
Di Fukuoka, Makoto telah selesai merapikan bajunya ke dalam sebuah koper besar. Saatnya pulang setelah beberapa bulan sibuk dengan pekerjaannya.
Makoto sangat merindukan istri tercintanya itu.
"Ayo kita segera pulang. Aoi pasti menunggu kita disana."
Karin yang tengah makan sandwich sambil duduk itu pun mengangguk setuju. Karena terburu-buru makan, akhirnya Karin tersedak dan Amschel menyodorkan air mineral yang di ambil di meja.
"Kamu makan pelan-pelan aja aku sama Makoto pasti nungguin kamu kok," ucap Amschel meletakkan kembali air mineralnya ke meja setelah di teguk habis oleh Karin.
"Gak mau," Karin menggeleng. "Aku kangen banget sama Aoi. Kenapa gak di ajak sekalian aja?"
"Kalau Aoi di ajak, siapa yang bakal jagain? Kalau disana kan aman ada bi Idah juga bodyguard dari Makoto," Amschel hanya mau yang terbaik untuk Aoi.
Karin menghela nafasnya. "Ayo yah, nanti kita ketinggalan pesawatnya," rasanya Karin tak sabar ingin melihat cucu pertamanya.
"Kira-kira cantik banget kayaknya anak Aoi ma. Jadi penasaran deh ma. Seandainya aku-"
"Ayo yah, kalau masih ngoceh terus aku tinggal disini mau?"
Karin yang sudah di ambang pintu itu menatap suaminya jengah, kalau lelet begini sampai kapan bisa menemui Aoi di rumah sakit.
Amschel tersenyum kikuk. "Iya ma, maaf."
***
Haruka menghela nafasnya, percuma saja ke rumah sakit dan akan menemui Aoi pun dilarang dengan para bodyguard sok gaul itu. Meskipun Fumie sudah memohon dan menyogok permen mint yang segar dan uang kalau memang bisa meluluhkan.
"Maaf, kalian bukan orang gang berkepentingan. Jangan masuk ke dalam sembarangan. Nona Aoi butuh istirahat yang cukup," Ryou menahan Fumie yang berusaha masuk menerobos pintu, beruntung badan cewek itu kecil dan Ryou sedikit besar lumayan cukup untuk menutupi jalan.
"Aku ini sahabatnya. Apa kamu udah lupa sama aku? Kita ini yang terjebak dengan Aoi di gubuk tua waktu itu," Fumie tak akan menyerah dengan mudahnya asalkan ia dan Haruka berhasil masuk.
Ryou mengernyit, benarkah?
"Masih ingat. Maaf telah menghalangi jalannya. Silahkan masuk ke dalam," Ryou menyingkir memperbolehkan Fumie dan Haruka menjenguk Aoi.
__ADS_1
Fumie duduk memakan buah-buahan yang masih utuh di atas meja. Lumayan buat camilan sehat dan diet.
Sedangkan Haruka mengobrol dengan Aoi yang sudah sadar.
"Aku kasihan banget sama kamu Aoi. Disaat kamu lagi melahirkan, bukannya suami kamu pak Makoto berada disini tapi masih sibuk dengan urusannya sendiri."
"Haruka, pasti mas bakalan pulang kok. Kamu gak perlu khawatir, dia pasti akan menemaniku lagi. Karena mas Makoto sudah mengikrarkan janji sucinya saat pernikahan akan selalu bersama-sama sampai maut memisahkan," Aoi hanya tersenyum hambar. Benar apa yang di katakan Haruka, seharusnya Makoto hadir menemaninya.
"Ehm, jeruknya enak nih. Boleh gak aku habisin semuanya? Kamu juga gak makan buah-buahan ini kan?" Fumie berdehem membuyarkan suasana canggung yang mulai melanda antara Haruka dan Aoi.
"Boleh, kamu makan aja. Aku lagi gak nafsu makan," Aoi hanya berharap Makoto lah yang menyuapinya seperti dulu.
"Yess! Makasih ya Aoi baik dan cantikk banget. Kalau aku gak makan jeruk bisa sariawan. Tau sendiri kan aku biasanya-"
"Kamunya aja kalau makan buru-buru, jadi kegigit kan lidahnya," sela Haruka malas, kalau soal makan Fumie pasti akan rakus menghabiskannya.
"Hehe, aku lagi laper Haru."
