Terpaksa Menikahi Om Om

Terpaksa Menikahi Om Om
44. Wedding Chapel


__ADS_3

Tibalah 2 hari setelah itu, Aoi masih memikirkan rencana untuk kabur.


Aoi terbangun pada jam 3:00 am kepalnya terasa pusing. Mungkin ia terlalu banyak pikiran.


"Ayah memang gila merencenakan pernikahan dalam waktu singkat. Apa ayah gak tau kalau nikah itu bukan main-main? Suatu hubungan suci yang sudah resmi di akui negara, untuk berpisahnya saja susah dan Makoto harus setuju. Tapi om nyebelin itu semakin hari tambah cinta saja sama aku," Aoi memijat pelipisnya, di masa muda bukannya ia menikmati asiknya dunia remaja dan kuliah malah terjerat pernikahan paksa atas campur tangan orang tuanya.


"Kabur gimana? Ayah aja punya bodyguard yang selalu ngikutin aku kemana-mana. Kenapa sih hidup aku se-menderita ini?" Aoi meninju tembok tak bersalah sebagai sasaran pelampiasan amarahnya.


Aoi meringis sakit. "Aw! Sakiitt!" Aoi meniup buku-buku tangannya yang memerah.


"Ya Tuhan bantu aku buat lari dari perjodohan ini!" Aoi meraung dan menangis


***


Jam 3:45 pm


Aoi duduk dan menatap cermin, rambutnya di keringkan.


"Pasti nona Aoi grogi ya?" tanya bi Idah menggoda, semuanya juga akan merasakan hal yang sama saat detik-detik akad nikah.


"Grogi?" Aoi tertawa remeh. "Bi, aku gak suka dengan perjodohan ini. Aku mencintai Aldebaran!"


Bi Idah mengernyit bingung. "Pacar baru nona ya?"


Aoi mengangguk. "Kalau bisa aku ingin kabur sekarang juga. Sayangnya ayah terlalu ketat menjagaku dengan bodyguard-nya yang menyebalkan!"


Bi Idah terkekeh. "Nanti bibi bakalan kesana juga kok. Jangan cemberut ya?"


"Bi, andai aja ada mesin waktu aku bakalan mundurin jamnya. Huaa bibi kurang 4 jam lagi!" rengek Aoi manja, setengah gugup dan grogi.


"Lebih cepat lebih baik Aoi. Daripada kamu pacaran yang belum tentu laki-laki serius sama kamu?"


Benar juga, bisa saja Aldebaran sama dengan Ryuji yang hanya mencintai sesaat setelah bosan pun menghindar.


"Ikuti saja permintaan kedua orang tuamu Aoi, siapa tau di balik perjodohan ini ada sebuah kebahagiaan kecil nantinya," tutur bi Idah tersenyum hangat.


"Iya bi, aku akan mengikuti semua permintaan ayah dan mama," untuk hari ini, Aoi menuruti kata-kata bi Idah yang bisa saja ada benarnya suatu saat nanti.


***


Aoi menuruni tangga dengan di dampingi Karin dan bi Idah.


Amschel tersenyum melihat putri tunggalnya sangat cantik dengan gaun pernikahan itu.


"Ayo langsung ke wedding chapel. Kurang dari 10 menit kita harus sampai disana karena biarawati sudah menunggu siap menikahkanmu dengan Makoto."

__ADS_1


Selama perjalanan, Amschel menceritakan bahwa sebagian saham dan hartanya untuk Makoto meskipun itu 65%.


'Apa?! Ayah gak adil banget! Masa aku cuman kebagian 35% aja? Om Makoto itu bukan siapa-siapa yah!' ingin Aoi utaran suara hatinya ta


"Untuk bulan madunya ayah sudah siapkan tempat indah. Kamu dan Makoto pasti suka," Amschel tersenyum penuh arti.


"Emang dimana yah?" Aoi juga penasaran, pilihan Amschel pasti di negeri orang.


"Ada deh. Makoto juga udah tau. Kamu bakalan betah disana sekalian gak pulang-pulang. Oh ya, jangan lupa kabar baik calon cucu Rotschild ya?"


Pipi Aoi bersemu. Memangnya ia langsung mau mem-ah sudahlah! Pikirannya tak sejauh itu, kalau masalah anak berarti segala aktifitasnya seperti kuliah akan terhalangi. Sungguh rumit.


Akhirnya sampai juga di wedding chapel, para tamu undangan sudah duduk manis sambil berbincang ria.


"Semoga aku nanti bisa nyusul!"


"Aku pingin nikah tahun depan yang. Mau ya?"


"Iya nunggu tabungan aku cukup dulu. Sabar aja."


