
Selama bakar-bakar jagung, mereka melempar canda tawa.
"Padahal gak lucu kok ketawa ya?" tanya Fumie heran.
"Kita kan udah satu frekuensi, mau lucu atau gak pasti seneng lah," jawab Haruka meniup jagungnya yang sudah matang.
"Ini campingnya berapa hari Aoi?" tanya Haruka penasaran.
"Tiga hari aja sih. Gak mau lama-lama, takut di cariin bodyguard aku. Yah, pasti sekarang lagi tidur. Aku juga udah bilang ke bu Idah kok, entah di aduin atau gak gak apa-apa. Asalkan mereka jangan cari aku."
"Suami kamu belum pulang ya dari luar kota? Lama banget, pasti kamu kangen berat sama pak Makoto," Fumie meniup jagung bakarnya, setelah di rasa dingin ia memakannya.
"Kangen banget, aku juga bosen lama-lama di rumah. Makannya aku kepikiran camping sama kalian. Pingin juga ngajak Nakura dan Ryuji, tapi mereka kan pengantin baru. Jangan di ganggu, lagi romantisan," bisik Aoi lirih, seolah takut Nakura dengar dan mengomelinya.
"Sebelum tidur, jangan minum banyak-banyak ya? Mau pipis di mana coba, hutannya aja gelap banget," Fumie jadi parno sendiri, kegelapan disana menyeramkan.
"Gak lah, minum secukupnya aja," sahut Haruka.
"Udah malem nih, tidur yuk?" mata Aoi terasa berat, ingin segera tidur.
Haruka dan Fumie mengangguk. Tak baik begadang terlalu lama, apalagi dengan angin yang dingin menerpa kulit.
Setelah di rasa aman, dan semuanya masuk ke dalam tenda. Segerombol orang berjubah hitam itu melangkah mendekati tenda itu.
"Langsung gitu?" tanya yang lain setengah berbisik.
"Jangan sampai mereka teriak minta tolong. Kita bisa ketauan sama warga," ujar yang lain panik.
"Ketauan? Sadar bro, disini jauh dari pemukiman warga. Selama perjalanan tadi, gue cuman liat pepohonan dan jurang doang."
"Gitu ya? Hehe, aman dong. Yuk lah, bos Takeru gak sabar bawa mereka semuanya."
Dengan langkah mengendap-endap, semuanya menuju ke tenda. Untungnya hanya sekedar retsleting sebagai penutupnya.
Fumie yang masih sulit memejamkan matanya pun enggan untuk tidur.
"Haruka sama Aoi udah tidur pulas banget. Masa iya aku begadang sendiri?"
"Ngapain ya? Kalau keluar tenda, disana gelap. Serem banget," Fumie bingung berperang dengan pikirannya.
Fumie melihat bayangan manusia yang mendekat. Mungkin cahaya rembulan membiaskan bayangan itu.
"Haruka! Aoi! Bangun! Itu siapa?" Fumie mengguncang Haruka dan Aoi.
"Hm, ada apa sih? Ganggu orang tidur aja," Haruka mengubah posisi tidurnya memunggungi Fumie.
"Orang? Siapa? Mana ada di hutan- Haruka! Bangun, jangan tidur dulu. Ayo kita pergi darisini!" Aoi terbelalak, terkejut melihat segerombolan bayangan itu semakin mendekat.
Haruka terpaksa membuka matanya.
"Ya udah, ayo. Masih jauh kan? Belum di depan tenda kita kan?"
"Tuh, liat aja. Gimana kita mau kabur? Masa kita berdiam diri disini terus? Gak aman," Fumie lama-lama kesal dan gemas.
"Hp! Kenapa gak telepon polisi aja?" usul Haruka, baru saja ide cemerlang muncul ke permukaan.
__ADS_1
"Ya! Cepet!" Aoi ikut panik.
Fumie menghubungi polisi, menunggu.
"Ayo, cepat tersambung. Kita dalam bahaya. Ya Tuhan, tolong kami," gumam Fumie memejamkan matanya, berharap panggilannya segera di jawab oleh pihak kepolisian.
KREK.
Tendanya di buka secara paksa, bahkan ritsletingnya lepas.
Ketiga cewek itu terkejut.
"K-kalian siapa?" tanya Fumie takut-takut.
"Hai cantik! Di hutan sepi gini ada cewek cantik camping. Cuman bertiga aja nih?"
"Kalian bertiga ikut kami!"
"Seret mereka!"
