
Seminggu berlalu, Nakura sangat bahagia dengan hari pernikahannya. Meskipun Ryuji hanya menyiapkan tempat yang sama seperti Aoi dan Makoto menikah dulu, wedding chapel.
Hinana menyisir rambut Nakura yang tergerai begitu indahnya.
"Ma, mama dulu pas nikah juga deg-degan gak?" tanya Nakura penasaran, jantungnya berdebar tak karuan.
Hinana mengangguk. "Tentu saja deg-degan nak. Apalagi mama waktu itu nikah muda banget kayak kamu. Hm, tapi ayah ngajak nikah. Karena dia serius sama cintanya, gak main-main dan sekedar janji manis."
Nakura terharu. "Mama beruntung ya bisa dapat laki-laki berhati tulus seperti ayah? Pasti seneng bisa di cintai sebesar itu," dan harapan Nakura adalah Ryuji tetap mencintainya dalam kondisi apapun.
"Kamu juga beruntung bisa dapat Ryuji. Dia sahabat masa kecil kamu. Jangan kecewakan dia ya nak?" Hinana hanya memberikan nasehat pada Nakura, berkali-kali di kecewakan akan menghilangkan rasa kepercayaan.
Nakura mengangguk. "Pasti ma."
"Yuk kita siap-siap dulu. Dua jam lagi acaranya di mulai. Kamu sarapan aja dulu," Hinana meletakkan sisirnya di meja rias, selesai mendandani Nakura yang kini cantik dengan make up tipis.
Di rumah Ryuji, cowok itu duduk dengan memandangi cincin barunya. Tak di sangka hatinya memilih Nakura setelah sekian lama mengejar cinta Aoi yang bertepuk sebelah tangan.
Hikari pun ikut mengintip Ryuji dari belakang. Senyuman nakalnya terpatri. Anaknya itu sedang di mabuk cinta?
"Terus aja di liatin cincinnya. Kamu sarapan aja dulu, kan masih lama tuh dua jam lagi. Biar nanti disana gak laper pas grogi," bisik Hikari lirih.
Seketika Ryuji menoleh ke belakang, sejak kapan mamanya ada disitu?
"Mama? Ngagetin aja. Lagi seneng gini kok makan, nanti aja ma. Aku belum laper," Ryuji sangat malas untuk sekedar sarapan saja, lidah memang beda selera ya?
"Jangan pernah bikin Nakura nangis ya? Kalau sampai nangis hmm liat aja, mama gak bakal tinggal diam," Hikari menyeringai seram. Memang Nakura terkadang curhat dan menangis karena Ryuji, anaknya sendiri.
Ryuji mengangguk pelan. "Pasti ma."
***
Akhirnya acara pernikahan di mulai tepat jam 5 sore. Banyak orang yang berdatangan entah tetangga, kerabat, dan saudara.
Semuanya berjalan dengan lancar, dari pertukaran cincin dan doa. Sampai suatu keadaan yang mengejutkan membua semua panik. Dan...
DOR!
DOR!
DOR!
Tiga tembakan yang memekakan telinga itu membuat semua orang menunduk dan berlindung.
Nakura memeluk Ryuji. "Aku takut, kenapa gini? Apa kita akan baik-baik saja?"
Ryuji mengusap surai Nakura. "Iya, aku akan melindungimu. Sekarang, pegang tanganku."
Nakura mengangguk.
__ADS_1
Aoi, Haruka dan Fumie yang duduk paling belakang pun menunduk di bawah kursi dengan tubuh gemetaran.
"Kok ada suara tembakan? Dan itu deket banget di depan halaman loh," bisik Fumie dengan suara kecilnya.
"Semoga aja mereka gak masuk kesini. Ha? Itu-emm sttt kalian diem," Haruka terbelalak melihat sepasang kaki yang sama, mungkin sekitar 4 orang berdiri tanpa melakukan pergerakan.
Sepi.
Dan di balik masker itu, salah satunya adalah anak buah Ryuji yang dulunya pernah mencelakai Nakura.
"Bagus, merencanakan pernikahan dengan Nakura tanpa memberitahuku? Terima saja pembalasanku Ryuji. Karena aku, juga mencintai Nakura."
Sedangkan Ryuji membawa samurai yang di khususkan saat pernikahan berlangsung. Tangannya bersiap menebas siapa saja yang berani mencelakainya dan Nakura.
"Mau apa kalian?" tanya Ryuji menatap keempat orang asing itu.
Tak menjawabnya.
"Aoi, cepat kasih tau om Kenriki sama bu Fukuie!" pekik Fumie paniklah masa gak jadi, dengan suara lirihnya.
Aoi dengan cepat mengetikkan pesan kepada Kenriki seorang polisi dengan partner-nya Fukuie. Tak lama mendapat balasan bahwa beberapa menit lagi segera datang secepatnya.
