
''Hai sayang..''
''Apa kamu belum selesai.?'' Tanya Shaka berjalan ke meja Elena. Dia melihat Elena memeriksa sisa berkas yang ada di mejanya.
''Bentar ya mas, udah mau selesai. Ini yang terakhir.'' Jawabnya sambil mengangkat berkas terakhir yang di tangannya.
''It's okay sayang. Aku akan menunggumu.'' Shaka mengecup bibir Elena ketika Elena melihatnya.
*
*
*
''Katanya kamu ketemu dengan Shaka. Apa yang dia katakan padamu.?'' Randy yang mengetahui Mitha bertemu dengan Shaka membuatnya penasaran apa yang dikatakan Shaka padanya.
''Dari mana Kakak tau aku bertemu Shaka. Kakak memata-matai aku.?'' Tanya Mitha kembali bertanya pada Randy.
''Itu tidak penting. Sekarang jawab apa yang dikatakan Shaka padamu. Dia mau kan menerima kamu kembali.?'' Randy memaksa memang bahwa Mitha harus kembali pada Shaka.
''Kak, aku tidak pantas kembali bersama dengan mas Shaka. Biarkan dia hidup bahagia dengan istrinya.''
''Aku akan menebus kesalahanku pada anak-anak. Aku tidak akan kembali bersama Shaka.'' Mitha tidak ingin mengganggu rumah tangga Shaka.
Sudah jelas-jelas Shaka mengatakan bahwa dia tidak akan menerima dirinya lagi. Walau sebenarnya dia juga tidak ingin kembali lagi.
Ada seseorang yang lebih dipikirkannya sekarang. Sudah beberapa hari lamanya dia tidak pernah melihat orang itu.
''Kalau kamu tidak mau kembali padanya, jebloskan dia ke penjara. Aku akan menggugatnya percobaan pembunuhan. Kamu harus menjadi saksi sekaligus korbannya.''
Randy mengancam Mitha untuk menggugat Shaka atas percobaan pembunuhan.
''Kak, Shaka nggak salah. Aku yang salah.'' Teriak Mitha pada Randy.
''Aku sudah mengkhianatinya kak. Dia belum tahu itu, apa aku harus mengakuinya sekarang, lalu memohon untuk kembali padanya.?''
''Apa itu yang Kaka inginkan. Kalau memang kakak mau menghancurkan semua yang telah ku tutupi darinya, baiklah aku akan mengikuti apa yang kakak inginkan. Aku akan mengaku padanya bahwa aku diam-diam memiliki hubungan dengan pria lain. Aku akan memohon agar dia mau memaafkan aku dan menerima aku kembali.''
''Aku akan melakukannya. Puas kak.?'' Mitha meneteskan air mata dan pergi meninggalkan Randy yang terkejut atas pengakuan Mitha.
''A..apa maksud kamu. Mitha..!'' Randy berteriak da Mitha yang sudah pergi meninggalkannya.
Randy tahu rumah tangga adiknya baik-baik saja dengan Shaka. Tidak pernah terdengar mereka ribut akan sesuatu. Dan yang di dengarnya barusan sungguh membuatnya semakin penasaran dengan adiknya.
''Apa yang sebenarnya terjadi.?'' Randy hendak mengejar Mitha.
''Sayang, biarkan Mitha menenangkan diri sebentar. Kamu jangan terbawa emosi, kasian Mitha baru kembali sudah mengalami hal seperti ini. Kamu biarkan dia tenang dulu. Aku akan bicara padanya nanti.'' Istri Randy mencoba menahan Randy yang ingin mengejar Mitha.
''Baiklah, tolong urus dia. Aku akan menemuinya nanti.'' Ucap Randy lalu pergi keluar meninggalkan istrinya sendiri.
''Huft. Apa yang sebenarnya terjadi dengan keluarga ini. Mitha baru kembali setelah dinyatakan meninggal beberapa tahun lalu. Sekarang dia justru mengaku bahwa dia selingkuh dari suaminya.?''
''Shaka yang punya segalanya dan menjadi incaran banyak wanita di luar sana, kamu malah selingkuh di belakangnya. Astaga Mitha apa yang sebenarnya kamu pikirkan.?''
