
Hari ini, Nakura akhirnya di perbolehkan pulang.
Sebelum Nakura pergi dari rumah sakit, matanya tak luput dari ranjang di sebelahnya yang kini kosong.
Seharusnya disitu ada Megumi.
Ryuji ikut membereskan pakaian Nakura.
"Kamu melamun apa? Masih kepikiran soal tadi malam?" tanya Ryuji hati-hati. Nakura sudah berani lebih terbuka dan mau menceritakan masalahnya.
Nakura menggeleng. Bukan itu.
"Aku pikir Megumi juga bakalan pulang bareng sama aku. Tapi dia malah terbang ke langit. Kehilangan sahabat untuk selama-lamanya adalah hal yang tak pernah terduga terjadi dalam hidupku," tutur Nakura sedih, kali ini air matanya tak lagi menetes. Terlalu banyak kesedihan yang terbayar dengan tangisan.
"Ikhlaskan saja kepergiannya," maafin aku Nakura, semua ini adalah rencanaku batin Ryuji dalam hati.
"Entahlah siapa pelakunya yang udah berani merusak rem mobilku. Apa sih maunya dia? Pingin aku mati? Kenapa gak di bunuh aja?" Nakura gemas dan frustasi, ia mengacak rambutnya.
"Udahlah, gak usah di bahas lagi. Ayo kita pulang," Ryuji meraih tangan Nakura, menggandengnya. Sengaja mengalihkan pembicaraan, telinga Ryuji lama-lama bosan mendengarnya. Disini sudah jelas, hanya ia pelakunya. Tapi Ryuji tak akan memberitahu yang sebenarnya, karena Nakura pasti akan membencinya.
***
Ryuji menemani Nakura seharian ini. Menyuapinya makan, mengobrol hangat dengan canda tawa.
Nakura sangat bahagia akhirnya Ryuji kembali seperti beberapa tahun yang lalu.
"Orang tua kamu belum pulang juga dari luar kota?"
Ryuji duduk di single sofa, sedangkan Nakura berbaring di sofa panjang.
"Belum. Selama ini aja jarang ada kabar atau telepon dari mama sama papa," Nakura menunduk lesu.
"Ya udah, pasti nanti pulang kok. Ayo di makan lagi buahnya tuh masih banyak. Di habisin, biar-"
"Sehat," sela Nakura menyengir.
***
Fumie menghela nafasnya, ia melirik jam yang menujukkan pukul 9 malam.
"Kapan aku bisa pulang?" hatinya terasa rindu dengan sang ibu di rumah.
Fumie kembali fokus dengan komputernya, menghitung total pajak pembangunan kota dengan teliti.
Setelah 2 jam, akhirnya selesai juga. Fumie bergegas pulang, karyawan lain pun sudah pulang lebib awal. Hanya security saja yang berjaga di pintu depan.
"Eh? Kirain udah gak ada orangnya di dalam. Banyak banget ya tugas dari si bos?" tanya Tom dengan ramahnya.
"Gak kok, cuman sedikit. Aku pulang dulu ya pak? Jangan lupa kunci semua ruangan sama gerbang belakang juga," pesan Fumie mengingatkan, biasanya Tom suka lupa. Sangat rawan pencurian apalagi puluhan uang banyak yang tersimpan di ruang brangkas besar.
"Siap!"
Fumie hanya mengandalkan kakinya sebagai kendaraan alamiah.
Jalan raya memang ramai, itu saja sudah cukup membuat hati Fumie tenang daripada jalanan sepi yang nantinya akan terjadi hal buruk.
'Sampai aku lupa belajar, padahal besok ada kelas,' batin Fumie. Ada yang kurang, belajar. Waktunya tersita banyak hanya untuk kerja dan uang.
Saat sampai di rumah, Fumie mengetuk pintu beberapa kali dan memanggil sang ibu. Sekitar 3 menit ibu tirinya itu muncul membukakan pintu.
__ADS_1
"Aku pulang bu."
"Hm, ya udah sana makan. Di habisin, udah susah-susah masak malah di buang gitu aja. Mubadzir banget jadi anak," ibunya itu berlalu pergi, kembali masuk ke kamarnya melanjutkan tidur nyenyak yang tersita.
Hati Fumie merasa senang ketika pulang dari kerja di meja makan sudah ada menu sarapan malam. Ebi Furai dan Riceball.
Fumie menghabiskannya dengan raut wajah sedih. Andai saja sang kakak dan ibu tirinya makan bersama dalam satu meja dengan mengobrol dan bersenda guaru, itulah keharmonisan keluarga yang Fumie inginkan sampai saat ini.
***
Hari ini Nakura, Aoi dan Ryuji ingin memberikan bantuan makanan kepada Fumie. Ryuji yang menyetir dan tugas Nakura atau Aoi hanya bergosip asyik sampai lupa kehadiran Ryuji.
"Seriusan? Berarti kalau Haruka ngambek di ajak ke mall udah seneng lagi?" tanya Nakura masih tak percaya dengan perubahan mood Haruka si judes itu.
Aoi mengangguk. "Haruka pasti memaafkanmu hanya saja butuh waktu."
"Gak apa-apa. Kita kan teman bukan musuh lagi kayak dulu."
"Ya lebih baik begitu."
