Terpaksa Menikahi Om Om

Terpaksa Menikahi Om Om
55. Sendirian


__ADS_3

Malam hari enaknya kumpul dengan keluarga, apalagi sambil nonton ikatan hati dengan camilan tentunya.


"Wah, calon bayinya mau cowok apa cewek Aoi?" tanya Amschel penasaran, pasti sifatnya juga menurun dari Aoi.


"Apa aja yah asalkan sehat. Cewek cantik cowok ganteng. Gak mungkin kan kebalikannya?"


Makoto terkekeh mendengar jawaban istrinya, seharusnya kata-kata itu di persembahkan oleh Ryuji atau Aldebaran.


"Namanya belum ada yah, masih di pikirkan. Kalau kamu cocoknya nama apa?" Makoto beralih menatap Aoi yang serius melihat Ikatan Hati.


"Shizuka bagus. Kalau cowok masih belum tau," nama itu ia ambil sendiri dari pemeran Shizuka di film Doraemon.


"Kaindra. Tajam, anak yang hebat. Ya semoga aja dua sekalian biar ada teman mainnya," Makoto tersenyum menggoda.


Aoi berdecak kesal, dua katanya?


"Satu aja dulu. Gak mau dua barengan!" protesnya kesal. Memangnya mudah bisa kembar sekaligus?


Mereka hanya tertawa mendengar protesan Aoi. Cewek itu kalau kesal entah kenapa cantiknya nambah meskipun ada judesnya sedikit.


***


Amschel yang akan tidur pun merasa terganggu dengan ponselnya yang berdering, entah siapa yang menelpon malam-malam begini.


Saat Amschel melihat namanya, ia langsung tau apa yang akan di sampaikan kalau bukan tentang pekerjaan.


Kenzo.


"Besok? Kenapa mendadak? Apa semuanya sudah tau?"


"Baik, berarti lokasinya berada di Fukuoka? Ok terima kasih," Amschel menghela nafasnya, sangat mendadak dan tidak ada pemberitahuan lebih dulu.


Amschel menghampiri Karin yang duduk menghadap kaca menyisir rambutnya.


"Besok kita keluar kota. Makoto juga ikut karena terlibat kerja sama antar perusahaan juga. Fukuoka, tempat kesukaanmu bukan?"


Karin mengangguk antusias. "Tapi kita ke Chikugo dulu. Mama mau foto-foto narsis sama pemandangan indah disana."


"Iya deh. Tapi aku gak tenang aja kalau Aoi sendirian di rumah. Siapa yang bakal jagain? Anak buahku juga lagi libur akhir bulan, mereka minta cuti karena kelelahan. Aku tidak memaksanya. Apalagi Aoi lagi hamil muda ma," Amschel merasa gundah dan tak tenang, rumah sebesar ini tak memungkinkan ada penyusup yang ingin mencuri atau mencelakai Aoi.


"Aoi kan jago beladiri yah pasti dia bisa kok melawannya," ucap Karin meyakinkan Amschel, bisa-bisa rencana liburannya batal hanya karena meribetkan penjagaan Aoi.

__ADS_1


"Tapi aku akan menelepon Aoi setiap jam memastikan keadannya. Aku bisa mengirim bodyguard baru lagi besok. Calon bayi itu harus di jaga dengan aman ma, keluraga kita ini terkenal. Hal sekecil apapun pasti ada yang tau," pungkas Amschel keukeuh.


"Terserah ayah deh. Kasih tau Makoto sekarang aja, kalau besok kan mepet."


"Ok, aku ke kamar Makoto dulu," Amschel melangkah pergi. Semoga saja Makoto masih terjaga kalau tidur mungkin akan mengganggu.


Amschel mengintip pintu kamar Aoi yang terbuka sedikit. Terlihat Makoto yang menyuapi Aoi.


Kriet.


Amschel mendelik, ketauan pastinya.


Aoi dan Makoto kompak menoleh memergoki Amschel yang sedang mengintip dengan wajah terkejutnya.


"Ayah? Masuk aja jangan disitu, kayak mau ambil camilanku aja," ucap Aoi menahan tawanya, biasanya sang ayah mengambil diam-diam persediaan jajannya di dalam kamar.


Amschel tersenyum kikuk. "Oh ya, kirain kalian udah tidur makannya ayah gak berani masuk takut ganggu."


"Ada perlu apa yah?" tanya Aoi penasaran.


"Makoto, besok kita pergi ke kota Fukuoka. Sangat mendadak memang, tapi ini juga termasuk pekerjaan gak bisa di tolak," mata Asmchel tertuju pada Aoi yang kini menatap Makoto menunggu respon suaminya. Tatapan itu mengartikan bahwa Aoi sedih sekaligus tak rela.


