Terpaksa Menikahi Om Om

Terpaksa Menikahi Om Om
78. Barbie impian


__ADS_3

Bel istirahat berbunyi, kelas 1 pun berhamburan keluar. Kantin yang sangat dekat menjadi tempat pertama bagi siswa untuk nongkrong.


"Gak ke kantin?" tanya Aiko menenteng bekalnya. "Sekalian beli jajan. Masa aku makan snadwich aja, gak kenyang."


Hikaru mengangguk. "Yuk ke kantin. Aku juga bawa bekal, kita makan bareng-bareng disana."


Memiliki teman baru se-dekat ini sangat menyenangkan. Apalagi Aiko, Hikaru merasa beruntung duduk bersama Aiko.


Selama perjalanan menuju kantin, tatapan para siswa hanya tertuju pada Hikaru.


Merasa di tatap seperti itu, Hikaru risih dan merasa aneh.


"Mereka kenapa sih ngeliatin aku gitu amat?"


"Karena mereka tau kamu Hikaru. Apalagi kamu anak presiden di negara Jepang ini," jawab Aiko tenang.


"Hikaru! Boleh gak aku temenan sama kamu?"


Hikaru menoleh mencari sumber suara.


"Gak usah di dengerin. Mereka itu gak tulus temenan sama kamu," Aiko menggandeng tangan Hikaru, mempercepat langkah agar sampai ke kantin.


"Kamu juga gak tulus ya kayak mereka?" tanya Hikaru setelah duduk, akhirnya menemukan tempat yang pas untuk makan. Di sebelah penjual kang seblak.


Aiko menatap Hikaru lekat. "Aku tulus. Karena mama yang bilang kalau tante Aoi juga baik," Aiko tau semuanya tentang Aoi, mamanya yang bercerita bahwa Aoi sangat baik juga mau memaafkan kesalahan sang mama.


"Ok. Sekarang kita makan!" wajah Hikaru berubah ceria, jawaban Aiko membuat hatinya lega. Ia kira Aiko hanya ingin berteman dengannya karena berasal dari kalangan atas.


"Kamu bawa bekal apa nih?" tanya Aiko penasaran, pasti makanannya lebih berkelas.


"Aku emm-apa ya?" Hikaru membuka bekalnya. "Makunouchi-bento? Hm, padahal aku maunya di bawain dorayaki aja gitu biar sama kayak Doraemon," Hikaru kecewa, dorayaki yang manis dengan rasa coklat kesukaannya meleleh di lidah mengembalikan mood yang anjlok.


"Boleh aku minta sedikit?" tanya Aiko ragu-ragu.


Hikaru mengangguk. "Boleh. Ini banyak banget, mana bisa aku habisisn sendirian. Gak mau gendut ah," Hikari menggeleng cepat, terlalu banyak porsi makan akan membuat tubuhnya gemuk dan berujung di cubit terus-terusan oleh sang kakeknya yang jahil itu.


Aiko terkekeh. "Pipi kamu aja udah keliatan gendut. Tapi badan kamu gak kok. Jadi, yang bakalan gendut itu pipi kamu Hikaru."


"Iya kah? Masa sih?" Hikaru mengernyit tak percaya. "Nanti aku liat di rumah, apa pipiku gendut. Nanti kakek ku cubit-cubit. Sakit Aiko!" keluhnya memberengut kesal.


"Itu artinya kakek kamu gemes banget sama pipi kamu. Yuk makan, nanti bel istirahatnya habis belum makan apa-apa."


"Wah, itu bagus banget barbie-nya. Kamu beli dimana nih Ayumi?"


Ayumi, siswi kaya dan cantik itu kini juga mulai di kenal satu sekolah. Bahkan mengalahkan popularitas Hikaru.


"Beli di luar negeri lah. Masa disini, ini itu limited edition! Papaku yang beliin ini. Bagus banget kan? Kalian gak bakalan bisa beli barbie yang kayak gini!" Ayumi mulai memamerkan barbie barunya, entah niat belajar ke sekolah atau menunjukkan mainan mahalnya.


