Terpaksa Menikahi Om Om

Terpaksa Menikahi Om Om
21. Cuek


__ADS_3

Aoi bangun jam 4 pagi memasak di dapur. Sebelum Makoto memasak, ia harus cepat. Pasti pria itu akan melarangnya memasak.


"Bikin nasi goreng aja deh yang gampang. Ryuji pasti suka," Aoi mengupas beberapa bumbu nasi goreng yang ia tau.


Di ruang tamu, Makoto terbangun karena mencium aroma masakan. Apakah Aoi yang ada di dapur?


Langkahnya menuju dapur, Aoi memasak? Memangnya bisa?


Makoto melihat Aoi membuat nasi goreng. Rambutnya yang masih berantakan, dan piyama pink membuatnya gemas ingin memeluknya. Tapi Makoto sadar, belum saatnya.


"Kamu masakin nasi goreng buat aku?"


Seketika Aoi terpaku. Kenapa sih harus bangun?


Aoi menoleh. Makoto memasang wajah bahagianya. Pria itu terlalu geer.


"Masak aja sendiri. Ini bukan buat lo!"


"Buat pacarmu itu?"


"Iya," Aoi mengangguk. "Jadi, gak usah ganggu. Tidur aja sana," usirnya malas.


"Enak ya tinggal di rumah kamu. Aku aja betah. Apalagi kita se-rumah nanti. Di tambah sama-"


"Mau gue lempar ini?" Aoi mengacungkan spatulanya. Makoto banyak berhayalnya.


"Jangan! Pagi-pagi udah marah aja nyonya Anekawa," Makoto terkekeh, sangat cocok namanya di gabungkan dengan Aoi.


Makoto memilih pergi saja daripada Aoi tambah marah.


Selesai memasak, Aoi memasukkan bekal itu ke dalam tasnya.


"Rasanya gak pernah aku bawain bekal ke Ryuji. Baru kali ini aja sih. Kenapa jadi kangen ya? Seharian ini gak ketemu sama dia," Aoi duduk dan memandangi foto Ryuji saat bermain basket, foto itu ia dapatkan melalui instagram sekolah.


"Aku chat aja deh. Siapa tau udah bangun. Kalau gak aku telepon," Aoi mulai mengetikkan sapaan untuk Ryuji.


^^^Anda^^^


^^^Kamu lagi apa? Udah bangun?^^^


^^^04:10 am^^^


Hanya centang satu, pasti Ryuji masih tidur.


Aoi membersihkan dirinya.


Di dapur, Makoto menatap sisa dari nasi goreng itu masih ada.


"Kayaknya Aoi kebanyakan masaknya. Cobain deh," Makoto mengambil sedikit nasi goreng itu, mengecap rasanya. Dan...


"Kok asin?" Makoto teringat kalau bekal itu untuk pacar Aoi. Ia harus segera mengambil bekal itu sebelum Aoi tau. Mungkin reaksi pacar Aoi akan marah. Nasi goreng asin siapa yang mau? Makoto tak ingin Aoi sakit hati.


Makoto melangkah hati-hati memasuki kamar Aoi. Ia menelisik sekitar memastikan Aoi tidak ada. Aman.


Makoto melihat tas Aoi di meja belajar. Ia mencari kotak bekal itu.


Ketemu!


Makoto segera kabur sebelum Aoi memergokinya.


Aoi merasa segar, apalagi ia keramas.


"Jadi gak sabar ngasih bekal itu ke Ryuji," Aoi melangkah ke meja riasnya. Ia sudah berganti seragam, lebih cepat lebih baik.


***


Di sekolah, Aoi melangkah menuju kelas Ryuji.


Hanya ada beberapa saja yang datang.

__ADS_1


Untungnya ada Syougo dan Taiga.


"Ryuji mana?"


Syougo menoleh. "Belum berangkat. Bentar lagi dia kesini. Emang kenapa?"


"Pingin ketemu aja hehe," Aoi tersenyum kikuk.


Ryuji memasuki kelas. Ia melihat Aoi. Kenapa? Ia hanya ingin sehari saja menjauh dari cewek itu.


"Itu Ryuji," ucap Syougo. Ia kembali melanjutkan gosipnya tentang acara sepak bola yang akan tayang malam ini.


"Ryuji! Aku bawain kamu bekal loh. Masakanku sendiri. Pasti enak kok," dengan ceria Aoi membuka tasnya dan ia tak mendapati bekalnya. Lalu kemana?


"Udah?" Ryuji menatap Aoi datar.


Aoi merasa berbeda. "Em-kayaknya ketinggalan. Besok aja ya?"


Ryuji melewati Aoi begitu saja.


Aoi menatap bingung, kenapa Ryuji berbeda hari ini?


"Ryuji? Aku-"


"Syou, cepetan salin PR sejarahnya. Bentar lagi masuk," sela Ryuji cepat.


'Kok Ryuji gak dengerin aku? Kenapa?' batin Aoi. Apa Ryuji ada masalah sampai mengabaikannya?


***


Aoi melihat jam tangannya tak sabaran. Sebentar lagi istirahat.


"Aoi? Bantuin Fumie tuh gak bisa ngerjakan Kimia," Haruka membuyarkan lamunan Aoi.