Amschel setuju. "Benar, mama juga ikut. Aoi, kamu di rumah sendirian gak apa-apa kan?"


"Kan aku bisa ajak Haruka sama Fumie main kesini yah," meskipun sedih, tapi kehadiran sahabatnya itu akan mengisi hari-harinya juga.


"Oh, baguslah. Makoto, kamu langsung tidur ya? Berangkatnya pagi biar sampai di sana gak telat. Selamat malam," Amschel melangkah pergi.


"Ayo tidur, udah kenyang kan?" Makoto meletakkan piring yang bersih itu di nakas.


Aoi mengangguk. "Kenyang banget, daripada aku sakit telat makan."


"Iya deh, love you good night my wife," Makoto mencium kening Aoi. (Mencintaimu selamat malam istriku).


"Love you too my husband," Aoi memejamkan matanya, malam terkahir sebelum Makoto pergi. Rasanya sepi dan hatinya akan gampang rindu tentunya. (Mencintaimu juga suamiku).


***


Esoknya Aoi rela bangun pagi-pagi agar bisa sarapan bersama dengan Makoto.


"Kamu mau oleh-oleh kan?"

__ADS_1


"Ya mau dong. Bawain yang banyak ya?"


"Bilangin ke Makoto jaga mata jaga-"


"Hati!" seru Karin antusias, lagu itu sudah ia hafal di luar kepala.


Amschel menatap Karin datar. "Nyaut aja kamu ma."


"Biarin, ayah sih gak pernah dengerin lagunya mana tau lanjutannya kan?"


"Ayah bakal video call kamu selama satu jam sekali. Maaf ayah gak bisa jagain kamu," Amschel ingin di rumah saja menemani Aoi, tapi posisinya sangat penting. Sudah menjadi kewajibannya untuk hadir.


Aoi mengangguk. "Gak apa-apa yah. Itu aja udah cukup buat temani aku di rumah. Semangat yah, ma, mas. Semoga lancar disana."


"Makasih sayang. Jaga diri kamu baik-baik ya? Kalau mau pergi kemana-mana mending ajak Haruka sama Fumie aja daripada keluar sendirian," Makoto memberikan saran, meskipun Aoi pemberani tapi setidaknya ada yang menjaga istrinya itu.


Selesai sarapan, Aoi hanya bisa memeluk mama dan sang ayah sebagai melepas rindu nanti yang belum tentu bisa terobati.


"Bi Idah bakalan pulang kesini kok. Lama banget ya liburannya? Tapi tenang aja, bi Idah pasti temenin kamu."


"Makasih ma. Tau aja dulu aku bulan madunya ke kota Fukuoka daripada jauh-jauh ke Bali," ucap Aoi cemberut, ia iri setelah mamanya itu bercerita tentang keindahan kota yang memiliki pemandangan cans atau cantik itu.


Karin terkekeh. "Tapi kan sama-sama indahnya Aoi. Udah dulu ya? Kami berangkat. Bye bye," Karin memeluk Aoi kedua kalinya, pasti rindunya melebihi rindu LDR-an.


"Bye bye! Hati-hati di jalan!" teriak Aoi lantang, semuanya sudah masuk ke dalam mobil dan pergi. Sendirian, Aoi merasa sedih tak punya siapa-siapa, apalagi keluar kota itu belum tau berapa lama menetap disana.


Seseorang berpakaian serba hitam dan memakai masker itu mengirimkan pesan pada atasannya bahwa Aoi memang sudah sendirian di rumah. Ia menerima balasan bahwa dirinya harus mengawasi Aoi selalu.


Di ruang bawah tanah, Nakura memantau kegiatan Aoi dari kejauhan. Sangat mudah memang apalagi kalau aksesnya tidak di blokir oleh Amschel.


"Kayaknya kalau bermain-main sama kamu seru deh," Nakura tersenyum miring, kapan lagi ia mempunyai akses lampu hijau tanpa pengawasan dari Amcshel?


"Aku gak akan biarkan kamu bahagia! Sedangkan aku menderita karena cintaku baru terbalaskan oleh Ryuji meskipun kenangan masa lalu dan cincin muarahan ini menjadi buktinya. Aku tak akan sudi jika bukan karena cinta Ryuji," Nakura memandang cincinnya datar, ingin ia buang tapi inilah kenangan manisnya dengan Ryuji saat itu.


***


Ketiduran dan hp bunyi ada telepon, ya kaget sih tapi yang telepon dia gpp.


8:36 malam


See you-,

__ADS_1


__ADS_2