Istri Randy tidak menyangka adik iparnya bisa seberani itu. Dia berniat akan menanyai Mitha tentang apa yang sebenarnya terjadi dengan dia dan Shaka.
*
*
*
__ADS_1
Ken baru saja selesai rapat dengan perusahaan kerjasama untuk menggantikan Shaka. Entah apa yang terjadi tiba-tiba bosnya itu ingin pulang awal tanpa peduli dengan jadwal rapatnya.
Ponselnya berdering. Nama Mitha tertera di sana. Ken mengerutkan keningnya, heran dengan apa yang ingin Mitha katakan padanya.
''Ada apa meneleponku.?'' Jawab Shaka bersikap dingin pada Mitha.
''Ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Aku akan menunggumu di rumah sakit. Ruangan kakakmu.'' Jawab Mitha pada Ken.
Tanpa menjawab Ken langsung memutuskan panggilan teleponnya, dia merasa ada yang aneh dengan ucapan Mitha.
''Jangan-jangan perawat wanita itu adalah Mitha.'' Ucapnya lalu bergegas ke rumah sakit.
*
*
*
Shaka dan Elena telah pulang dari kantor sejak 1 jam lalu, tapi mereka belum juga pulang ke rumah. Elena sudah menitipkan Anak-anaknya ke pak Mul asisten rumah tangga di rumahnya.
Shaka dan Elena baru saja selesai makan. Untuk Elena makan sore tapi untuk Shaka ini sekaligus makan siangnya. Dia melewatkan makan siang karena pertemuannya dengan Mitha membuat dia tidak nafsu untuk makan.
''Mas aku mau ajak kamu ke suatu tempat.'' Ucap Elena.
''Benarkah. Ayok kita segera ke sana.'' Shaka yang begitu tertarik dengan tempat yang ingin Elena kunjungi.
''Yuk.'' Elena memegang tangan Shaka, dan membawanya berjalan menuju parkiran mobil.
''Biar aku yang menyetir.'' Ucap Elena setelah sampai di depan mobil Shaka.
''Jangan-jangan. Aku akan membawamu kemanapun kamu mau. Tinggal masukkan alamatnya ke maps aku akan membawamu ke sana.'' Shaka membawa Elena duduk di kursi sebelah kemudi.
Elena memasukkan alamat yang hendak dia kunjungi.
Shaka melajukan mobilnya mengikuti arahan dari maps yang Elena masukkan.
Setelah sampai di tujuan, Shaka berhenti di pinggir jalan. Dia melihat sekeliling untuk memastikan tempat yang ingin Elena kunjungi.
''Taman?'' Ucapnya sambil melihat Elena dengan heran.
''Iya mas, ayok parkir di sebelah sana mas.'' Elena meminta Shaka untuk parkir.
Shaka akhirnya memarkirkan mobilnya sesuai permintaan Elena.
''Ayok turun. Aku memang ingin mengajak kamu ke sini mas.'' Elena turun dari mobil.
''Mas, aku mau main itu. Kamu dorong aku ya.''Elena berlari ke arah ayunan yang ada di taman.
Elena kegirangan ketika Shaka mendorongnya dengan sangat kuat sampai dia bisa terbang tinggi sambil tertawa.
Bagai anak-anak yang sedang bermain bahagia di temani ayahnya, begitulah Elena saat ini. Dia tertawa dengan lepas.
''Hah.. Aku capek padahal aku hanya di dorong sama kamu.'' Ucapnya tertawa kecil.
Shaka menyodorkan sebuah botol minum pada Elena yang sengaja di bawanya dari mobil.
''Tempat ini adalah tempatku bermain sewaktu kecil. Ayah selalu membawaku ke sini setiap sore hari. Dia tidak pernah melewatkannya walau terkadang dia sibuk.''
''Hah... Aku sangat merindukan ayah. Kuharap ayah sudah bahagia bersama ibu di surga.'' Ucap Elena tersenyum melihat ke arah Shaka.
''Ayah dan ibu sudah bahagia sayang. Mungkin mereka juga sudah bertemu dengan ayah dan ibuku, paman dan juga bibi. Yah.. kuharap mereka sudah bertemu di sana.'' Shaka membalas senyuman Elena.
__ADS_1
Elena dan Shaka diam beberapa saat menikmati pemandangan taman, Tiba-tiba....
''Mas.-''
''Hmm.. iya sayang.''
