
Di rumah sakit, Karin dan Amschel hanya bisa menunggu tentang perkembangan kondisi Aoi dan Makoto.
"Apa Hikaru tau?" tanya Amschel menatap Karin yang menangis sesenggukan, kabar ini benar-benar mengejutkannya.
Karin menggeleng. "Hikaru masih sekolah. Nanti biar Ryou yang jagain dia di rumah."
"Baguslah, daripada nanti Hikaru bersedih. Cukup kita saja yang tau. Oh ya, kenapa bisa begini? Apa yang terjadi ma?" tanya Amschel heran, padahal tempat umum itu sangat ramai. Bagaimana bisa orang itu lolos mencelakai Makoto dan Aoi?
Sedangkan di dalam ruang rawat, Aoi sudah sadar. Pandangannya sedikit buram, ia duduk bersandar. Menatap sekitarnya entah ada dimana.
"Anda sedang di rumah sakit karena ada luka tembakan di bagian punggung anda sebelah kanan. Untung saja tidak mengenai organ dalam," jelas seorang suster bernama Sukaru itu.
Aoi teringat, bagaimana kejadian beberapa jam yang lalu menimpa dirinya dan Makoto.
Makoto!
"Suster, suami saya dimana? Dia baik-baik aja kan? Aku ingin melihat kondisinya," Aoi melepas infus-nya dan turun dari ranjang. Sukaru mencegahnya. "Anda istirahat saja. Jangan kemana-mana," tapi tak menjawab pertanyaan Aoi.
Berbeda ruangan, seorang dokter berusaha menyelamatkan denyut jantung Makoto yang mulai melemah. EKG (Elektrokardiogram) itu sama sekali tak menunjukkan aktivitas listrik pada jantung Makoto yang terhenti.
"Ambilkan AED," titah sang dokter pada suster yang menyerahkan AED (Automed External Defribillator) sebuah alat medis yang dapat menganalisis irama jantung secara otomatis dan memberikan kejutan listrik untuk mengembalikan irama jantung yang terhenti.
Meskipun berusaha semaksimal mungkin, tapi detak jantung Makoto berhenti.
"Pasien meninggal, catat jam dan tanggalnya."
Sang suster mengangguk. "Baik."
Saat dokter keluar dari ruang rawat, Karin menanyakan tentang kondisi Makoto.
"Maaf terlambat," Junya baru datang bersama istrinya, Syougo juga ikut.
Amschel menoleh menatap Junya. "Yang sabar, berdoa saja pada Tuhan agar di berikan kesembuhan."
Junya mengangguk. "Itu pasti. Bagaimana kondisi Makoto?"
"Pasien tidak terselamatkan. Kalian yang sabar, semua ini cobaan dari Tuhan. Saya permisi," dokter itu melangkah pergi.
"Apa Aoi akan tau?" tanya Karin menatap Amschel takut-takut, pasti anaknya itu akan syok berat.
Amschel menghela nafasnya. "Percuma kalau hal ini di sembunyikan, nanti juga Aoi akan tau kalau-" ucapan Amschel tersela oleh Aoi yang tiba-tiba datang dengan jalan terseok.
"Ayah! Mas Makoto kenapa? Apa yang mau ayah sembunyikan dari aku?" tanya Aoi beruntun, suaranya tercekat. Hatinya tak tenang saat itu juga.
Amschel menghampiri Aoi. "Ayah sama sekali tidak menyembunyikan apapun sama kamu nak. Sebenarnya-"
Aoi langsung masuk ke dalam, ingin memastikan keadaan Makoto. Tapi yang ia lihat adalah tubuh Makoto yang sudah di tutup dengan kain putih.
Aoi membuka penutup kain itu. Wajah pucat Makoto yang tidur dengan tenang. Aoi tak bisa menahan air matanya, menangis. Seketika dunianya runtuh, ini hanyalah mimpi.
"Mas! Bangun! Jangan tinggalin aku sama Hikaru. Mas, ini mimpi kan? Gak mungkin kamu meninggal padahal tadi kita makan bareng di restoran. Aku gak nyangka kalau itu adalah permintaan kecil kamu yang terakhir," Aoi menangis sesenggukan, sepatah kata pun belum ia katakan pada Makoto di restoran itu. Hanya langsung memesan makanan dan tidak ada perbincangan.
Karin melihat kesedihan Aoi dari jendela. Kasihan, rupanya takdir tak selalu manis dan mulus.
