
Aoi masih tak percaya, ia menemui Haruka dan Fumie ingin tau kejadian yang sebenarnya.
Duduk di bawah pohon sakura menyejukkan hati dan pikiran. Fumie tak peduli dengan apa yang Aoi tanyakan, matanya terasa berat ingin tidur. Apalagi angin sepoi-sepoi meniup rambutnya terasa sejuk.
"Pak Makoto refleks Aoi, aku tau sih kalau Nakura emang sengaja melakukan ini. Mungkin inilah rencananya, gak mungkin juga kan dia mengundang kita datang ke pesta ulang tahunnya tanpa sebab?"
Aoi mengangguk faham. "Aku merasa bersalah udah nuduh mas Makoto yang bukan-bukan. Apa dia bakal marah sama aku?"
Haruka terkekeh. "Coba kamu masakin makanan kesukaan pak Makoto, atau gombalin, gak deh gak pas. Em-gimana kalau ci-"
"Haruka! Kok di cium sih?" sela Aoi cepat, sekarang pikirannya peka dengan cerdas.
Fumie terperanjat kaget, tidurnya hampir nyenyak. "Aoi! Ngagetin aja sih. Aku lagi ngantuk nih!"
Aoi dan Haruka tertawa, ternyata Fumie ngiler.
"Basuh wajah kamu sana, tuh ada sungainya. Masa cantik-cantik iler-" Haruka menahan tawanya.
"Iya ya! Bye!" Fumie beranjak pergi dengan kaki yang di hentakkan. Kesal.
***
"Nakura, kamu suka ya sama pak Makoto?" tanya beberapa cewek yang mengerumuni Nakura, berita hangat tentang diriya dan Makoto sudah viral dan menjadi gosip populer.
Nakura hanya tersenyum simpul. "Ya gitu deh, pak Makoto kan gan-"
"Sini, kamu ikut aku," Ryuji menarik tangan Nakura menjauhi kerumunan itu.
'Kenapa sih dia masih aja jadi perusak hubungan orang? Aku gak tahan sama Nakura, aku pingin putus sekarang juga,' batin Ryuji sudah habis kesabarannya.
Rooftop, Ryuji ingin menasehati Nakura.
"Kenapa kamu undang pak Makoto? Bukannya kamu undang Aoi?" tanya Ryuji menyelidik, matanya menyipit mengintumidasi Nakura yang kini terlihat gugup.
"Itu-aku. Em-" Nakura bingung harus menjawab apa, padahal yang ia harapkan datang adalah Aoi bukan Makoto. Tapi di balik itu dirinya mendapatkan keuntungan dari gosip miring, pasti hubungan Makoto dan Aoi tidak membaik.
"Seharusnya kamu tau Nakura. Pak Makoto udah beristri, lagian sih kamu kebanyakan gaya pakai high heels rasain tuh jatuh kan?" Ryuji mengungkapkan kekesalannya.
Nakura menunduk. "Terus di mata kamu aku selalu salah? Di bandingkan Aoi? Yang kamu bela mati-matian?"
Ryuji mengangguk. "Kamu selalu salah Nakura. Bahkan kamu ingin mendapatkan cintaku saja dengan cara licik bukan?"
Nafas Nakura tercekat, terbongkar sudah. "Aku udah cinta sama kamu udah lama. Bahkan aku udah memendam perasaan ini saat kita masih kecil. Kamu tau kan cincin ini?" Nakura menunjukkan cincin hitam biasa pemberian Ryuji saat itu.
"Itu gak penting, kamu bisa buang. Cuman cincin murahan," Ryuji membuang pandangannya ke arah lain, entah mengapa hatinya terenyuh mendengar pernyataan Nakura.
Mata Nakura berkaca-kaca. "Tapi bagi aku ini sangat berharga. Kamu masih ingat kan sama janji aku dulu? Gak akan pernah ninggalin kamu apapun keadaannya selalu ada di sisi kamu. I promise and stay with you." (Aku berjanji akan selalu ada untukmu).
__ADS_1
"Makannya pas kamu suka dan mulai pacaran dengan Aoi, aku benci Aoi. Aku akan melakukan berbagai cara agar kamu sama Aoi berpisah. Sekarang percaya kan kalau aku cinta ma-"
Ryuji menarik Nakura dalam dekapannya. "Iya aku percaya," Ryuji mengangguk, ucapan Nakura sangat sungguh-sungguh itu menggetarkan hatinya.
Nakura mengukir senyumannya, akhirnya Ryuji membalas perasaan cintanya.
'Yes! Akhirnya Ryuji bisa mencintai aku sepenuhnya. Tapi aku belum puas, karena Aoi semuanya jadi rumit. Perasaanku hancur, sekarang gantian aku yang akan membuat Aoi hancur,' batin Nakura tersenyum penuh arti.
