Terpaksa Menikahi Om Om

Terpaksa Menikahi Om Om
27. Pelukan terakhir


__ADS_3

Ryuji memejamkan matanya. Tangannya terasa berat untuk menghapus semua foto Aoi yang sudah ia simpan di file komputernya.


Ryuji memandang lekat foto-foto Aoi, dari candid, sampai tersenyum ke arah kamera.


"Maaf Aoi kalau aku nanti buat hancur perasaan kamu. Ini demi kebaikan kita. Aku gak mau diantara kita ada yang merasa berjuang sendirian," Ryuji mulai menekan ceklis semua, terhapuslah 50 foto Aoi.


Tanpa sadar, mata Ryuji berkaca-kaca. Cairan sebeing kristal itu meluncur bebas. Ryuji menangis. Rasanya tak rela melepaskan orang di sayang, sudah nyaman.


Hanya menunggu hari esok, semuanya akan berakhir. Ryuji tak sanggup jatuh cinta dengan Aoi tapi saingannya Makoto.


***


Aoi berusaha menghubungi Ryuji, tapi panggilannya di tolak otomatis.


"Kok nomorku di blokir sih? Segitu marahnya kamu sama aku ya?" Aoi menatap wallpaper ponselnya, foto itu ia ambil saat Ryuji bermain basket.


Aoi mengirimkan pesan WhatsApp tapi centang satu.


"Kayaknya Ryuji mau jauhin aku. Apa perlu aku yang pertahankan hubungan kita?"


Aoi tak menyangka, satu aksi gilanya itu membuat dua laki-laki yang selalu ada di sisinya kecewa. Aoi melakukan itu hanya ingin menjauh dari Makoto.


Dan Makoto pun hanya mendengar di balik pintu yang memang Aoi kunci.


"Kalau seandainya kamu bikin aku kecewa sekali lagi, mungkin aku bakalan pergi Aoi," ucapnya sedih. Ia ikut merasakan sedihnya Aoi, ingin ia merengkuhnya. Tapi belum saatnya.


***


Nakura duduk manis di ruang tamu. Wajah cerianya tak sabar menunggu Ryuji selesai sarapan.


Hikari yang menyapu ruang tengah pun tersenyum. Nakura. Cewek itu jarang datang. Hikari merindukannya.


"Nakura? Tumben banget kesini. Pagi-pagi lagi. Nungguin Ryuji ya?" Hikari duduk di sebalah Nakura. Aroma buah jeruk tercium, inilah yang Hikari suka dari Nakura. Cantik dan wangi.


Nakura mengangguk. "Lagi sarapan ya ma? Soalnya Ryuji sendiri yang nyuruh aku kesini pagi-pagi," Nakura saja sampai tak percaya, mimpi di siang bolong Ryuji mulai terbuka dengan dirinya.


"Bentar lagi selesai kok. Tunggu aja. Oh ya, kamu kok kemarin jarang kesini. Sibuk?"


Nakura bingung mau menjawab apa. "Di rumah aja sih ma. Pingin kumpul sama keluarga," Nakura tersenyum kikuk.


Ryuji tersenyum melihat Nakura sudah duduk menunggunya.


"Aku berangkat dulu. Ayo Naku," untuk pertama kalinya, Ryuji memanggil nama Nakura biasanya lo dan gue.


Nakura tak bisa melunturkan senyumnya. Inikah mimpi?


Pikirannya saat ini tertuju pada Aoi. Apakah hubungan keduanya sedang tidak baik? Nakura harap seperti itu.


Selama perjalanan, Ryuji bertanya hal-hal menyenangkan. Mulai dari kesukaannya, sampai tempat favoritnya.


Nakura jadi tau semuanya. Kalau begini, lampu hijau untuk pdkt-in Ryuji.

__ADS_1


Sampai di sekolah, semua mata tertuju pada dua lawan jenis itu dengan heran.


"Biasanya kan Ryuji berangkat sendirian. Kok sekarang sama cewek?"


"Cantik lagi. Pacarnya atau selingkuhannya?"


"Aoi tau gak ya?"


Nakura tersenyum bangga mendengar sahutan gosip itu. Ayolah, sekarang Ryuji itu gebetannya.


"Nanti pulang bareng kan?" tanya Nakura dengan percaya dirinya.


Ryuji menoleh. "Iya. Kita pulang bareng kok," jawabnya tenang.


"Oh? Jadi kamu gak bales chat aku, gak angkat telepon aku ini alasannya?" Aoi bertepuk tangan, jangan lupakan senyum remehnya saat menelisik Nakura menilai cewek itu aneh.


"Nakura. Ayo kita ke kelas," Ryuji tak peduli dengan tuduhan Aoi. Ini memang tujuannya sejak awal, menjauhi Aoi dan melepasnya.


