
"Makan? Kamu aja belum sapu halaman! Sadar diri dong, enak aja bangun tidur langsung makan," Nakura bersidekap dada.
Aoi kembali berdiri. "Kenapa gak kamu aja yang mengerjakan semuanya? Takut capek? Apa memang semua hidupmu selalu enak dan santai?" Aoi kembali melempar pertanyaan yang menampar Nakura saat itu juga, dirinya tak bisa di pojokkan terlalu mudah.
Nakura terdiam. 'Berani banget Aoi? Gak, aku kan paling kuat disini. Aku adalah bos, dan Aoi hanya budak ku,' batin Nakura.
"Oh, udah lupa ya sama kata-kataku?" Nakura bertepuk tangan dua kali dan datanglah 4 anak buahnya.
Aoi menjaga ancang-ancang. "Mau apalagi?" tanyanya dengan nada ketakutan.
"Ambil aja deh bayinya. Di suruh gak mau," Nakura memutar bola matanya malas.
"Iya! Aku mau nyapu halaman. Minggir kalian, aku lewat kasih jalan lah," Aoi sedikit sensi, 4 anak buah Nakura itu malah bersiul menggodanya.
"Kalau di liat-liat cantik juga."
"Jadi pacarku aja yuk?"
"Nanti kita tinggal di rumah sendiri deh. Biar kamu gak kepanasan."
Aoi menerobos keempat pria itu begitu saja. Masa bodoh salah satunya marah atau senang. Aoi sudah muak melihat wajah mereka.
"Sadis banget ya dia?"
"Lebih sadis dari bos lagi."
Nakura menoleh. "Apa? Aku gak sadis? Oh, ya udah kalau gitu imbalan kalian aku potong 95 persen," Nakura melangkah pergi, tak peduli dengan protesan anak buahnya tentang gajian.
***
Akhirnya selama 2 jam Aoi selesai membersihkan semuanya. Tak ada sampah atau dedaunan yang berani jatuh dari pohonnya kecuali jatuh bangun aku mengejarmu.
"Nakura! Nakura! Nakura kamu kemana sih? Nakura!" Aoi berteriak lantang, suaranya menggema. Biarlah Nakura terganggu, perutnya sudah lapar ingin makan cinta tapi rasa nasi.
Nakura yang asik bermain game pun merasa terganggu dengan suara cempreng Aoi.
Nakura menghampiri Aoi yang berdiri dengan wajah marahnya. Minta apalagi sih calon mama muda itu?
"Apa? Gak usah teriak-teriak juga dong. Emang ini rumahmu?"
"Mana makannya? Dasar pembohong, udah capek-capek aku bersihin semuanya sampai kinclong gak di kasih makan. Gak berperikecewekan banget kamu ya Nakura," omel Aoi kesal, tangannya bersidekap dada menatap Nakura bosan.
__ADS_1
"Bawel banget sih jadi cewek. Ke meja makan sana, ada tuh riceball sisa satu. Ganggu orang main game!" Nakura melangkah pergi dengan kaki yang di hentakkan.
Aoi melangkah ke meja makan, membuka tudung saji. Satu riceball, sepertinya kurang untuk asupan makannya.
"Kalau ada calon bayi kan harus makan yang banyak. Hm, mas Makoto. Mending kamu gak usah ikut sama ayah keluar kota, lebih baik kamu disini jagain aku," Aoi mulai memaka riceball itu dengan ogah-ogahan. Nafsu makannya seperti hilang seharian ini.
DUGH.
Nakura meletakkan setumpuk pakaian seperti gunung Fuji itu dengan kesal.
"Nih, kalau udah makannya cuci itu semua sampai wangi. Di setrika sampai licin. Hm, enak juga ya punya pembantu sendiri tanpa harus di bayar," gumam Nakura setelah mengomeli Aoi menyuruh cuci pakaiannya.
Aoi terbelalak. "Kamu gila ya? Cuci sendiri kan bisa. Punya tangan kan? Aku udah capek bersihin rumah kamu yang kayak gak berpenghuni dan berhantu ini," maki Aoi ketus, memangnya ia punya 10 tangan sekali kucek langsung selesai?
Nakura terkekeh. "Aku masih waras. Kamu yang gila! Udah merebut Ryuji lagi. Dia itu sahabatku dari kecil. Gak percaya? Ini cincin pemberian dia. Cuman aku aja cewek yang pertama kali di kasih cincin sama Ryuji. Memangnya kamu? Pacaran balikan dua kali tapi zonk?" sindir Nakura nyinyir, memang cewek dan cewek bersatu tentang perebutan kaum Adam sedikit seru dan panas.
Aoi tertawa lepas. "Cincin dari tutup botol aja bangga. Belum lagi cincin lamaran. Cinta saat masa kecil itu sementara aja. Sekarang kan Ryuji cintanya masih sama aku. Gimana dong?"
Nakura berdecak kesal. "Keterlaluan ya kamu. Cepat cuci pakaianku sekarang juga! Atau anak buahku akan menghilangkan calon bay-"
"Berisik! Iya! Ini mau di cuci. Gak usah pakai cara mengancam itu," Aoi membawa timba itu dengan susah payah, seberat menunggu kabarmu seharian.
