Terpaksa Menikahi Om Om

Terpaksa Menikahi Om Om
54. Kabar baik


__ADS_3

Aoi membuka kelopak matanya, perutnya terasa mual. Aoi beranjak dari kasurnya.


Makoto yang merasakan pergerakan dari istrinya itu heran.


"Tumben bangun jam segini?" Makoto menatap jam dinding menunjukkan pukul 3 pagi.


Aoi mual-mual, Makoto segera mengetuk pintu kamar mandi.


"Aoi? Kamu masuk angin?" tanya Makoto khawatir.


Diam beberapa saat.


"Aoi? Aoi? Aku boleh masuk?"


"Jangan!" seru Aoi panik. "Aku gak apa-apa kok."


"Beneran? Coba kamu keluar dulu. Sini aku pijet dan kasih minyak telon," Makoto tak yakin Aoi baik-baik saja apalagi mualnya itu tak seperti dengan masuk angin.


Aoi menghela nafasnya, kepalanya pun terasa pening.


"Padahal lagi musim semi mas, gak dingin juga, aku malah mual-mual. Aneh," gerutu Aoi kesal, tubuhnya terasa lemas setelah mual.


"Duduk disitu aja. Aku olesin minyak kayu putih," baru saja satu langkah, Aoi meraih tangannya. "Kenapa?"


Aoi menggeleng. "Aku gak suka aromanya. Bikin tambah pusing, buatin aku wedang aja ya? Pleasee," Aoi mengerjapkan matanya.


Makoto mengangguk pasrah. "Iya deh buat kamu apa sih yang gak?"


Aoi menatap kepergian Makoto, memang yang manis itu susah di lupakan rasanya.


Hanya membutuhkan waktu 7 menit saja Makoto datang membawakan wedang semanis kamu untuk Aoi.


"Apa kamu salah makan jadi mual-mual?"


Aoi menyeruput wedang jahe merah itu. Aromanya menenangkan pikiran.


Aoi menggeleng. "Makan pedes aja jarang. Apalagi seafood udah gak sering-sering. Mie instan juga udah aku kurangi mengonsumsinya. Salah darimana?"


Karin yang tak sengaja mendengar pembicaraan itu ingin bersorak saat ini juga. Apa benar? Tidak, Aoi belum di periksa ke dokter.


"Ehem," Karin menghampiri Aoi. "Tumben bangun jam segini? Tadi mama denger ada suara gitu di dapur kirain siapa yang mau masak pagi-pagi."


Aoi menoleh. "Eh mama? Gak ngantuk? Masih jam 3 ini. Apa ayah gak ngigo gitu kalau mama tinggal?" tanya Aoi tersenyum jahil.


"Kalian itu so sweet banget sih. Apalagi Makoto mau bangun demi buatin wedang. Kalau ayah kamu tuh ya huh mana mau malah bilang gini hm, ma ayah masih ngantuk nih bikin aja sendiri ya? Nyebelin lah," gerutu Karin kesal.


Aoi tersipu malu. "Tapi ayah masih tidur kan ma?"


Karin mengangguk. "Masih, nyenyak banget. Ngorok malah, duh berisik banget. Makannya kalau tiap malam susah tidur kalau gak maskeran terus ada timun buat penutup matanya baru bisa tidur."


Aoi tertawa. "Dari dulu gak berubah ma, ayah suka ngorok."


Makoto yang tak tau apa-apa hanya terdiam sepi membisu.


"Hm," Makoto hanya bergumam tapi berhasil membuyarkan tawa Aoi dan Karin.


"Oh ya mama sampai lupa kalau ada Makoto disini daritadi. Hehe maaf ya?" Karin tersenyum kikuk.


"Ya udah ma, aku mau tidur lagi. Masih ngantuk nih," Aoi menguap, matanya terasa berat ingin memejam saat itu juga.

__ADS_1


"Ok, selamat tidur lagi ya. Yang nyenyak tidurnya," Karin melangkah pergi dengan senyuman yang tak bisa luntur, rasanya tak sabar memeriksakan Aoi ke dokter apa benar anaknya itu sudah hamil atau sekedar masuk angin?


