Terpaksa Menikahi Om Om

Terpaksa Menikahi Om Om
58. Pelukan rindu


__ADS_3

Selama perjalanan, Ryuji menanyakan bagaimana kondisi Aoi. Ternyata baik-baik saja.


"Kamu tau gak?" tanya Aoi mencoba mencari topik lain, kali ini ia ingin berbincang lebih lama dengan Ryuji.


"Gak," Ryuji menggeleng. "Tau apa memangnya?" pandangan Ryuji tak bisa beralih dari Aoi terkadang menatap jalanan juga. Menyetir dan satu mobil dengan orang yang pernah di sayang rasanya awkard dan deg-degan.


Aoi menghela nafasnya. "Aku sekarang suka laper terus. Pastilah, kan ada calon bayinya. Aku sempat takut dan merasa putus asa di culik Nakura, aku pikir gak akan ada yang menolong aku. Tapi Tuhan telah mengirimkan kamu. Aku senang banget," Aoi tersenyum manis.


"Kenapa kamu bisa sama Nakura? Apa dia udah macam-macam sama kamu? Melukai? Atau memaksamu?"


Aoi menggeleng pelan. "Seharusnya aku sudah mengunci semua pintu di rumah. Tapi aku sendiri yang teledor. Sampai Nakura mudah masui ke dalam rumahku. Ayah, mama sama mas Makoto lagi ada di luar kota karena pekerjaan. Aku takut sendirian di rumah. Kamu bisa kan temenin aku?" Aoi menatap Ryuji penuh harap.


Ryuji menggeleng. "Maaf Aoi, aku gak bisa menemani kamu. Aku sadari diri kalau kamu sekarang adalah istri orang. Lebih baik kamu telepon Haruka sama Fumie aja," Ryuji hanya tak ingin ada persepsi buruk dari tentangga nanti.


"Tapi kamu temani aku sebentar ya sampai Haruka dan Fumie datang?" pinta Aoi memohon, tak apa sebentar asalkan rindunya terhadap mantannya itu terobati.


Ryuji mengangguk. "Boleh."


Setelah menempuh 2 jam perjalanan akhirnya sampai di rumah Aoi.


"Kamu telepon aja sekarang. Aku temani kamu sampai mereka datang."


Pertama Aoi menghubungi Fumie namun sang operator yang menjawab bahwa nomornya tidak dapat di hubungi dan silahkan mencoba beberapa saat lagi makannya jangan di tunggu datang kesini. Begitulah lemparan kode dari sang operator.


"Tumben banget gak bisa di telepon," gumam Aoi. Sekarang beralih menghubungi Haruka.


Saat panggilan tersambung, Aoi menyuruh Haruka datang ke rumahnya. Menginap beberapa hari.


"Kamu izin dulu aja sama mama kamu Haru. Karena aku juga gak tau berapa lama mas Makoto keluar kota."


"Kamu aja Haru, mungkin aja Fumie lagi beres-beres rumahnya. Aku tunggu ya? Ok, bye bye," Aoi beralih menatap Ryuji. "Sekali lagi makasih ya udah bantuin aku? Em-tapi kamu kok bisa tau Nakura ada di rumah kosong itu?"


"Rumah itu adalah rumah buatan aku sendiri. Kalau ada waktu, biasanya aku sama Nakura kesana buat main, basket, atau gak ya bakar jagung. Tapi sekarang aku gak bakalan kesana lagi," suara Ryuji terdengar kecewa, sudah cukup dengan permainan licik Nakura.


"Kenapa? Rumah itu kan banyak kenangannya buat kamu."

__ADS_1


"Karena Nakura udah membuat kamu celaka. Kalau aja aku gak ketemu sama Nakura hari ini, mungkin kamu bakalan jadi budaknya terus. Aku gak mau calon bayi kamu-"


"Hai!" sapa Haruka ramah. "Maaf jadi ganggu kalian berdua. Tapi kan udah ada Ryuji, kenapa aku harus menemani kamu juga Aoi?"


"Haruka udah datang, aku pulang ya?" Ryuji beranjak dari duduknya, namun Aoi meraih pergelangan tangannya. "Kenapa? Kan udah ada Haruka."


"Boleh aku peluk kamu untuk yang terakhir kalinya?" pinta Aoi sedikit ragu, ia takut Ryuji menolaknya. Memang seharusnya ia tak meminta pelukan rindu, tapi di lubuk kecil hatinya masih mengharapkan kehadiran sosok Ryuji lagi.


