Terpaksa Menikahi Om Om

Terpaksa Menikahi Om Om
37. Mengenal Makoto


__ADS_3

Selama perjalanan pun, hanya kesunyian yang menyekat keduanya.


'Andai aja dia gak perlu hadir dalam hidupku. Semuanya pasti bahagia, bukan berakhir berpisah seperti ini,' batin Aoi mengeluh.


Makoto melirik Aoi yang diam.


'Sebenarnya aku marah pada Ryuji. Dia sudah menyakiti hatimu untuk ketiga kalinya,' batin Makoto, ia ikut merasakan kesedihan yang di alami Aoi.


Setelah sampai di mansion Rotschild, Makoto pergi tanpa mengatakan apa-apa.


"Aku kira kamu bakal bilang kangen gitu. Tapi gak, aku aja yang terlalu berharap," Aoi memandang mobil Makoto yang sudah menghilang.


***


Aoi berangkat sendiri ke rumah Haruka. Ia ada janji dengan Haruka untuk belajar bersama, persiapan ujian seleksi perguruan tinggi negeri.


"Kenapa aku jadi gak suka jalan kaki ya?" tanya Aoi heran. Mungkinkah ia teringat kejadian waktu itu? Dimana seragamnya kotor karena ulah mobil sialan yang tak mau bertanggung jawab.


Tin tin!


Aoi menoleh.


"Kenapa jalan kaki? Mobil dari aku kenapa gak kamu pakai?" tanya Makoto heran.


Aoi mengabaikannya. Biarlah Makoto berbicara sendiri, kemarin juga sama ia di abaikan.


Makoto tak suka di cuekin. Ia menghampiri Aoi.


"Mau kemana? Aku anterin," dan ucapannya itu sudah termasuk sebuah perhatian.


Aoi menggeleng. "Gak usah. Aku bisa sendiri."


"Kalau sampai ayah kamu tau aku yang di marahin. Karena dia udah percayakan kamu ke aku," ucap Makoto serius.


Aoi terkekeh. "Iya, dan itu kamu terpaksa kan?"


"Gak. Aku tulus dan mau menjalankannya," jawab Makoto jujur. Tapi lain halnya dengan perasaan, tentu ia terpaksa.


"Tulus gimana? Kemarin pulang gitu aja gak ngomong apa-apa. Bilang aja ogah nganterin aku," omel Aoi terlanjur kesal.


"Aku harus pulang, masih ada kerjaan dari ayah yang numpuk. Gak ada waktu buat basa-basi," jelas Makoto gemas. "Jadi kangen."


Aoi melotot. "Ha? Kangen apa?"

__ADS_1


"Ya kangen kamu. Masa kangen cewek lain," ucapnya ngawur, dan berhasil membuat Aoi kesal mencubit pinggangnya.


"Ya udah sekarang kamu mau kemana?"


"Rumahnya Haruka. Aku mau belajar bareng, tiga hari lagi seleksi universitas. Aku mau lolos," ucap Aoi penuh harap. Apa-apa memang usaha dulu, meskipun otaknya sudah pintar tapi persaingan ketat masih berlaku.


"Ayo. Kan bisa telepon aku, daripada jalan kaki."


'Aneh, masa gak ada salju gak ada hujan sama pelangi bilang kangen. Katanya udah gak cinta, ini yang bener mana?' batin Aoi, lama-lama kesal juga dengan Makoto.


Sampai di rumah Haruka, Aoi menyapa sahabatnya itu yang asyik ketawa dengan Fumie di halaman rumah.


"Fumie jadi kuliah?" tanya Aoi. Hatinya senang jika salah satu sahabatnya bisa meneruskan pendidikan. Aoi tau Fumie tidak mampu, tapi Fumie sangat mahir dalam bahasa.


"Iya Aoi. Akhirnya aku bisa kuliah. Kepala desa di tempatku ngasih bantuan biaya. Kakak ku juga kuliah, setidaknya kami bisa sama-sama melangkah ke depan," dan Fumie senang sekarang Megumi mulai akrab, rasanya bahagia bisa di anggap oleh kakak tiri sebagai adik meskipun bukan se-darah.


"Syukurlah. Haruka, kamu punya bukunya kan? Aku kemarin mau beli cuman kehabisan aja," Aoi duduk di sebelah Fumie.


Kehadiran Makoto tidak ada gunanya. Makoto juga malas menunggu Aoi belajar sampai selesai.


"Masa aku jadi obat nyamuk sih?" Makoto ngambek, ia juga perlu mengobrol dengan Aoi.


"Apa?" tanya Aoi heran. "Kalau gak mau jadi obat nyamuk, mending pulang aja sana," usirnya.


Makoto cemberut. Ia menggamit tangan Aoi. "Aku ikut belajar juga ya?"


