
"Aoi," panggil Aldebaran, Aoi menoleh.
"Kamu? Oh ya, ayo sekarang aja," Aoi sudah ada janji pulang dengan Aldebaran.
Makoto menarik tangan Aoi. "Kamu pulangnya sama aku. Dan ayah kamu sudah mempercayakannya padaku," tegasnya penuh penekanan.
Aoi menepis tangan Makoto. "Emangnya kamu itu siapa?"
Makoto terkekeh. "Aku? Calon suamimu."
Aldebaran maju selangkah mendekati Makoto. "Kalau Aoi gak mau jangan maksa. Apa pak Makoto mau jadi suami yang mengekang istrinya?"
Aoi gugup, jangan sampai ada peperangan antara Aldebaran dengan Makoto. Bagaimana nasib Aldebaran nanti? Mengenai Makoto adalah dosen di US dan bisa melakukan apa saja yang dia mau.
"Al, yuk kita pulang," Aoi menggenggam tangan Aldebaran menjauh dari Makoto.
Sedangkan hati Makoto sangat hancur melihat Aoi dengan Aldebaran. Aoi tak mungkin menolak pesona presma tampan dan berwibawa itu.
***
Makoto duduk melamun, laptopnya di biarkan menyala. Malam ini sangat melelahkan membantu sang ayah menyelesaikan sebagian pekerjaannya.
Pikirannya teringat sejenak bagaimana Aoi dan Aldebaran sangat dekat dan serasi. Hati Makoto rasanya panas dan cemburu, apakah itu termasuk sandiwara Aoi?
"Kenapa kamu membuat hatiku jadi dilema dan ragu Aoi?" Makoto menghela nafasnya lelah, sudah banyak masalah yang di laluinya dengan Aoi dan sekarang tak henti-hentinya cobaan itu menguji hubungannya dengan Aoi.
"Sepertinya aku harus lebih tegas sedikit agar Aoi tak bisa main-main apalagi membuat sandiwara lagi," Makoto memejamkan matanya, mungkin tidur sejenak bisa menghilangkan segala pikiran rumitnya.
***
Aoi tersenyum melihat Aldebaran yang duduk di depan kelas fakultas ekonomi dengan gaya cool-nya.
Aoi sekarang lebih dekat dengan Aldebaran daripada Haruka dan Fumie, waktunya seperti tersita dan hanya untuk cowok itu saja. Tapi Aoi bukan berarti bermaksud melupakan kedua sahabatnya, melainkan ini rencananya demi menjauhkan Makoto serta membatalkan perjodohan ala Siti Nurbaya itu.
"Nungguin gue kan?" Aoi menaik turunkan alisnya, sangat percaya diri sekali.
Aldebaran berdecak kesal. "Nungguin lo? Kayak gak ada kerjaan aja. Sana pergi! Gara-gara ada lo sinyal di hp gue jadi lelet," usir Aldebaran dengan ketusnya.
Aoi cemberut. "Heh! Inget ya, kalau lo mau di ajak kerja sama kayak kemarin gue kasih imbalan berkali-kali lipat. Emangnya lo gak mau duit?" tanya Aoi tersenyum remeh, kedua tangannya bersidekap dada. Ia yakin Aldebaran adalah kalangan bawah.
Aldebaran mengangguk. "Iya mau lah. Mana? Jangan ngomong doang kalau gak ada buktinya!" Aldebaran selalu emosi menghadapi Aoi.
Aoi melemparkan black card keduanya. "Itu buat lo. Masih kurang? Gue bawain du-"
__ADS_1
"Gak usah. Segini aja cukup. Dan saran gue kalau lo udah hampir nikah sama dosen itu, mending kabur deh," sarannya sangat cemerlang.
Tapi bagi Aoi tak semudah teleport kemana-mana. "Iya gue usahain," Aoi mengangguk.
***
Untung saja Haruka dan Fumie bertemu dengan Aoi saat membeli takoyaki disaat antri.
"Udah 2 hari ini kita gak liat kamu Aoi darimana aja sih?" tanya Fumie sedikit kesal dan alisnya menyatu. Tanpa Aoi rasanya kurang gula dalam wedang kopi.
Aoi menghela nafas lelah. "Terlalu banyak masalah kalau aku cerita ke kalian. Lupain aja deh. Mending di makan tuh takoyakinya mumpung masih anget hehe," Aoi terkekeh garing, Haruka dan Fumie menatapnya penuh tanya.
Makoto berdehem. "Aku ingin berbicara empat mata denganmu. Ayo," Makoto menggandeng tangan Aoi tanpa seizin sang empu. Aoi meronta.
"Gak mau! Kamu gak liat aku lagi makan?" sengitnya emosi. Perutnya sangat lapar dan harus di isi, jika tidak asam lambungnya akan kambuh lagi.
"Aku gak peduli," Makoto menggeleng cepat. "Sekarang ayo ikut aku atau aku gendong?"
