
Saat hari Try Out tiba, Aoi masih saja tidur. Ia kelelahan belajar semalaman, turuti saja apa yang di katakan Makoto.
Flashback on
"Kamu itu salah mengalikan bilangannya. Masa ini di kali ini. Ya jelas hasilnya salah Aoi. Coba kamu-"
"Udah?" sela Aoi datar. Ia sampai pusing di omeli terus-terusan.
"Aku lagi jelasin ini. Diam dulu dong. Jadi kalau di kalikan silang pasti-"
"Benar!" seru Aoi cepat.
Sampai kedua mata Aoi terasa berat, ia mengantuk. Salah sendiri Makoto menjelaskan tanpa jeda dan titik koma.
"Kalau tidur aja imut, apalagi galak. Jadi gemesin," Makoto tersenyum sendiri. Bukan sama kamu.
Flashback off
Makoto menyibak gordennya.
"Aoi. Aoi, bangun ayo. Udah jam lima nih, kamu Try Out loh. Sana mandi," Makoto mengguncang tubuh Aoi, cewek itu hanya menggeliat.
"Satu jam lagi deh. Gue masih ngantuk tau," Aoi memeluk guling, tambah ngantuk juga.
"Mandi dulu. Sarapan, terus belajar lagi. Berangkat. Ayo, kamu itu cewek masa masih-"
"Kebo? Molor? Apa?" Aoi terpaksa bangun, bukan wajah bangun tidur tapi kak Ros yang galak.
Makoto tertawa lepas. "Hahaha, udah ngaku. Aoi kebo! Hahaha," rasanya senang menertawakan Aoi, apalagi wajah masamnya saat ini ingin menghantam dengan tinjuannya.
Aoi kesal, akhirnya bantal dan guling serta mantan tak terlupakan di lempar. Kok ikutan?
Makoto menyingkir. "Wlee gak kena. Ayo coba lagi dong!" Makoto malah menantang Aoi.
"Dengan senang hati om nyebelin!" Aoi melempar selimutnya, boneka dan dia yang tiba-tiba ada. Tau ah curhat.
"Stop it! Mending mandi deh," kalau begini Aoi tak akan berhenti, tapi hatinya juga senang.
"Berisik lo!" dengan langkah di hentakkan kesal, Aoi menurut saja.
***
"Kenapa sih kalau Ipa itu sesi pertama? Mana berangkat pagi-pagi," Haruka mulai menggerutu. Ia dan Fumie di luar kelas.
"Gak tau Haru. Mungkin biar gak bisa contekan sama anak Ips," ucap Fumie ada benarnya.
"Nyontek gimana? Kan ada mata pelajaran pilihan Fumie. Ipa sains, Ips Sosial. Terserah mereka mau pilih apa? Fisika, biologi, kima, atau sejarah, geografi, ekonomi?"
"Haru! Fumie!" Aoi berlari, melihat Haruka dan Fumie datang pagi-pagi sudah alhamdulillah. Ada teman mengobrol sebelum ujian di mulai daripada terganggu karena Makoto.
"Apa?" Haruka menoleh.
__ADS_1
"Duh capek banget aku. Mana di suruh mandi pagi-pagi lagi," gerutu Aoi, air dingin, minum dingin, udara dingin, cuaca pun dingin.
Fumie terkekeh. "Oh, pasti di suruh sama pak Makoto ya?" godanya, Aoi siap-siap melemparkan sepatu kacanya. "Ampun Aoi!" Fumie berakting takut.
"Di mohon untuk siswa kelas 12 Ipa satu sampai lima menempati lab komputer sekarang. Terima kasih," pengumuman yang menggema segala sudut sekolah itu membubarkan para cewek yang asik bergosip, makan di kantin dan baru datang melangkah terburu-buru menuju lab komputer.
"Semoga bisa. Yuk tos dulu dong," ajak Fumie semangat, mungkin siap mengerjakannya.
"Halah, lebay banget tos diang," sindir Nakura, datang tak ada undangan pulang keluyuran.
Fumie mendengus kesal. Nakura lagi.
"Iri bilang nyonya! Lo gak punya temen kan di kelas?" tanya Fumie sedikit menantang.
Nakura tertawa jahat. "Hahaha. Gak punya? Gue sebutkan ya. Megumi, Eri, dan Ai. Faham?"
Nama Ai, membuat hati Aoi kecewa. Jadi Ai adalah bagian dari Nakura? Ia kira Ai itu baik.
"Dan lo Aoi. Jangan harap bisa berteman dengan Ai!"
Haruka menarik tangan Aoi dan Fumie. Perempuan seperti Nakura di abaikan saja.
