Terpaksa Menikahi Om Om

Terpaksa Menikahi Om Om
85. Kepergian omah Eva


__ADS_3

"Tante Aoi, tadi Hikaru hampir aja ketabrak mobil. Untung aja sekarang gak kenapa-napa," ujar Aiko melaporkan kejadian yang sebenarnya sangat jujur.


Aoi terkejut. "Kok bisa? Hikaru, kamu gak kenapa-napa kan? Ada yang luka? Ayo ke rumah sakit."


Hikaru memeluk sang mama. "Maaf ma. Tadi aku gak tau kalau ada mobil. Tapi untungnya mobil itu gak ngebut. Ini semua salahku."


"Omah mana?" tanya Aoi, ia harus berbicara pada omah, pasti ini ulahnya lagi. Sudah berapa kali Aoi bilang agar tak mendekati Hikaru.


"Kenapa? Ada denganku?" Omah Eva berjalan menghampiri Aoi, berani. Karena dirinya memang tidak salah.


Nakura yang merasakan situasi tidak enak mengajak Aiko pulang dan berpamitan pada Aoi.


"Ma, kan belum sore. Kok pulang sih? Aku masih pingin main sama Hikaru," rengek Aiko sedih, permainan bola tadi sangat seru meskipun ia kalah.


"Mama di chat sama ayah, pulangnya harus cepet jangan sampai sore," jawab Nakura berbohong, Aiko pasti akan mempercayainya.


"Kamu masuk aja. Mama masih mau nyiram tanaman," ujar Aoi mencari alasan, ia ingin bicara empat mata dengan omah Eva.


Setelah Hikaru masuk, Aoi menyuruh omah Eva duduk.


"Aku ingin tau, apa omah sendiri yang nyuruh Hikaru di tengah jalan?" tanya Aoi mulai mengintrogasi omahnya.


Omah Eva menggeleng, kenapa Aoi bisa secepat ini untuk mencurigainya?


"Gak, Hikaru sendiri yang di tengah jalan. Sedangkan Aiko udah mengingatkan ada mobil yang mau lewat. Akhirnya Hikaru sadar dan menyingkir," jelas omah Eva tenang tanpa ada rasa gugup, ini memang jujur sama sekali tak ada kebohongan yang harus di tutupi daripada Aoi semakin marah.


Aoi mulai mencerna jawaban omah Eva, jika itu benar ia bersalah menudu omah Eva.


"Kali ini aku maafin omah, tapi kalau terulang lagi mau alasan apapun aku gak akan maafin omah," Aoi memilih masuk ke dalam rumah. Sudah cukup ributnya, rasanya tak nyaman.


Omah Eva menunduk, selalu saja ia yang salah.


***


Omah Eva meraih secarik kertas, menuliskan kata-kata curhatannya. Tak ada yang tau setiap suasana hatinya berubah, hanya buku diary yang selalu mengertinya.


20 Agustus 2020


Hari ini aku telah lalai menjaga Hikaru. Aku selalu salah bagi Aoi, cucuku. Hanya menginginkan bahagia bersama Hikaru dan Aoi, tapi semuanya tak menyukai kehadiranku disini. Melepas rindu dan akhirnya bertemu. Tak mendapatkan apa-apa selain amarah dari Karin dan Aoi, Amschel cuek padaku. Tapi Makoto, dia masih baik denganku.


-Tokyo

__ADS_1


Omah Eva meletakkan buku diary-nya di meja. Sudah larut malam, bahkan ia memilih mendekam di kamar daripada ikut makan malam.


Tok tok tok.


"Iya masuk aja," omah Eva menghapus air matanya, hanya sedikit. Terlalu larut menulis curahan isi hatinya.


Makoto masuk dengan membawa makanan di nampan.


"Omah kenapa gak ikut makan malam? Gak laper?" Makoto meletakkan nampan makanan itu di meja. Ia duduk di kursi.


Omah Eva menggeleng. "Kenyang," jawabnya singkat, malas menjelaskan alasannya. Itu juga tak terlalu penting untuk Makoto.


"Tapi kan omah belum makan apa-apa. Daritadi sore juga omah di kamar. Apa omah sakit? Ayo kita periksa aja," ajak Makoto, ia berdiri. Tapi omah Eva tetap duduk tak bereaksi.


"Aku suapin omah ya?" Makoto juga bingung kenapa omah Eva lebih banyak diam tak seperti biasanya yang selalu ceria dan tersenyum.


"Kamu keluar aja. Nanti aku makan," tolak omah Eva halus, percuma juga di berikan sebuah perhatian kalau pada akhirnya ia di jauhi dan di salahkan.


