Terpaksa Menikahi Om Om

Terpaksa Menikahi Om Om
40. Kesan buruk di kampus


__ADS_3

Hari ini adalah hari pertama Aoi menjadi mahasiswi di US. Dengan memakai celana dan sweater andalannya, Aoi akan berangkat ke kampus jam 7 pagi.


Dan lebih penting lagi adalah sarapan.


"Ada kabar baik buat kamu Aoi," Amschel membuka pembicaraan, entah kabar baik apa.


Aoi bisa menebak kalau bukan Makoto siapa lagi?


"Makoto sekarang menjadi dosen bahasa jepang di kampus kamu. Kemarin malam Makoto telepon sama ayah, dia gak mau jauh-jauh dari kamu. Enak kan bisa di jaga Makoto?"


Enak darimana? Aoi tak bisa bebas bergaul dengan teman-teman barunya nanti. Pria itu pasti akan mengomel jika dirinya dekat dengan cowok.


'Gak asik ah. Tau aja gini gak usah kuliah. Kabur kemana gitu, asalkan jangan pulang ke rumah lagi. Kenapa hidup aku gini amat sih? Di jodohin, di awasi, apa gak ada celah kebebasan sesuai pilihanku sendiri?' ingin Aoi utarakan ucapannya ini pada ayahnya tapi terpendam.


"Ayah anterin kamu ke kampus ya? Jangan coba-coba bawa lamborghini kalau gak sama Makoto. Bahaya, kamu kan cewek," Amschel meragukan keahlian kick boxer Aoi, meskipun begitu Aoi juga butuh pengawasan ketat agar aman dari kejahatan yang mengintai.


"Tapi yah aku pingin bawa mobil sendiri di-"


"Jangan membantah. Ayah akan mengantarkan kamu ke kampus," tegas Amschel tak mau tau.


Aoi menghela nafasnya. Kalau begini ia tai bisa kemana-mana.


***


Selama perjalanan, Aoi hanya diam. Biasanya di isi dengan obrolan hangat.


"Kenapa kamu diam saja nak? Biasanya juga cerewet banget kalau satu mobil sama ayah," Amschel menarik sudut bibirnya melirik Aoi yang duduk anteng (diam) di sebelahnya.


'Andai aja perjodohan ini bisa di batalkan. Aku bisa balikan sama Ryuji. Huh, tapi itu cuman sekedar mimpi,' batinnya sedih. Mencintai orang yang tidak ia cintai sungguh berat rasanya, apalagi ini yang akan terikat ikatan suci dalam janji pernikahan. Sangat tidak memungkinkan untuk berpisah semudah itu.


Saat sampai di Universitas Sakura, mobil sport keluaran terbaru itu menjadi pusat perhatian seisi kampus. Tatapan takjub dan pujian tak hentinya terlontar dari bibir.


"Itu siapa lagi? Astaga padahal kemarin ada cewek yang bawa lamborghini sekarang. Oh My God! Kaya bener!"


"Eh siapa sih? Penasaran deh."


"Kayaknya itu cewek yang sama deh kayak kemarin. Pasti orang tuanya tuh. Tajir melintir bener deh."


Saat turun dari mobil pun, Aoi mendapat pujian dari semua mahasiswa. Tatapan memuja dan decak kagum saling bersahutan.


'Segitunya mereka liatin aku? Apa mahasiswa disini hanya dari kalangan menengah?' batin Aoi heran, kalau saja ia menunjukkan jati dirinya di sekolah dulu mungkin akan lebih heboh dari ini.


Aoi terlalu fokus memperhatikan gedung kampus yang lumayan besar itu. Sampai ia menabrak seorang cowok hingga umpatan kesal terlontar bebas dari mulutnya.


Bruk!


"Lo punya mata gak sih!" dengan suara bass-nya ia membentak Aoi dengan marah. Kertas yang ia bawa tercecer begitu saja.


Aoi mendongak menatap nertra mata coklat madu yang tajam itu.


"Apa? Yang gak punya mata itu lo! Enak aja nyalahin gue!" Aoi balas memarahi cowok itu.


Satu kata dalam hati Aoi adalah TAMPAN. Sayangnya cowok itu memiliki karakter arogan. Aoi membenci sifat pemarah.

__ADS_1


"Mana gue gak tau fakultas ekonomi lagi. Ck, gara-gara lo sih!" Aoi menyalahkan cowok itu.


"Oh lo nyari fakultas ekonomi? Ya udah ayo ikut gue," ia menarik tangan Aoi pelan, mau bagaimana pun wanita itu harus di perlakukan dengan lemah lembut.


Aoi senang, akhirnya ia tak perlu repot-repot keliling kampus mencari kelasnya.


"Nih, fakultas lo. Makasihnya mana?"


Aoi berdecak kesal. Sepertinya cowok ini tak ikhlas.


"Bilang aja lo gak mau kan?" hardik Aoi kesal. Dekat dengan cowok ini selalu saja menyulut emosinya.


Cowok itu berdecih. "Cih, gue ikhlas. Mana makasihnya? Ucapin gitu aja susah amat. Sariawan?"