"Jangan ganggu Aoi dulu. Biarkan saja dia berbicara pada Makoto untuk terakhir kalinya. Kalau selesai, pihak rumah sakit akan ikut menyemayamkan Makoto," ucap Amschel, Karin mengerti. Yang terberat adalah berpisah selamanya bukan sementara.
"Mas, siapa yang bakal menemani aku di promenade? Taman kota yang ada pohon cemara. Aku gak mau kesana sendirian tanpa kamu mas," ujar Aoi suaranya melemah, menangis tiada henti membuatnya lelah.
Segala kenangan pun masih di ingat dan tersimpan rapi. Akan selalu ada dan tak pernah di lupakan.
Flashback on
Sejak saat pertama kali dekat dengan Makoto, Aoi tidak nyaman. Terutama mengingat moment terjebak hujan berdua.
"Apa kondisimu sudah lebih baik?" tanya Makoto khawatir.
Aoi mengangguk. Ia terlalu kejam mengabaikan Makoto, pria itu sudah berbuat banyak demi melindunginya.
"Ambilkan tasku di kelas," titah Aoi, rasanya senang juga tinggal duduk manis dan menyuruh Makoto.
"Biar aku suruh temanmu saja," Makoto mengirimkan pesan ke adiknya itu.
Makoto menatap Aoi. "Masih sakit? Apa perlu kita ke rumah sakit saja? Sepertinya kondisimu sangat parah ya," ujar Makoto kasihan.
Aoi berdecak kesal. Kenapa Makoto berlebihan? Memangnya ia sakit hati yang perlu di perikaakan ke dokter? Eh? Tidak akan pernah.
"Kenapa sih lo peduli sama gue?" tanya Aoi heran. Rasanya sulit satu laki-laki saja yang peduli dengannya.
Makoto mendekat. Dan membisikkan sesuatu.
"Karena aku mulai jatuh cinta sama kamu," dengan gampangnya Makoto mengatakan itu.
Rintik hujan yang sangat deras mengguyur kota Cherry Blossom.
"Kenapa harus hujan segala sih? Kalau gini kan gak bisa pulang," gerutunya kesal. Tidak membawa jas hujan lagi, ah dirinya ini memang pelupa.
__ADS_1
"Aku bawa payung," sahut Makoto.
Aoi menoleh. "Payungnya di mobil kan? Ya udah, ambil sana!" titahnya tak mau tau.
"Oke. Aku akan mengambilnya demi kamu," Makoto menerobos hujan, ia rela bajunya basah. Demi Aoi, apa sih yang gak?
"Hei?" Ryuji menyapa, membuyarkan Aoi yang sedang melamun.
"Eh? Kamu, kenapa gak pulang?" sejak kemarin, Aoi suka deg-degan kalau Ryuji dekat seperti ini.
"Ini mau pulang. Bareng yuk, aku selalu bawa jas hujan. Bisa nih berdua," tawar Ryuji.
'Aaa, romantis banget sih. Kalau gini aku mau aja,' batin Aoi berteriak baper. Rasanya sangat beruntung bisa mendapatkan Ryuji.
Ryuji mengambil jas hujannya di dalam tas. Saatnya berdua dengan Aoi seperti di drama romansa, dimana sepasang kekasih satu payung atau jas hujan berdua.
Lalu Makoto datang dengan keadaan basah kuyup. Akhirnya berhasil membawakan payung untuk Aoi. Tapi...
"Ayo Aoi, bareng sama-" Makoto menjatuhkan payungnya. Aoi dengan pacarnya.
"Oh, ya udah bareng aja sama dia," Makoto berubah cuek. Jelas hatinya sakit, berjuang mengambil payung dan rela menerobos hujan tapi Aoi memilih pacarnya.
"Kita pulang. Nanti kamu sakit," ajak Ryuji tak peduli dengan keberadaan Makoto.
Makoto menghubungi Tuan Amschel. "Halo Tuan, Aoi ternyata sudah memiliki pacar. Mereka berdua sangat bahagia, saya sudah mengajak Aoi-"
Ponsel Makoto di rebut paksa oleh Aoi.
"Bisanya cuman ngadu!" Aoi melihat ponsel Makoto, hanya lockscreen foto dirinya yang cemberut. Pria itu tidak menelepon ayahnya!
"Makannya nurut sayang," Makoto menarik tangan Aoi hingga cewek itu jatuh ke pelukannya.
Ryuji tersenyum miris. "Ya udah, aku pulang duluan ya? Nanti malam kayak biasanya," tapi Ryuji tak mau kalah dengan Makoto.
Aoi mengangguk. "Pasti dong," kebiasaan sebelum tidur, Ryuji menemaninya chattingan bahkan sampai tengah malam.