"Tapi kalau nanti beli lagi aku boleh nitip kan?"


Hikaru menoleh ke sebelah kirinya, sangat ramai bahkan berkerumun. Hanya para cewek-cewek saja.


"Itu ada apa sih?"


Aiko menoleh, menatap objek yang di maksud Hikaru. "Halah biasa, pasti murid baru."

__ADS_1


"Barbie-nya aku pinjem bentar boleh gak Ayumi?"


"Pleasee, kita semua pingin main barbie yang cantik ini Ayumi. Kami janji akan mengembalilannya."


Semuanya tampak memohon pada Ayumi agar mengizinkan barbie-nya di pinjam.


"Gak! Kalian beli aja sendiri! Nanti barbie ku rusak gara-gara kalian. Mau ganti rugi?" tanya Ayumie ketus, ia langsung marah. Karena itu sangat berharga dan mahal, tak boleh di sentuh apalagi sampai rusak.


"Ayumi sombong banget ya?"


"Iya, gak kayak Hikaru yang baik dan selalu senyum."


Mereka berbisik membandingkan Ayumi dan Hikaru yang berbeda.


Ayumi yang mendengar itu pun jengah tak terima. Memangnya Hikaru siapa? Hanya anak presiden saja.


"Hikaru? Kenapa dia harus sekolah disini? Kenapa gak di liar negeri aja? Dia kan kaya. Apa gak sanggup?" Ayumi mulai meremehkan Hikaru.


Merasa namanya di sebut, Hikaru menoleh lagi. Makannya tertunda, Makunouchi-bento miliknya masih tersisa banyak.


"Kamu manggil aku? Ada apa?" Hikaru masih tak mengerti. Padahal sudah jelas Ayumi tak menyukainya.


"Kamu jangan mentang-mentang kaya ya. Dan sekolah ini, adalah milikku. Jadi, boleh dong kalau aku keluarin kamu darisini?" tanya Ayumi menantang Hikaru, benar-benar tidak ada rasa takut sama sekali. Padahal Hikaru sangatlah memiliki peran penting bagi sekolah ini untuk meningkatkan popularitas karena ada anak dari seorang presiden.


"Keluarin aku dari sekolah ini? Aku salah apa sama kamu? Memangnya aku berbuat nakal sama poin ketertiban?" tanya Hikaru balik, kali ini nadanya sedikit kesal. Ayumi seenaknya saja.


"Udahlah, jangan di ladenin. Yuk kita ke kelas," Ayumi menarik tangan Hikaru, kalau keduanya sudah tersulut emosi bahaya. Nanti Hikaru akan terseret di panggil oleh guru BK.


"Sanggup gak beli barbie kayak aku? Yang ini, mahal. Bukan murahan apalagi beli di pasar," Ayumi menunjukkan barbie-nya.


Ayumi tersenyum miring. "Kalau gak sanggup malu dong! Kan kamu anaknya presiden. Pak Rotschild!"


Hikaru tak peduli dengan teriakan Ayumi. Yang ada di pikirannya sekarang harus membeli barang itu daripada nanti ia sendiri di keluarkan dari sekolah.


"Hikaru, gak usah di turutin apa kata dia. Buat apa beli itu? Di negara kita masih gak ada. Belum di impor," ucap Aiko, hanya ingin membatalkan niat Hikaru.


Hikaru menghentikan langkahnya. Menatap Aiko marah.


"Kalau aku gak beli nanti di keluarin dari sekolah ini. Aku gak mau mama marah. Mama udah bilang jangan pernah nakal di sekolah," Hikaru hanya memegang nasehat sang mama, dimana ia harus menjadi siswa baik selama di sekolah.