''Apa kamu ingat tempat ini.?'' Tanya Elena tersenyum melihat Shaka.
'' Tempat ini adalah awal kamu sangat membenciku. Marah tanpa mendengarkan penjelasanku.'' Lanjut Elena.
''Sayang.. Aku sudah melupakan masa-masa itu. Aku hanya ingin bahagia bersamamu sekarang.'' Jawab Shaka.
''Awalnya kamu sangat membenciku, setelah mengetahui kebenarannya kamu berubah ingin meminta maaf dan akhirnya sekarang kamu bisa jatuh hati padaku.'' Elena mencoba menahan air matanya agar tidak jatuh.
''Sayang.. A.. -'' Elena menaruh telunjuknya di bibir Shaka, meminta Shaka untuk tidak bicara.
''Sama halnya dengan mba Mitha. Setelah kamu mendengarkan penjelasannya dan mengetahui kebenarannya kamu akan sadar dan kembali ke masa bahagia kalian dulu.''
''Kasi kesempatan untuknya menjelaskan dan membayar semua hal yang sempat hilang. Dia berhak untuk mendapatkan respon yang lebih baik darimu dan anak-anak. Tidak mudah untuknya bisa kembali.''
''Sayang, apa maksud kamu.?''Shaka mulai gelisah atas ucapan Elena barusan.
''Berikan kesempatan pada mba Mitha untuk memperbaiki semuanya.''
''Biar bagaimana pun anak-anak sangat membutuhkannya. Evan, Hana dan Manse sangat ingin bertemu ibunya jika ada kesempatan. Dan kesempatan itu sudah datang mas.''
''Aku sudah memikirkannya dengan baik.''
''Aku akan pergi.''
''Aku harap kamu bisa memberinya kesempatan dan membawanya kembali.''
Pertahanan Elena runtuh, tak di sangka air matanya tidak mampu untuk menahan pedih di hatinya. Elena pun meneteskan air mata. Dia sangat mencintai suami dan anak sambungnya. Tapi ibu yang anak-anak nya butuhkan bukanlah dia melainkan ibu kandung yang melahirkan mereka ke dunia.
''S..sayang. Jangan begini. Aku sudah bilang kalau kita akan selalu bersama. Apapun kondisinya kamu sudah berjanji untuk tidak pergi.''
''Aku sudah mengatakan padanya kalau aku mencintaimu sayang. Sudah berapa kali kukatakan padamu, aku tidak akan kembali padanya.'' Ucap Shaka memohon pada Elena untuk tidak pergi meninggalkannya.
''Keputusanku sudah bulat mas. Aku tidak akan bisa memaafkan diriku jika harus egois dan menghancurkan mimpi anak-anak. Aku tahu rasanya karena aku tidak pernah mengenal ibuku mas. Aku tidak ingin anak-anak mengalami hal yang sama.''
''Aku akan tetap pergi. Mulai sekarang kembalilah ke rumah mas.'' Ucap Elena dengan air mata yang tak henti-hentinya jatuh.
Shaka langsung memeluk Elena. Tanpa di sadari air matanya pun turut jatuh. Hal yang tidak terpikirkan olehnya ketika Elena akan benar-benar pergi dari hidupnya. Dia memeluk Elena dengan erat, rasanya tidak ingin melepaskan pelukan ini.
''Aku akan memberikan kamu waktu untuk memikirkan kembali keputusan kamu ini. Aku tidak akan mengizinkanmu sekarang. Pikirkanlah.'' Ucap Shaka lalu melepaskan pelukannya.
''Mas.''
''Ayok kita pulang, hari sudah mulai gelap.'' Shaka berdiri dari duduknya lalu mengajak Elena pulang tanpa ingin mendengarkan ucapan Elena.
Sepanjang perjalanan menuju ke rumah, tidak ada yang memulai pembicaraan. Baik Elena atau Shaka , keduanya memilih diam dan fokus berperang dengan pikirannya masing-masing.
...****************...
HAI READERS..
KIRA-KIRA BAIKNYA ELENA BENARAN PERGI AJA ATAU BERTAHAN YA.?
Jangan segan untuk komen kritik dan sarannya ya semuanya, author akan sangat senang menerima masukan dari kalian.
Terima kasih 🥰
__ADS_1