"Tapi-"


Kringg..kringg..


Aoi lebih dulu ke kantin membeli air mineral. Pasti Ryuji kelelahan. Setalah itu, ia mencari keberadaan Ryuji.


Itu dia!


Ryuji duduk dengan Syougo dan Taiga. Mereka mengobrol.


Dengan gugup, Aoi memberikan air mineral itu ke Ryuji.


"Kamu haus kan? Ini aku-"


"Langsung ke warung sebelah. Gue gak mood," sela Ryuji dan berjalan melewati Aoi begitu saja.


Aoi menahan tangan Ryuji dengan sigap.


"Kamu kenapa? Aku ada salah? Maafin aku ya? Tapi ka-"


Ryuji menghentakkan tangan Aoi kasar. Ia berlalu begitu saja.


Hati Aoi kecewa. Kenapa Ryuji memilih bungkam? Apa dirinya sudah tidak penting lagi?


***


Selama pelajaran kelas musik, Aoi memainkan pianonya tak minat.


Haruka yang menyadari itu memanggil Aoi.


"Aoi? Kamu baik-baik aja kan?" tanyanya khawatir, setelah istirahat Aoi berbeda dari biasanya. Seperti Aoi yang lain.


Aoi tersentak. "Haru! Ngagetin aja," pikirannya berkelana kemana-mana, pelajaran musik pun tak ada yang menyerap di otaknya.


"Jangan ngelamun," tegur Haruka. "Mau di samperin patung emas?" patung yang melegenda dan bergerak sendiri itu tersimpan di ruang lukis. Dua patung putih dan emas yang aneh.

__ADS_1


Aoi bergidik ngeri. "Ih Haru, jangan nakutin dong!"


Haruka terkekeh. Meskipun Aoi berani dengan laki-laki, tapi untuk hantu ia takut.


***


2 menit lagi bel pulang akan berbunyi. Aoi tak sabar ingin ke kelas Ryuji dan pulang bersama.


'Please ayo cepet bel dong,' batin Aoi tak sabaran.


Fumie geleng kepala melihat Aoi yang terus-terusan melihat jam tangannya.


"Nunggu apa sih?" tanya Fumie super kepo.


Aoi menoleh. "Gak penting!"


Fumie mendengus. Dasar cewek selalu begitu, menyembunyikan sendiri tanpa mau bercerita.


Kringg..kring..


"Baik, sampai disini. Silahkan kalian pulang dan selamat siang," pak Junta melangkah pergi.


"Aoi! Matiin dong komputernya. Masa nyala terus?" tegur Haruka. Aoi seperti kurang kosentrasi.


Aoi terkekeh. "Oh iya? Lupa hehe," Aoi mematikan PC-nya. Jam pelajaran terakhir adalah kelas komputer.


"Yuk ke kelas ambil tas. Keburu sore nih," Fumie beranjak dari duduknya.


Jam menunjukkan pukul 14:59 pm.


Di kelas, Aoi menemukan surat itu lagi di lacinya. Sebelum Haruka dan Fumie melihatnya, ia memasukkannya ke dalam saku seragamnya.


"Aku duluan ya? Bye bye," Aoi berlari cepat, ia harus ke kelas Ryuji yang ada di sebelahnya.


Tapi...


"Sayang anterin aku ke mall ya? Pingin belanja baju baru nih. Bajuku udah jelek semuanya," Nakura menarik-narik tangan Ryuji. Bahkan Ryuji tak terganggu sama sekali.


Dan itu menbuat Aoi sakit hati.


"Ryuji? Kita pulang bareng kan?" tanya Aoi dengan suara bergetarnya, ia berusaha menahan air matanya.


"Iya sayang. Ayo kita ke mall," Ryuji menggandeng jemari Nakura. Melewati Aoi tanpa ada rasa bersalah sama sekali.


Aoi terduduk di lantai. Inikah balasan cinta Ryuji selama satu bulan terakhir?


Aoi menangis sesenggukan.


"Kenapa harus dia? Apa selama ini kamu cuman main-main sama aku Ryuji? Kenapa?!" Aoi berteriak frustasi.


Lorong kelas sudah sepi, semuanya sudah pulang. Hanya beberapa guru saja yang ada di ruang guru.


Makoto menutup laptopnya. Akhirnya pulang juga. Ia harus menuju kelas Aoi. Siapa tau cewek itu belum pulang.


Makoto melangkah ke kelas 12 Ipa 1. Sampai Makoto mendengar suara tangisan Aoi di sebuah kelas.


Dengan langkah cepat, Makoto memasuki kelas Aoi. Ia tak menemukan gadis itu.


Makoto mengecek kelas sebelahnya. Benar saja, Aoi duduk di lantai dengan keadaan miris dan menangis.


Makoto mendekap Aoi dalam pelukannya.


"Jangan nangis. Ayo kita pulang," Makoto menghapus airmata Aoi. Rasanya ikut sakit melihat Aoi menangis seperti ini.


Aoi mengangguk. Makoto memang mengerti dirinya daripada Ryuji.


***


Hai selamat membaca cerita TMOO yang double up hehe.

__ADS_1


See you-,


__ADS_2