Terpaksa Menikahi Om Om

Terpaksa Menikahi Om Om
23. Diajarin masak


__ADS_3

Makoto mengetuk pintu kamar Aoi, sudah jam delapan cewek itu tidur.


"Aoi? Bangun, ayo masak. Aoi?" Makoto membuka pintunya, Aoi tergeletak di lantai.


Makoto panik. "Aoi! Aoi! Kamu gak mati kan? Aoi!" Makoto mengguncangkan tubuh Aoi.


Aoi menggeliat. Dengan mata yang setengah terbuka, ia menatap Makoto.


"Apa sih? Ganggu orang tidur aja," Aoi kembali memejamkan matanya.


"Aoi. Anak perempuan jam segini udah nyapu, masak-masak, ngepel. Kamu malah tidur," omel Makoto gemas. "Gimana mau nikah nanti, masa aku makan di luar Aoi?"


Aoi duduk. Kenapa Makoto tak bisa diam sih? Sangat mengganggu tidur nyenyaknya.


"Lo ngarep banget ya nikah sama gue? Gak usah percaya diri deh! Bisa aja gue kabur," ketus Aoi, usianya dengan Makoto terpaut jauh. Bagaimana reaksi teman-temannya nanti.


Makoto menghela nafasnya. "Bukan ngarep, tapi ayahmu sendiri yang nyuruh aku nikahin kamu," ucap Makoto membenarkan. "Kenapa? Daripada pacarmu itu. Belum tentu dapat restu dari ayahmu," mengenai sifat Amschel yang pemilih, jelas posisi Ryuji akan tergeser.


Aoi berdecak kesal. "Ayo masak. Gue laper," mengingat hal tentang Ryuji membuat hatinya kebakaran, cewek mana sih yang gak cemburu liat cowoknya dengan cewek lain? Ingin Aoi baku hantam, tapi sadar itu tempat umum. Tangannya terlalu gatal dengan Nakura.


Makoto mengangguk. "Aku yang ajarin kamu masak. Biar nanti aku bisa peluk kamu hehe," kembali kumat gombalnya.


Aoi meninju lengan Makoto. Pria itu meringis.


"Makan tuh pelukan!"dengan langkah lebar, Aoi berjalan lebih dulu ke dapur.


Di dapur, Makoto ingin memasak menu spesial.


"Mau masak apa dulu nih? Gue gak tau bumbunya. Apalagi bikinnya," ucap Aoi jujur. Biarkan saja ia cewek tak bisa masak, tapi kalau Makoto yang mengajarinya pasti seru bisa adu debat.


"Kalau nasinya aku masak onigiri dulu," Makoto mulai berkutat dengan menanak nasi dari beras Jepang yang memiliki kadar kanji tinggi agar nasinya bisa melekat.


"Kamu duduk aja. Berdiri terus capek. Cukup liatin aku masak. Nanti juga kamu bisa," ucap Makoto masih fokus mengolah Onigiri dan mengisinya dengan daging ikan salmon panggang di tengahnya.


Aoi duduk, memperhatikan Makoto. Kenapa pria itu tambah cool saja saat memasak?


Aoi menggeleng, mengenyahkan rasa kagumnya.


"Kamu makan yang banyak ya? Biar gendutan dikit. Masa gak ada isinya. Kena angin terbang, hahaha," Makoto tertawa garing. Aoi biasa saja, dimana letak lucunya?


"Apa sih? Ya baguslah gue kurus. Kalau pun gendut, semua baju-baju gue gak ada yang pas. Ayah bakalan bakar. Ogah ya!" serunya kesal. Sang ayah suka begitu, belinya mahal-mahal kalau pun tak sesuai ukuran akan di bakar.


"Ya deh. Terserah kamu aja, yang penting sehat," akhirnya selesai juga membuat Onigiri, di temani Aoi sambil mengobrol.


"Masak itu aja? Yang lain?" rasanya kurang puas, apalagi sekarang perutnya lapar.


"Aku mau bikin Ebi Furai," Makoto mulai mengupas kulit punggung udang sampai membentuk lurus.


'Andai aja itu Ryuji yang masak. Aku kan tambah suka,' batin Aoi. Sayangnya malah pria yang akan menjadi suaminya.


Mata Aoi terasa berat, sampai ia tertidur.


***


"Aoi, aku-" Makoto mendapati Aoi tertidur, ia selesai memasak setelah satu jam lamanya.


"Aoi," Makoto mencubit hidung Aoi, cewek itu bangun.


"Apa?!"


"Ayo makan, malah tidur lagi. Pasti semalem begadang kan?"

__ADS_1


Aoi tak menjawab. Kalau pun jujur, pasti Makoto akan menceramahi lagi bahayanya begadang.


"Aku bakalan ada di kamarmu sampai tidur. Awas aja ya begadang," Makoto seperti ini karena peduli dengan kesehatan Aoi.


