
''Sayang...-,'' Ucap Shaka mendekati Elena yang sedang di peluk oleh seseorang berjubah putih.
Sudah dapat Shaka pastikan bahwa itu adalah seorang dokter.
''Sayang.?'' Tanya sang dokter muda heran lalu melepaskan pelukannya.
''Dia istri saya.'' Ucap Shaka langsung membawa Elena ke dekapannya.
''Istri saya masih syok karena kehilangan ayah mertua saya. Saya akan membawanya kembali ke ruangan tempat dia di rawat.'' Shaka membawa Elena kembali ke ruangan dia di rawat.
Shaka berusaha untuk menahan amarahnya. Dia sadar bahwa Elena saat ini sedang syok dan tidak ingin menambah pilu di hatinya karena merasa cemburu.
''Sayang, kamu masih perlu di infus. Kenapa keluar dan mencabut infusnya.'' Ucap Shaka sambil merapikan rambut dan menghapus air mata Elena yang tidak kunjung habis.
''Dokter itu mengatakan kalau ayah sudah meninggal, aku masih bersamanya beberapa jam lalu mas. Kenapa dia mengatakan kalau ayah meninggal. Ayah di rawat di ruangan itu, tapi aku tidak bisa melihatnya. Ayah nggak ada di dalam.'' Ucap Elena pada Shaka.
Shaka memeluk Elena.
''Sayang, ayah sudah bertemu dengan ibu, paman mungkin dan mungkin juga sudah bertemu ibu dan ayahku.''
''Kamu nggak sendiri sayang, ada aku dan anak-anak yang akan selalu bersamamu. Sekarang kamu harus sadar. Ayah tidak akan senang jika kamu seperti ini. Ayah akan ikut sedih dan tidak bisa tenang di sana.''
''Jangan menangis lagi. Aku tahu kamu kuat sayang. Kita harus bersama-sama mengantar ayah ketempat peristirahatannya.'' Shaka membujuk Elena dan Elena mulai menerima kenyataan bahwa ayahnya telah pergi untuk selamanya.
''Sekarang kamu pilih, mau di rawat di sini atau kita pulang ke rumah untuk ikut mendoakan ayah.''Shaka membuat kesepakatan dengan Elena.
''Aku mau pulang aja mas. Aku mau berdoa untuk ayah.'' Jawab Elena.
''Baiklah, kita akan pulang. Sekarang kamu harus makan dulu.'' Shaka berdiri dan menyiapkan nasi makan siang yang sudah di sediakan di ruangannya.
''Aku nggak lapar mas, kita pulang aja.''
''Kamu harus makan sayang, nanti kamu pingsan lagi. Sekarang minum dulu aku akan menyuapimu.'' Shaka menyodorkan botol minum pada Elena.
*
*
*
Ken telah mengurus ayah Elena sampai di rumahnya. Ken sedikit kaget mengetahui bahwa Shaka dan anak-anaknya sudah tinggal di rumah ini beberapa hari.
Ken baru juga mengetahui bahwa ayah Elena telah pulang dari rumah sakit. Tapi bagaimana bisa sekarang bisa meninggal tiba-tiba jika memang sudah pulang dari rumah sakit.
Pertanyaan demi pertanyaan dia tanyakan dalam hatinya tanpa mendengar jawaban atas pertanyaannya.
Rumah Elena sekarang sudah lumayan ramai orang-orang yang sama sekali tidak di kenal Ken. Tapi dia tetap melayani para tamu di bantu oleh beberapa pelayan dari rumah Shaka.
__ADS_1
Sepanjang jalan banyak karangan bunga ucapan turut berdukacita atas meninggalnya ayah Elena.
Ayah Elena bukanlah pengusaha kaya raya, beliau hanya seorang pensiunan guru sekolah dasar. Banyak yang tidak menyayangkan kepergian ayah Elena karena sudah banyak yang tahu bahwa ayah Elena sudah lama sakit dan di rawat di rumah sakit.
Mereka saling jawab menjawab membahas tentang ayah Elena dan Elena. Tidak banyak juga yang mengkritik pernikahan Elena.
''Anaknya menikah dengan duda kaya, tapi kenapa dia tidak bisa membawa ayahnya berobat keluar negeri.''
''Ayah Elena sudah lama sakit, jadi kupikir Tuhan sudah menyembuhkannya sekarang.''
''Punya menantu kaya raya tidak menjamin kita bisa menikmati kekayaannya ya, buktinya rumah ini masih begini sejak dulu.''
''Kasihan Elena, sekarang dia sudah yatim piatu.''
''Aku penasaran ingin melihat suaminya lebih dekat.''
''Kira-kira anak tirinya datang tidak ya.?''
''Ayahnya meninggal tapi dia tidak di sini. Kemana dia. Aku juga tidak melihat suaminya.''
Begitulah kira-kira desas desus pembicaraan ibu-ibu yang suka bergosip yang datang untuk melihat ayah Elena.
Ken merasa sangat kesal dengan mereka yang datang karena penasaran bukan karena niat untuk mengantar dalam doa.
Ken menggelengkan kepalanya lalu pergi dari sana untuk meredam amarahnya. Ken mencoba memeriksa karangan bunga yang sudah banyak di pasang di sekitaran rumah Elena dan di sepanjang pinggir jalanan.
''Turut berduka cita sayang, Maaf aku belum bisa pulang. Aku sudah melihat berita duka ini lewat televisi. Aku akan segera menghubungi mu.''
Ken memotret karangan bunga ini dan segera berlalu dari sana. Dia tidak melanjutkan melihat karangan bunga karena penasaran dengan siapa pengirim karangan ini.