"Ngapain sama dia? Emang main ke rumah kamu? Gak bakal berani! Yang ada di usir sama Tuan Amschel," ucap Makoto sedikit kesal.
"Daritadi marah-marah terus. Udah tua tambah tua," Makoto hari ini seperti cewek saja, gak tau kenapa marah-marah, bilang gak papa, banyak maunya.
"Biarin tambah tua. Ini juga calon suamimu nanti," dengan percaya dirinya Makoto mengatakan itu.
"Jadi pulang gak sih?" Aoi lama-lama gregetan.
"Ya. Ayo," Makoto mengambil payungnya yang terjatuh tadi.
"Lo kenapa? Sakit?"
Makoto menggeleng. "Mungkin hujan-hujanan tadi. Aku udah biasa gini," entah se-berapa khawatirnya Aoi kalau dirinya sakit.
"Tapi wajah kamu pucet banget," Aoi mengecek dahi Makoto yang ternyata panas.
"Habis nganterin kamu pulang, aku bakal istirahat kok. Ciee yang keceplosan manggil kamu," Makoto menoel pipi Aoi.
"Apa sih? Gak usah geer deh. Tadi gue salah ngomong," kenapa mulutnya tidak bisa di rem sedikit sih? Makoto kan jadi baper.
"Jangan marah-marah. Udah muda tambah cantik aja," goda Makoto, sekarang gantian Aoi yang salah tingkah.
"Pulang gak sekarang! Atau aku turun aja. Biarin hujan-hujanan," Aoi yang akan membuka pintu mobil dengan sigap Makoto menguncinya.
"Gak usah berani kabur deh. Gimana kalau ke kafe aja? Kita kan gak jadi kesana, kamu lagi dapet," mungkin tambah romantis jika hujan-hujan seperti ini minum yang hangat, apalagi di temani calon istri. Eaa, aduh dirinya terlalu baper membayangkan itu.
Aoi bergidik ngeri. "Ngapain lo senyum-senyum?"
"Kamu makin hari tambah cantik aja," goda Makoto lagi.
"Semua cowok emang kerjaannya gombal terus ya? Males tau dengernya!" dirinya sensitif dengan bujuk rayu para lelaki, awalnya saja manis tapi akhirnya asam pahit.
"Sama gimana?" Makoto kurang peka. Kenapa cewek mudah marah ya?
"Awalnya aja manis, terus kalau bosen di tinggalin. Nyari yang baru, terus pamer, ya situ gampang move on. Disini? Ya gak gampanglah!" Aoi tanpa sadar curhat dengan Makoto.
"Oh. Aku mana pernah ninggalin kamu. Kan kita juga bakalan nikah. Kalau udah nemu yang paling di sayang dan di cintai, aku gak mungkin nyari yang baru. Apalagi bosen, ngeliat pipi kamu aja aku betah," dirinya tidak se-spesies dengan cowok kebanyakan.
"Buruan! Katanya mau ke kafe! Laper nih," Aoi merengek, moodnya buruk karena tamu bulan.
Daripada di omeli lagi, Makoto sedikit mengebut. Demi Aoi kenyang. Apa sih yang gak buat kamu? Begitu lah batinnya.
Saat sampai di kafe cherry cat, Makoto memilih duduk di di dekat jendela. Melihat pemandangan orang yang berlalu-lalang.
Aoi membuka buku menu. Bingung mau pesan apa.
"Mau makan apa? Jangan yang pedes loh. Bisa di marahin Tuan Amschel nanti," mengenai Aoi itu keras kepala, kemauannya harus di turuti. Makoto sudah tau semuanya tentang cewek tomboy itu dari Tuan Amschel.
"Kalau spaghetti neapolitana gak papa kan? Masa pedes sih," dengan Makoto saja dirinya kurang bebas.
__ADS_1
"Sini, aku pesenin yang lebih sehat aja," Makoto melihat dengan teliti berbagai macam menu. Harganya juga tak main-main.
"Gimana kalau curry and rice aja? Minumannya mango parfait dan makanan penutupnya shortcake. Nah, ini baru sehat," pilihannya tak pernah salah. Yang penting peduli dengan kesehatan saja.
Dan akhirnya makan berdua di kafe, Aoi merasa senang dengan hal manis itu.
Aoi lebih mengingat sesuatu hal dimana ia sendirian dan panik, ketakutan menjadi satu saat terjebak dengan dua preman di ujung gang.
"Beraninya dengan perempuan. Lebih baik kalian pergi," Makoto menarik Aoi ke dalam dekapannya.