Haruka menahan tawanya. "Tambah romantis aja. Jangan lupa undangannya ya?"


"Ha? Undangan apa?" Aoi tidak peka, memangnya ia akan menikah?


"Siapa tau kalian nikah. Terus punya a-emm!" mulut Fumie di bungkam oleh Aoi.


"Apa sih? Gak kok. Siapa juga yang bakalan nikah," Aoi tersenyum kikuk. Kenapa tebakan Fumie benar?


"Iya, kita udah beli cincin dan gaun pernikahan. Doakan saja semuanya lancar," sahut Makoto


"Ha?" Haruka terkejut. "Kok Aoi gak pernah bilang?"


"Gak penting, mending kita fokus belajar," Aoi melepaskan tangan Makoto, bisa-bisa salah faham. Ah, sudahlah lagipula Haruka dan Fumie sudah tau kedekatannya dengan Makoto.


Meskipun Aoi sangat fokus, tetap saja Makoto kadang bertanya sudah makan, apakah ada yang sulit, atau memangnya tak bisa belajarnya nanti nalam.


"Gak bisa. Nanti malam aku mau nyantai dulu. Sekalian aja sekarang belajarnya lama. Kalau gak betah nunggu mending pulang aja sana!"

__ADS_1


"Aoi, biarin aja pak Makoto nungguin kamu. Kalau dia pulang, kamu jalan kaki?" ucap Haruka sekaligus memberikan nasihat.


Untuk saat ini, Aoi menuruti kata-kata Haruka.


***


"Aku mau makan dulu, di wagyu restaurant. Sekarang," ucap Aoi tak mau tau, berpikir beberapa jam sangat menguras tenaganya.


Makoto mengangguk. Aoi harus tepat makan.


Sampai di restaurantant ternama itu, Makoto mengajak Aoi duduk di lantai dua agar bisa melihat pemandangan hijau sekaligus pertambangan yang tak jauh darisana.


Aoi memesan tofu steak dan green tea, Makoto menurut saja. Asalkan Aoi tak memesan makanan pedas.


"Aku mau kamu fokus dengan kuliah saja. Kalau pun orang tua kita meminta seorang anak, maaf aku belum siap," tutur Aoi jujur, lagipula usianya terbilang sangat muda. Aoi tak ingin terjadi apa-apa dengan kandungannya.


Makoto mengerti. "Iya, biar aku bicarakan lagi nanti. Kalau kamu ke kampus, jaga mata jaga hati juga. Jangan mudah jatuh cinta dengan yang tampan. Inget, ada aku," dengan percaya dirinya Makoto menasehati Aoi, melarangnya berpacaran dengan cowok-cowok kampus.


Bawel atau cerewet? Aoi sudah tau itu. Mengingat pengalaman cinta pertamanya dengan Ryuji saja pahit.


'Kenapa hubungan kita gak bisa di pertahankan? Padahal selangkah lagi aku akan mengenalkanmu kepada ayah dan mama. Siapa tau mereka berubah pikiran dan membatalkan perjodohan ini,' batin Aoi sedih. Entah sampai kapan hidupnya berada di tangan sang kedua orang tuanya. Aoi tak bisa menempuh jalan hidupnya sendiri.


Pesanan sudah datang, Makoto mecubit hidung Aoi. Cewek itu suka melamun.


"Apa?" sungutnya kesal.


"Di makan, nanti sakit. Aku yang kewalahan hehe," Makoto terkekeh garing, Aoi mendengus kesal.


'Sok perhatian banget, tapi possessif juga sih. Beda sama Ryuji, aku yang harus perhatian dulu baru Ryuji sadar,' Aoi teringat kejadian dimana dirinya kabur dari rumah ke U-mart demi menghindari Makoto, Aoi menghubungi Ryuji tapi saat datang cowok itu malah pergi. Makoto pun juga sama.


"Dasar cowok emang sama aja," gumamnya terlanjur kesal. Andai saja Makoto itu samsak, sudah Aoi lampiaskan untuk menonjok sepuasnya.


Makoto mengernyit. "Sama aja gimana? Ya beda Aoi. Ada yang humoris ada yang romantis," Makoto tau Aoi sedang kesal, pasti alasannya Ryuji lagi. Ah, cowok itu tak pernah membuat Aoi bahagia, justru membuatnya larut dalam kesedihan dan rasa kesal.


"Tau ah. Pikir aja sendiri!"


"Iya, cewek gak sama selalu benar kan?"


"Iya lah. Mending kamu diem aja deh, aku bete!"


Makoto diam. 'Mungkin lagi pms. Kalau kesel gini nyeremin juga ya?' batinnya.


***

__ADS_1


Obat pahit, gula manis tapi kamu.


See you-,


__ADS_2