Terpaksa Menikahi Om Om

Terpaksa Menikahi Om Om
65. Di kawal


__ADS_3

Ting tong ting tong.


Aoi berdecak kesal, sejak kemarin ada saja yang suka memainkan bel rumah. Lalu siapa lagi? Datang saat jam 9 malam begini itu mengganggu tidur nyenyaknya.


Dengan langkah malas, Aoi menuju ruang tamu mengecek siapa gerangan yang datang saat jam tidur begini.


Ceklek.


Aoi terbelalak mendapati 4 pria berstelan jas hitam ala-ala bodyguard dengan kacamata hitam yang menambah kesan creepy and cool. Dua diantaranya masih muda dan terbilang tampan, selain itu mungkin sudah usianya sama dengan paman-paman.


"Kalian yang di kirim sama mas Makoto kan?" tanya Aoi sekedar memastikan saja, takutnya 4 pria itu membahayakan dirinya sewaktu-waktu.


Keempatnya mengangguk kompak.


"Ya udah, tidurnya di ruang tamu aja. Gak boleh pake kamar ayah atau pun kosong. Enak aja, bayar dulu lah emang ini kos-"


"Baik nona Aoi," sela keempatnya lagi-lagi kompak.


Aoi mendengus kesal. "Nyaut aja."


***


Seseorang mengendap-endap dengan langkah pelan. Kepalanya menoleh ke kiri-kanan memastikan keadaan aman.


"Rumah ini besar banget, pasti di dalamnya ada barang-barang mahal dan berharga. Kalau di curi pasti untung banyak nih," ujarnya menatap rumah bak istana presiden itu dengan ngilernya.


Gerbang yang menjulang tinggi membuat kakinya harus hati-hati saat memanjat.


Tap!


Akhirnya berhasil juga meskipun celananya robek karena runcingnya besi itu.


"Saatnya beraksi. Rumah segede ini kok gak ada satpamnya," langkahnya menuju parkiran mobil terlebih dahulu. Mengeceknya apakah di kunci atau tidak.


"Widih, mengkilat lagi. Sayang banget nih kalau gak di bawa pulang," ucapnya merasa takjub dan kagum. Pandangannya beralih pada helikopter.


"Punya ginian? Pribadi? Sayangnya kalau gue curi juga kan ketauan. Mobil ini doang udah cukup sih, tapi helikopter itu jauh lebih baik dan mahal," gumamnya mengusap dagu, tatapannya menyipit membandingkan mana yang lebih elegan diantara dua benda berharga itu.


"Ck, mobil aja deh. Lagian di dalam rumah itu juga mahal semuanya," ujarnya final, langkahnya dengan tak sabar menuju pintu belakang.


Di ruang tamu, 4 bodyguard itu tidur secara bergantian. Merka harus tetap terjaga menjaga kemanan rumah meskipun harus dari dalam lebih utama.


"Giliran kamu tidur. Aku sudah tidur meskipun hanya beberapa menit. Setidaknya mata ini tidak mengantuk," Ryou, yang termasuk tampan dan sama dengan Tsubasa. Ryou memiliki tinggi 175 cm, rahang tegas, alis tebal dan bibir merah muda pucat yang seksi. Ryou sempurna, siapapun kaum hawa yang meliriknya akan terlena.


Tsubasa mengangguk. "Terima kasih, aku merasa sangat ngantuk. Hoaamm," Tsubasa menguap, ia merebahkan dirinya di sofa panjang.


Tersisa Ryou, Nonomura, dan Ryoto.


PYAR!


BRUK!

__ADS_1


"Suara apa itu?" tanya Ryoto serius, seketika matanya menelisik sekitar mencoba mencari sumber suara.


"Segera berpencar!" titah Ryou tegas.


Tsubasa terbangun.


"Berpencar?" langkahnya menuju dapur.


Sedangkan seseorang yang memakai topeng itu melangkah keluar, berlari cepat menuju parkiran dimana mobil mewah itulah barang curiannya yang terakhir.


Aoi yang mendengar suara itu pun terbangun. Ada apa?


"Mereka itu tidur atau masih terjaga jam segini? Mau makan apa sih?" Aoi beranjak dari kasurnya, ia akan mengecek dapur. Bisa saja bodyguard-nya itu kelaparan di malam hari.


Di dapur, Ryou dan Tsubasa menemukan pecahan gelas dan vas bunga.


"Penyusup!" seru Ryou dan Tsubasa kompak.


Keduanya mengecek di luar rumah, tepatnya halaman yang luas tak memungkinkan penyusup itu bisa kabur dengan cepat dan mudahnya.


Gotcha!


"Itu dia! Berhasil mengambil mobil pribadi milik nona Aoi!" seru Tsubasa lantang.


