Terpaksa Menikahi Om Om

Terpaksa Menikahi Om Om
36. Melepas ikhlas


__ADS_3

"Loh? Aoi mana? Bukannya tadi kalian ngobrol bareng ya?" tanya Himarin terkejut, Makoto masuk dengan wajah cueknya. Entah terjadi apa baru saja.


"Aku disini kok ma," Aoi tersenyum tipis, bekas air mata di pipinya mengering. Semoga semuanya tak menyadari kesedihannya.


"Duduk nak, mama mau ngomong sesuatu yang penting tentang perjodohan kalian," ucap Himarin serius.


"Besok Makoto akan mengantarkanmu ke toko gaun pengantin ternama. Oh ya, cincinnya biar Makoto yang akan memilihnya nanti. Pasti bagus, ya kan nak?" Himarin tersenyum menatap Makoto.


"Hm," hanya bergumam. Makoto malas menjawabnya. Kalau saja di hatinya masih ada rasa cinta kepada Aoi, mungkin akan senang.


'Andai aja kalau yang beliin cincin dan gaunnya itu Ryuji. Aku bakalan seneng banget,' batin Aoi, sudut bibirnya terangkat sedikit membentuk senyuman kecil.


***


Karin tersenyum puas melihat Aoi mau dandan meskipun hanya bedak dan liptint saja.


"Biar Makoto tambah cinta sama kamu Aoi. Mana ada mama melarang kamu dandan. Justru cewek itu tambah cantikk banget kalau dandan. Masa kamu kemana-mana gak pakai bedak?"


Aoi terkekeh. "Pernah kok. Malah mama omelin aku pas ambil lipstik buat mainan," Aoi masih ingat betul 12 tahun yang lalu, dimana sang mama memarahinya karena lipstik kesayangannya habis hanya untuk mencorat-coret tembok.


"Iya, tapi sekarang kan kamu udah ngerti gak kayak anak kecil lagi. Ya udah, sana. Makoto udah nungguin kamu, jemput princess cantiknya. Cocok deh my prince and my princess," goda Karin dan berhasil membuat pipi Aoi bersemu.


Dengan langkah malas, Aoi menghampiri Makoto yang sudah duduk manis di sofa ruang tamu dengan ayahnya.


"Oh begitu," Amschel mengangguk faham. "Memangnya waktu kamu bisa di bagi? Apakah tak mengganggu pekerjaanmu di kantor?"


Makoto menggeleng. "Tidak Tuan eh-maksudku ayah," Makoto kikuk, Amschel memintanya memanggil 'ayah' agar bisa lebih dekat dan akrab saja.


"Ehem," Aoi tak suka melihat keakraban Makoto dengan ayahnya.


"Eh putri ayah udah siap. Makoto, aku titip Aoi ya? Berangkat dan pulang juga menjadi tanggung jawabmu," di akhir kalimat, Amschel mengatakannya dengan serius, ia tak mau Aoi di tinggal begitu saja.


Makoto mengangguk. "Iya ayah, aku akan menjaga Aoi baik-baik. Kita pamit," Makoto membungkukkan badannya sebagai penghormatan, sudah menjadi tradisi di kota Cherry Blossom menghormati yang lebih tua.


"Jangan cemberut gitu. Senyum dong," Amschel tau Aoi badmood, tapi untuk menyenangkan Makoto tak ada salahnya tersenyum.


Aoi memaksakan senyumannya. "Udah ah yah, aku pamit."


Amschel terkekeh. "Kalau lagi badmood gitu kok imut ya? Apa Makoto tau?"


***


Disnilah, Makoto dan Aoi berada di toko gaun pengantin ternama. Sangat ramai, bahkan berjejer mobil terparkir apik. Menunjukkan hanya kalangan atas, harganya bikin sesak nafas.


"Pilih saja sendiri," ucap Makoto acuh. Bahkan ia tak berjalan berisian dengan Aoi. Cewek itu berada jauh sedikit di belakangnya. Menjaga jarak.


Aoi mengangguk. Ia sadar diri. Tak memungkinkan Makoto akan bersikap romantis dan manis seperti dulu lagi.

__ADS_1


Pilihan Aoi jatuh pada gaun yang berwarna biru laut dengan kemilau berlian kecilnya.


"Mbak mau pilih yang ini?" seperti biasa, mbak Yumi juga bekerja di toko. Mungkin kerja sampingan.


Aoi mengangguk. "Apa ini bisa couple dengan laki-laki? Ya, aku akan menikah dalam waktu dekat."


"Baik, pasti ada. Nanti di ambil kasir satu ya?"


"Iya mbak. Terima kasih."


Aoi menelisik sekeliling, Makoto tidak ada. Kemana pria itu?


'Ck, kenapa suka ngilang sih?' batinnya kesal.


