
"Yang? Kenapa liatin dia sih?" tanya Nakura dengan nada tak sukanya.
"Balik aja ke kelas. Aku mau ke kantin," langkah Ryuji mengikuti Aoi dan Makoto diam-diam.
Kedua alis Ryuji menyatu. Toilet? Tapi Makoto memilih ke kantin. Baguslah, Ryuji tak perlu khawatir dengan Aoi.
"Hei! Sini! Gue udah beres!" teriak Aoi memanggil Makoto.
Ryuji menyembunyikan dirinya di balik tembok.
Makoto tersenyum. "Jadi gak nunggu lama-lama deh," rasanya senang bisa berdua langsung dengan Aoi. Apalagi di sekolah.
"Ke UKS ya? Itu tangan kamu perlu di obatin," ucap Makoto khawatir. Tapi ekspresi Aoi biasa saja.
"Gak usah. Gak sakit. Cuman luka gores doang," tapi yang sakit adalah hatinya. 'Kenapa Ryuji sama Nakura? Buat ulah apalagi sih tuh cewek?' batin Aoi menggerutu kesal.
"Di rumah aja kalau gitu," sahut Makoto tenang. Aoi sakit hati, tapi diam.
Ryuji yang mendengar itu semakin penasaran. Apa benar Makoto menginap di rumah Aoi?
"Kayaknya harus di ikuti. Kenapa Aoi mau-mau aja? Apa kata tetangga nanti?"
***
Jam istirahat Ryuji pergunakan menuju rumah Aoi.
Dengan kecepatan motornya yang ngebut, akhirnya sampai juga di mansion besar. Gerbang menjulang tinggi dengan tulisan Rotschild.
Sepi. Ryuji pikir akan di jaga ketat.
"Mas! Mau nyari mbak Aoi ya?" tanya ibu-ibu yang tak sengaja melihat Ryuji.
"Mau tanya nih bu," antara gugup dan perasaan kecewa yang terpendam, Ryuji menarik nafasnya sekali. "Aoi sekarang tinggal dengan siapa?"
"Em-kalau itu sih sama-" rasanya sulit menjelaskannya. "Laki-laki, yang kemana-mana pakai kacamata. Udah lama banget mas disitu. Sekitar seminggu," ucapnya mengira-ngira.
Deg!
Seminggu? Waktu yang terbilang lama. Kenapa Aoi tak bisa berkata jujur? Lalu, dirinya ini apa? Sekedar pacar saja?
"Makasih ya bu informasinya," dengan perasaan kecewa, Ryuji pergi meninggalkan mansion itu.
***
Sudah malam, seharusnya Syougo tidur rebahan sambil makan. Tapi ia malah berakhir di rumah Ryuji.
"Cepetan, lo mau ngomong apa?" tanya Syougo gemas, sedari tadi hanya diam selama 10 menit lamanya.
"Gue cuman pingin tau, semua isi hp Aoi. Bisa gak? Dari foto, nomer, dan chat-nya. Gak ada salahnya mulai sekarang gue awasin dia," bukan karena apa-apa, melainkan Ryuji ingin tau siapa saja yang dekat dengan Aoi selain Makoto.
Syougo mengangguk. "Tentu bisa dong. Serahkan pada Syougo yang gante-"
"Gak usah halu. Cepetan sana," otaknya kepikiran dengan ucapan ibu-ibu tadi, lalu Makoto tidur dimana?
"Gitu aja sensi banget mas," Syougo mulai log in mengetikkan kata sandi di komputer Ryuji.
***
__ADS_1
"Aww! Jangan di tekan gitu tangan gue! Sakit banget!" tangannya di obati oleh Makoto. Duduk di ruang tengah dengan televisi yang menyala.
"Kenapa bisa jatuh? Cerita lah," ucap Makoto memaksa. Ia hanya tau saat Aoi sudah terduduk di lantai.
"Cuman kesandung doang," kilahnya. Tak mungkin ia menceritakannya, yang ada Makoto akan memarahi Ryuji sampai bulan menjadi dua.
"Gak yakin deh. Masa kesandung kok lukanya di tangan?"
"Pikir sendiri deh," Aoi melangkah ke kamarnya, di sekolah dan rumah sama saja.
Di tempat lain, Ryuji terkekeh mendengar Aoi yang ngambek.
"Gimana? Udah tau kan?" Syougo berhasil mengaktifkan rekaman suara di ponsel Aoi.
"Tapi isi chatnya belum. Nanti lo simpen aja di file. Kasih nama important," mendengar suara Aoi saja kangennya terobati.
***
"Hahaha, lucu banget. Kamu suka boneka juga? Padahal kan kamu cowok loh," Aoi mengobrol dengan Ryuji melalui video call.
"Ya gak papa lah. Biar bisa inget kamu," Ryuji ikut tertular senyum melihat Aoi tertawa.
"Mana bonekanya? Aku pingin liat," rasanya tak sebahagia ini video call dengan Ryuji.
"Nih. Aku maunya ngasih ini ke kamu. Biar kalau kangen sama aku tinggal bilang-"
"Aoi! Jam segini tidur. Bukannya video call sama pacar!" Makoto merampas ponsel Aoi. Mematikan daya dan tersenyum puas. Rasakan ini Ryuji!
