Terpaksa Menikahi Om Om

Terpaksa Menikahi Om Om
41. Cie cemburu kan?


__ADS_3

Aoi sangat senang, coba tebak karena apa? Bukan mendapatkan izin memakai lamborghini, itu salah. Tapi, ayah dan mamanya sudah berangkat jam 5 pagi karena ada urusan mendadak dan sangat penting di kantor.


Aoi meloncat-loncat karena senangnya.


"Yeay! Akhirnya bisa berangkat ke kampus bebas tanpa perlu di awasin ayah apalagi harus bareng sama om Makoto," rasanya mimpi saja. Jam 4 tadi sang mama membangunkannya dengan tenang.


Flashback on


Karin menepuk pipi Aoi beberapa kali, sampai anak tunggalnya itu menggeliat merasa terganggu.


"Apa?" mata Aoi setengah terbuka, ia menguap karena saking mengantuknya ingin tidur lagi namun ucapan dari sang mama itu membiusnya untuk bangun dengan semangat.


"Mama sama ayah mau berangkat ke kantor jam 5. Kamu berangkat ke kampus sendiri aja."


"Terus aku boleh ya bawa lam-"


"Boleh," Karin mengangguk.


Aoi menghambur memeluk mamanya.


"Makasih ma."


Flashback off


Aoi bersiap-siap, berangkat ke kampus secara bebas tanpa pengawasan sang ayah sangat menyenangkan.


Dengan hati yang masih senang, Aoi mengendarai mobil pemberian Makoto dengan ceria. Sesekali ia bersenandung menyanyikan lagu Turn it Around yang di populerkan oleh Angela Hui.


"Andai aja ayah sama mama kerjanya berangkat jam 5 pagi. Aku udah gede, masa di anterin?" gerutunya kesal.


Akhirnya sampai juga di kampus.


Rasanya kurang kalau tak ada Haruka dan Fumie.


"Lo cewek yang sariawan itu kan?" Aldebaran menarik rambut Aoi, cewek itu menoleh dengan tatapan tajamnya.


"Mau lo apa sih?" Aoi berkacak pinggang.


Aldebaran tersenyum tengil. "Mau apa ya? Maunya kamu semuanya gimana dong?"


Aoi melotot. Aldebaran sudah gila.


'Eh? Kok aku baru inget ya kalau Aldebaran itu ada untungnya buat di ajak kerja sama. Mau gak ya dia?' batin Aoi menatap mata Aldebaran, netra coklat madu itu menggambarkan kenakalan disana.


"Gue mau ngomong hal penting sama lo. Tapi gak disini," Aoi merasa kurang aman mengenai beberapa tatapan mahasiswa lain yang penasaran.


Aldebaran mengangguk. "Oke."


Disinilah Aoi dan Aldebaran, duduk di warung yang sepi dari mahasiswa. Warung belakang kampus.


"Lo mau ngomong apa?"


Aoi menghela nafasnya. "Gue di jodohin." jawabnya lirih, seakan malas menjelaskan dirinya yang terlalu banyak beban.


"Sama siapa?"

__ADS_1


Aoi menoleh. "Om Makoto. Dosen bahasa Jepang di kampus ini. Gue dari awal gak cinta sama dia! Kenapa orang tua gue malah maksa?"


Masalah serius seperti ini, Aldebaran tak tau harus mengatakan apa.


"Lo terima aja gitu? Heh, pernikahan itu bukan main-main. Kalau gak cinta ya gak usah. Emangnya lo mau hidup satu atap sama orang yang bukan lo cintai?" tanya Aldebaran sangsi.


Aoi menggeleng, tentu saja tidak.


"Gue minta bantuan lo. Harus mau ya? Karena gue pingin Makoto itu ngelupain gue," Aoi sangat memohon, hanya Aldebaran-lah harapan satu-satunya untuk memberikan peringatan pada Makoto jika hatinya sudah ada yang singgah.


Aldebaran mengangguk. "Yuk ke kelas, sini tangan lo. Biar mereka semua tau kalau lo sekarang adalah pacar gue."


Dengan senang hati Aoi menautkan jemarinya pada Aldebaran.


Keduanya berjalan berdampingan seperti insan yang baru taken.


"Hah? Presma US jadian sama cewek kaya raya?"


Tatapan takjub dan heran masih menjadi pertanyaan misteri bagi siapa saja yang melihat Aoi dan Aldebaran.


"Gak terima! Aldebaran itu suami gue! Bukan cewek kaya itu!"


"Belum bilang apa-apa aja udah berasa pacaran," gumam Aldebaran menggeleng pusing.


Bagus. Aoi tak sabar gosip itu tersebar di kampus, apalagi sampai terdengar oleh Makoto. Aoi penasaran bagaimana reaksi pria super cerewet itu.


***


Makoto menggebrak meja.