"Kalian ngobrol serius banget terus aku gak di ajak ngomong?" Ryuji melirik melalui kaca spion mobil, dua cewek itu beralih menatapnya.
"Ini urusan cewek jadi gak usah kepo deh," jawab Nakura kesal.
"Dimana rumahnya Fumie? Ya di hatinya kamu," Ryuji melirik Nakura mencoba menggombali pacarnya itu.
"Apa sih? Malah gombal," sungut Nakura kesal.
"Haha bercanda. Hari ini kamu marah-marah terus sama aku, kenapa?" Ryuji juga heran, biasanya Nakura itu selalu manja jika ada di dekatnya.
"Biasa, bawaan hamil kayaknya. Atau gak pingin sesuatu tapi gak keturutan," celetuk Aoi.
"Gak!" seru keduanya kompak.
Setelah sampai di rumah Fumie, mereka bergegas turun dan mengucap permisi. Sampai yang ketiga kalinya, barukah di bukakan pintunya oleh ibu tiri Fumie.
"Fumie? Sakit, dia kecapekan. Seharian kerja sampai lupa makan. Kalian pulang aja deh," usirnya ketus.
"Sakit?" tanya Nakura masih tak percaya. "Gak apa-apa kita kesini cuman mau bertemu sebentar sama Fumie."
"Oke. Jangan lama-lama."
Di kamar Fumie, Aoi dan Nakura saja yang masuk sedangkan Ryuji menunggu di luar.
"Demam?" tanya Fumie duduk di kursi, meletakkan makanan kesukaan Fumie, Wagyu Steak.
"Iya," Fumie mengangguk. "Badan aku panas banget Aoi. Terus kepalaku juga pusing. Mau makan males banget karena lidah pahit habis minum obat yang di beliin ibu."
"Gak periksa ke dokter aja?" usul Nakura. "Siapa tau kamu cepet sembuhnya."
Fumie menggeleng. "Gak, pasti biayanya mahal. Mending di rumah aja, ibu juga udah kompres aku," mengingat hal itu hati Fumie tersentuh, entah ada angin apa dalam semalam ibu tirinya itu berubah menjadi baik berhati peri.
Flashback on
"Heh! Bangun! Malah enak-enakan tidur. Sana masak!" gertak Yasmin galak, tangannya menyibak kasar selimur yang membalut di tubuh Aoi.
"Bu, ibu. Ibu, aku-shh panas," mulut Fumie mengigil tak kuat menahan rasa panas yang membakar tubuhnya.
Yasmin khawatir. "Panas? Kamu demam? Sebentar, ibu ke warung dulu beliin kamu obat."
__ADS_1
Hanya butuh waktu sebentar saja Yasmin sudah membeli obat penurun demam. Langkahnya sangat lincah, Fumie sakit membuat hatinya merasa gelisah sekaligus khawatir menjadi satu. Karena ini murni naluri keibuannya.
"Ini, kamu makan saja sedikit lalu minum obat dan istirahat. Jangan di paksakan untuk bekerja, lagipula gak ada salahnya kamu izin 2 hari aja pada bos mu."
Fumie mengangguk. "Iya bu, aku juga kecapekan karena semalam banyak banget berkasnya. Sampai aku pulangnya larut malam."
"Di minum ya? Langsung istirahat biar kamu cepat sembuh," Yasmin melangkah pergi.
Fumie menatap nanar kepergian ibunya itu.
"Kenapa kalau aku sakit ibu langsung perhatian sama aku? Apa perlu aku setiap hari sakit biar bisa merasakan kasih sayang ibu?"
Yasmin yang belum sepenuhnya pergi dari kamar Fumie dan bersembunyi di balik tembok pun tertegun mendengar keluh kesah Fumie.
Yasmin menahan isak tangisnya, membungkam mulutnya agar tak mengeluarkan suara.
Jadi, selama ini Fumie hanya butuh kasih sayang?
Hati Yasmin benar-benar merasa bersalah.
Dengan langkah berani, Yasmin kembali masuk dan menghampiri Fumie yang sudah terpejam, tidur.
"Fumie," lirih Yasmin. Bibirnya mendarat pelan di kening Fumie. "Ibu menyayangimu."
Sontak Fumie terkejut dan mendapati ibunya dalam jarak dekat.
"Ibu?"
Yasmin tertegun. "Iya?"
"Peluk aku bu," pinta Fumie.
Yasmin mengangguk. "Maafin ibu ya? Ibu selama ini udah kasar sama kamu."
"Aku maafin ibu."
"Terima kasih nak," 'nak' sebuah kalimat yang pertama kali Yasmin ucapkan kepada Fumie yang statusnya bukanlah darah dagingnya sendiri.
"Aku sayang ibu."
Yasmin mengecup dahi Fumie kedua kalinya.
Flashback off
Tes.
Fumie menangis.
"Eh? Kok nangis?" tanya Nakura panik dong.
Fumie menghapus air matanya. "Gak kok, tadi kelilipan."
"Iyain deh, emang susah di tebak kalau pikiran cewek kayak kita," ucap Aoi mengiyakan saja.
***
Mom lekas sembuh. Aku kangen kata-kata terbaikmu yang mengusik hari-hariku.
10:31 malam
__ADS_1
Sampai jumpa-,