Terpaksa Menikahi CEO Duda

Terpaksa Menikahi CEO Duda
Akhirnya Malam Pertama


__ADS_3

Sebagai seorang profesional penulis yang mahir dalam bahasa Indonesia, Anda diminta untuk mengedit teks berikut ini, memperbaiki kesalahan tata bahasa dan ejaan yang terdapat pada teks berikut. Selain memperbaiki kesalahan tata bahasa dan kesalahan kata, Anda diharapkan dapat mempertahankan gaya penulisan asli dari teks tersebut, sehingga pembaca dapat memahami teks dengan lebih mudah dan jelas, tanpa mengubah gaya bahasa dan kebiasaan penggunaan kata asli pada teks tersebut.


"Kamu berani menggodaku sekarang. Bersiaplah sayang, aku akan segera memakan mu." Shaka tersenyum kecil tanpa memikirkan lagi pria yang bersama istrinya tadi.


"Sayang, apa sebaiknya aku jadi asisten mu aja. Aku kok nggak tega melihat kamu sibuk begini." Shaka melihat berkas yang menumpuk di meja Elena.


"Cih, bukannya ini maunya kamu mas. Aku udah minta ubah nama ahli waris, kamu malah nggak mau."


"Paman meninggalkannya untukmu sayang, bukan untukku." Elena tidak ingin berdebat soal ahli waris, dia memilih menyibukkan diri dengan berkas di mejanya.


"Ada yang bisa ku kerjakan untukmu?" Shaka mendekati Elena ke mejanya.


"Bisakah berkas-berkas ini ditandatangani olehmu?"


"Tidak bisa dong sayang, di sana sudah tertulis nama CEO perusahaan dengan namamu. Selain tanda tangan, ada yang bisa ku kerjakan untukmu?"


"Tidak ada mas, ini hanya perlu ditandatangani. Kamu tunggu sebentar ya. Aku akan menyelesaikan ini. Kamu tumben tidak sibuk. Pekerjaanmu sudah selesai?"


"Aku mempercayakan semuanya pada Ken sayang, dia bisa mengurus semuanya."


"Baiklah, tunggu di sana. Aku akan segera selesai." Elena mendorong Shaka ke arah sofa.


Elena menyelesaikan pekerjaannya dan mereka pun pulang lebih awal.


"Hai anak-anak, lagi sibuk ngapain kali..." Elena berhenti ketika melihat anak-anak sambungnya dengan seseorang.


"Mba Mitha, apa kabar?" Elena menyapa Mitha yang sedang bersama anak-anaknya di ruang tamu dengan canggung.


"Aku baik," jawab Mitha tersenyum.


"Sayang, aku ke ruang kerja dulu.." Shaka yang melihat di depan Elena ada Mitha langsung diam.


Rasanya dia ingin marah juga, tidak bisa, karena dia sudah mengijinkan Mitha datang saja ketika ingin bertemu anak-anak.


"Silahkan lanjutkan kegiatan kalian." Ucap Shaka santai.


"Sayang, Amran baru saja mengirimkan beberapa file untuk kamu periksa. Sekarang pergilah urus pekerjaanmu." Shaka seolah mengerti keadaan Elena yang canggung dengan kehadiran Mitha.

__ADS_1


"Kalau begitu, mba saya tinggal dulu ya. Anak-anak bersenang-senang saja." Tanpa menunggu jawaban, Elena langsung berlalu dari ruang tamu menuju kamarnya.


"Kenapa rasanya begini?" Elena memegang dadanya dan duduk di sofa di kamarnya. "Tidak apa-apa, aku harus bisa menerima kehadiran Mbak Mita. Aku nggak boleh egois mempertahankan kehadiranku di sini." Pikirnya.


Biarpun hatinya tidak tenang, Elena memilih berendam di bathtub. Dia mengisi air dan menuangkan sabun cair dengan aroma yang sangat wangi menggoda.


Elena memakai masker wajah dan mulai berendam di bathtub. Dia menikmati kegiatannya dan mencoba untuk tidak memikirkan apapun. Dia merasa sangat santai dan nyaman karena tahu Shaka sedang asyik bersama istri pertamanya dan anak-anak mereka. Dia ingin menikmati waktunya untuk memanjakan dirinya.


Shaka, di ruang kerjanya sibuk dengan monitor di depannya. Dia memeriksa beberapa berkas yang dikirim oleh Ken. Setelah menyelesaikan pekerjaannya, dia keluar dan sekilas mendengar suara anak-anak yang sedang asyik dengan ibunya. Dia memutuskan untuk menemui istrinya di kamar. Dia merasa tidak tega melihat posisi Elena yang berada di tengah-tengah dia dan Mitha. Dia semakin bulat memutuskan untuk segera berpisah dari Mitha.


"Sayang.." Shaka mulai mencari keberadaan istrinya.


"Sayang.." Shaka melihat Elena di balkon tapi tidak menemukannya. Dia memutuskan melihat ke kamar mandi dan terkejut menemukan pintunya tidak terkunci.


"Say...sayang." Shaka sungguh terpesona dengan keindahan tubuh istrinya. Selama empat bulan menikah dengan Elena, dia belum pernah melihat lekuk tubuh istrinya.


