
''Mas anak-anak sudah di jemput mba Mitha. Kita sebaiknya pulang aja. Biarkan mba Mitha sama anak-anak.'' dengan kecewa Elena mengajak Shaka pulang tanpa anak-anak.
Sejak masuk ke dalam mobil Elena tidak mengatakan sepatah katapun. Dia hanya melihat ke arah jalanan. Shaka mengajaknya mengobrol pun hanya di jawab seadanya saja.
''Ayok turun.'' Shaka memarkirkan mobilnya di sebuah restoran mewah.
''Kita ngapain ke sini mas.?''
''Mau makan dong sayang inikan restoran bukan kolam renang.'' Shaka mencoba menghibur Elena yang murung.
''Hehe.. Oh iya kebetulan aku udah lapar.'' Jawabnya nyengir kuda.
Shaka dan Elena masuk ke restoran mewah dengan nuansa warna merah.
''Kamu mau makan apa sayang. Ayok di pilih.''
''Aku mau ini, minumnya aku mau jus jambu.''
Shaka memanggil pelayan untuk mencatat pesanan mereka.
''Mba saya mau pesan ini satu dan jus jambu ya 2. Makasih.''
''Mas kok cuman 1, kamu nggak makan.?'' Elena heran karena Shaka tidak memesan.
''Aku udah makan siang dengan klien tadi sayang. Jadi aku temani kamu makan aja.''
''Oh gitu. Ya udah mba pesanannya itu aja. Makasih.''
''Baik, pesanannya mohon di tunggu ya Bu,pak. Permisi.'' Pelayan meninggalkan meja Elena dan Shaka.
Tak berselang lama makanan yang di pesan Elena pun akhirnya datang. Dia menikmati makanannya sambil sesekali menjawab pertanyaan Shaka.
Inilah kira-kira penampakan menu makanan yang di pesan Elena🤣✌️.
*
*
*
Mitha sudah bertemu dengan ketiga anaknya dan hendak membawa mereka menuju mobil tapi Evan menghalangi.
''Bu tadi pagi Kak Elena janji mau jemput. Tunggu sebentar mungkin Kaka lagi kena macet.'' Ucap Evan pada Mitha.
__ADS_1
''Tidak apa-apa sayang. Ibu akan mengabari ayahmu kalau ibu yang jemput kalian.'' Mitha mengeluarkan ponsel dari tasnya, dan menghubungi Shaka.
''Halo mas, aku lagi di sekolah anak-anak. Aku akan mengantar mereka pulang. Tapi Evan bilang katanya Elena akan menjemput, tolong sampaikan padanya untuk tidak usah jemput anak-anak.''
''Baiklah, aku akan menyampaikan padanya.''
''Kalau gitu aku tutup teleponnya, maaf sudah merepotkan. Aku belum menyimpan nomor ponselnya.''
''Urus Lah anak-anak dengan baik, aku sedang bersamanya sekarang. Tidak begitu repot.''
Mitha akhirnya memutuskan panggilan. Dia bisa merasakan nada dingin Shaka padanya. Dia masih sangat membatasi dirinya.
''Ibu sudah menelepon ayah. Sekarang ayok kita pulang.'' Mitha membawa anak-anak masuk ke mobilnya.
Mitha merasa anak-anaknya sudah sangat dekat dengan Elena, dia sedikit iri karena Elena bisa beruntung banyak yang suka padanya. Mitha kembali mengingat pertama kali Shaka menemuinya. Dia selalu menyebutkan nama Elena karena dia begitu mencintainya. Sekarang Elena justru jadi pemimpin perusahaan paman Andy, itu semakin membuat hatinya sakit. Selama bersama Shaka paman Andy memang sangat baik dan perhatian padanya, tapi belum pernah dia mendapat hadiah saham atau anak perusahaan dari pamannya. Saat ini Elena dengan cuma-cuma bisa mendapatkan semua harta yang di milikinya.
''Huh...'' Mitha mencoba menyadarkan dirinya untuk tidak memikirkan apa yang di miliki Elena saat ini. Dia memutuskan untuk lebih dekat dengan anak-anak.
''Sayang, sebelum pulang kita akan makan dulu ya. Kalian pasti sudah sangat lapar. Ada yang mau saranin tempat untuk makan.?'' Mitha ingin tahu restoran yang ingin di kunjungi anak-anaknya.
''Aku ikut kemana aja.'' Jawab Evan.
Karena anak paling besarnya sudah jawab ngikut, Mitha pun memutuskan sendiri restorannya.
''Ayok pilih mau makan apa.?'' Mitha sudah membawa anak-anak ke sebuah restoran mewah dengan nuansa warna merah.
