
Shaka menemani ayah mertuanya. Ayah mertuanya sudah lebih baik dari sebelumnya. Setelah tenaga hampir pulih Ayah mertuanya menanyakan keberadaan anaknya Elena.
''Menantuku, kapan putriku datang.?'' Tanyanya masih dengan suara lemas.
''Ayah, sementara ini yang jaga ayah adalah aku. Elena akan datang setelah urusannya selesai.'' Ucap Shaka.
''Hmm. Baiklah.''
Setelah sejam berlalu Shaka ingin sekali melihat Elena. Tapi melihat ayah mertuanya dia juga tidak tega jika harus meninggalkannya.
Ken mengurus Elena, sedangkan Shaka mengurus ayah mertuanya.
Shaka tidak memberitahukan kejadian yang menimpa Elena pada ayahnya.
Shaka justru rela lebih memilih menjaga ayah mertuanya dari pada Elena. Takut ayahnya semakin drop kalau tau keadaan Elena.
Shaka yang sedang bersama ayah mertuanya tidak bisa tenang mengingat keadaan Elena yang masih di UGD.
Setelah sejam berlalu, Shaka pergi ke ruangan UGD tempat Elena berada.
Di ruangan Elena ada beberapa dokter yang yang sibuk dengan kegiatannya masing-masing.
Ken tampak sangat panik menunggu di depan.
Shaka melihat itu langsung mempercepat langkahnya menemui Ken.
''Ken apa yang terjadi dengan Elena. Apa Elena sudah sadar.?'' Tanya Shaka pada Ken.
Ken yang melihat Shaka datang langsung menatap Shaka dengan pilu.
''Tuan, Nona Elena belum siuman. Tadi nona sempat kembali krisis, dokter sedang memeriksa di dalam.'' Jelas Ken membuat Shaka langsung kembali lemas tak berdaya.
Shaka duduk tak bisa berkata sepatah kata pun. Dia hanya bisa menyebut nama Elena.
''Elena..''
''Kumohon bertahanlah. Jangan tinggalin kami.'' Ucap Shaka.
Shaka meneteskan air mata. Ntah bagaimana hatinya sangat sakit melihat keadaan Elena yang Krisis.
Shaka dengan sabar dan setia menunggu Elena hingga selesai di periksa dokter.
...***...
Kabar Elena di rumah sakit sudah tersebar ke keluarga Elena termasuk paman Shaka.
Paman Shaka langsung bergegas ke rumah sakit. Dia tau bahwa Shaka pasti akan sangat terluka.
Mendengar Elena krisis membuatnya menjadi sangat sedih. Bagaimana tidak Elena masih terlihat baik-baik saja beberapa hari lalu ketika mereka bertemu.
Sesampainya di rumah sakit, Ken langsung menjemput dan membawanya melihat Shaka.
''Shaka.''
''Nak, kamu harus kuat dan sabar. Elena akan baik-baik saja.'' Ucap tuan Andy menguatkan Shaka.
''Paman, aku harus bagaimana. Tadi pagi Elena masih baik-baik saja.''
''Aku belum sempat mengatakan apapun padanya.''
''Aku.. aku...'' Ucapan Shaka terputus karena dia nggak sanggup lagi harus berkata apa.
__ADS_1
Paman Andy hanya bisa memeluk Shaka. Menguatkan nya dengan pelukan dan ucapan yang membuat hatinya sedikit tenang.
...***...
Setelah hampir satu jam dokter berusaha menyelamatkan Elena akhirnya dokter dan perawat pun selesai.
Dokter keluar dan menemui keluarga Elena.
Melihat dokter sudah membuka pintu ruangan Shaka langsung berdiri dan mendekat pada dokter.
''Dokter,bagaimana keadaan Elena.?''
''Elena baik-baik saja kan.?''
Shaka bertanya dengan penuh harap bahwa Elena baik-baik saja.
''Tuan, saat ini keadaan Elena sudah baik-baik saja.''
''Tadi pasien sempat kritis dan saat ini sudah di tangani dokter.''
''Tuan dan keluarga tetaplah berdoa agar pasien bisa segera siuman.''
''Kami sudah melakukan yang terbaik, semoga pasien bisa segera siuman.''
Ucapan dokter membuat Shaka dan pamannya sedikit lega.
''Baik dokter, terima kasih.'' Ucap Shaka.
''Kalau begitu saya pamit tuan.'' Ucap dokter lalu pergi meninggalkan Shaka dan keluarganya.
