
Setelah jam kuliah selesai, Haruka mencari Fumie di rumahnya. Tapi tak ada sahutan sama sekali meskipun Haruka mengetuk pintu dan memanggil nama Fumie beberapa kali.
"Fumie kemana sih? Udah sore lagi. Bisa di marahin sama mama nih pulang gak bawa tupperware," Haruka melirik arlojinya, sudah pukul 4 sore.
Saat Haruka berbalik Fumie menatapnya dengan kebingungan.
"Loh Haruka? Kamu ngapain ke rumah? Gak di omelin sama ibu ku kan?" tanya Fumie panik, ibu tirinya itu tak suka dengan orang asing dan lebih mengurung diri.
Haruka menggeleng. "Di rumah kamu gak ada siapa-siapa ya? Daritadi aku ketuk pintunya sama teriak nama kamu gak ada yang nyaut."
"Ada kok. Ibu pasti di kamar lagi tidur makannya gak denger suara kamu. Oh ya, kenapa kesini Haru? Ada apa?"
Dari raut wajahnya, Haruka bisa mengartikan Fumie sedang senang.
"Kamu seneng banget. Darimana?"
"E-aku habis makan di warung. Di rumah gak ada makanan soalnya," jawab Fumie beralasan, padahal baru pulang dari kantor pajak melakukan interview langsung dirinya di terima bekerja disana.
"Emangnya kamu punya uang?" tanya Haruka menyipitkan mata curiga, biasanya Fumie tak uang apalagi membawa dompet.
"Kenapa juga kamu gak masuk kelas? Udah berani bolos?" tanya Haruka lagi seperti mengintrogasi pelaku yang tertangkap basah saja.
"Maaf," Fumie menunduk. "Aku lagi kerja Haru. Keuangan di dalam keluargaku menipis. Mungkin aku bakalan jarang masuk kelas lagi, karena sekarang aku udah di terima kerja kantor perpajakan. Gajinya lumayan Haru, aku gak mau ibuku ngomel-ngomel lagi perkara uang."
Haruka ikut sedih, ternyata hati Fumie se-mulia itu.
"Selamat ya? Tapi kamu bisa ambil jadwal kuliah kok. Gak harus setiap hari."
Fumie mengangguk. "Pasti. Tumben gak sama Aoi?"
"Ck, Aoi itu sibuk terus ngurusi Nakura. Biarin aja lah tuh cewek sendirian di rumah sakit. Apa pentingnya? Nakura udah banyak menyakiti Aoi dan kita," ucap Haruka berapi-api.
"Jangan gitu Haru, kayaknya Nakura benar-benar berubah menjadi baik. Kita damai aja ya sama Nakura? Janji?" Fumie menautkan jari kelingkingnya dengan Haruka. "Janji!" serunya lagi.
Tapi Haruka hanya memasang wajah cemberut.
***
Haruka menghela nafasnya beberapa kali, lama-lama ia bosan ke rumah sakit menjenguk Nakura. Hari ini adalah malam minggu yang seharusnya ia gunakan santai, makan di luar dengan sang mama, atau belanja ke mall sepuasnya. Hanya usul Fumie saja Haruka tak akan mau kalau bukan Fumie yang mengajaknya.
"Hai Aoi!" sapa Fumie ramah. Aoi menoleh.
"Kalian? Eh tau gak kalau Nakura-"
"Iya sebentar lagi aku akan di perbolehkan pulang," sela Nakura, kalau kabar kehamilannya di ketahui sahabat Aoi terutama Haruka yang masih membencinya itu pasti akan menyebar.
Aoi menatap Nakura bingung, cewek itu menggeleng. Aoi mengerti bahwa tak seharusnya memberitahu.
"Kalo udah taruh buah-buahan sama buburnya pulang deh Fumie. Aku mau ke mall sama mama satu jam lagi," Haruka mencari-cari alasan agar tak bisa berlama-lama satu ruangan dengan Nakura.
"Bentar benget Haru? Aku kan pingin ngobrol juga sama Nakura dan Aoi."
"Ya udah kalau gitu aku pulang aja deh. Males," Haruka berlalu pergi.
"Biarin aja. Haruka gak mau malmingnya terganggu kesini Fumie," ujar Aoi menahan labgkah Fumie yang akan menyusul Haruka.
"Iya deh. Gak masalah, aku juga bosen di rumah terus. Makannya aku cari kerja sampingan buat kebutuhan hidupku. Sampai aku bolos gak masuk kelas," ujar Fumie menunduk, rasanya sedih dengan beban hidupnya yang begitu berat setelah kepergian sang kakak.
Aoi mengernyit. "Kerja?" terdengar mengherankan.
__ADS_1
"Ya. Tapi aku ambil jadwal hari lain aja buat kuliahnya. Meskipun udah kerja, tapi aku gak mau berhenti dari kuliah," Fumie menyunggingkan senyumnya.
"Aku salut deh sama Fumie. Kamu niat banget ya mau hidup mandiri gitu. Sedangkan aku? Uang aja masih minta," Nakura ikut nimbrung pembicaraan Fumie dan Aoi, rasanya menyenangkan.
"Makasih Nakura."
"Kamu belum makan nih, ayo makan dulu," Aoi mengambil bigkisan dari Fumie, bubur ayam kesukaan Nakura.
'Tuhan terima kasih sudah mengirimkan Aoi yang selalu menemaniku selama sakit,' batin Nakura tersenyum getir.