***
Angin semilir menerbangkan rambut hitam si pemilik wajah ayunya.
"Sejuk banget ya?" tanya Fumie menikmati anginnya.
"Fumie, tadi Nakura nyebut nama kakakmu tuh. Terus gimana?" Haruka mengerti, Megumi dan Fumie tak pernah akur.
"Gimana ujian kamu? Apa semuanya lancar?"
Tiba-tiba Makoto duduk di sebelah Aoi.
"Apa sih? Gue kaget!"
"Kita duluan ya Aoi? Bye bye!" Haruka menarik tangan Fumie, biarkan saja Aoi berdua dengan Makoto.
"Gak belajar lagi?"
Aoi berdecak kesal. Lagi?
"Gak perlu. Lagian bahasa Jepang gampang. Bahasa sendiri juga," jawabnya malas.
"Kalau baca soal itu yang teliti. Jangan liat timer waktu, yang ada kamu jawab ngawur semua. Nurut aja apa yang pernah aku ajari ya? Good luck," Makoto membenarkan rambut Aoi berantakan karena angin.
Aoi tak bisa berkata-kata. Makoto sangat manis.
'Kenapa sih? Dia beda sama Ryuji. Gak pernah romantis, kalau gak aku duluan,' batinnya. Aoi masih ingat betul masa-masa dirinya bersama Ryuji.
Lupakan saja. Aoi harus fokus, biarlah Makoto melarang atau tidak. Ia harus meneruskannya setelah ini.
__ADS_1
***
Selesai Try Out, beberapa dari mereka keluar dengan wajah zombie-nya. Kelelahan dan mengantuk.
"Fumie? Masih sehat kan?" tanya Haruka khawatir, saat berjalan saja Fumie se-pelan pura-pura.
"Gak sehat Haru. Aku-" Fumie pingsan, untung saja Aoi dengan sigL menangkapnya.
"Astaga, Fumie. Bangun. Haru, panggilin Ai dong," siapa lagi kalau bukan Ai, cewek PMR yang Aoi kenal.
"Aoi, Ai itu anak Ips. Gelombang dua, mana ada dia di sekolah sekarang,"
"Fumie kenapa?" tanya Maki panik. "Heh bawa ke UKS dong," teriak Maki pada semua temannya.
Fumie pun di bawa ke UKS.
"Fumie. Bangun," Haruka selesai mengoleskan minyak telon di pelipis Fumie, cewek itu pasti kelelahan.
"Apa Fumie belum sarapan?" tebak Aoi, terlalu di paksakan memikir mungkin kondisi tubuh tak akan kuat.
Fumie mentipitkan matanya. Kepalanya pusing, pandangannya masih berkunang-kunang.
"Aku dimana?" Fumie berusaha duduk di bantu Haruka.
"Kamu di UKS. Lupa sarapan ya?" Haruka mengecek dahi Fumie, hangat.
"Iya. Ibuku gak masak. Makannya gak sarapan," jawabnya lesu.
"Kenapa gak bilang daritadi? Aku beliin nasi bungkus ke mbak Mami aja. Ujian kan butuh mikir juga Fumie. Jangan di ulangi lagi ya?" Haruka menganggap Fumie seperti adiknya sendiri.
"Aku beliin makunouchi-bento ya?"
"Makasih Aoi," seru Haruka dan Fumie. Senang.
"Kamu jangan sungkan ya kalau mau beli makanan bilang ke aku atau Aoi. Kita kan-"
"Best friend besties!" sela Fumie semangat.
Di kantin, Aoi bertemu dengan Ryuji dan Nakura. Sebisa mungkin pandangan Aoi tak tertuju pada dua sejoli itu.
"Ya ampun sayang, makannya hati-hati. Jadi biru kan," Nakura mengusap benjolan di pelipis Ryuji. Biasa, terbentur meja demi boneka kesayangan Ryuji.
Sayang. Aoi pikir Ryuji tak akan mencari pengganti baru. Nyatanya secepat itu.
'Tau aja dulu gak usah ngajak pacaran sama dia. Gara-gara bosen aja udah putus. Huh, nyebelin tapi ngangenin,' batinnya.
"Mbak Aoi? Kok malah ngambil oden toh. Katanya mau makunouchi-bento. Salah ambil itu," mbak Mami mengingatkan.
Aoi sadar. "Eh? Masa sih mbak? Hehehe. Beli tiga ya," memperhatikan Ryuji bikin salah tingkah, ayolah move on. Tapi rasanya sulit.
***
__ADS_1
Late update because i'm dizzy.
See you-,