"Lo kok ambil gitu aja sih? Sini gak!" Aoi meraih ponselnya, tapi Makoto terlalu tinggi.
"Aduin aja. Aduin. Sekalian gue di hukum sama ayah," sela Aoi cepat. Biarkan saja sang ayah marah, semua ini gara-gara Makoto.
"Dengerin aku dulu," Makoto meraih tangan Aoi.
"Gak perlu! Mending keluar dari kamar gue. Keluar!" usir Aoi penuh emosi.
"Oke. Aku keluar. Tapi tidur, jaga kesehatan kamu. Begadang terus-terusan itu gak baik. Good night love you," Makoto melangkah pergi.
Aoi terpaku. Kata-kata Makoto terdengar serius. Dan hatinya tak bisa membalas ucapan itu.
***
Aoi bangun jam 3 pagi. Ia bersiap-siap mandi, masalah sarapan di sekolah saja.
Gila.
Tapi Aoi ingin menghindari Makoto karena perasaan bersalahnya.
Akhirnya sudah berbalut seragam merah maaron. Dengan langkah hati-hati, Aoi memilih pintu belakang. Bisa saja Makoto masih tidur.
"Percuma aja disita. Gue masih ada cadangan. Untung aja kemarin beli," semua data-data sudah tersalin rapi, Makoto tak bisa mengaturnya.
Akhirnya sampai di luar mansion.
Aoi menelepon Ryuji. Saat panggilan kedua, Ryuji mengangkatnya.
"Ini siapa sih? Kok telepon malem-malem. Kalau gak mau ngomong, gue blokir-"
__ADS_1
"Aku Aoi. Jemput aku di U-Mart ya? Aku tunggu sekarang," Aoi berlari menjauhi mansion-nya. Jarak U-Mart memang jauh, butuh 10 menit saja.
"Iya sayang. Aku kesana sekarang. Ngobrol aja sama mbak Mami," terdengar nada khawatir, apalagi Aoi keluar malam.
Di U-Mart, selalu buka 24 jam. Mbak Mami juga duduk sambil makan jajan.
"Mbak Mami!" seru Aoi dengan nafas tersengal. Lari 10 menit rasanya seperti atletik mengejar cintanya.
Mbak Mami menoleh. "Loh Aoi? Kok pakai seragam sekolah? Jam 3 lagi. Ada apa?"
"Lagi males aja mbak di rumah. Biar ada sensasi beda hehe. Bentar lagi juga lulus, ya bakalan kangen deh moment sekolah, kantin, sama pacar juga," Aoi mengambil makunouchi-bento di rak jenis khusus bekal anak sekolah.
"Kenapa kesini? Masih jam 3 Aoi. Mau apa kamu kabur dari rumah?"
Suara berat dan tegas itu menyekap hati Aoi. Menoleh. Kenapa Makoto bisa tau keberadaannya?
"Kok lo bisa ada disini sih? Jangan bilang lo ngikuti gue ya?"
"Aoi? Katanya kamu kesini sendiri?" betapa terkejutnya Ryuji melihat Aoi dan Makoto di U-Mart. Apa Aoi hanya mempermainkannya?
Mbak Mami sebagai saksi saja bingung. Ada apa dengan ketiga orang di hadapannya ini?
"Terus yang benar mana nih?" tanya mbak Mami di buat penasaran. Seperti di drama suara hati pacarku.
"Pulang. Kamu itu seharusnya tidur. Bukan kelayapan," Makoto meraih tangan Aoi, menautkannya dengan jemarinya dengan kuat. Siapa tau Aoi kabur.
"Loh? Bapak tinggal satu rumah dengan Aoi ya? Kok saya baru dengar," mbak Mami terkejut, kenapa sampai ketinggalan berita kecil ini?
Ryuji mengangguk. "Tanya aja sama tentangganya. Bahkan udah seminggu," jawab Ryuji tak minat.
"Ryuji, aku bisa jelasin kalau-" Aoi meraih tangan Ryuji, tapi cowok itu menyentakknya dengan kasar.
"Makasih udah bikin aku khawatir. Bahkan aku rela kabur diam-diam dari rumah demi temuin kamu di U-Mart. Tapi apa? Ini balasannya?" perasaan Ryuji sudah lelah, apalagi Aoi sama sekali tak membantah atau marah. Jadi benar, apa yang di katakan tetangganya saat itu.
"Ryuji. Please, dengerin aku dulu ya?" pinta Aoi terdengar putus asa.
Tapi Ryuji pergi.
"Gimana? Udah puas bikin dua laki-laki kecewa?" Makoto juga ikut kesal, ia tak habis pikir yang di lakukan Aoi sekarang.
"Gak gitu," Aoi menggeleng. "Ada alasan-"
"Gak perlu di jelaskan. Dan aku kecewa pertama kalinya Aoi," Makoto melangkah pergi. Meninggalkan Aoi di U-Mart.
"Mbak Mami. Aku-" Aoi menangis, salahkan saja dirinya.
***
Apa Ryuji bakalan putus sama Aoi?
Setuju gak kalau putus?
Me: Buat aku aja Ryuji-nya.
See you-,
^^^2:50 am^^^
__ADS_1