"Nakal?" tanya Aiko heran. Masih tak percaya, dimana letak kenakalan Hikaru? Temannya itu sudah baik dan selalu senyum menyapa siapa saja. Hikaru sangat ramah dan tak pernah menunjukkan sisi marahnya. Itulah alasan mengapa nyaman berteman dengan Hikaru.


"Ayumi yang nakal. Bukan kamu Hikaru. Dia itu cuman mau kamu nurut apa yang dia bilang. Daripada beli mainan, kamu belajar aja. Aku di rumah juga ada barbie, tapi biasa. Kamu boleh pinjam."


Hikaru mengangguk. "Tapi aku harus beli Aiko. Aku juga pingin punya mainan baru. Boneka ku gak ada temennya," Hikaru bsrsedih, hanya itu yang ia punya.


"Gak apa-apa. Nanti kamu bisa main ke rumahku. Aku punya banyak banget mainan. Kamu pilih aja sesukamu, mau di ambil juga boleh," yang penting Hikaru bisa senyum, bukan kesal dan marah seperti ini.


"Iya deh."


***


Hikaru menatap bonekanya sedih.


"Aku mau barbie," rengeknya kesal, apalagi punya Ayumi itu sangat bagus dan berkilau.

__ADS_1


Makoto yang akan masuk ke dalam kamar pun mengurungkan niatnya. Hikaru sedang berbicara pada bonekanya.


"Barbie?" gumamnya tak mengerti.


"Punya Ayumi barbie-nya beli di luar negeri. Sedangkan boneka ku? Cuman di mall," Hikaru sangat sedih, matanya berkaca-kaca. 'Gak boleh nangis, nanti kalau ayah atau mama tau bakalan ikut sedih juga,' batinnya.


Hikaru tersenyum lagi. "Semoga ayah beliin aku barbie limitied editon dari luar negeri besok."


Makoto mengerti, ternyata Hikaru ingin itu. Sangat mudah baginya.


Makoto mengetikkan pesan pada Ryou agar besok barang itu sudah sampai.


***


Hikaru bahkan sangat bersemangat bangun pagi. Masih pukul 5 dan matanya melek.


"Ayah kemarin udah janji mau beliin aku- wah! Udah ada!" Hikaru menatap barbie barunya tak percaya, sama persis dengan milik Ayumi.


Makoto yang sudah bangun mengambil air minum pun tersenyum. Hikaru sangat bahagia.


"Gimana? Suka ya? Atau ayah beliin lebih banyak lagi?"


Hikaru menggeleng. "Cukup satu aja yah. Buat temen boneka ku."


"Tumben kamu minta di beliin gitu?" Makoto duduk di sebelah Hikaru, tak terasa putri kecilnya itu sudah besar dan semakin cantik persis seperti Aoi.


Hikaru bingung harus menjawab apa.


"Ya, biar aku punya dua teman main hehe," Hikaru tersenyum kikuk.


"Oh," Makoto mengangguk. "Mandi ya? Terus sarapan. Masih pagi banget. Kamu semangat ya nungguin barbie-nya?"


"Iya dong ayah. Aku gak sabar banget. Dan, aku mau main sama Aiko juga."


"Aiko?" Makoto tak asing dengan nama itu. Oh ya! Itu adalah anak dari Nakura dan Ryuji.


"Teman kamu di sekolah juga ya?"


"Duduk bareng yah. Semuanya udah kenal aku. Banyak kan yah temanku?"


"Iya, banyak. Tapi yang selalu sama kamu kan Aiko."


"Ya, Aiko seru banget. Dia juga pinter di kelas. Kalau aku gak bisa, Aiko ngasih tau jawabannya," Hikaru mulai bercerita bagaimana kegiatannya selama di sekolah. Aiko, teman terbaiknya.


"Semoga kamu berteman baik dengan Aiko ya?"


"Siap yah!" ucap Hikaru riang.


***


Mengalir sebuah ide dengan kesunyian dan musik menenangkan qolbu.


17:58 malam.


See you-,

__ADS_1


__ADS_2