka langsung membersihkan diri lalu mencoba meraih ponselnya yang di atas meja.


Dia menghubungi Elena, tapi dering ponselnya ada di ruangan itu.


Shaka meraih ponsel Elena dari tasnya.


''Ponselnya tinggal. Kemana mereka.?'' Tanya Shaka sedikit panik lalu keluar menuju meja informasi rumah sakit.


''Suster apakah melihat istri dan ayah mertua saya.?''


''Tuan nona dan ayahnya sedang berada di taman. Seperti biasa ayah nona akan duduk di taman setiap bangun pagi.'' Jelas perawat.


''Baiklah. Terima kasih.'' Ucap Shaka lalu berjalan menelusuri koridor rumah sakit menuju taman dimana istri dan ayah mertuanya berada.


''Wah sejuknya.'' Ucap Shaka mengejutkan Elena dan ayahnya.


''Benarkan ini sangat sejuk. Aku sangat menyukainya.'' Ucap ayah Elena.


''Mas sudah bangun.'' Tanya Elena sambil tersenyum pada Shaka.

__ADS_1


''Hmm.'' Ucapnya senyum lalu duduk di samping Elena.


Mereka menikmati udara pagi yang sejuk secara bersamaan.


__ADS_2