Terpaksa Menikahi Om Om

Terpaksa Menikahi Om Om
72. Tanpa Makoto


__ADS_3

Aoi mengerjapkan matanya, kepalanya terasa sakit dan pusing.


"Aww, pusing banget lagi. Kenapa ya?"


Tak seperti biasanya setelah tidur Aoi merasakan sakit kepala. Tapi itu tak berlangsung lama, hanya sebentar saja.


"Mungkin aku belum sarapan jadi pusing gini," Aoi turun dari ranjangnya, langkahnya ke kamar mandi hanya sekedar membasuh muka. Rasanya malas untuk mandi karena airnya yang begitu dingin.


Selesai membasuh wajah, Aoi sarapan sendirian meskipun para bodyguard-nya berdiri menjaga berjejer rapi.


"Kenapa aku selalu sarapan sendirian? Meskipun sekarang ada kalian, tapi masih sama saja tak mau di ajak makan bersama," gerutu Aoi mengomel.


Ryou dan yang lainnya mendengar Aoi berceloteh sendiri hanya tersenyum. Aoi sedang kesal.


"Nona Aoi kalau makan jangan berbicara dulu. Nanti tersedak," ucap Ryou menasehati.


Aoi menoleh melirik Ryou, pria itu selalu saja memberikan perhatian lebih. Hati Aoi kan jadi salah mengartikan dan berakhir baper.


'Andai dulu ada Ryou sama Ryuji yang suka sama aku atau gak ya Aldebaran sih. Tapi takdir malah berkata lain, mas Makoto yang hadir dalam hidup aku tanpa permisi,' batinnya.


"Aduh, aww sakitt. Aduh, tolong aku," Aoi memegangi perutnya.


"Segera bawa nona ke dalam mobil," titah Ryou.


"Bertahan nona. Kami akan membawamu ke rumah sakit," Ryou sangat khawatir, apalagi kandungan Aoi sudah menginjak 9 bulan.


Selama di dalam mobil, Aoi mengeluh sakit dibagian perutnya. Tsubasa menyuruh Ryou agar lebih mengebut lagi. Tapi Ryou menolaknya karena tak ingin melanggar rambu lalu lintas jika tak ingin kecelakaan.


"Ayolah Ryou! Mengebut sedikit saja! Apa kau tak dengar nona kesakitan?" Tsubasa kembali melayangkan protesnya.


"Tsubasa, kamu tenanglah. Biarkan Ryou menyetir dengan tenang, jangan kau ganggu," ujar Nonomura memperingati.


Akhirnya Tsubasa memilih diam. Ia jadi serba salah.


Hanya membutuhkan beberapa menit saja akhirnya sampai du rumah sakit.


Ryou memanggil suster untuk membawa Aoi.


"Sepertinya akan melahirkan. Anda tunggu di luar saja."


Setelah Aoi di tangani, Ryou dan yang lainnya duduk di kursi tunggu.


"Nona Aoi mau melahirkan? Apa kalian tidak menelepon Tuan Makoto untuk memberitahukan hal ini?" tanya Ryoto.


"Jangan mengganggu Tuan Makoto dulu. Beliau pasti masih sibuk," sahut Nonomura tak sependapat dengan Ryoto, tidak setuju.


"Apa? Jangan mengganggu? Nona Aoi sedang melahirkan. Pasti bayinya juga ingin melihat ayahnya untuk pertama kalinya. Kenapa kamu tidak faham?" Ryou melempar pertanyaan balik kepada Nonomura.


Terjadilah perdebatan antara Ryou dan Nonomura. Lalu Tsubasa yang menjadi pihak netralnya.

__ADS_1


"Kalian jangan bertengkar, sudah dewasa bukan anak kecil lagi dan disini itu rumah sakit," ujarnya memberikan nasehat.


Selama beberapa jam menunggu akhirnya terdengar suara tangisan seorang bayi.


"Perempuan atau laki-laki ya?" tanya Ryoto tampak berpikir, penasaran saja.


Seorang dokter perempuan keluar dari ruangan dimana Aoi di rawat. Ryou menghampirinya menanyakan apakah kondisi Aoi baik-baik saja dan dokter itu menjawab Aoi sedang beristirahat.


"Apakah anda suaminya?" tanya sang dokter.


Ryou menggeleng. "Saya adalah peng-"


"Iya dia suaminya dok. Apa boleh masuk?" Nomomura menyelanya dengan cepat, Ryou menatapnya tajam.


"Silahkan. Selamat ya, anak anda berjenis kelamin perempuan. Dia sangat cantik seperti ibunya," sang dokter mengucapkan sekamat dengan bibir yang tersenyum.


Ryou mengangguk kikuk. Gara-gara Nonomura yang menjadikannya suaminya Aoi.


"Kamu aja yang masuk. Biar kita nunggu disini aja," ucap Ryoto.