Pintu terbuka, menampilkan Makoto, Karin dan Amschel yang baru saja sampai dan langsung menuju rumah sakit sesuai lokasi yang di berikan oleh Ryou.
"Maafin aku ya?" Makoto merasa bersalah. "Aku gak bisa menemani kamu. Aku juga ingin pulang tapi-"
"Gak apa-apa mas. Kamu pulang sekarang dan ada di hadapanku aja udah seneng banget," Aoi tak bisa menyembunyikan senyum bahagianya. Akhirnya rindu yang tertahan karena jarak dan tempat terobati bukan semakin menjauh lalu pergi karena tak pantas untuk menyandingkan diri, jadi curhat.
"Aku ingin berbicara berdua dengan Aoi. Kalian semua keluar aja," Makoto ingin meluangkan waktunya seharian penuh dengan istrinya yang telah melahirkan itu.
"Yah padahal aku masih kangen sama Aoi," Karin menghela nafasnya, tapi permintaan Makoto pasti juga penting sekaligus melepas rindu.
"Gak apa-apa ma, kita cari makan aja yuk sama Haruka dan Fumie. Mau kan?"
"Mau banget om aku-"
"Gak usah om, kita mau pulang aja mau ngerjain tugas kuliah," Haruka menarik tangan Fumie segera pergi dari rumah sakit. Memang kalau menyangkut makan memakan Fumie akan mau-mau saja.
Saat sudah di perjalanan pulang dengan naik taksi, Fumie mendumel dan protes pada Haruka yang menyia-nyiakan tawaran makan bersama dengan Amschel.
__ADS_1
"Lumayan loh Haru bisa makan banyak. Pasti kita di bayarin," perutnya berbunyi setelah itu, dirinya benar-benar lapar dan ingin makan.
"Fumie," Haruka menoleh menatap serius wajah Fumie yang kini sedikit memelas dan sedih. "Aku gak enak aja sama om Amschel, dia kan habis kerja keluar kota. Pastinya om Amschel pingin makan berdua sama tante Karin."
Fumie menghembuskan nafasnya. Haruka selalu saja gengsi. Ah menyebalkan.
"Ya udah deh, mending aku nahan lapar sampai lambungku sakit aja sekalian," Fumie kesal, lagipula di pertengahan bulan seperti ini ia belum gajian. Uangnya selalu cepat habis di gunakan untuk membeli keperluan ibu tirinya dari bahan-bahan dapur, sampai baju baru keluaran terbaru pun di borong.
"Oke kita makan. Pak berhenti di Wagyu Restaurant aja."
"Bayarin ya? Aku belum gajian soalnya," ucap Fumie ragu-ragu. Tapi Haruka tak akan keberatan dan menolak, dia adalah cewek pemurah hati sekaligus baik dalam traktitan.
Beralih di rumah sakit, Makoto menyuapi Aoi bubur dengan telaten.
"Padahal aku kalau sakit gak mau makan bubur, hambar gak ada rasanya. Tapi kalau mas yang nyuapin aku ya ada manis-manisnya gitu."
Makoto terkekeh, bisa saja Aoi pandai menggombal.
"Buahnya kok gak ada? Apa Ryou gak beli?" Makoto sedari tadi memperhatikan meja di sebelah Aoi yang bersih menyisakan wadah dari kayu anyaman yang kosong.
"Di habisin sama Fumie. Gak apa-apa mas. Dia lagi laper. Aku males makan buah, pinginnya makan yang enak-enak sama pedes," ucap Aoi merasa lesu. Apalagi dokter tadi menasehatinya agar menjaga pola makan yang lebih sehat.
"Kamu itu lagi masa pemulihan. Jangan makan yang itu dulu. Apa jangan-jangan selama aku di Fukuoka kamu makan pedas? Wah, aku harus tanya sama Ryou nih," Makoto beranjak dari duduknya tapi Aoi menahan tangannya. Bisa gawat jika Aoi makannya tak teratur dan sembarangan.
"Iya ya, aku percaya kok. Aku mau liat anak aku dulu," Makoto melangkah mendekati anak pertamanya yang tertidur pulas dengan selimut yang membalut tubuhnya setengah dada, pasti hangat dan terasa nyaman.
"Cantiknya kalau lagi tidur. Namanya siapa nih?"
"Namanya-"
***
Rebahan dgn tangan yang kesemutan.
12:25 malam
__ADS_1
See you-,