Midori mengangguk. "Benar pak, rumor Aoi pacaran dengan presma itu menjadi gosip hangat pagi ini. Kalau bapak masih tidak percaya, saya tunjukkan jika foto ini bisa menjadi buktinya," Midori menunjukkan foto Aoi dan Aldebaran pelukan dengan senyuman bahagianya.


Makoto merobek foto itu hingga menjadi potongan kecil-kecil.


'Aku tau ini hanya sekedar rencanamu. Dan aku akan membalasnya, jangan salahkan aku kalau kamu benar-benar akan cemburu jika aku dengan wanita lain. Lihat saja Aoi,' batin Makoto tersenyum miring.


***


Makoto berbicara empat mata dengan Nakura, cewek fakultas sejarah itu sempat menolak jika Makoto tak memberikan imbalan ¥10000.


"Apa sih rencananya? Kenapa harus aku?"


"Oh? Ya udah kalau gak mau aku nyuruh cewek lain aja biar aku tambah dua kali lipat dari imbalan kamu," ujar Makoto, soal uang semuanya akan dengan mudah ia dapatkan.


Makoto yang baru selangkah akan pergi tangannya di tahan oleh Nakura.


"Iya ya aku mau. Cepetan, buang-buang waktu aja," Nakura juga malas berurusan dengan Aoi, cewek itu selalu mendapatkan apapun tanpa berjuang lebih dulu.


"Sini."


Nakura masih bingung. "Maksudmu apa? Sini? Gimana sih! Yang jelas dong!"


"Love you. Kamu ternyata lebih cantik daripada Aoi. Mau gak kamu jadi pacarku?" dialog ini sudah Makoto hafal di luar kepala, sebagai lakon utama dalam drama ia harus menghayatinya karena aksi ini di rekam oleh Midori.


Nakura mengangguk.

__ADS_1


Makoto tersenyum. Hanya karena uang Nakura akan mau dan menurut. Coba saja tak ada imbalannya pasti Nakura ogah-ogahan.


"Sini aku peluk," Makoto merentangkan kedua tangannya, Nakura mendekat meskipun ragu. Sampai akhirnya...


"Nakura!" bentak Aoi langsung emosi, hatinya panas melihat Makoto akan memeluk wanita lain.


Nakura memundurkan langkahnya.


Aoi menarik kemeja Makoto menjauhi Nakura.


"Bilang apa tadi? Lebih cantik daripada aku? Dengar ya! Perempuan itu cantik, apakah bisa menjadi ganteng?"


Makoto ingin tertawa, ekspresi Aoi jika kesal begini sangat menggemaskan.


Makoto menggeleng. "Tapi Nakura lebih feminim daripada kamu. Dia anggun, dandan dan pakaiannya rapi seperti remaja pada biasanya. Sedangkan kamu? Dandan juga gak, tiap hari pakai celana jeans sobek-sobek."


"Jadi kamu menilai aku dari penampilan? Oke, aku bilang ke ayah kalau ternyata om Majoto gak suka penampilan putri tunggal keluarga Rotschild," Aoi bersiap-siap menelepon ayahnya tapi Makoto melarangnya.


"Gitu aja ngadu. Jangan, iya ya kamu tetap cantik kok mau pakai apapun kecantikan kamu gak akan pernah luntur," puji Makoto terpaksa daripada kena amukan Tuan Amschel.


Aoi tersenyum penuh kemenangan. "Bilang aja cemburu kan kalau aku nyari pacar lagi?"


"Berani?"


Aoi mengangguk. "Berani. Siapa takut?"


Makoto menatap Nakura yang masih berdiri menunggu kelanjutan tugasnya. Makoto hampir melupakan cewek itu.


"Nakura sayang. Nanti kita jalan ba-emm apaan sih!" Makoto menjauhkan tangan Aoi yang membungkam mulutnya.


"Rasain! Jalan aja sana sama Nakura, besok-besok aku jamin keluar dan gak akan jadi dosen di kampus ini lagi. Titik! Gak pakai koma ataupun tanda tanya. Faham?"


Makoto terkekeh, ia tak bisa menahan tawanya barang sedetik pun.


"Hahaha kamu kalau cemburu banget lucuu deh. Pipinya tambah chubby kayak takoyaki," Makoto tertawa lepas.


Dan Aoi memasang wajah cemberutnya.


"Dasar banyak drama. Jangan lupa imbalannya!" seru Nakura sudah tidak tahan, lumayan uang sebanyak itu untuk ke mall.


Aoi mengernyit. Imbalan? Jadi Makoto menyuruh Nakura agar mau menerima menjadi pacar?


"Rencanamu ketauan!"


Makoto menatap Aoi serius. "Sampai kapan pun, aku gak bisa mencintai wanita lain selain kamu Aoi," ungkap Makoto sangat jujur.


Aoi seketika membeku. Hanya dirinya? Apa ucapan Makoto hanya bualan?


Aoi akan membuktikan bahwa cinta Makoto tak semudah itu bisa ia terima dalam hatinya.


***


Penulis yang di omelin telepon cowok


10:11 pm

__ADS_1


See you-,


__ADS_2