Terpaksa Menikahi Om Om

Terpaksa Menikahi Om Om
24. Bekal untuk Makoto


__ADS_3

Dan Makoto pun tak tinggal diam. Ia...


"Aoi!" serunya. Aoi menoleh dengan wajah terkejutnya.


Makoto menarik tangan Aoi menjauhi Ryuji.


"Jadi ini yang kamu lakuin kalau aku lagi rapat? Mentang-mentang aku gak awasin kamu malah kencan sama dia. Mending pulang," hanya karena rapat selama beberapa menit saja, Aoi sudah tidak ada di kelasnya. Bahkan Haruka dan Fumie saja tidak tau keberadaan Aoi.


"Lepas gak?" Aoi meronta. Namun Makoto semakin mencengkram kuat.


"Sakiitt!" Aoi meringis. Apa ini sisi lain dari Makoto saat marah?


Ryuji menarik tangan Makoto yang bebas. "Gak usah nyakitin Aoi juga!"


Makoto menoleh. Menatap bengis Ryuji. Mengganggu saja.


"Kenapa emangnya? Salah?"


"Jelas salah. Apa pak Makoto gak liat Aoi kesakitan?"


Makoto tersenyum miring. "Coba aja kalau nurut sama saya sekali pun. Saya gak bakal lakuin hal itu," pandangannya menatap Aoi yang kini menunduk.


"Tapi cara pak Makoto salah. Memangnya-"


"Jauhi Aoi. Selamanya," sela Makoto cepat dan penuh penegasan.


'Maaf, kalau itu cara pak Makoto memisahkan aku dan Aoi, tidak akan pernah aku penuhi,' jawab Ryuji dalam hati. Ia hanya tak ingin memperumit masalah.


Makoto membawa Aoi pergi.


Aoi hanya bisa menatap Ryuji penuh harap agar bisa menolongnya.


Ryuji hanya membalas sekali kedipan mata dan senyumannya.


***


Sampai di rumah, Makoto hanya melihat TV di ruang tengah tanpa memasak atau menyiapkan makan siang untuk Aoi.


Dengan tatapan sebal dan marah, Aoi berjalan ke dapur sendiri.


"Ngambek sih, tapi masak juga lah. Masa aku makan batu?" gerutu Aoi. Ia bingung mau masak apa.


Sedangkan Makoto hanya duduk diam. Biarlah Aoi masak sendiri.


"Udah berani mau kencan sama Ryuji diam-diam? Apa istimewanya dia sih?" tanya Makoto memandangi televisi, seperti benda itu mendengarkan keluh kesahnya.


Sebelum ia memergoki Aoi. Makoto mencari-cari Aoi.


Flashback on


Akhirnya rapat selama 20 menit itu selesai. Hanya penyampaian nilai KKM saat ujian nanti.


Makoto melangkah menuju kelas Aoi, memastikan cewek itu sudah pulang atau belum.


Ada Haruka dan Fumie.


"Aoi udah pulang ya?"


Haruka menoleh. "Gak tau pak, tadi langsung keluar kelas gitu aja," entah urusan se-penting apa sampai Aoi terburu-buru.


"Yakin? Masa kalian gak tau. Kan sahabat," Makoto penasaran kemana perginya Aoi.


"Beneran pak. Kita gak tau Aoi mau kemana," tegas Fumie jujur.


Makoto mengangguk. "Makasih ya?"


"Sama-sama pak," seru Haruka dan Fumie kompak.


Makoto mencari seluruh tempat yang di sukai Aoi, dari kantin, taman sekolah dan yang terakhir warung bu Mami.


"Lama ya? Maaf tadi harus nulis materi dulu," Aoi duduk berhadapan dengan Ryuji.


Ryuji mengangguk. "Yang penting kamu datang. Yuk sekarang aja daripada kesorean. Mbak Mami! Ini uang buat kopinya ya?"


"Iya mas. Makasih!" sahut mbak Mami.


"Aoi!" serunya. Aoi menoleh dengan wajah terkejutnya.