Makoto mengangguk, mungkin omah Eva ingin sendiri.


"Aku gak butuh makan, yang aku butuhkan hanyalah kebahagiaan. Aku sudah tua, seharusnya selalu ceria bukan merasa kesepian dan menyendiri seperti ini," ucap omah Eva pada dirinya sendiri, perutnya tak lapar. Biarkan saja sakit, tak akan ada yang peduli.


Sampai matanya terasa berat, akhirnya omah Eva tertidur.


***


"Omah masih tidur? Kok gak di bangunin?" tanya Makoto pada semua anggota keluarga.


"Biar aku aja yang bangunin-" tangannya di cekal oleh Aoi. "Jangan, kita makan aja dulu. Nanti kamu bawain makanannya ke kamar," sela Aoi cuek, ia marah karena Makoto sudah sangat perhatian pada omahnya itu.


Makoto mengangguk. "Ok, aku makan sedikit aja. Biar nanti bawain makanannya langsung ke kamar omah daripada lama."


"Kamu itu makan yang banyak. Biar semangat pas lagi kerja," nasehat Aoi, kalau perhatian hanya untuk Makoto yang paling lebih.


"Mama, aku ajak omah kesini aja ya? Kan kasihan di kamar sendirian," akhirnya Hikaru angkat suara, ia baru menyadari tak ada omah Eva yang ikut bergabung makan.


"Makan Hikaru, nanti biar ayah aja yang bawain makanannya," ucap Aoi tenang, kenapa Hikaru dan Makoto mulai menyayangi omahnya? Sudahlah, terserah mereka memang belum tau sifat aslinya.


Selesai makan, Makoto membawakan makanan ke kamar omah Eva.


"Omah? Masih ngantuk ya? Aku bawain sarapan buat omah," tapi pandangan Makoto heran ketika makanan yang ia bawakan semalam masih utuh tak tersentuh.

__ADS_1


"Omah? Ayo sarapan. Omah?"


Tak ada tanggapan.


"Omah? Omah? Bangun," Makoto menepuk pipi omah Eva, lalu ia memperhatikan nafas omah Eva yang sudah berhenti.


"Omaaahh!" teriak Makoto langsung memeluk omah Eva, ia menangis.


Mendengar suara teriakan Makoto, semuanya pun menyusul ke kamar omah Eva.


"Ada apa?" tanya Karin panik. Terlihat Makoto memeluk omah Eva dengan isak tangisnya.


"Omah tiada," jawab Makoto lirih.


Semua yang mendengar itu pun terkejut.


Makoto menghadap mereka, harus tau semuanya terutama kemarin. "Kalian semua gak tau. Kemarin omah gak mau makan, duduk sendirian sambil melamun," ungkapnya jujur.


Hikaru pun ikut memeluk omah Eva. Ia menangis, rasanya tak rela jika omah kesayangannya pergi.


Kedua alis Aoi mengernyit.


"Terus? Kan kamu yang bawain makanannya," Aoi masih tak mengerti.


"Semua ini gara-gara kalian! Kenapa gak ada yang peduli sama omah? Apa dia jahat ke kalian?" tanya Makoto mulai emosi.


Hikaru tampak tak peduli, yang terpenting ia masih bisa mendekap omah Eva sebelum nanti di istirahatkan.


"Jadi, kamu nyalahin aku sama mama? Kamu gak tau kalau-" ucapannya tersela ketika Karin menggenggam tangannya. Aoi menoleh. "Sstt, jangan katakan apapun tentang omah. Biarkan saja jadi rahasia kita," bisik Karin lirih.


Aoi mengangguk pelan. "Aku tetap sayang omah," langkahnya menghampiri omah Eva yang kini sudah terbujur kaku. Padahal kemarin ia masih bisa mengobrol dengan omah, tapi untuk yang terakhir kalinya.


Makoto menyingkir memberikan ruang untuk Aoi. Mungkin ingin meminta maaf.


"Omah, semoga bahagia disana. Aku sayang banget sama omah. Karena omah, aku bisa belajar banyak. Makasih omah," bibirnya terasa kelu, matanya berkaca-kaca.


"Kita berdoa saja, semoga omah di tempatkan berada di sisi Tuhan," ujar Amschel, semuanya pun mulai berdoa.


***


Jujur perlu, tapi sekali bohong selamanya akan berbohong sampai pada akhirnya rasa bosan itu ada meskipun memilih bertahan.

__ADS_1


11:12 am.


See you-,


__ADS_2