'Malah ngawasin gue. Kapan sih ayah sama mama pulang? Bosen tau gak ada dia,' batin Aoi melirik Makoto malas.


"Nih Onigirinya. Mau Ebi Furai juga?"


Aoi mengangguk lemas.


Selama makan, Makoto memandangi Aoi. Kenapa cewek itu tak bersemangat?


'Aku kira cinta saat SMA itu menyenangkan. Aku kurang apa sampai Ryuji dengan Nakura?' batin Aoi, ingin curhat pada Makoto tapi gengsi.


Makoto menoel pipi Aoi. "Hei, dimakan tuh Onigiri sama Ebi Furainya keburu dingin," betah juga memandangi Aoi, andai rambut itu di gerai.


Aoi yang merasa di tatap oleh Makoto pun menoleh.


"Apa liat-liat? Pakai mata lagi," tekannya galak.


Makoto terkekeh. "Masa liat pakai kaki? Kamu ada-ada aja," hatinya senang juga berbunga-bunga berada di dekat Aoi.


Di tempat lain, Nakura mencari kesempatan modus dengan Ryuji yang mengajarinya menggambar.


Berkali-kali Ryuji menyingkirkan tangan Nakura yang bergelayut manja itu.


"Nakura! Bisa belajar gak sih?" bentak Ryuji suaranya menggema. Untung saja sepi, kalau ada mamanya pasti dirinya yang akan di marahi karena memarahi Nakura.


Nakura menggeser duduknya menjauhi Ryuji. Di bentak seperti itu membuatnya takut.


"Maaf. Aku cuman pingin deket sama-"


"Sadar diri! Lo bukan siapa-siapa!" Ryuji beranjak, ia sudah muak dengan Nakura.


"Apa istimewanya sih Aoi daripada aku?" Nakura menatap Ryuji yang perlahan pergi. Mungkin keberadaannya mengganggu.


Ryuji memilih duduk dan menatap kolam renangnya. Akhir-akhir ini ia gampang emosi jika dekat dengan Nakura.


"Aku pinginnya kamu disini Aoi. Bukan Nakura," ucap Ryuji.


Karena rindu itu berat, Ryuji memandangi wallpaper Aoi yang tertawa dengan sahabatnya.


"Senyum gini aja udah manis. Gimana kalau ketawa," rasanya waktu yang ia luangkan dengan Aoi sangat sedikit. Cewek itu hanya memiliki waktu banyak dengan Makoto.


Tangan Ryuji mengetikkan pesan untuk Aoi.


Ryuji menunggu, sampai Aoi membalasnya.


Aoi my girlfriend


Udah tadi msak sama dia


06:45 pm


^^^Anda^^^


^^^Dia pak Makoto maksud kamu?^^^


^^^06:46 pm^^^


Aoi my girlfriend

__ADS_1


Iya, enak banget sih. Pingin nambah lagi tpi gengsi lah. Yang ada tambah geer


06:46 pm


^^^Anda^^^


^^^Emg di masakin apa? Kok gk bagi-bagi^^^


^^^06:47 pm^^^


Aoi my girlfriend


Onigiri sama Ebi Furai. Gmna mau bagi-bagi? Aku aja di awasain terus sama dia


06:48 pm


^^^Anda^^^


^^^Gimana kalau besok kita jalan-jalan? Kamu bisa kan?^^^


^^^06:49 pm^^^


Aoi my girlfriend


Bisa kok. Aku kangen sama kamu


06:51 pm


^^^Anda^^^


^^^Ok, pulang sekolah ya? Kamu jangan pulang. Aku tunggu di warung belakang sekolah^^^


^^^06:52 pm^^^


Akhirnya, ia dan Aoi ada waktu berdua. Semoga besok hubungannya semakin membaik.


***


Sesuai janjinya, Aoi melangkah ke warung belakang sekolah. Bel pulang berbunyi 3 menit yang lalu.


Aoi mempercepat langkahnya sebelum Makoto mengetahui aksinya.


Warung itu tak jauh dari lapangan basket.


Akhirnya Aoi sampai.


Ryuji tengah duduk di temani kopi kesukaannya.


"Lama ya? Maaf tadi harus nulis materi dulu," nafas Aoi tersengal, berlari dari koridor Ipa sampai ke warung sangat jauh.


Ryuji mengangguk. "Yang penting kamu datang. Yuk sekarang aja daripada kesorean. Mbak Mami! Ini uang buat kopinya ya?" Ryuji meletakkan uang 100 ¥en di meja.


"Iya mas. Makasih!" sahut mbak Mami dari dalam.


Dan Makoto pun tak tinggal diam. Ia...


***


Mau jalan sama Ryuji aja ribet. Possesif banget ya Makoto?


See you-,

__ADS_1


__ADS_2