Makoto yang melihat Aoi berdebat dengan seorang cowok pun membuat hatinya mendidih dan cemburu. Siapa sih dia?


"Ada apa ini? Kenapa kalian ribut? Gak malu apa di liat mahasiswa lain?"


"Ini pak, dia gak mau bilang terima kasih. Sariawan atau bisu huh?"


Aoi harus menyetok jutaan kesabaran. Jangan sampai di usia mudanya ini tiba-tiba terserang darah tinggi.


"Makasih. Kamu boleh pergi, jangan membuat keributan di kampus," Makoto mewakilkan ucapan terima kasih Aoi.


"Apa kamu ada yang terluka?" Makoto meraih pergelangan tangan Aoi mengeceknya memastikan tidak ada luka disana.


Aoi menggeleng, ia menepis tangan Makoto, beraninya menyentuh tangannya di kampus?


Beberapa mahasiswa yang lewat pun menghentikan langkahnya.


"Ha? Jadi cewek kaya itu ada hubungan spesial sama dosen bahasa Jepang?"


"Tapi umur mereka beda jauh! Gak pantes!"


Aoi mendorong Makoto agar ada jarak sedikit.


"Kamu pergi! Pergi! Pergi gak?" jerit Aoi berang, ia benar-benar marah sekarang. Kehadiran Makoto sama saja merusak image-nya sebagai mahasiswi di kampus.


Makoto terkekeh. "Kenapa? Apa kamu malu punya calon suami seperti aku?"


Aoi diam.


'Iya. Aku malu, karena kamu saja sudah tidak mencintaiku. Kamu sendiri yang bilang rasa cinta itu sudah hilang? Apa gunannya kita menikah jika sama sekali tak ada rasa cinta?' kata-kata ini hanya bisa Aoi ucapkan dalam hatinya.


Makoto mendekat mempertipis jarak hingga..


Cup.


Makoto mencium kening Aoi meskipun sebentar tapi detak jantungnya sudah tak karuan seperti marathon.


"Love you," dengan gampangnya Makoto mengatakan itu.


Aoi membeku. Menyatakan cinta di kampus? Apa Makoto masih waras?

__ADS_1


"Jadi ini dosen jatuh cinta sama mahasiswinya sendiri gitu?"


"Wah bener-bener ya tuh cewek kayak gak ada cowok lain aja. Mending Aldebaran tadi, udah ganteng presma lagi."


"Daripada pak Makoto pilih Aldebaran aja deh!"


'Oh, jadi cowok pemarah itu namanya Aldebaran? Boleh juga nih,' batin Aoi, ia ada sebuah rencana licik untuk membuat Makoto cemburu.


"Gak perlu bilang itu. Hatiku hanya buat seseorang, tapi bukan Ryuji. Minggir aku mau masuk kelas," Aoi berjalan angkuh melewati Makoto.


"Orang lain? Siapa?" Makoto tak akan membiarkan cowok manapun berusaha merebut Aoi-nya.


***


Selesai jam kuliah, Aoi, Haruka dan Fumie makan di kantin lagi. Lebih seru makan bareng dengan sahabat, mungkin di rumah bosan.


"Gimana kelas kamu? Seru gak?" tanya Haruka pada Fumie dan Aoi.


Aoi diam, seru darimana? Ia malah bertemu dengan Aldebaran si tukang marah-marah lalu mendapat kecupan dan kata cinta dari Makoto. Paket komplit sudah penderitaannya hari ini.


"Seru banget Haru, tadi materi di kelas gampang banget. Tumben ya kok hari ini aku bisa translate bahasa Inggris?"


"Bagus dong, itu artinya kamu bakalan terbiasa," Haruka ikut senang jika Fumie mempunyai semangat menuntut ilmu.


"Aoi? Kok diam?" Haruka menoleh manatap Aoi yang sedang melamun.


Aoi tersadar. "Ha? Ngomong apa tadi?"


"Gimana kelas kamu? Seru kan? Ada cowok ganteng gak?" Haruka mengulangi pertanyaannya, Aoi pasti memikirkan sesuatu.


Aoi mengangguk. "Iya seru kok. Aku betah di kelas," aku gak betah di kampus, aku pingin kabur darisini Haru! lanjutnya dalam hati.


"Eh, gak mau cari gebetan nih? Siapa tau ada yang cocok," usul Fumie, cowok di US memang cool dan manly.


Aoi mengangguk. "Aku udah ada kok," hanya sekedar percobaan, siapa tau Aldebaran bisa jatuh cinta dengan dirinya.


"Siapa?" tanya Haruka dan Fumie terkejut.


"Ada deh," Aoi tersenyum malu-malu. Jika di lihat, Aldebaran ganteng. Meskipun dirinya hanya sebatas bahu, pesonannya tak bisa ia tolak. Andai yang di jodohkan itu Aldebaran.


"Aoi! Aku kepo! Siapa sih?" tanya Fumie mendesak.


"Rahasia dong," jawab Aoi sangat misterius.


Haruka dan Fumie kecewa, siapa cowok yang sudah menarik hati Aoi sampai Makoto di lupakan?


***


Penulis makan roti pandan malam-malam.


10:30 pm


See you-,

__ADS_1


__ADS_2