
Rumi berdecak kesal, sudah sekitar hampir 1 jam Nakura tak mau bicara.
"Rencana apaan Naku? Daritadi mikirnya kok gak kelar-kelar?" tanya Rumi gemas.
Nakura menggaruk rambutnya yang memang gatal.
"Besok adalah rapat penting di kantor aku Rum, kamu tau? Aku kerja di perusahaan milik pak Makoto," pikiran Nakura masih bekerja keras mencari rencana yang pas untuk membalas dendam, melalui Makoto pasti Aoi akan marah dan tak terima.
Rumi mengaga tak percaya. "Kapan diterima? Kok gak ngajak aku sekalian disana sih! Gak adil!"
Nakura terkekeh. "Sekitar 3 hari yang lalu Rum. Aku juga pingin punya pengalaman kerja, aku mau hidup mandiri. Biaya kuliah sekarang kan mahal, aku gak mau uang ayah menipis. Kamu tau?" nada suara Nakura tercekat, matanya terasa perih ingin menangis.
Rumi menggeleng, ia ikut merasakan kesedihan yang Nakura alami.
"Kenapa? Cerita aja Naku," Rumi mengusap bahu Nakura, sahabatnya itu bersiap menangis.
"Hiks hiks, ayah aku di pecat dari kantor Rum. Bahkan gak di kasih gaji, ayah cuman mengandalkan uang tabungannya aja. Terus mama kerja serabutan jadi pembantu di keluarga kaya yang gak jauh dari sebelah komplek rumahku," Nakura menangis sesenggukan.
"Kalau kamu ada perlu apa-apa bilang sama aku ya? Kapan pun itu aku siap bantu kamu Naku," Rumi memeluk Nakura, menyalurkan kekuatan dan rasa sabar menghadapi pahitnya hidup.
Nakura mengangguk pelan. "Makasih banyak ya Rum."
Rumi mengangguk. "Iya sama-sama Naku. Apa rencananya?"
Nakura menghela nafasnya, mungkin rencana ini sedikit ekstrem.
Nakura berbisik pada Rumi, sahabatnya itu berteriak kaget.
"Biasa aja dong!" Nakura menutup kedua telinganya, suara Rumi memang dahsyat.
Rumie tertawa lepas. "Huahaha, itu sih beresiko banget Naku. Kalau tau pekakunya kamu gimana?" Rumi sangat meragukan usul Nakura.
"Gak bakalan ada yang tau kalau mulut kamu di lakban selamanya. Jangan ember lah," ujar Nakura kesal, Rumi akan selalu jujur apa yang sudah di lakukannya.
Rumi mengangguk. "Iya, tapi ada imbalannya."
Inilah keribetannya ketika menjalin kerja sama dengan Rumi. Penggemar cuan memang.
***
Di hari Rabu, salju yang turun tak begitu banyak. Suhu pun sedang tak sedingin 2 hari yang lalu.
Aoi meminta kepada Makoto ke rumah Haruka dan Fumie. Rindu memang harus di obati dengan pertemuan.
Makoto menghela nafasnya. Baru bangun tidur dengan nyawa setengah kembali, langkahnya ke kamar mandi.
Aoi bersiap, menunggu Makoto di ruang makan.
"Makoto belum bangun juga?" tanya Karin mengambilkan selembar roti lalu selai coklat bergabung menjadi sahabatnya roti.
"Udah kok ma," jawab Aoi ceria, rasanya bahagia saja menikah dengan Makoto.
Amschel menatap lekat Aoi. Apakah putrinya itu baik-baik saja sampai senyum tanpa sebab?
__ADS_1
"Aoi? Kamu lagi seneng ya nak?" tanya Amschel hati-hati, terkadang mood Aoi berubah-ubah kesal atau senang.
Aoi merubah ekspresinya menjadi datar. Ketauan. 'Bahagia karena mas Makoto yah. Dia perhatian banget sama aku,' jawab Aoi dalam hati, ya kali bilang langsung yang ada ayahnya akan menggoda terus-terusan atau cie-cie.
Amschel mengangguk faham. "Makan yang banyak, jangan lupa pakai sayur. Daridulu kok kamu susah banget gendut."
Aoi cemberut. "Baguslah yah, kalau cewek tubuhnya ideal itu cantiknya nambah. Kalau aku gendut, yang ada baju-bajuku gak muat," sangat menyebalkan, Aoi masih sayang dengan bajunya yang pas.
Amschel dan Karin terkekeh.
"Selamat pagi semuanya," sapa Makoto dengan senyum bulan sabitnya.
"Pagi," sapa semuanya serempak.
"Enak nih pagi-pagi sarapan rame-rame," Makoto duduk di sebelah Aoi. "Sayang, suapin aku dong," pintanya.
"Ciee suapin Makoto ya nak? Biar tambah romantis," Karin merasa senang dengan keharmonisan Aoi dan Makoto, apalagi raut kebahagiaan keduanya terpancar menyilaukan mata.