***
Aoi menelepon Makoto, ia ingin tau apakah suaminya itu mau menjemputnya ke kampus padahal masih jam kerja?
Aoi hanya ingin tau apakah cinta Makoto sangat besar dan tulus?
"Jemput aku sekarang. Udah pulang, males naik taksi sendirian. Mau kan?"
"Ok, 5 menit aku sampai kesana. Kamu tunggu aja di depan kampus."
Aoi tersenyum senang, ternyata benar Makoto memang mencintainya sebegitu besarnya.
Dengan sabar Aoi menunggu, saat berangkat ke kampus memang Makoto yang mengantarkannya.
Tin tin!
Aoi menoleh mendapati Makoto yang mengedipkan matanya. Dasar genit memang.
"Silahkan masuk Aoi, ayo kita pulang."
"Di jemput sama suami? Seriusan?!"
"Gak sama Nakura ya?"
"Terus kerjaan kamu di kantor gimana?" tanya Aoi setelah ia duduk di kursi penumpang depan bersebelahan dengan Makoto tentunya.
"Udah beres," jawab Makoto berbohong, padahal masih banyak yang perlu di selesaikan. Tapi demi Aoi, ia rela meninggalkan semua itu dan di serahkan pada Syougo.
"Tumben gak bareng sama sahabat kamu?" tanya Makoto, ia mulai melajukan mobilnya.
"Haruka sama Fumie lagi ada tugas lapangan. Masih lama pulanganya, mungkin agak sore. Jadi aku pulang sendiri deh," Aoi tak berani menatap mata Makoto, ia tau dirinya tengah di perhatikan. Bukan sekedar geer biasa, Aoi melirik dari sudut matanya saja.
"Udah makan?"
Aoi menggeleng. "Gak mau, gak laper!" jawabnya ketus, nafsu makannya tiba-tiba hioang entah kenapa.
"Makan, kalau kamu telat makan yang ada bisa sakit lagi perutnya. Mau ayah kamu ngomel-ngomel nanti?"
"Gak laper, jangan maksa ah."
__ADS_1
"Oh kode minta di suapin nih?" tanya Makoto dengan senyum menggodanya.
"Apa sih? Gak kok, sampai di rumah aku langsung tidur. Capek," capek hati juga lanjut Aoi dalam hati, apalagi kisah cintanya yang rumit sejak dulu sampai sekarang.
Makoto mengangguk. "Daripada kamu kecapekan, tapi habis bangun tidur makan ya?"
Aoi mengangguk pelan. Ia harus menghargai bentuk perhatian Makoto.
***
Sampai di rumah, Aoi tetap tidak mau makan. Makoto bingung harus menawarkan apa selain bento, nasi atau camilan. Semuanya Aoi tolak.
"Terus maunya apa sayang? Makan di kafe? Restorant? Apa warung?"
Amschel dan Karin datang, pulang dari kerja sungguh melelahkan.
"Kenapa Aoi gak mau makan?" tanya Karin heran, ia sudah hafal kebiasaan Aoi yang sedang kesal.
Makoto mengangguk. "Iya, Aoi gak mau makan ma. Padahal udah aku masakin makanan favoritnya."
"Aoi, pilih makan atau hp kamu ayah ambil sementara waktu?" Amschel memberikan pilihan yang tak bisa di tolak.
"Hm, ayah gak asik ah. Masa hpku mau di ambil?" protes Aoi tak suka, tanpa hp dirinya akan bosan dan gabut.
"Ya udah makanlah sekarang, kalau masih gak mau juga ya-"
"Suapin cepetan!" seru Aoi tak sabaran.
Makoto menyuapkan bento itu pada Aoi. "Yang banyak biar sehat."
"Kalau banyak-banyak yang ada aku bisa gendut. Kamu gak bakal suka lah," gerutu Aoi kesal, Makoto pasti akan mencari cewek langsing dan berpaling darinya.
"Mau kamu kurus atau gendut ya tetap cinta. Ayo buka mulutnya lagi aaaa."
"Kita jadi obat nyamuk yah. Hm sedih deh," celetuk Karin membuat Aoi menoleh dengan wajah bingungnya.
"Yuk ma kita makan di luar aja. Jangan ganggu pengantin baru ini," Amschel melirik Aoi dan Makoto dengan sudut matanya, Aoi hanya bisa diam.
'Ayah sama mama kenapa sih makan di luar? Gak sekalian aja aku di ajak? Kalau berdua sama mas Makoto kan suasananya jadi awkard,' batin Aoi, sayangnya kata-kata itu ada di dalam hatinya.
"Disini aja," Makoto tau Aoi ingin ikut. "Udah kenyang belum?"
Aoi mengangguk. Tapi ia masih lapar, berada di dekat Makoto tak baik untuk jantungnya.
***
Makan camilan sayur wedang manis biar gak pusing.
__ADS_1
8:19 pagi
See yu-,