***


Saat sarapan pagi, Karin ingin mengajak Aoi ke dokter.


"Kamu sakit ya nak?" tanya Amschel heran. "Panas atau maag-nya kambuh lagi?" Asmchel semakin khawatir.


Aoi menggeleng. "Aku sehat-sehat aja kok yah."


"Mending kamu ikut aja sama mama ke dokter. Tadi malam kan mual-mual. Mau ya?" pinta Makoto.


Karin tersenyum senang, pasti Aoi tak bisa menolaknya.


"Mual-mual? Masuk angin?" mungkin Amschel kepekaannya lebih jauh berbeda daripada Karin yang mengharapkan Aoi hamil.


"Udah yah, mending di periksa aja dulu ke dokter biar cepat sembuh," jawab Karin tenang, tapi sisi lain dirinya juga kepo dengan kondisi Aoi.


Amschel mengangguk. "Iya deh, biar aku yang anterin kesana."


"Terus kamu kerja atau di rumah aja mas?" tanya Aoi tak enak hati, pasti Makoto akan sendirian.


"Kerja sayang. Kamu hati-hati aja."


'Hmm ayah kalau makan lelet banget sih, cepetan dong yah. Aku gak sabar pingin tau Aoi itu hamil apa gak,' gerutu Karin dalam hati tak sabaran.


***


Di rumah sakit, setelah Aoi di periksa Karin mengintrogasi sang dokter mengenai kondisi putrinya itu.


"Selamat ya, putri anda sedang hamil. Dan usia kandungannya baru memasuki satu minggu. Berikan makanan yang bergizi dan sehat dan jangan sampai kecapekan. Saya permisi dulu," dokter itu berlalu pergi.


Aoi keluar dengan wajah syoknya. "Ma? Aku hamil? Tapi gimana sama kuliah aku?" tanya Aoi khawatir, ia masih sangat ingin kuliah dan menikmati masa remajanya.


Karin tersenyum tipis. "Kalau itu sih biar suami kamu aja yang memberikan keputusan nanti. Apapun yang terbaik, ikuti saja ya kemauan Makoto?"


Aoi menghela nafasnya. "Iya ma."


***


Sesampainya di rumah, Karin yang sudah memberitahukan kabar itu melalui telepon mendapat respon baik dari Amschel dan Makoto.


"Makannya cepetan pulang. Aoi kangen berat sama kamu tuh, mau ngomong sama dia gak?"


"Mau banget ma."


"Ma, mas Makoto kan masih kerja masa pulangnya cepet banget?" Aoi sedikit kesal.


"Gak apa-apa Aoi, kan dia kangen banget sama kamu. Apalagi pas mama kasih tau kalau kamu hamil kayak seneng banget. Mending kamu dandan sedikit aja deh, tuh gak pakai bedak lagi kan?"


Aoi mengangguk pasrah. "Dandanin ya ma? Aku gak bisa," dirinya bukan cewek sekarang yang bisa memoles diri secantik bidadari.


***


Haruka memakan camilan dengan santainya. Melihat TV di sore hari memang menyenangkan meskipun sekedar pengisi suasana ramai rumah karena sepi.


"Permirsa kita mendapatkan kabar baik bahwa ahli waris kekuarga Rotschild sudah ada. Aoi Mianami, putri dari Tuan Amschel itu kini tengah mengandung anak pertamanya. Jenis kelamin belum di ketahui. Kita tunggu saja kabar selanjutnya."


Sebuah siaran gosipnet itu membuat Haruka terkejut.

__ADS_1


"Aoi hamil? Wah! Aku bakal jadi tante Haruka dong," senyum ceria Haruka tak bisa pudar dan mingkem, hatinya sangat bahagia dengan kabar ini.


"Harus telepon Fumie nih," Haruka menghubungi Fumie tapi nomor sahabatnya itu sedang tidak aktif.


"Kenapa susah banget ya? Coba lagi deh."


Tapi operator menjawab hal uang sama. Tidak aktif.


