Terpaksa Menikahi Om Om

Terpaksa Menikahi Om Om
56. Menjadi pembantu


__ADS_3

Aoi merasa sendirian meskipun di temani Haruka dan Fumie di chat grup.


...HAIFU (Haruka, Aoi, Fumie)...


Fumie


Maaf ya Haru aku baru online. Lagi beres-beres rumah biasa hehe.


06:00 pm


Haruka


Ih bikin khawatir aja. Masa gak online seharian sih? Enak aja menghilang tanpa kabar gak pamit lagi.


06:01 pm


^^^Anda^^^


^^^Makasih ya Haruka, Fumie. Kalian mau menemani aku, rumah ini sepi banget. Orang tuaku sama mas Makoto keluar kota, urusan pekerjaan. ^^^


^^^06:01 pm^^^


Fumie


Sama-sama Aoi. Boleh video call gak? Aku pingin bilang sesuatu nih, kalau di chat gak enak lebih baik langsung aja meskipun gak bisa ketemu hehe.


06:02 pm


^^^Anda^^^


^^^Boleh banget^^^


^^^06:03 pm^^^


Haruka


Ayo! Pingin tau nih kalian lagi apa.


06:04 pm


Video call di mulai, Fumie sedang tiduran, Haruka duduk di meja belajarnya dan Aoi memakan bento-nya sedikit saja. Nafsu makannya hilang, biasanya Makoto selalu menyuapinya.


"Makan apa Aoi? Bento lagi? Jadi favorit banget ya?" tanya Fumie penasaran.


Aoi mengangguk. "Suka banget, kalian udah makan belum?"


Haruka menggeleng. "Gak lapar Aoi, males ah. Bosen menu makanannya itu-itu aja. Aku pingin makan diluar gak boleh malah disuruh belajar aja."


"Fumie? Kalau kamu udah makan?" tanya Aoi beralih menatap Fumie yang hanya diam, biasanya Fumie paling cerewet dan ceria tapi sekarang tiba-tiba pendiam.

__ADS_1


"Aku udah kenyang. Tadi makannya banyak banget," Fumie mencoba tersenyum meskipun bibirnya terasa nyeri karena tanparan kakaknya tempo hari itu masih terasa hingga saat ini.


"Maaf banget ya aku gak bakalan ke kampus lagi," ungkap Aoi jujur, memang murni larangan dari Makoto.


"Kenapa? Karena kamu hamil ya?" tanya Fumie merasa sedih, pasti hari-harinya nanti akan sepi tanpa Aoi.


"Kalian semangat aja ya? Kalau udah lulus nanti jangan lupa traktitan nih bagi yang IPK-nya bagus."


"Siap! Kita bakal semangat belajar Aoi, nyari pacar aja gak sempat. Aku gak mau nanti kuliahnya terganggu," Fumie tersenyum tipis, lagipula percuma ia pacaran yang ada menambah masalah dengan sang kakaknya.


Mereka pun terhanyut mengobrol apa aja sampai larut malam.


***


Aoi mematikan laptopnya, saatnya tidur.


"Oh ya! Semua pintunya kan belum aku kunci, kok bisa lupa sih," langkahnya menuju dapur, mengecek semua pintu apakah sudah ia kunci sebelumnya.


Saat Aoi mengecek pintu dapur, betapa terkejutnya ada Nakura dan 4 pria seperti preman itu terdenyum licik.


"Loh? Nakura? Kamu ngapain disini?"


Nakura menghampiri Aoi dengan langkah angkuhnya. "Mau main sama kamu lah. Boleh kan?"


Aoi menggeleng. "Main apaan? Udah malam Nakura! Kamu juga gak sopan langsung masuk rumah gitu aja kayak maling."


Nakura terkekeh. "Aoi, mainnya kan beda. Bukan main cantik, tapi aku mainnya jahat ke kamu gimana dong? Kalau kamu berani kabur, teman-temanku ini siap melawanmu Aoi."


"Nakura! Balikin! Kamu jangan macam-macam sama aku ya?!" Aoi berusaha merebut ponselnya dari tangan Nakura.


"Nih, bawa aja dulu. Aku mau bermain dengan Aoi sebentar aja. Bawa dia dan masukin ke dalam mobil, jangan lupa ikat tangannya!"


"Siap bos!"


Kedua tangan Aoi di ikat, dirinya di bawa ke dalam mobil entah mau kemana. Aoi berteriak minta tolong tapi percuma.