"Baik, kita susul dengan motor saja jauh lebih cepat daripada mobil," ujar Nonomura dengan ide cemerlangnya.


Aoi hanya melongo melihat aksi 4 bodyguard-nya itu menyusul sang penyusup.


"Kalau sampai dia tertangkap, pasti di hajar habis-habisan."


***


Seseorang di dalam mobil Aoi itu panik, matanya sesekali melirik arah spion. Posisinya saat ini di kepung, mau kabur bingung entah bagaimana.


"Mereka siapa sih? Ganggu aja," ia menambah kecepatannya, berharap orang berpakaian jas hitam itu tertinggal jauh.


Tapi semua yang dilakukannya sia-sia dan percuma. Tepat saat di jalan yang sepi, mobilnya di hadang 4 motor besar. Habislah riwayatnya jika keroyokan begini.


"Turun!" salah satu dari mereka menggedor kaca mobilnya.


"Cepat turun!" gertaknya marah.


Dengan ketakutan dan gemetar ia memilih keluar.


"A-ampun. S-saya akan mengembalikan mobiknya."


Ryou tersenyum penuh arti. "Kenapa? Kalau ketauan begini saja udah takut."


"Tujuanmu mencuri itu apa? Buat makan uangnya? Apakah pekerjaanmu yang lain tak cukup untuk makan sampai kau tega mencuri?" tanya Nonomura menusuk, matanya berkilat tajam.


'Bagiku barang-barang di rumah kalian itu mewah dan mahal. Berbeda dengan yang lainnya,' batinnya menjawab, kalau saja itu terlontarkan dari mulutnya hari ini sudah tinggal nama.

__ADS_1


"Kami memaafkanmu asalkan tidak mengulanginya lagi. Tapi kalau-"


"Iya bang janji," ia mengangguk cepat. "Saya gak akan mengulanginya lagi. Sekali lagi, maaf bang," lalu langkahnys berlari terbirit-birit menghindari bodyguard tegas dan menyeramkan itu.


"Tugas kita bagus. Selesai," ujar Tsubasa kagum.


"Ayo pulang, nona Aoi harus kita jaga lagi," titah Nonomura.


"Ayo," seru semuanya kompak.


***


Sampai di rumah, para bodyguard kece itu kembali terjaga di ruang tamu.


"Apa nona Aoi bangun?" tanya Ryoto penasaran, mengenai suara pecahan gelas itu sangat keras dan terdengar jelas.


"Sepertinya tidak, terbukti dengan pintu kamarnya yang masih tertutup," jawab Ryou.


"Kata siapa?" Aoi muncul dari arah dapur. Keributan tadi membuatnya susah tidur kembali.


"Nona? Kenapa gak tidur?" tanya Nonomura dengan wajah terkejutnya.


"Ada maling?" Aoi balik bertanya. "Kok gak di tangkap? Apa kabur?" Aoi menatap keempatnya penuh selidik.


"Kami hanya memberinya peringatan saja nona. Kalau di ulangi sekali lagi, kami akan bertindak lebih tegas lagi," jawab Ryou serius, ialah ketuanya. Meskipun muda, tapi pikirannya dewasa dan logis.


Aoi menatap Ryou. Duh, tampannya. Andai saja itu suaminya, sebelum kenal dengan Makoto. Sudah di embat duluan.


"Kamu namanya siapa?" tanya Aoi kalem, berhadapan dengan pria tampan sikapnya akan berubah 180 derajat dari ketus menjadi kalem.


Ryou tersenyum. "Ryou Akaba, panggil saja saya Ryou nona."


"Umur? Masih sekolah ya?"


"Saya sudah lulus tahun kemarin, nona bisa liat sekarang saya hanya bekerja menjadi bodyguard nona."


Sweet. Kenapa hatinya yang baper? Ah, ini hanya sekedar tersipu dengan Ryou. Tatapannya itu membiusnya untuk jatuh cinta.


'Ingat Aoi, ada mas Makoto. Apa aku jadikan teman saja ya?' batin Aoi bimbang, tapi ia tidak suka dengan sisi dingin Ryou yang terkesan cuek.


Aoi menggeleng. 'Gak perlu, lagipula Ryou tak mungkin mau berteman dengan aku,' Aoi perang batin.


"Nona pusing?" tanya Ryou peka.


Aoi menggeleng. "Gak kok, aku baik-baik saja. Ya sudah, aku tidur lagi. Gak baik begadang terus. Kalian juga ya?"


Semuanya mengangguk.


***


Pulas banget sih tidurmu, sepi gak denger apa-apa.

__ADS_1


12:21 siang


See you-,


__ADS_2