^^^Anda^^^


^^^Fumie, Aoi hamil loh. Aku telepon kamu kok gak aktif nomornya? Kamu kenapa Fumie?^^^


^^^03:01 pm^^^


Tak ada balasan, hati Haruka tak tenang. Semoga saja Fumie baik-baik disana.


***


Fumie menghela nafasnya. Sudah 2 jam lebih ia membersihkan rumah dari menyapu, mengepel, menyiram tanaman sampai memotong rumput ia lakukan atas perintah dari ibu tirinya. Meskipun sangat melelahkan, tapi ini sudah termasuk kewajibannya membersihkan rumah setiap hari.


Dua kaki itu berhenti di depannya, Fumie mendongak. Dari sepatunya yang bagus sudah di pastikan sang kakak pulang dari mall dengan teman-temannya.


"Itu di berita kemana-mana teman kamu tambah terkenal aja. Hamil gitu doang di masukin ke berita, apa pentingnya sih? Terus kenapa juga dari dulu kamu berteman dengan Aoi gak kaya-kaya! Sekarang hidup kita masih aja miskin. Turuti apa kata kakak apa susahnya?"


Megumi datang dan mengomeli Fumie dengan alasan yang sama setiap harinya. Tentu saja tentang Aoi, sahabatnya yang paling kaya itu seolah menjadi harta karun dan penyelamat ekonomi keluarganya. Padahal selama ini Fumie tak meminta apa-apa dari Aoi.


Fumie berdiri, ia lebih pendek dari sang kakak hanya sebatas dagu saja.


"Aku berteman dengan Aoi gak ada apa-apa atau niat minta uangnya kak. Aku di biayain Aoi kuliah aja udah cukup dan bersyukur. Memangnya kakak yang selalu menghabiskan uang sampai aku sehari aja makan gak pernah? Kakak punya hati gak? Belanja ini-itu dari uang ibu yang udah bekerja keras banting tulang? Kasihan ibu kak jarang makan dan sering sakit-sakitan," Fumie berani melawan telak kata-kata kakaknya.


"Mau ceramahin aku huh? Masuk sini! Kamu itu cuman beban aja buat keluarga ini! Percuma ibu pungut kamu di jalanan tapi gak bisa bahagian ibu. Dasar adik gak tau diri!"


Megumi menampar Fumie, menendang kaki adiknya itu seolah Fumie adalah manusia paling hina dan menjijikkan di matanya.


"Ampun kak! Sakitt kakak jangan sakiti aku! Kak hiks hiks," Fumie memangis tersedu-sedu.


"Aku gak peduli!" Megumi melangkah pergi setelah puas menyakiti Fumie.


"Maafin aku kak, aku gak mau minta-minta ke Aoi. Aku gak bisa balas semua kebaikannya," Fumie menunduk menteskan air matanya, selalu saja di rumah hatinya gelisah. Perasaan takut di siksa ibu dan kakaknya sendiri terbayang setiap malamnya.


Fumie berdiri dengan jalan terseok menuju kamarnya. Saatnya menangis dalam diam.


Fumie tak ingin menceritakan kesedihannya pada siapapun.


"Kapan aku bisa terbebas dari kalian?" tanyanya lirih, pergi dari rumah bukanlah pilihan terbaik. Justru akan menyulitkan hidupnya, baik ibu dan kakaknya itu pasti akan mencari kemanapun dirinya pergi. Menjadikannya sebagai pembantu di rumah, bukan seorang anak yang membutuhkan kasih sayang orang tuanya.


Fumie menghapus air matanya. "Tapi aku udah senang, Aoi hamil. Aku harus mengucapkan selamat pada Aoi," Fumie meraih ponselnya, tapi baterainya habis.


"Besok aja deh," Fumie mencoba tersenyum kuat.


Sore ini, Fumie ingin tidur. Kalau bisa tidur selamanya, rasanya lelah tak sanggup bagaimana caranya hidup dengan perasaan bahagia.


***


Be patient i'm strong, all is possible.


1:11 siang


See you.

__ADS_1


__ADS_2