"Kabur ayo!" Aoi menarik tangan Haruka dan Fumie. Menjauhi orang menakutkan itu.
"Heh! Jangan lari! Kejar!"
"Aoi, kita mau lari kemana?" tanya Fumie, ia pasrahkan saja semuanya pada Aoi.
"Jangan lari kenceng-kenceng Aoi, kamu kan lagi hamil. Kalau bayi kamu kenapa-napa gimana?" tanya Haruka cemas.
"Tenang aja, ikutin aku. Yang penting kita harus aman dari mereka Haru."
"Jangan bersuara. Kalian diem aja," Aoi berusaha mencari tempat persembunyian yang aman.
***
Di sebuah gubuk tua yang kotor, disinilah Aoi dan kedua sahabatnya bersembunyi.
Fumie menyelonjorkan kakinya.
"Ya ampun, lari berjam-jam aja capek banget. Berasa kayak lomba atletik satu pulau aja," keluh Fumie, nafasnya masih tersengal. Pelipisnya di penuhi keringat.
"Aoi?" panggil Haruka.
Aoi menoleh. "Apa?"
"Bayi kamu masih bergerak nendang-nendang gak?" Haruka sekedar memastikan calon bayi Aoi masih sehat setelah berlari sangat jauh.
Aoi mengangguk. "Puji Tuhan, masih terasa kok tendangannya. Oh ya, apa aku telepon bodyguard ku aja ya?"
"Jangan!" pekik Fumie panik dong.
"Kita gak punya cara lain lagi. Gak apa-apa meskipun aku di marahin sama mereka, yang terpenting kita semua terselamatkan," Aoi menghubungi Ryou, entah sudah tidur atau masih terjaga.
"Ryou! Tolong aku! Please datang ke hutan pinus ya? Gak jauh dari promenade kok. Nanti aku jelasin semuanya. Aku gak mau di tangkap sama mereka."
"Ok. Kami akan segera kesana nona. Tunggu saja."
__ADS_1
"Haru, Fumie. Kita pasti bisa selamat dari mereka," Aoi beralih menatap kedua sahabatnya yang tampak ketakutan.
Fumie mengangguk. "Tau aja kayak gini kita gak usah camping."
"Kenapa mereka bisa tau kalau ada kita di pinggir hutan? Orang disini?" tanys Haruka heran.
Aoi mengernyit. "Bisa jadi sih. Andai aja ada mas Makoto dan bodyguard aku. Semuanya bakalan aman."
KRUYUK.
Haruka tersenyum kikuk. "Duh, laper nih. Semua makanan kita ketinggalan di tenda."
"Makan daun aja sana," titah Fumie ketus.
"Emang aku kambing?" Haruka menatap Fumie sinis.
"Kalau berani, ambil sana ke tenda," akhirnya Aoi angkat suara, sangat jarang Haruka dan Fumie berdebat.
"Gak berani!" seru kedunya kompak.
Aoi menghela nafasnya. "Aku punya dua permen. Kenyang atau gak buat kalian aja. Nih," Aoi menyodorkan dua permen rasa mint.
Haruka dan Fumie tersenyum, jatah makan permen.
"Makasih," ujar keduanya berdamaan.
"Sama-sama."
***
15 orang berjubah hitam itu berpencar mencari keberadaan 3 cewek yang di yakini teman dari Nakura.
"Kemana larinya mereka? Sangat cepat sekali mengalahkan cheetah."
"Tadi aku sempat melihat, mereka bertiga lari ke arah utara sana."
Menunjuk ke arah hutan yang begitu gelap dengan suara burung hantu semakain menambah suasana creepy.
"Ya udah, infokan ke bos."
***
Ryou, dan ketiga partnernya sedang dalam perjalanan menuju hutan pinus.
"Kenapa dari kalian tidak ada yang tau kalau nona Aoi kabur diam-diam dan berhasil lolos?" tanya Ryou, ia masih fokus menyetir. Hanya penerangan lampu mobil sebagai pencahayaan dalam gelapnya malam.
"Karena aku pikir nona Aoi sudah tidur. Jam 9 tepat, tidak ada suara apa-apa di dalam kamarnya. Pasti tertidur pulas," jawab Ryoto.
"Meskipun begitu, kalian harus mengeceknya. Faham?" Ryou yang sebagai ketua mempunyai tanggung jawab besar, karena Makoto sudah mempercayakan Aoi kepadanya.
***
Semerbak bunga dengan gemericik air bersamaan senyuman indah sang mentari.
10:12 siang.
__ADS_1
See you-,