"Inget baik-baik ya. Gue kecewa sama lo Ryuji!" teriak Aoi lantang, suara serak khas bangun tidur. Aoi terlalu kepikiran sampai tidur pun hanya 2 jam.


Nakura tersenyum miring. 'Ternyata perjuangan lo sampai disini aja ya? Haha, gitu aja nyerah. Aoi Aoi,' batin Nakura senang.


"Jadi gimana ini? Putus?"


"Nakura ya sekarang pacarnya?"


"Yang sabar ya Aoi. Emang Nakura lebih cantik daripada kamu loh Aoi!"


Di kelas, Aoi baik-baik saja. Fumie melempar candaan receh pun Aoi terpaksa senyum.


"Eh Aoi? Tumben banget udah datang pagi-pagi. Sini, ada berita hot news loh!"


"Heh, news artinya berita masa berita hot news? Gak nyambung ah!" sungut Haruka kesal.


"Berita apa?" tanya Aoi tak minat. Jangan itu lagi.


"Akhirnya aku bisa chat sama Mitsuru. Aaa! Gak nyangka!"


"Mitsuru yang ketua tenis meja itu?" tanya Aoi tak percaya. Sangat mencengangkan!


Mitsuru Mugita, cowok ketua tenis meja. Tinggi semampai, rambut coklatnya yang terpesona, tatapan teduhnya membius hati kaum hawa. Siapa yang akan menolak kharisna Mitsuru?


"Aku ikut seneng deh. Jangan terlalu cinta aja," nasehat Aoi, baru saja ia berpengalaman broken heart.


Haruka dan Fumie terkekeh. Aoi patah hati.


***


Ponsel Aoi bergetar di saku seragamnya, wajib mode silent agar tak mengganggu pelajaran.


Ryuji

__ADS_1


Istirahat nanti langsung ke rooftop sekolah. Aku mau ngomong sama kamu


08:15 am


Dua sisi Aoi senang dan ragu. Dari pesannya saja Ryuji sangat serius.


'Kamu mau ngomong apa? Pasti soal tadi kan? Aku harap kamu masih bertahan sama aku,' batin Aoi. Ia menunduk menyembunyikan air matanya.


***


Tepat saat bel istirahat berbunyi, Aoi bergegas menuju rooftop. Tak mempedulikan Haruka daj Fumie yang mengajaknya ke kantin.


Rooftop harus menaiki tangga. Karena letaknya di tingkat paling atas.


Ryuji duduk di kursi panjang. Kakinya di selonjorkan, pandangannya lurus menatap keindahan sekolah dari atas.


"Aku kira kamu gak bakal datang kesini," ucap Ryuji tanpa menatap Aoi.


Aoi duduk di sebelah Ryuji. "Kamu mau ngomong apa?" tatapan Aoi penuh harap, andai saja Ryuji balas menatapnya dengan binar bahagia seperti dulu.


Ryuji menghela nafasnya. Jujur, perasannya masih sama. Bahkan saat bersama Nakura pun, ia teringat Aoi dan Aoi.


"Aku capek Aoi. Aku gak sanggup. Aku nyerah," jawab Ryuji lirih, ia sudah putus asa.


Aoi terdiam. Menyerah? Apa Ryuji akan mengakhirinya? Kenapa semudah itu?


"Kamu berhak bahagia dengan yang lain. Aku mau kita mengakhirinya baik-baik. Jangan ada yang terluka. Kamu bisa kan?" Ryuji memberanikan diri menatap wajah sayu Aoi.


Aoi tak bisa berkata-kata. Saat ia sudah nyaman, kenapa harus pergi?


"Kamu udah bosen ya? Atau aku gak asik?" Aoi berusaha ceria meskipun tak kuasa ingin menangis. Ia harus terlihat kuat di hadapan Ryuji.


Ryuji menggeleng. "Aku gak bosen sama kamu. Tapi-"


"Kalau kita masing-masing mungkin bisa bahagia dan bebas. Kita putus," Ryuji beranjak, saat ia akan melangkah pergi Aoi meraih tangannya.


"Can i hug you?" pinta Aoi ragu-ragu. (Bisakah aku memelukmu?)


Ryuji mengangguk. "Sini," jujur saja hatinya masih tak rela meninggalkan Aoi. Percuma ia drama akur dengan Nakura. Lama-lama juga muak dan membosankan.


Meskipun Aoi terlihat kuat, tapi ia menangis. Aoi menghapus air matanya.


'Aku harap Tuhan mengizinkan kita untuk bertemu dan bersatu kembali,' batin Aoi.


***


Pas gak ya feel-nya?


Me: I'm not sad girl


See you-,

__ADS_1


__ADS_2