"Kamu gak ada yang luka kan?"
Aoi menggeleng. "Awas!"
Makoto menoleh, pelipisnya terkena pukulan balok kayu. Meskipun tidak terlalu kuat, tetap saja rasanya sakit.
"Kamu lari aja. Nanti aku nyusul," Makoto tak ingin Aoi terluka, lebih baik dirinya saja.
"Berani ya?" dengan amarah yang membuncah, Makoto melayangkan tendangan di perut salah satu preman itu, lalu membalas pukulan rahang preman yang sudah membuat wajah gantengnya ini lebam.
"Ampun. Kita pergi aja. Ayo," preman itu mengajak temannya pergi daripada mati tua.
Makoto mencari Aoi, cewek itu duduk di kursi panjang sendirian. Aoi menangis.
Makoto menghapus air mata itu.
"Kok nangis? Emang kamu di apain sama mereka?"
"M-mereka, mau bawa aku ke hot-el," dengan tersedu-sedu Aoi menjawabnya.
Makoto mengerti. "Oh, jangan nangis lagi. Ayo ke sekolah," Makoto menarik tangan Aoi, tapi cewek itu masih duduk.
Aoi menggeleng. "Gak mau. Gue bolos aja hari ini. Gue gak mood buat sekolah," ia masih terbayang-bayang bagaimana kedua preman itu hampir membuka kancing seragamnya dengan leluasa.
Aoi menatap wajah Makoto yang ada lebamnya. Apakah itu sakit?
"Lo terluka. Gak di obatin dulu?" tanya Aoi khawatir.
"Obatinnya di elus kamu ya?" Makoto tidur di pangkuan Aoi. Ia meraih tangan Aoi mengusap lukanya yang terasa perih itu.
"Kenapa jadi di elus? Emang bisa sembuh?" tanya Aoi sedikit ragu, apa hanya sekedar modus saja?
Makoto mengangguk pelan. "Bisa, tangan kamu ajaib. Bisa nyembuhin apa aja. Termasuk luka dan kangenku," gombalnya, mulai lagi deh.
"Iya-iya. Nih gue elus, sekalian aja di tampar biar tambah parah," kesal Aoi, tapi tangannya membelai pipi Makoto yang membiru.
"Jadi adem. Tangan kamu juga wangi, baru mandi ya?" tebak Makoto, biasanya tangan cewek kadang berbau bawang, terasi dan bumbu dapur lainnya.
"Masa gue gak mandi? Emangnya lo bangun tidur cuman cuci wajah aja?" tanya Aoi balik tapi nyelekit di hati.
Makoto tidak marah. Malah ia semakin gemas, kapan ya Aoi bisa jadi cewek feminim yang kalem?
"Kok tau sih? Ngintip ya? Hayo ngaku," Makoto menoel pipi Aoi.
Aoi menyingkiran tangan nakal Makoto. Apa tadi? Ngintip?
"Mending gue ngintip kambing mandi daripada lo. Ogah banget," Aoi menatap lurus, mata Makoto itu membuatnya tak berkedip. Mata sipit, dan berlensa coklat madu membius pesona siapa saja. Termasuk dirinya.
"Masa kita disini terus? Gak jalan-jalan gitu?"
Benar juga, Aoi lama-lama bosan duduk saja.
"Kita ke amusement park yuk?" Aoi tau tempat bermain yang pas, apalagi disana ada boneka teddy bear yang menari.
"Boleh, aku gak pernah kesana. Tapi kali ini sama cewek galak," sedikit menyindir, Makoto melirik Aoi yang menatapnya tajam.
"Ayo. Malah melototin aku, gak copot tuh matanya?"
"Boleh," Aoi mengangguk. "Gue yang akan takut-takutin lo," ia ingin mengerjai Makoto.
Tak ingin berdebat, Makoto meraih kepala Aoi dan ia piting.
"Gak baik kita berantem terus. Akur sekali-kali dong, biar rumah tangga kita-aww" Makoto meringis, Aoi menginjak kakinya.
"Gak usah mimpi deh. Nikah aja belum," tanpa sadar Aoi meminta kode kepada Makoto cepat-cepat menghalalkannya.
Sekarang ucapan Makoto itu kenyataan, menikahinya. Tapi Tuhan mengambilnya.
Flashback off
***
Masih mengingat kenangan yang dulu. Kalau kalian baca episode awal sedih banget jadi Aoi. Kalian kuat gak? Apa nangis juga?
11:42 siang
__ADS_1
See you-,