Aoi menelepon Makoto, saat panggilan tersambung justru Makoto menyuruhnya ke toko perhiasan yang tak jauh dari toko gaun pengantin.


Benar-benar menyebalkan! Seenaknya Makoto meninggalkannya sendirian?


"Mbak Yumi?"


"Iya?"


"Antarkan gaun itu ke rumah saya saja. Untuk pembayarannya biar ayah saja. Keluarga Rotschild. Mbak Yumi tau kan?"


"Saya tau. Baiklah, pesanan akan di antar beberapa menit ke depan."


"Bagaimana pak? Apakah ada cincin yang cocok?" tanya Eito ramah.


"Sebentar lagi dia datang," Makoto malas terlalu ikut campur dengan selera Aoi, ia tak peduli Aoi memilih gaun yang mana. Yang terpenting semuanya sudah selesai, dan pulang.


"Kamu tuh gimana sih?" Aoi datang dengan mengomel, untung saja toko perhiasannya tidak terlalu ramai. Ia bisa menemukan Makoto dengan mudah.


"Mana jari manismu. Cincin disini apa ada yang pas. Cepat, aku tidak mau membuang-buang waktu," tegas Makoto datar.


Aoi menunjukkan tangan kirinya.


Makoto memasangkan cincin dengan model diamond yang klasik.


"Gak pas! Cari yang lain cincinnya!" ukurannya kekecilan, Aoi tak suka.


"Yang itu bagus. Aku suka," Aoi menunjuk cincin batu aquamarine.


Makoto memasangkannya dan pas.


"Couple ya pak?" tanya Eito.


"Ya. Cepat di bungkus dengan bagus, saya tak ingin membuang-buang waktu," lama-lama Makoto bosan, apalagi tangannya menyentuh jari manis Aoi membuat hatinya aneh dan jantungnya berdebar.

__ADS_1


"Baik."


"Bagaimana gaunnya? Tuxedo ku jangan sampai memilih yang salah. Kamu harus tau seleraku bagaimana," bisik Makoto kesal.


Aoi mengangguk. "Pilihanku tak pernah salah. Dan kau akan suka."


Selesai membeli cincin, Makoto mengantarkan Aoi pulang. Tapi saat Aoi akan masuk ke dalam mobil, tangannya di tahan oleh seseorang.


Aoi menatapnya, orang itu adalah Ryuji.


"Sayang? Kamu sama siapa?" seperti biasa, Ryuji tak tau suasana.


Makoto yang mendengar panggilan sayang pun geram.


"Usir dia. Usir sekarang, atau tanganku yang bertindak?" tuntut Makoto penuh emosi.


Aoi menghela nafasnya. Makoto terlalu kejam.


"Iya? Ada apa sayang?" Aoi menarik Ryuji menjauhi mobil sport hitam itu. Semoga Makoto tidak menguping.


"Kamu masih sama Makoto?" tanya Ryuji putus asa, melihat orang yang ia cintai dengan pria lain itu sungguh menyakitkan.


Aoi menggeleng. "Gak. Aku-"


Ryuji melepaskan tangan Aoi. "Semuanya sudah jelas, kamu pergi ke toko gaun pernikahan dan perhiasan. Apalagi? Kamu memang serius mau menikah dengan Makoto?"


Aoi mengangguk pelan. "Maaf. Tapi cintaku cuman buat kamu Ryuji. Kamu ngajak aku balikan aja udah seneng. Jadi, pertahankan hubungan kita ya?"


Ryuji menggeleng. "Gak Aoi. Meskipun kita saling mencintai, tapi kalau kamu resmi milik Makoto? Aku tak bisa melakukan apa-apa."


"T-tapi kamu masih sayang sama aku kan?" Aoi tak siap jika Ryuji kembali menjauh.


"Maaf. Maaf Aoi, aku mengikhlaskanmu dengan pak Makoto. Semoga kamu bahagia dengannya. Dan aku masih tetap mencintaimu. Love you and see you Aoi," Ryuji pergi.


Aoi menangis, berpisah kedua kalinya.


"Ryuji! Tunggu!" Aoi mengejar langkah Ryuji. Tapi cowok itu malah berlari dan menghilang di kegelapan malam.


Makoto menahan tangan Aoi. "Begini kalau sudah gila dengan cinta. Sakit kan? Itu yang aku rasakan saat ini Aoi. Sekarang hapus air matamu, aku tak mau nanti ayahmu malah menyalahkan aku."


Aoi mengangguk. "Iya. Ayo pulang."


'Aku harap kita masih bisa bertemu lagi. Sampai kapan pun, cintaku hanya untukmu Ryuji,' batin Aoi memejamkan matanya, ia menahan genangan air mata yang siap tumpah. Tidak. Jangan menangis lagi.


***


2 jam setelah makan tidur. Hm demi gak gendut.

__ADS_1


See you next time episode-,


__ADS_2