Ryuji mengangguk. "Sini," tangannya mendekap tubuh Aoi, aroma jeruk yang menguar itu akan membekas di pikirannya. Inilah yang Ryuji rindukan.


Haruka berdehem. "Ingat Aoi, mas Makoto. Kasihan kalau tau kamu pelukan sama Ryuji. Jaga mata jaga-"


"Hati," seru keduanya kompak.


***


"Kalau aja dari kemarin aku minta tolong di temani sama kamu mungkin gak bakalan terjadi kayak gini," Aoi duduk dengan memakan jeruk, buah-buahan segar menyehatkan hati yang tersakiti.


Haruka menghela nafasnya. "Memangnya kemarin ada apa?" ia masih tak tau apa-apa.


"Nakura, ke rumah aku. Tapi ini juga salahku sendiri kena-"


Suara teriakan bi Idah yang keras itu membuat Aoi dan Haruka mencari sumber suaranya. Berbagai ruangan telah Aoi buka, sampai di gudang bi Idah di ikat.


"Astaga bi Idah? Aku kira bibi gak bakalan balik kesini. Duh, kok bisa di ikat begini sih bi? Sama siapa?" tanya Aoi sambil melepaskan simpul mati yang mengikat kedua tangan bi Idah.


"Orang yang pakaiannya kayak preman nona. Terus nona juga di bawa pergi kan sama mereka? Maafkan bibi ya nona gak bisa menolong nona waktu itu," bi Idah sangat merasa bersalah tak bisa menjaga Aoi dengan baik.


Aoi mengangguk. "Gak apa-apa bi. Yang penting sekarang aku disini. Semuanya berkat Ryuji yang udah menolongku."


"Terus kita ngapain Aoi? Masih jam 6 malam loh."


"Gimana kalau kita makan di luar aja?" usul Aoi senang. "Tapi, yang aku pikirkan itu siapa jaga rumah ini?"


"Biar bibi aja nona. Kalau mau makan di luar silahkan, tugas bibi kan jaga rumah nona selalu," bi Idah tersenyum tipis.

__ADS_1


Aoi menggeleng. "Kalau makan diluar, mending sama ayah dan mama aja."


Senyum Haruka pudar. "Batal ya? Makan disini gitu?"


Aoi mengangguk. "Makan disini aja. Aku gak mau bi Idah kenapa-napa lagi."


"Ya udah, bibi masak dulu ya?"


"Siap bi! Yang banyak ya masaknya? Aku laper banget nih," mungkin karena ada calon bayi porsi makan Aoi jauh lebih banyak dari biasanya.


***


Ryuji menujukkan foto Nakura pada seseorang.


"Nih, aku sudah muak dengan perbuatan busuknya. Sudah cukup dia mencelakai orang yang aku sayang. Dan..." Ryuji mengepalkan tangannya, kebenciannya dengan Nakura semakin kuat. "Lenyapkan Nakura. Silahkan menyuruh orang kedua, jangan kamu sendiri kalau tak mau jejaknya di ketahui. Ingat, cari yang benar-benar bisa tutup mulut." Ryuji beranjak dari duduknya melangkah pergi keluar dari ruangan gelap yang hanya di terangi lampu pencahayaam minim.


"Cantik juga ya Nakura. Kenapa harus di lenyapkan?" tanya pria berjaket hitam dengan maskernya itu heran.


***


Nakura berusaha menghubungi Ryuji berkali-kali. Matanya berkaca-kaca, apakah Ryuji sudah membencinya?


"Please Ryuji, angkat teleponku. Aku mohon," lirihnya. Nakura kembali mengetikkan pesan spam dengan kata 'sayang'.


"Panggilan anda sedang di alihkan. Silahkan tunggu beberapa saat lagi."


Nakura menyeka air matanya, tak bisa ia sangka bahwa rencana menculik Aoi membuat hubungannya retak seperti ini.


"Apa kamu bakal putusin aku tanpa bilang apa-apa?" tanya Nakura dengan suara paraunya.


"Aku gak bisa melepas kamu Ryuji. Aku sayang banget sama kamu. Aku- hiks hiks." Nakura mengecup cincin dari tutup botol itu dengan sayang. Anggap saja dirinya terlalu bucin, cinta sejak kecil hingga sekarang tak pernah tergantikan sama seperti kamu dan aku.


***


Mood seneng dikit kesel panjang. Dasar moddy-an. Bab selanjutnya panjang dikit deh.

__ADS_1


4:32 sore


_Malam minggu_


__ADS_2