Ken akhirnya kembali ke rumah Elena untuk melayani tamu-tamu yang datang.
Ken hendak menghubungi Shaka karena tuan dan nona nya belum juga sampai di rumahnya.
Orang yang akan di hubungi akhirnya muncul dari arah pintu masuk. Ken langsung mendekati Shaka dan Elena.
''Tuan, nona.'' Ucap Ken pada Shaka dan Elena.
''Ken terima kasih atas semuanya. Bagaimana keadaan disini.?'' Tanya Shaka langsung dan mengarahkan pandangannya ke seluruh tamu-tamu yang sudah duduk mengelilingi mayat ayah mertuanya.
''Semuanya lancar tuan, kita akan menunggu arahan dari nona.'' Jawab Ken melaporkan.
''Ken, untuk tempat peristirahatan ayah, siapkan di sebelah ibunya. Dia akan meminta seseorang untuk menunjukkan lokasinya.'' Ucap Shaka.
Shaka dan Elena berjalan menuju kedalam lebih dekat dengan ayah Elena. Tidak sedikit dari tamu-tamu yang datang merasa kagum dengan Shaka yang mau menikahi Elena yang dari keluarga biasa saja.
Setelah mereka duduk , penatua yang sudah hadir di sana menanyakan Elena perihal saudara-saudaranya.
__ADS_1
''Nak Elena, apakah ada keluarga yang ingin kamu tunggu untuk melihat ayahmu yang terakhir kalinya.?'' Tanya pak penatua.
''Tidak ada pak, ayah tidak punya saudara yang perlu di tunggu. Kami hanya punya keluarga dari ibu, dan paman dan bibi juga sudah hadir di sini.'' Jawab Elena melihat paman dan bibinya yang duduk sejajar dengan mereka.
''Kalau begitu kita akan berdoa untuk mengantarkan pak Dody Nugroho dengan damai.'' Ucap pak penatua memulai.
Elena semakin meneteskan air mata melihat ayahnya yang sudah didandani dengan rapi. Ayahnya kelihatan sangat tampan memakai jas itu.
Bayang-bayang ayahnya yang tertawa dan memeluknya pun hadir dalam memorinya, membuat Elena semakin menangis.
Shaka mencoba untuk menenangkannya kembali. Tapi Elena belum juga berhenti, dia sadar bahwa ini adalah hari terakhir dia bisa melihat ayahnya.
Elen pasrah dan mengikhlaskan kepergian ayahnya. Biar gimana pun hidupnya masih harus berjalan ke depan. Dia mendoakan ayahnya dengan tulus.
Setelah semuanya selesai, Ken juga telah menyiapkan tempat peristirahatan terakhir ayah Elena dengan baik tepat di sebuah makam wanita.
Sesuai permintaan Elena, ayahnya di makamkan di sebelah ibunya. Untuk memudahkan Elena ketika rindu dengan orangtuanya dia bisa datang mengunjungi mereka berdua.
Acara pemakaman telah selesai dan banyak orang yang masih datang dan pergi silih berganti. Begitu juga dengan rumah Elena sudah tidak sepadat siang tadi. Karena sudah banyak tamu yang pulang.
Pelayan dari rumah Shaka pun masih sibuk untuk membantu di rumah Elena.
Tinggallah paman dan bibinya Elena. Mereka sedang duduk bersama. Hubungan mereka selama ini sebenarnya tidak begitu baik. Karena dulu paman Elena sempat ingin menjual rumah mereka karena ingin melunasi hutang judinya.
Entah bagaimana sekarang pamannya masih mau main hudia Elena pun tidak lagi tahu menahu, karena itu terjadi sudah sangat lama sejak Elena masih duduk di sekolah dasar.
''Paman minta maaf nak karena paman baru bisa datang setelah ayahmu meninggal. Kami tidak tahu menahu tentang kabar kalian. Kamu menikah saja paman tidak tahu.''
''Paman hanya tidak sengaja melihat berita makanya kami buru-buru datang kemari untuk memastikan. Paman harap kamu tidak lagi mengingat masa lalu. Paman sudah tidak seperti dulu lagi.'' Ucap paman Elena.
''Benar nak, pamanmu sudah berubah. Jadi mulai sekarang jangan menjauh lagi dari kami. Sebisa mungkin tolong beri kami kabarmu.''
''Kamu tidak sendiri, masih ada kami pengganti ibu dan ayahmu.'' Ucap bibi Elena menimpali ucapan suaminya.
''Baik paman, bibi. Terima kasih kalian sudah datang jauh-jauh ke sini.'' Balas Elena.
''Kenalin ini mas Shaka, suami Elena.'' Elena mengenalkan Shaka pada paman dan bibinya.
''Halo paman, bibi.'' Sapa Shaka.
''Tokong jaga Elena, jangan pernah tinggalkan dia sendiri. Melihat kamu bisa menerima dirinya dengan tulus sudah membuat hati kami tenang.''
''Kami titipkan Elena padamu.'' Ucap paman Elena pada Shaka.
''Aku akan selalu setia menemani dia sampai kami menua bersama Paman. Itu sudah menjadi janjiku pada dirinya dan diriku sendiri.''Ucap Shaka meyakinkan paman Elena.
Shaka merasa masih banyak hal yang belum diketahui nya tentang istrinya. Bahkan pamannya baru dikenalnya setelah kepergian ayah mertuanya. Shaka semakin ingin mengenal Elena lebih dalam lagi sebagai bukti tulus bahwa dia benar-benar mencintai Elena.
__ADS_1
...****************...