***
"Nakura? Apa kamu di rumah? Nakura? Aku pingin ngajak kamu jalan bareng," Ryuji sedikit meninggikan suaranya.
Nakura yang mendengar suara Ryuji pun tergesa-gesa berlari kecil membukakan pintu depan. Ryuji juga tau rumah keduanya yang berada di dekat bukit jauh dari keramaian dan kendaraan.
"Eh? Tumben kamu datang kesini? Ayo masuk," Nakura mencoba bersikap biasa saja.
"Bos! Itu bajunya bolong. Semuanya! Mending bos gak usah menyuruh Aoi setrika lagi deh," salah satu anak buah Nakura itu melangkah dari ruang tengah.
Nakura tercekat, membisu, membeku, terdiam tak tersipu. Kenapa disaat begini anak buahnya justru muncul dan jumpscare dirinya?
Kedua alis Ryuji menyatu. "Aoi? Kenapa bisa setrika baju kamu Nakura? Kamu menyuruh dia?"
Nakura menggeleng cepat. "Gak kok, Aoi sendiri yang mau bantuin pekerjaan rumahku. Udah aku bilangin gak usah tapi Aoi pingin banget."
Aoi yang menguping di balik tembok pun keluar dari tempat persembunyiannya.
"Omong kosong! Kamu yang udah menculik aku, di suruh bersihin rumah, sehari makannya sekali. Apa kamu mau bikin aku mati pelan-pelan?" tanya Aoi judes, sejak kemarin emosinya tak stabil kalau bukan karena ulah Nakura.
__ADS_1
Ryuji terkejut. "Ha? Apa benar itu Nakura? Memangnya ada masalah apa sih kamu sama Aoi?"
Aoi menghampiri Ryuji, ini adalah kesempatan emas untuk bebas.
"Ryuji, bebasin aku darisini ya? Sejak kemarin aku terkurung disini, bahkan Nakura mengunci aku di gudang yang minim ventilasi. Aku sampai sesak nafas merasakan itu semalaman," Aoi mengeleuh bagaimana menderitanya malam kemarin.
"Enak saja kamu bilang bebas. Hey cantik, kamu kan belum bermain dengan kita sebentar. Bos Nakura sih terlalu memberikan tugas berat, makannya kita gak bisa main."
"Kalau coba-coba kabur, siap-siap aja kehilangan calon bayi kamu itu."
Ancaman itu tentu saja membuat Ryuji naik darah. Menghilangkan nyawa yang tak bersalah?
"Jadi begini kelakuan kamu di belakang aku? Meskipun aku memberikan kamu kebebasan sedikit, bukan berarti bisa berbuat seenaknya. Apalagi melibatkan Aoi. Kalian juga, dengan gampangnya akan menghilangkan calon bayi Aoi. Hadapi dulu mayatku sini," Ryuji menantang 2 pria yang sedari tadi tatapan nakalnya tertuju pada Aoi, dasar pria gila bermata keranjang memang. Ryuji tak ingin Aoi terjebak dengan pria nakal cap buaya tiga.
"Ryuji! Jangan berantem disini. Mereka cuman bercanda aja kok," Nakura menahan tangan Ryuji yang siap menghajar 2 anak buahnya.
BUGH.
BUGH.
Aoi tersenyum miring, salah sendiri keceplosan. Aoi kagum dengan Ryuji yang melayangkan bogemannya dengan kuat kepada 2 anak buah Nakura.
"Semangat! Ayo Ryuji! Kamu pasti menang dan bisa bikin mereka tumbang!" Aoi menyemangati seperti cheerladers. Menonton perkelahian ini kurang satu, popcorn dan es.
Nakura menarik Aoi menjauh dari Ryuji yang masih sibuk menghajar anak buahnya.
"Kamu caper kan? Biar apa? Ryuji bakalan susah move on dari kamu? Hey! Sadar diri Aoi! Ryuji sekarang itu pacarku. Lagian kamu udah punya suami masih aja hatinya buat yang lain. Satu hati gak cukup? Sampai kamu mencari yang lain sebagai pelampiasan?" tanya Nakura sangsi, kata-katanya bikin jleb ke jantung langsung.
"Aoi gak caper. Aku memang masih mencintai dia, tapi karena aku gak mau kamu sakit hati makannya menerima perasan itu dengan terpaksa," tiba-tiba Ryuji muncul dengan wajah lebam di wajahnya. Akhirnya tamat sudah menghabiskan 2 manusia nakal itu.
Aoi tersenyum tipis, ternyata Ryuji membela dirinya. Betapa senangnya hati kalau mantan masih ada rasa sayang meskipun sedikit.
"Anterin aku pulang ya? Aku-a shh Ryuji. Aku gak kuat, pu-sing," Aoi pingsan, untung saja Ryuji dengan sigap menangkap tubuh Aoi.
"Sekali lagi kamu menyakiti Aoi, aku bakalan ninggalin kamu selamanya," Ryuji menggendong Aoi bridal style.
"Terus aja belain Aoi! Kamu ninggalin aku hanya karena mantan kamu yang udah bersuami!" teriak Nakura frustasi setelah Ryuji menghilang di ambang pintu.
***
Seluruh waktu tak lagi bersimpuh menunggu tuannya yang termenung dan membisu.
__ADS_1
6:27 malam
See you soon my readers-,