Aoi mengangguk. "Buka mulut kamu mas."
"Aaaa-emm kalau di suapin kamu apa aja jadi enak dan manis," ucap Makoto merasakan manisnya selai coklat sambil memandangi Aoi, istrinya. Sangat berbeda dengan dulu, masih menjomblo.
Aoi tersenyum malu-malu. "Apa sih mas."
Mereka tertawa melihat Aoi yang salah tingkah dan terbawa perasaan.
***
Nakura menuangkan serbuk ke dalam minuman Makoto.
Setelah selesai, Nakura segera keluar dari ruang rapat sebelum ada yang memergoki aksinya.
***
"Kakak!" sapa Syougo memasuki ruangan Makoto bekerja.
Makoto beralih menatap adiknya.
"Iya dek? Ada apa?"
Syougo duduk menghadap Makoto. "Gimana nih kak bulan madunya sama Aoi? Lancar kan?" tanyanya dengan senyuman jahil.
Makoto mengangguk. "Lancar dek. Doain aja kakak di berikan anak secepatnya. Kalau ada seorang anak dalam keluarga, bakalan lengkap."
"Pasti kak. Oh ya, rapatnya kurang 2 jam lagi ya kak?"
"Bener dek, kamu kalau laper makan aja dulu. Daripada nanti pas rapat kamu gak kosentrasi," selain memperhatikan Aoi, Makoto juga perhatian pada Syougo yang susah untuk makan.
"Kenapa gak nyari pacar? Disini cantik-cantik. Apa kamu gak suka?" tanya Makoto heran, sejak dulu Syougo tak pernah dekat dengan perempuan manapun kecuali sang mama.
Syougo menghela nafasnya. "Belum ada yang tepat dan sesuai dengan seleraku kak. Aku gak mau pacaran, aku gak suka bikin cewek sakit hati apalagi nangis gara-gara aku," jawabnya lugas, please sisakan cowok seperti Syougo di Bumi ini.
"Terserah kamu. Kakak gak melarang atau mengatur."
__ADS_1
Syougo tersenyum tipis. "Jangan bahas itu lagi ah kak, bikin aku bete."
Makoto terkekeh, adiknya masih sama menghindari perempuan karena takut melihat air mata karena ulahnya sendiri.
"Siapkan berkas-berkas penting sama flashdisk kakak ya? Kakak mau beli makanan dulu buat nanti siang," Makoto beranjak dari kursi kebesarannya.
"Siap kak!"
***
Setelah satu jam berjalannya rapat sangat lancar. Makoto kembali duduk dan meraih gelas di depannya.
Saat akan meminumnya, Makoto merasakan bau menyengat. Kedua alisnya mengernyit heran, air ada baunya? Ini pasti tidak ada yang beres.
"Syougo, tolong kasihkan minuman ini ke kucing yang biasanya ada di depan kantor sekarang," Makoto memberikan segelas air putih itu.
Syougo mengangguk. "Baik pak."
Nakura berdecak pelan, gagal sudah rencananya. Ia kira Makoto tak akan mudah teliti.
'Padahal kalau aku cek itu serbuknya gak bau. Apa emag indra penciuman pak Makoto tajam?' batin Nakura heran, sedikit lagi padahal. Makoto akan sekarat.
Syougo menyodorkan segelas air minum milik sang kakaknya itu pada kucing jalanan.
"Memangnya ada apa sih dengan air minum itu?" Syougo menunggu reaksi kucing itu yang mulai menjilati air minumnya sedikit demi sedikit.
Bruk.
Syougo terkejut, kucing itu pingsan.
"Kenapa?" Syougo melihat tubuh kucing itu, masih bernafas meskipun lambat. Tapi saat sudah mencapai satu menit kemudian, nafas kucing itu berhenti.
"Apa?! Mati?" Syougo bergegas masuk melaporkan reaksi air minum yang entah isinya apa.
"Lapor pak Makoto, kucing yang saya berikan air minum dari anda itu memiliki racun menurut pemikiran saya. Karena nafas kucing itu berhenti setelah satu menit kemudian," lapor Syougo dengan tegas, alisnya menyatu. Rasa marah, kesal dan ingin menghajar orang itu yang sudah berani memasukkan racun ke dalam gelas kakaknya.
"Periksa CCTV," titah Makoto penuh penekanan.
Syougo mengecek ponselnya yang terhubung CCTV kantor secara langsung.
"Maaf pak, CCTV-nya mati."
"Baik, saya akan mencari tau siapa pelakunya sampai ketemu. Kalau itu diantara kalian, terpaksa saya pecat darisini dan tidak ada gaji pokok sama sekali," Makoto beranjak pergi dengan amarah yang tertahan. Beraninya orang itu.
Nakura cemas. 'Ha? Tega banget sih pak Makoto. Semoga aja gak ketahuan,' batinnya berdoa.
***
Maaf telat update, telepon dari doi agak lama dikit. Emang ya dilan kw rindu berat.
7:00 malam
See you-,
__ADS_1