Shaka dan paman Andy beserta Ken masih menunggu Elena.
Waktu sudah menunjukkan pukul 23:10. Asisten tuan Andy mengingatkan untuk membawanya pulang.
''Tidak baik untuk kesehatan tuan jika harus menunggu di sini.'' Ucap asisten Andy.
''Paman pulanglah. Aku akan menunggu Elena di sini.'' Ucap Shaka pada pamannya.
''Baiklah, paman akan pulang. Besok paman kembali lagi.''
''Kamu harus jaga kesehatan jangan sampai kamu sakit, Elena tidak ingin jika sadar nanti melihat kamu sakit.'' Ucap Andy sambil berlalu bersama asistennya.
''Ken kamu juga pulang lah. Biar aku yang menjaga Elena.''
''Besok kamu harus ke perusahaan.''
Shaka menyuruh Ken untuk pulang beristirahat di rumah.
''Tuan, saya akan menemani anda di sini.''
''Tidak Ken, aku akan segera menghubungi mu jika terjadi sesuatu.''
''Besok kamu harus ke perusahaan, jadi pulanglah. istirahat di rumah.'' Ucap Shaka.
''Baik tuan.''
''Besok saya akan kembali dan membawa beberapa pakaian ganti untuk tuan.''
''Terima kasih Ken.''
Ken pergi meninggalkan Shaka sendiri di rumah sakit.
__ADS_1
Sebelum pulang Ken menyempatkan diri untuk melihat kakaknya.
Dia pergi ke ruangan kakaknya. Melihat kakaknya masih terbaring membuatnya mengingat keadaan Elena.
Ntah bagaimana dia merasa sangat kwatir dengan Elena.
Tidak bisa di pungkiri, Elena adalah gadis yang baik dan Ken sangat menyukai Elena.
Membuat Elena terikat dengan Shaka adalah kesalahan terbesar yang dia lakukan.
Dia menyadari bahwa dia menyukai Elena sejak pertama mereka bertemu.
Bahkan dengan terang-terangan dia mengatakan pada Shaka bahwa dia menyukai Elena.
Hanya saja sekarang melihat Shaka sudah mulai mempedulikan Elena membuatnya patah hati.
Menurutnya tidak ada kesempatan untuknya bisa mengatakan perasaannya pada Elena.
Elena yang terbaring sakit membuatnya ingin marah pada orang yang melakukan ini.
Ken menaruh nafas panjang dan mengeluarkan nya dengan perlahan.
Ken mencoba menenangkan hati dan pikirannya agar bisa menerima kenyataan yang terjadi di depannya.
Tanpa mengucapkan sepatah katapun pada kakaknya.
Ken keluar dan pergi meninggalkan rumah sakit.
...***...
Shaka belum makan dan minum apapun sejak di rumah sakit. Dia merasa nggak sanggup untuk menelan apapun melihat Elena dan ayah mertuanya berada di posisi yang sedang kritis.
Walau ayah mertuanya sudah baik-baik saja sekarang tapi tetap saja dia merasa sangat kwatir.
Dia harus berbohong dengan keadaan Elena agar ayah mertuanya tidak kembali drop.
Dia melihat ke dalam ruangan. Sampai saat ini dia belum di ijinkan untuk masuk dan melihat Elena dari dekat.
Dia hanya bisa melihat Elena dari luar. Pikirannya sudah kacau.
Banyak hal yang harus dia katakan pada Elena. Akhir-akhir ini dia sudah banyak menyadari bahwa perasaan nyaman ketika sedang bersama dengan Elena.
Tapi dia belum mengatakan apapun pada Elena. Dia berharap Elena segera sadar dan bisa kembali ke rumah.
Dia harus melakukan hal yang akan dia lakukan sebelum terlambat.
Betapa terkejutnya dia mendengar kabar Elena hari ini. Membuatnya langsung teringat masa masa sulitnya ketika kehilangan istri pertamanya.
Dia tidak ingin hal hal buruk itu terjadi. Dia selalu memanjatkan doa untuk Elena.
Shaka menarik nafas dalam-dalam. Dia mencoba menenangkan hatinya untuk keadaan Elena saat ini.
Dia harus tetap kuat dan berdoa. Elena akan baik-baik saja.
''Kamu harus kuat Elena.''
''Aku yakin kamu wanita kuat.''
''Aku sudah melihatmu dan bersamamu. Kamu harus bangun.'' Ucap Shaka.
Shaka bermonolog sendiri berharap Elena segera bangun dari tidurnya.
__ADS_1
...****************...