'Bi Idah kemana? Please tolongin aku bi,' batin Aoi berharap penuh pada pembantunya itu, padahal kata mamanya sendiri bi Idah akan kembali bekerja lagi. Tapi nyatanya wanita paruh baya itu tidak datang.


***


Satu jam sebelumnya, Nakura berhasil menyuruh anak buahnya melumpuhkan mata-mata Aoi yang selalu mengawasi dari jauh. Dan satu lagi, Nakura sudah menyekap bi Idah di gudang rumah Aoi dengan mulut tersumpal kain. Semuanya berjalan dengan lancar.


Sekarang, Nakura berada di kawasan rumah kosong yang dekat dengan perbukitan.


"Bawa Aoi ke dalam," titah Nakura keluar dari mobilnya.


"Lepasin! Kalian memang jahat! Kalau sampai ayah tau aku di culik sama kalian, sudah habis dan tinggal nama!" Aoi berteriak tak karuan, emosinya membuncah. Entah pada siapa ia meminta pertolongan, ponsel pun di ambil dan dirinya jutru di bawa ke dalam tempat asing jauh dari keramaian.


"Haha dia mau ngadu sama ayahnya?" salah satu pria itu tertawa remeh.

__ADS_1


"Mimpi aja deh. Pasrah kalau kamu bakalan hidup dan mati disini selamanya."


Mendengar pernyataan itu pun Aoi sekuat tenaga melepaskan cengkraman kuat dari 2 pria itu.


"Masukin dia ke dalam ruangan itu. Cepat!" Nakura menunjuk sebuah kamar yang sudah di persiapkan untuk Aoi.


Bruk!


Aoi di seret ke dalam ruangan itu, lalu pintunya di kunci rapat.


"Bukain! Bukaa! Kalau kalian gak mau bukain pintunya, aku bakalan dobrak darisini!"


Suara Aoi yang berteriak tanpa henti seperti kesetanan itu tak ada yang peduli.


Aoi hanya mendobrak dua kali, tubuhnya terasa sakit karena material pintu itu sangat keras.


"Sakit banget sshh. Capek," Aoi duduk di lantai dengan keringat yang bercucuran.


"Aku gak nyangka dalam waktu satu malam ini Nakura berhasil menculik aku dengan mudahnya. Dan ayah, kemana mata-mata ayah? Katanya bakalan datang, ayah bohong, ayah gak bisa menepati janji," Aoi menangis sesenggukan, apalagi kondisinya saat ini sedang hamil muda.


Aoi mengusap perutnya yang masih rata itu.


"Sayang, kita harus bisa keluar dari tempat ini. Aku gak mau kamu kenapa-napa," Aoi berbicara pada calon bayinya itu.


Lelah, matanya terasa berat. Aoi tertidur dengan posisi duduk dan kepala yang menunduk.


***


Brak!


Aoi terperanjat kaget, ia menoleh dan mendapati Nakura yang berkacak pinggang.


"Enak banget ya tidur bangunnya kesiangan. Sapu semua ruangan yang ada disini, oh ya jangan lupa di pel dan kacanya lap yang bersih sampai kinclong. Kalau kamu gak mau bayi kamu itu jadi bayarannya. Kasihan, masih muda udah nikah di jodohkan dan hamil. Aku seneng deh akhirnya kamu gak bisa kuliah lagi, jadi Ryuji bisa sama aku setiap hari tanpa harus ketemu sama kamu."


Aoi tersenyum miris. "Ternyata kamu cuman terobsesi kan sama Ryuji? Apa cinta kamu itu cuman main-main?"


Nakura menggeram kesal. "Heh! Jaga ya mulut kamu! Aku sama sekali gak ada niat buat main-main mencintai Ryuji. Gak usah banyak bacot dan ceramah deh, sana bersihin sekarang!"


Aoi berdiri dengan susah payah, tubuhnya masih lelah dan butuh istirahat. Tapi Aoi memaksakan dirinya demi calon bayinya agar aman.


Menyapu semua ruangan, mengepel dan kaca yang di lap sampai kinclong sudah Aoi lakukan. Kakinya terasa pegal, apalagi tangannya itu.


Aoi duduk di lantai menyelonjorkan kakinya. Gerah, ingin sekali merasakan tiupan angin sejuk.


"Sampai berapa hari aku disini? Bahkan aku belum makan sama sekali. Aww, laper banget," Aoi memegangi perutnya yang mulai keroncongan itu.


***


Mengulang satu kalimat dan kata dengan nasi.

__ADS_1


9:40 malam


__ADS_2