''Aku mau ini.''
''Ibu aku mau kentang goreng.'' Kini suara Manse.
Mitha langsung memanggil waitress dan memesankan pesanannya dan anak-anak.
''Ibu akan ke kamar mandi sebentar. Duduk yang benar, jangan nakal ya.'' Mitha berdiri dari duduknya menuju kamar mandi.
Keluar dari kamar mandi pandangan Mitha ter arah ke meja dimana ada sepasang sejoli sedang berbincang mesra. Terbesit pikiran Mitha untuk mengganggu kebersamaan itu.
''Hai mas kalian makan di sini juga.'' Ucapnya tersenyum.
''Mba Mitha makan di sini ya.'' Ucap Elena kaget.
''Iya aku makan sama anak-anak di meja sana.'' Mitha menunjuk ke arah meja dimana anak-anaknya berada.
''Kalau tidak keberatan, kami akan ikut bergabung di sini. Anak-anak pasti senang bisa makan siang dengan ayahnya.'' Mitha hanya menyebutkan kata ayah.
''Aku harus kembali ke kantor ada rapat dengan klien. Kalian makanlah. Kami akan kembali ke kantor.'' Jawab Shaka dingin pada Mitha.
__ADS_1
''Wah sayang sekali, padahal anak-anak pasti senang bisa makan dengan kamu mas.''
''Elena kamu ada rapat. Bagaimana kalau kamu aja yang gabung dengan kami.?'' Mitha melihat ke arah Elena.
''Aku sudah bilang , aku ada rapat. Kami akan kembali sekarang.''
''Maaf mba, lain kali ya. Kebetulan aku juga ada rapat di kantor. Aku akan mengatur waktu untuk kita bisa makan bersama. Maaf ya mba.'' Ucap Elena.
''Baiklah kalau gitu. Aku tidak akan memaksa. Kalau begitu nikmati kemesraan kalian.'' Ucap Mitha melihat ke arah Elena dan berlalu menuju meja anak-anaknya.
''Sayang ayok kita kembali.'' Shaka mengambil dompet dan meletakkan uang 200 ribu di meja. Dia menarik Elena untuk keluar dari restoran.
''Mas, ayok kita sapa anak-anak sebentar. Udah ketemu di sini, gak baik kalau kita gak sapa.'' Elena membawa Shaka berjalan ke meja Mitha dan anak-anak.
''Hai anak-anak. Lagi makan di sini juga ya. Ayah dan Kaka ada rapat penting jadi nggak bisa nemenin kalian makan. Ayah dan Kaka ijin pulang duluan ya. Sampai jumpa nanti di rumah.''
''Ayah pulang dulu, kalian nikmatilah makan siangnya.'' Shaka mengelus kepala ketiga anaknya.
''Hmm.. Sampai jumpa Kak.'' Balas Evan.
''Mba kami pulang duluan ya.'' Tanpa menunggu jawaban Mitha mereka pun berlalu dari sana.
''Huh...''Elena menarik nafas panjang setelah sudah duduk di mobil.
''Apa separah itu.?'' Tanya Shaka melihat Elena.
''Eh.. Maksud kamu apa mas.?''
''Kamu harus membiasakan diri. Biar bagaimanapun kita akan sering bertemu.''
''Maaf mas. Aku hanya belum terbiasa bertemu mba Mitha. Aku akan berusaha keras untuk berdamai dengan keadaan seperti ini.''
''Apa yang kamu takutkan. Ada aku.'' Shaka mengelus kepala Elena dengan lembut.
''Aku belum bisa percaya kalau aku bersamamu mas. hehehe.'' Elena tertawa.
Shaka memegang wajah Elena untuk bisa melihatnya dari dengan jelas. Dia mencium pipi Elena, mengabsen setiap wajahnya. Terakhir di bibir Elena, dia mencium bibir Elena dengan lembut.
''Mulai sekarang jangan pernah bicara seperti itu. Jangan pernah lupa kalau kamu adalah istriku.''
Elena tersenyum, tapi detak jantungnya sudah berdendang. Dia semakin hari semakin jatuh hati pada suaminya. Tapi tiba-tiba Elena teringat ini adalah parkiran restoran.
'' Ayok mas, kita kembali ke kantor. Kamu ada rapat kan.'' Ucapnya.
''Oh iya baiklah, kita pulang sekarang.'' Shaka melajukan mobilnya menuju kantor Elena untuk mengantar istrinya kembali ke kantor.
__ADS_1
Ucapannya di restoran bukan hanya alasan saja, tapi memang dia ada rapat. Dia baru menerima pesan dari sekretarisnya 5 menit sebelum kehadiran Mitha ke meja mereka.
...****************...