Aoi hanya tersenyum mendengar sahutan dari beberapa tamu undangan yang tak sabar ingin menikah.


'Sayangnya aku gak semangat buat jalani pernikahan ini,' tuturnya dalam hati sendu.


Makoto sudah siap dengan tuxedo putihnya. Biarawati berdiri di sebelah Makoto, lalu Aoi di sebelahnya mengapit sang biarawati.


Setelah selesai dan resmi menjadi suami-istri, Makoto memeluk Aoi.


"Akhirnya kamu gak bakalan bisa di miliki laki-laki lain selain aku Aoi," Makoto menatap Aoi dalam-dalam.


Aoi menjauhkan dirinya dari Makoto. "Dan aku punya berbagai cara agar bisa berpisah denganmu om Makoto," bisik Aoi pelan dan lirih.


Makoto hanya tersenyum miring. "Oh ya?"


Aoi mengangguk mantap. "Sangat mudah. Gara-gara kamu harta warisan yang seharusnya milik aku sekarang kamu rebut gitu aja. Aku gak sudi jika ayah membagi lebih besar! Aku benci kamu Makoto!" teriak Aoi sudah sangat emosi.


Amschel segera membawa Aoi sebelum keributan selanjutnya terjadi.


Makoto menggeleng heran, hanya karena itu?


'Kalau memang harta itu milikmu, aku tak akan mencampurinya sedikitpun. Jangan membenciku Aoi,' batin Makoto dalam hati. Bukannya cinta di balas cinta justru kebencian, Aoi berhasil membuat hatinya kecewa di hari paling membahagiakan ini.


***


Aura dingin dan canggung serta mencekam menjadi satu. Tatapan Amschel menajam. Aoi hanya diam dan melamun.

__ADS_1


"Kenapa kamu tadi emosi Aoi? Membenci Makoto? Dia itu suamimu!"


Untuk pertama kalinya, Amschel membentak Aoi hanya karena Makoto. Pria itu selalu saja mendapatkan apapun dengan mudah tanpa berjuang dari nol. Aoi tak suka dengan cara ayahnya.


"Jangan ulangi itu lagi. Meminta maaflah pada Makoto. Masa iya malam pertama kalian marahan? Gimana mau ngasih cu-"


"Iya," sahut Aoi cepat. Cucu? Jangan harap, cintanya masih untuk Ryuji dan sisanya Aldebaran.


"Bagus, kalau sampai kamu mengulangi itu lagi jangan harap ya nak sebagiannya akan ayah bagi ke kamu," tutur Amschel dingin.


Apa? Sungguh tidak adil.


"Kenapa sih dia bisa mendapatkan segalanya dengan mudah? Sedangkan aku? Belum bisa apa-apa malah kamu rebut gitu aja om!" memikirkannya saja bisa membuat otak Aoi stress.


***


Aoi selesai mengganti dress pengantinnya dengan piyama, kamarnya di hias dengan indah dengan taburan bunga mawar membentuk hati (love).


Makoto memasuki kamar, ia menatap Aoi yang sibuk dengan ponselnya.


"Malam ini aku tidak akan melakukan-"


"Iya tau! Ayah bakalan nyiapin segala keperluan tiket buat bulan madu. Gak tau kemana," sela Aoi cepat dan ketus.


Makoto menahan tawanya, Aoi kecepatan pekanya sangat bagus.


"Jangan cemberut gitu. Emang kemana sih? London? Paris? Atau Maldives?" tebak Makoto, tempat itu mungkin menjadi favorit Amschel.


Aoi mengedikkan bahunya. "Pikir sendiri!" Aoi bergelung dengan selimut, lebih baik tidur saja. "Kamu tidur di situ aja. Gak usah macam-macam."


Makoto mengangguk. Menurut saja daripada saat berlibur nanti Aoi kesal lagi.


Setelah beberapa jam, Aoi masih terjaga. Matanya terasa sulit untuk tidur.


"Masa aku kepikirkan besok? Kenapa bisa secepat ini sih aku menikah? Baru aja kemarin lulus terus kuliah," dumelnya kesal, mungkin dari sebagian orang sepertinya akan senang.


"Aku gak siap punya anak," Aoi menggeleng, umurnya masih belia apalagi mengandung.


Makoto masih bisa mendengarnya, ia sengaja tetap terjaga.


'Kamu pasti siap Aoi. Tidurlah, kamu lelah seharusnya istirahat. Aku tetap disini,' batinnya, kata-kata itu ia tahan dalam sanubarinya. Percuma mengungkapkanya Aoi akan bertambah kesal.


***


Penulis pusing mikirin hotel, makanan, dan pantai.

__ADS_1


Jumat 11 Juni 9:16 pm


Sampai jumpa di lain hari..


__ADS_2