Ryou mengangguk. 'Ok, tapi aku akan bilang dulu dengan Tuan Makoto. Mau bagaimana pun juga nona Aoi adalah istrinya,' batin Ryou.


Setelah melapor pada Makoto, Ryou duduk di kursi yang lumayan jauh dari Aoi.


Pandangan Ryou juga terjatuh pada seorang bayi yang tertidur pulas di dalam sebuah kaca persegi panjang yang terbuka.


"Kalau Tuan Makoto tau, beliau pasti akan senang," Ryou memotret bayi itu, ia kirimkan pada Makoto.


***


Sedangkan Haruka dan Fumie fokus makan takoyaki di kantin. Tapi Aldebaran ikut satu meja, katanya semua kursi sudah penuh. Fumie merasa keberatan karena Aldebaran ini masih presma yang populer dan di gilai cewek kampus.


"Aku gak mau ya nanti ada cabe-cabean atau cewek kecentilan ngelabrak aku dan Haruka," ujar Fumie ketus.


Aldebaran hanya terkekeh. "Percaya aja, gue gak terlalu ngurusin cewek. Apalagi pacaran, aduh males banget gue. Ganggu lah."


"Eh, gimana kabarnya Aoi? Kok dia sekarang gak pernah ke kampus? Jadi kangen nih sama bawelnya," Aldebaran tersenyum penuh arti, ia suka membuat Aoi kesal.


"Gak tau," Fumie menggeleng.


"Punya nomernya kan? Telepon dong. Kalau sama gue belum tentu di angkat. Aoi kan masih ngambek sama gue," suruh Aldebaran pada Fumie, cewek itu pasti akan dengan mudah menurut daripada yang satunya bernama Haruka itu.


"Telepon aja deh. Jam segini pasti Aoi ada di rumah nonton tv," ucap Haruka, kebiasaan Aoi ketika berada di rumah sendirian.


Fumie mulai menelepon Aoi, masih menunggu tersambung sampai suara berat cowok membuat Fumie heran.


"Maaf ini siapa ya?"


"Saya Ryou, pengawal nona Aoi. Kamu siapa?"

__ADS_1


"Pengawal?"


"Maksudnya bodyguard Fumie. Tanya aja pasti dia tau Aoi lagi ngapain sekarang," ucap Haruka, memang Aoi belum mengenalkan pengawalnya.


"Aoi mana? Kok tumben gak chat aku."


"Nona Aoi sedang berada di rumah sakit. Baru saja melahirkan anak perempuan yang cantik. Apakah kamu temannya?"


"Sahabat ya. Terus sekarang Aoi istirahat?"


"Betul, nona Aoi istirahat. Jika kamu menjenguknya boleh sekarang. Aku ingin pulang dan menjaga rumah daripada nanti ada apa-apa."


"Ok. Aku akan kesana," Fumie menutup sambungan teleponnya.


"Eh bolos yuk. Ayo ke rumah sakit. Aoi disana pasti gak ada yang nemenin, pengawalnya mau pulang jagain rumah. Al, mau ikut gak?"


"Heh! Jangan nawarin Al. Udahlah lo gak usah ikut," Haruka merasa kesal dengan Aldebaran.


"Haruka, Al gak ngapa-ngapain di rumah sakit. Kalau dia banyak tingkah aku panggilin dokter aja biar di suntik," ucap Fumie menakut-nakuti Aldebaran.


Aldebaran mendelik. "Heh! Jangan! Gue gak suka suntikan! Sesakit hatiku tak di hargai olehnya," curhatnya mulai galau.


"Lo kenapa? Di cuekin cewek?" tanya Haruka heran.


"Padahal kamu itu ganteng loh Al masa sakit hati gara-gara cewek?"


"Paling ceweknya gak mau jadi korban php Fumie. Makannya nyakitin hati Aldebaran duluan," Haruka sangat kesal dengan cowok berjambul memang ganteng itu.


"Udah, jangan berdebat. Haru, kamu yang bayar ya aku belum gajian nih," Fumie tersenyum kikuk.


Haruka berdecak kesal. "Iya ya, aku yang bayarin."


"Uuuu kasihan uangnya habis ya?" Aldebaran meledek Haruka. Cewek itu memberimya tatapan tajam.


"Aldebarannn! Awas ya lo!" Haruka bersiap melempar Aldebaran dengan saus yang ada di meja, cowok itu pun kabur menyelamatkan diri.


"Haruka, malu di liatin tuh."


Seisi kantin menatap Haruka aneh dan heran.


"Biarin. Al duluan yang mulai, dasar nyebelin!"


'Ya ampun Haruka emosi banget sama Al. Bisa gawat Haruka suka sama Al nanti,' batin Fumie.


***


Disana memang hujan, dekapku darisini selalu memelukmu dalam bayang dan pejaman mata.


5:06 sore.

__ADS_1


See you-,


__ADS_2