"Mas, kamu ngapain?" Elena terkejut melihat Shaka tiba-tiba masuk ke kamar mandi.


"Aku mencari kamu dari tadi. Ternyata kamu di sini. Sayang, aku ingin segera memakan mu." Shaka mulai merasa badannya terasa panas.


"Aku sudah melihatnya, seharusnya aku bisa merasakannya." Shaka bersungut karena Elena memaksanya keluar dari kamar mandi.


"Punya istri muda rasanya begini amat, nggak tahu kalau suaminya butuh diisi energi itu." Shaka menarik nafas panjang mencoba untuk menenangkan diri.


Shaka menyibukkan diri dengan membaca koran di sofa sembari menunggu Elena selesai dari kamar mandi.


"Ceklek." Pintu kamar mandi terbuka dan Elena langsung menuju ke ruang ganti dan memakai stelan baju tidur santai. Walau belum waktunya tidur, Elena memakai pakaian itu untuk membuatnya lebih nyaman.


Dia duduk di meja rias dan mengeringkan rambutnya. Rambutnya yang indah tergerai membuat kecantikannya maksimal.


Aktivitas Elena tidak lepas dari pandangan sang suami yang sedari tadi menikmati pemandangan istrinya.


"Sayang, kamu cantik sekali. Aku menyukai rambut ini. Kamu jangan mencoba memotongnya tanpa persetujuan dariku." Ucap Shaka sambil memeluk Elena dari belakang.


Pandangan mereka bertemu di cermin.


"Kamu cantik."

__ADS_1


"Mas, jangan terus menggodaku seperti itu. Aku akan besar kepala nanti." Ucap Elena tersenyum.


"Aku serius. Aku sangat mencintaimu. Maafkan aku jika cinta ini bukan yang pertama, tapi aku sungguh-sungguh dengan perasaanku." Shaka berbicara serius dan meminta Elena memandangnya.


Shaka mencium bibir ranum Elena yang sudah menjadi candunya. Dia memperdalam ciumannya dan menuntut Elena untuk membuka mulutnya dan membalas ciumannya. Shaka semakin menuntut karena Elena membalas ciumannya. Senyum tersirat di wajahnya. Dia mulai turun ke leher jenjang Elena.


"Ahh.." Suara lenguhan Elena membuat Shaka semakin bersemangat. Dia semakin mempercepat ritmenya dan mulai turun ke bawah. Tangannya berhenti di dua gundukan milik Elena. Elena semakin terbuai oleh sentuhan Shaka yang lembut.


"Sayang, apa kamu sudah siap?" tanya Shaka tiba-tiba, meminta persetujuan dari Elena.


"Hmm," Elena mengangguk, menunjukkan setuju. Shaka melebarkan senyumnya dan mengangkat Elena ke ranjang dengan lembut, tanpa melepaskan ciumannya.


Shaka melepaskan pakaian Elena dengan hati-hati, tapi tetap menggunakan ciumannya untuk membuat Elena semakin terbuai. Dalam hitungan detik, Elena sudah telanjang bulat di hadapannya. Shaka mulai mengeksplorasi tubuh istrinya secara perlahan-lahan.


"Ah... Mas..." desah Elena, membuat Shaka semakin bergairah. Ini pertama kalinya dalam 4 bulan dia menunggu kesempatan untuk bercinta dengan istrinya.


"Dalam keadaan seperti ini, apa kamu sudah siap?" Shaka bertanya di tengah kegiatan mereka yang panas. Meskipun bergairah, Shaka tetap memastikan Elena siap dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Aku sudah siap, Mas."


Shaka melepaskan semua pakaiannya. Sekarang Elena bisa melihat dengan jelas tubuh suaminya, termasuk "senjata" laki-laki yang sudah siap untuk bertempur.


"Mas, ini pertama kalinya untukku..."


"Aku tahu, Sayang. Aku akan sangat lembut padamu." Jawab Shaka, kemudian kembali mencium bibir Elena. Sekarang senjata milik Shaka sudah siap untuk memasuki milik Elena. Tanpa menunggu lama, Shaka akhirnya memasukkan miliknya dengan sangat hati-hati.


"Ah... Sayang, ini sangat enak. Aku akan memasukkannya lebih dalam." Shaka semakin memperdalam gerakannya, sedikit demi sedikit. Dia bergerak dengan ritme yang dulu pelan, tetapi semakin cepat dan ganas.


Tangan Shaka meremas gunung kembar Elena dan membuatnya semakin terbuai. Elena mulai menggerutu dan menjerit karena Shaka semakin mempercepat gerakannya.


"Mas, ah..."


"Ayo, Sayang. Kita keluar bersama." Shaka semakin mempercepat gerakannya sampai mereka orgasme bersama-sama. Shaka mencium bibir Elena dan ********** dengan lembut.


"Akhirnya, kamu milikku sepenuhnya, Sayang. Aku mencintaimu. Terima kasih sudah menerima aku," kata Shaka lembut sambil mencium kening Elena.


TBC...

__ADS_1


__ADS_2