Aoi beranjak dari duduknya. "Ayo! Jangan buang-buang waktu. Aku juga mau makan."
Makoto mengajak Aoi duduk di warung belakang kampus. Selain sepi, tak akan ada yang tau.
"Aoi?" Makoto tidak suka di abaikan, Aoi terlalu sibuk dengan ponselnya.
"Tolong jauhi Aldebaran. Aku cemburu kalau kamu-"
"Terserah aku lah. Lagipula aku dan kamu belum sah menjadi pasangan suami istri. Gak ada salahnya aku deket sama cowok-"
"Gak!" sela Makoto cepat. "Jaga perasaanku Aoi. Aku aja gak melirik wanita lain sekalipun ia cantik atau kaya raya."
"Alasan klasik. Nakura juga kaya, cantik. Kenapa kamu melirik dia?" tanya Aoi dengan nada kecemburuannya.
Miku yang mendengar perdebatan dua insan yang katanya akan menikah itu pun bingung.
"Kok kalian berantem? Ada masalah apa?" tanya Miku sangat penasaran.
"Gak ada apa-apa," jawab keduanya bersamaan.
"Ciee bisa barengan gitu. Pasti gara-gara orang ketiga?" tebak Miku.
"Iya, dia malah nyari cewek lain dan parahnya lagi malah nembak dan bilang mau gak jadi pacarku. Memangnya bisa gitu jatuh cinta sama dua cewek sekaligus? Ya gak lah!" bantah Aoi menggebu, ia tak terima Makoto secepat itu mendapatkan wanita manapun.
"Kamu yang nyari pacar. Dan itupun harus ganteng. Apa aku gak cukup?" Makoto kembali melempar pertanyaan, Aoi harus menjawabnya.
__ADS_1
"Padahal mas Makoto gak kalah ganteng loh. Kalau gak mau buat aku aja," ujar Miku menggoda Aoi yang sekarang berdecak kesal dan mengepalkan tangannya.
"Seharusnya kamu sadar kalau aku gak bakalan bisa mencintai kamu sampai kapanpun," tegas Aoi memberikan jawaban yang pas daripada soal fisik di permasalahkan.
"Dan aku bakalan bikin kamu jatuh cinta denganku. Sampai kamu gak mau kehilangan aku," Makoto melangkah pergi meninggalkan Aoi yang terdiam tak bisa membalas kata-katanya.
Kehilangan? Entah kenapa satu kata itu membuat hati Aoi takut. Apakah sudah waktunya ia langsung jatuh cinta dengan Makoto?
***
Syougo meletakkan secangkir teh hangat untuk Makoto yang menatap hujan deras melalui jendela kamar.
"Kakak udah baikan sama Aoi?"
Makoto menggeleng. Justru sebaliknya.
"Aoi gak akan pernah bisa mencintai aku. Kamu tau? Saat Aoi mengatakan itu, semangat hidup aku seperti di patahkan secara paksa. Aoi benar-benar tega, dia menyia-nyiakan cinta yang tulus."
Syougo mengusap bahu Makoto. "Sabar aja kak, bisa saja suatu saat nanti Aoi akan mencintai kakak dengan setulus hatinya. Karena rencana dari Tuhan tak bisa di tebak."
Makoto mengangguk. "Itu pasti dik. Aku juga akan sabar menunggu balasan cinta dari Aoi."
Sedangkan di tempat lain, dimana Aoi dan Aldebaran makan di sebuah kafe. Aoi hanya memandangi mango parfait yang masih utuh tak tersentuh.
"Kenapa es mangganya cuman di liatin doang? Gak enak?"
Aoi menggeleng, bukan itu. "Gak, enak kok," ia memaksakan senyumnya. Tapi di lain hatinya, ia merasa aneh setelah mengatakan bahwa cinta tulus Makoto tak akan pernah ia balas. Apa ini terlalu berlebihan?
"Kalau lo benci sama seseorang, apa perlu di jauhi juga?" Aoi ingin tau pendapat Aldebaran, menurutnya cowok itu tegas dan berpikir logis.
"Jangan di jauhi juga, itu sama aja lo nyari musuh. Meskipun benci, tapi kalau ada keperluan apa-apa dan cuman dia yang bantu? Kita gak tau kalau dalam keadaan susah apa ada yang menolong. Tumben nanya gitu, lo lagi benci sama seseorang?"
Aoi yanya diam. Bukan benci, hanya saja ia ingin menghindari Makoto dan tak perlu mengenal pria itu lagi.
"Kalau ada masalah apa-apa jangan lupa cerita sama gue ya?"
Aoi mengangguk. Aldebaran sangat baik dan mengerti isi hatinya.
***
Penulis yang deg2an habis di pergokin liat cogan sama doinya.
Sel, 8 juni 7:17 am
__ADS_1
See you-,