Makoto menarik tangan Aoi menjauhi Ryuji.


"Jadi ini yang kamu lakuin kalau aku lagi rapat? Mentang-mentang aku gak awasin kamu malah kencan sama dia. Mending pulang," hanya karena rapat selama beberapa menit saja, Aoi sudah tidak ada di kelasnya. Bahkan Haruka dan Fumie saja tidak tau keberadaan Aoi.

__ADS_1


"Lepas gak?" Aoi meronta. Namun Makoto semakin mencengkram kuat.


"Sakiitt!" Aoi meringis. Apa ini sisi lain dari Makoto saat marah?


Ryuji menarik tangan Makoto yang bebas. "Gak usah nyakitin Aoi juga!"


Makoto menoleh. Menatap bengis Ryuji. Mengganggu saja.


"Kenapa emangnya? Salah?"


"Jelas salah. Apa pak Makoto gak liat Aoi kesakitan?"


Makoto tersenyum miring. "Coba aja kalau nurut sama saya sekali pun. Saya gak bakal lakuin hal itu," pandangannya menatap Aoi yang kini menunduk.


"Tapi cara pak Makoto salah. Memangnya-"


"Jauhi Aoi. Selamanya," sela Makoto cepat dan penuh penegasan.


Flashback off


Luka. Makoto baru ingat kalau cengkramannya saat itu sangat kuat. Apa tangan Aoi baik-baik saja?


Makoto melangkah ke dapur. Aoi menjaga jarak dari penggorengan. Entah apa yang di goreng Aoi.


"Aoi? Boleh aku bantu?"


"Iya. Gue gak mau kena cipratan minyaknya," Aoi menyerahkan spatulanya.


Menggoreng ayam. Pantas saja Aoi takut.


"Kamu duduk aja. Biar aku yang goreng. Tangan kamu gak papa kan?"


Aoi menutupi tangannya yang membiru.


"Gak," jawabnya singkat. Biarlah ia sendiri merasakan sakitnya. Makoto tak perlu tau.


"Kalau sakit nanti aku obatin. Maaf yang tadi aku lagi emosi," emosinya saat itu tak bisa di tahan lagi. Apalagi Aoi berniat kencan tanpa sepengetahuannya.


'Gimana kalau nikah nanti? Apa lo juga bakalan kasar kayak gitu? Gue gak suka!' jerit Aoi dalam hatinya. Ia tak akan pernah betah jika sikap Makoto seperti beberapa jam yang lalu.


Beberapa jam kemudian, akhirnya Makoto selesai menggoreng ayam.


Aoi terkekeh.


Benar. Berbalas pesan dengan Ryuji membuat mood-nya baik.


Ryuji


Bener nih gak sakit? Coba aku liat. Mau kan video call?


04:30 pm


^^^Anda^^^


^^^Gak usah, nanti dia liat. Gak papa kok. Cuman biru aja. Perhatian banget^^^


^^^04:31 pm^^^


Ryuji


Kan sama pacar sendiri. Udah dulu ya? Aku mau bantu ambil jemuran mama nih daripada di marahin. Love you


04:32 pm


^^^Anda^^^


^^^Love you and more^^^


^^^04:33 pm^^^


"Bagus ya? Giliran mau makan malah asik chat-chatan sama pacar. Belajar dulu yang bener," omel Makoto, tapi nadanya ada rasa cemburu.


"Apa sih? Iri bilang aja!"


"Nih, kamu tinggal makan," Makoto berlalu pergi, selera makannya turun setelah Aoi tersenyun berbalas pesan dengan Ryuji.


"Gitu aja ngambek," Aoi mulai memakan ayam itu tanpa nasi. "Kenapa gak sama Onigiri? Jadi gak kenyang kan," gerutunya kesal.


***


Aoi tak percaya, kenapa tidak ada makanan?

__ADS_1


"Terus, aku harus masak gitu? Ya bisa telat ke sekolah kalau kayak gini," Aoi membuka kulkas, habis. Tidak ada roti tawar yang tersisa.