Aoi bernafas lega. "Bakalan aman kok, tenang aja," ucapnya menenangkan Haruka dan Fumie sama paniknya.
Tanpa aba-aba revolver di tangan anak buah Ryuji itu siap melepaskan pelurunya, tapi semua itu batal ketika ada suara sirene polisi.
"Kabur, jalan pintas," titah salah satu dari mereka.
"Jangan, nanti kamu kenapa-napa gimana?" Nakura sangat khawatir.
Kenriki, Fukuie dan polisi lainnya pun bergegas masuk mengecek keadaan dan menangkap pelakunya. Namun nihil.
Aoi, Haruka dan Fumie keluar dari tempat persembunyiannya.
"Om Kenriki, mereka udah kabur lewat jalan pintas gitu," lapor Fumie yang mendengar suara lirih dari salah satu penjahat itu, telinganya memang tajam dengan suara-suara kecil patut di acungi jempol.
"Tenang saja, mobil robot otomatis kita akan mengejarnya sampai dapat," ucap Kenriki, tak perlu repot-repot. Sangat beruntung mobil polisi robot itu bisa mendeteksi penjahat yang telah beraksi.
"Kalian baik-baik aja kan?" tanya Fukuie khawatir.
"Hampir saja mereka mau menembak Ryuji dan Nakura bu," jawab Haruka, sungguh menegangkan mendengar pelatuk peluru yang siap di lepaskan.
"Apa kalian ada musuh sampai acara pernikahan ini bisa kacau?" tanya Kenriki mulai mengintrogasi Ryuji.
"Gak kok pak, sama sekali tak ada musuh yang membenciku," jawab Ryuji menggeleng. Ia tak sadar jika itu balas dendam anak buahnya sendiri.
"Saya kurang yakin, ya tapi kalau memang tidak ada sudahlah. Mungkin itu penjahat yang hanya ingin mengacaukan acara penting," ujar Fukuie datar.
"Kami harus segera menangkapnya. Permisi," Kenriki melangkah pergi dan di ikuti oleh Fukuie.
__ADS_1
Aoi menghampiri Nakura. "Kamu jangan bersedih ya Naku? Meskipun kamu sama Ryuji udah nikah, tapi bukannya berlangsung dengan khidmat malah jadi kayak gini."
Nakura mengangguk. "Gak apa-apa yang penting kalian semua gak terluka. Tadi kemana? Kok langsung keluar dari bawah kursi? Sembunyi?"
Fumie tersenyum. "Iyalah Naku, masa kita bertiga main petak umpet. Aku takut banget sama pistol."
"Kalau aku dengar sih para tamu undangan selamat semua, terbukti kok gak ada kegaduhan sebelum mereka masuk kesini," pungkas Fumie, tak ada suara apapun selain langkah kaki yang memasuki wedding chapel.
"Puji Tuhan, syukurlah semuanya selamat. Mending kita pulang aja yuk daripada ada penjahat lagi yang kesini," Nakura tak nyaman, ia ingin cepat-cepat pulang.
"Ayo, aku bawa mobil alpahrd punya ayah," Ryuji meraih jemari Nakura, menggandengnya.
***
BRAK!
"Kenapa bisa gagal? Padahal sedikit lagi aku bisa menyingkirkan Ryuji!"
"Sabar bos, jangan gegabah dulu. Tadi kan ada polisi, pasti seseorang melapor dengan cepat. Aku yakin itu ulah Nakura," sahut yang lainnya.
"Gak, Nakura tadi gak pegang hp sama sekali. Tangannya memeluk Ryuji terus. Dia ketakutan," ujar sang ketua, matanya begitu sedih melihat Nakura berpelukan dengan Ryuji apalagi menikah.
"Bos, kita jangan bersembunyi disini terus. Bahaya bos!"
"Kenapa bahaya? Polisi gak bakalan tau markas kita ini. Inget, hutan belantara yang gelap kayak gini mana mau mereka susah-susah menangkap kita huh?" sang ketua sangat marah.
Suara mobil sirene polisi terdengar kembali.
"Bos! Gimana ini?"
"Ayo kabur bos!"
"Tunggu, kenapa gak ada suara langkah kaki?" tanya sang ketua heran, seharusnya ada tapi hanya sepinya malam dengan jangkrik sebagai pengisi suaranya.
"Coba kamu aja yang cek. Cepetan!"
Mengintip di balik gorden, hanya menemukan 3 mobil polisi. Tapi...
"Bos! Itu mereka datang! Ini mobil robot pelacaknya bos!"
Semuanya ikutan panik.
"Ya udah, ayo kabur lewat pintu belakang sekarang."
***
Bagus lah kalau tau, seharusnya mundur dan menyerahlah. He's my husband please go away don't back again.
2:10 siang
__ADS_1
See you-,