***
Malam harinya, Nakura sangat sulit untuk tidur. Bahkan Aoi belum pulang dan masih setia menemaninya, kecuali Fumie yang sudah pulang karena tak ingin membiarkan ibu tirinya sendirian di rumah.
"Kamu tidur aja Aoi, aku nanti. Masih belum ngantuk, ingat kamu jangan begadang demi bayi kamu," ujar Nakura menasehati Aoi.
"Iya deh, tapi kamu juga tidur ya?"
Nakura mengangguk. "Pasti."
Selama berjam-jam akhirnya Nakura mengantuk dan tidur.
Flashback on
Nakura memasuki klub yang sangat ramai, terutama musiknya yang menghentak membuat siapa saja mengikuti iramanya.
Nakura memesan vodka, meneguknya hingga habis sampai pandangnnya mengabur.
Sebelum kesadaran Nakura hilang, seorang lelaki menghampirinya.
Flashback off
Mimpi sebuah petunjuk yang selama ini Nakura lupakan.
"S-siapa dia?" tanya Nakura gugup. Pikirannya berkelana kemana-mana dengan prespektif aneh melemaskan jantungnya.
Nakura menggeleng. "Gak mungkin. Gak! Gak! Kenapa?! Apa dia udah melakukannya kepadaku?!" teriaknya meracau, sangat frustasi.
Aoi yang mendengar Nakura berteriak pun terbangun.
"Kenapa? Kamu mimpi buruk ya? Makannya kalau mau tidur berdoa dulu," Aoi menasehati.
"Aoi," lirih Nakura, suaranya terkcekat.
"Iya?"
"Ternyata di tempat itu ada seorang laki-laki yang menghampiriku sebelum aku pingsan. Entah bagaimana akhirnya aku kembali sadar dan duduk di bartender lagi," jelas Nakura. Wajahnya keringat dingin, Nakura ingin tau siapa laki-laki itu.
"Sudahlah, kamu gak akan tau dia siapa. Aku tau pasti sangat menyakitkan jika anakmu nanti bertanya siapa ayahnya."
"Aku hanya menaruh harapan besar pada Ryuji," cicit Nakura lirih. Biarlah cinta yang di paksakan, Nakura tak bisa berpaling dari cowok senyuman manis itu.
"Biar aku yang akan menyuruhnya berbicara empat mata denganmu."
Nakura memeluk Aoi. "Maksih banyak sudah mau membantuku."
"Sama-sama."
***
__ADS_1
Ryuji yang mendapatkan pesan dari Aoi pun senangnya bukan main.
Aoi
Kamu ke rumah sakit ya?
1:05 pm
^^^Anda^^^
^^^Iya sayang aku kesana sekarang^^^
^^^1:06 pm^^^
Ryuji menyambar jaket dan kunci motornya, sangat langka jika Aoi meminta sebuah pertemuan yang ku inginkan menjadi kebohongan.
Setelah sampai di rumah sakit, dengan langkah semangat Ryuji menuju ruangan dimana Nakura masih di rawat.
Saat langkahnya sudah memasuki ruangan nomor 25 itu hanya ada Nakura.
"Kok Aoi gak ada?"
Nakura yang menyadari kehadiran Ryuji pun senang.
"Kemarilah," pinta Nakura dengan riangnya.
"Males," tapi kedua kaki Ryuji seperti di tahan sesuatu sampai enggan beranjak pergi.
"Aku hamil," ucap Nakura blak-blakan. Ia tak mau terlalu banyak basa-basi, apalagi menyita waktu. Ryuji harus tau secepatnya.
Ryuji menoleh. "Itu bukan anak ku," tekannya tegas, karena Nakura akan menjebaknya kapan pun. Ia harus waspada.
"Bukan anak kamu. Waktu itu aku ke klub dan keadaanku mabuk. Kamu pasti tau akan apa yang terjadi selanjutnya?"
Ryuji mengangguk. "Lalu? Kenapa memberitahu hal ini kepadaku? Semuanya tak ada sangkut pautnya denganku."
"Aku mau kita tetap bertahan. Karena aku benar-benar mencintaimu Ryuji," ungkap Nakura sungguh-sungguh.
"Bertahan?" tanya Ryuji heran. "Bertahan sedangkan anak yang ada di kandungan kamu itu bukan darah daging aku Nakura. Sadarlah!" intonasi suara Ryuji naik, emosi.
"Tapi aku gak mau mencari yang lain. Belum tentu mau dan menerima aku apa adanya. Aku mohon, maafkan segala kesalahan dan perbuatan licik ku," Nakura menyatukan kedua tangannya, harapannya hanyalah Ryuji.
Dengan langkah berat Ryuji mendekati Nakura.
Ryuji mengangguk pelan. "Aku memaafkanmu."
"Terima kasih. Kamu mau kan bertahan? Lagipula kita masih pacaran," Nakura memandang wajah aristokrat yang indah itu, dagu yang runcing dan bibir merah merona membuat Nakura tergoda. Ryuji sangat sempurna.
"Iya. Aku mau menerimamu. Karena aku gak mau kamu sedih dan merasa sendiri. Aku akan selalu berada di sisimu Nakura."
Keduanya saling pandang, kerinduan itu nampak jelas. Kebersamaan yang terkikis dengan jarak yang membentang kini tak lagi dan berubah menjadi magnet yang saling menarik untuk mendekat.
***
Melihat gambar editing sampul dengan senyuman simpul.
1:36 siang
See you-,
__ADS_1