"Kemana sih om itu?" Aoi melangkah ke ruang tamu. Biasanya masih duduk dan membaca koran.


Tapi Makoto tidak ada.


"Apa udah berangkat duluan ya?" Aoi mengecek di halaman rumah, mobil Makoto tidak ada.


"Kok di tinggal sih? Pakai lamborghini gue lagi," nasib jalan kaki lagi, Aoi berangkat sendirian.


"Apa masih ngambek ya?"


Tin tin!


Aoi menoleh. Ryuji.


"Kamu?" akhirnya tak perlu jalan kaki. Untung saja ada Ryuji. Kesempatan emas tanpa pengawasan Makoto.


"Yuk berangkat bareng. Tumben banget kamu jalan kaki," rasanya senang berangkat bersama dengan Aoi meskipun baru kali ini.


"Biar sehat aja. Lagian naik mobil terus gak seru," apalagi satu mobil sama om itu, lanjutnya dalam hati.


"Udah sarapan belum?"


Aoi menggeleng. "Gak ada makanan," apalagi perutnya terasa panas, mungkin asam lambung.


"Kita makan di kantin aja ya? Biar gak telat," makan bareng, hati Ryuji senang. 'Akhirnya bisa ada waktu berdua sama kamu Aoi,' batinnya.


Saat di kantin, Aoi makan dengan pelan. Pikirannya hanya berpusat pada Makoto.


'Kalau om itu gak masak, berarti dia gak sarapan dong?' Aoi kepikiran ingin membeli makanan.


"Mau apa Aoi?" Ryuji memperhatikan gerak-gerik Aoi yang mencari uang di saku seragamnya.


"Aku mau beli nasi bungkus. Tapi kok, gak ada ya uangnya?"


"Pakai uangku aja ya? Nih, sana beli sebelum di serbu tuh," Ryuji memberikan uang 300 ¥en kepada Aoi.


Aoi tersenyum. "Makasih ya?"


"Sana, cepetan. Keburu habis," Ryuji sempat heran, padahal Aoi sudah makan mie ayam, kenapa harus di tambah nasi bungkus?


"Mbak Mami! Nasi bungkusnya satu dong!"


Mbak Mami keluar dari tempat persembunyiannya.


"Ambil aja disitu. Masih anget lagi," Mami melanjutkan mencuci piring yang masih menumpuk.


"Uangnya di atas toples permen ya mbak Mami!"


"Iya! Makasih!"


Aoi mengembangkan senyumnya. Tak perlu repot-repot masak, tinggal beli nasi bungkus beres sudah sarapan untuk Makoto.


"Ryuji, aku ke kelas duluan ya? Mau nyalin PR nih," kilahnya bohong. Ia ingin langsung ke kantor guru menemui Makoto.


Ryuji mengangguk. "Iya. Kesana aja, aku masih makan," sebenarnya tak rela Aoi ke kelas duluan, ia ingin bareng.


Dengan langkah cepat, Aoi menuju kantor guru. Mencari Makoto, pria itu sudah di sibukkan dengan laptopnya.


Aoi meletakkan nasi bungkus itu di meja Makoto.


"Sarapan saja dengan pacarmu itu. Aku tidak lapar," Makoto menggeser nasi bungkus itu hampir jatuh kalau Aoi tak menangkapnya.


"Di makan. Lo pasti laper, apalagi gak masak," Aoi melangkah pergi. Tapi ia mengintip di jendela.


Makoto meraih nasi bungkus itu dan membuangnya ke tempat sampah.


"Aku tidak sudi makan dari pacarmu itu Aoi. Apalagi belinya dengan uang pacarmu juga. Lebih baik aku kelaparan," tanpa rasa bersalah, Makoto kembali duduk.


Aoi tak menyangka Makoto membuangnya.


"Udah baik di kasih perhatian malah di buang. Gak menghargai sama sekali," Aoi pergi dengan perasaan kecewanya.


***


Gak bisa mudik nih, milih produktif nulis sama baca novel.


Semoga tahun depan bisa mudik~


See you-,

__ADS_1


__ADS_2