
Fumie membangunkan Hikaru yang masih tertidur lelap.
"Hikaru, ayo bangun. Sekarang hari pertama kamu sekolah. Ayo, jangan sampai terlambat. Mau di hukum sama ibu guru?" Fumie menyibak gorden agar sinar matahari memasuki kamar dan membangunkan Hikaru.
"Apa ma? Emangnya udah jam berapa?" Hikaru mengubah posisinya menjadi duduk, matanya masih terasa berat ingin melanjutkan tidur lagi.
"Udah jam lima. Emangnya kamu gak alarm?"
Hikaru menggeleng pelan. "Nanti tidurku terganggu ma."
"Hikaru, kamu sekolahnya yang pinter ya? Jangan nakal dan melanggar aturan. Karena sekolah kamu itu menerapkan sisitem poin ketertiban. Kalau sampai mama tau kamu melanggar, hm mungkin ayah bakal lebih marah sama kamu. Faham kan Hikaru?"
Dengan hati yang merasa terganggu, Hikaru sanggup dan mengangguk. Baiklah jika itu memang untuk kebaikannya.
"Sana mandi. Biar makin cantik."
"Iya mamaku sayang," Hikaru melangkah malas menuju kamar mandi. Bangun pagi demi sekolah, ah ini akan menjadi kebiasannya. Tak bisa tidur sepuasnya.
***
Selesai membangunkan Hikaru, Aoi menyiapkan bekal untuk Hikaru.
"Udah bangun ya? Apa masih tidur?" tanya Karin sambil menyiapkan piring untuk Amschel. "Hikaru suka banget ya tidur," ia mengukir senyumnya.
"Kayaknya niru dia tuh ma," Aoi melirik Makoto yang memakan jeruk sambil melihat layar ponselnya, sudah tau waktunya makan masih saja pegang benda sok penting itu.
"Kalau makan ya di taruh dulu dong. Sini dulu," Aoi mengulurkan tangannya di depan Makoto.
"Kenapa? Aku masih-"
Tanpa perlu ba bi bu Aoi mengambil ponsel Makoto. Hanya menyitanya saat makan. Selesai ia kembalikan.
"Makan dulu. Lama-lama kamu pacaran sama hp sendiri," cibirnya malas.
Makoto tersenyum, Aoi cemburu. Pasti istrinya itu mengira ia bertukar pesan dengan wanita, nyatanya tidak pernah sekali pun.
"Percayalah aku gak chat dengan wanita manapun. Karena hati aku cuman ada kamu. Ingat gak sama janji kita di pernikahan?"
Aoi menghela nafasnya. "Saya berjanji akan menjaga cinta suci ini sampai maut memisahkan, Tuhan bersaksi. Gitu kan mas?"
Maoto mengangguk. Tangannya mengusap surai Aoi. "Pinter banget istriku yang cantik ini."
"Apa sih mas gombal!" Aoi menyingkirkan tangan Makoto, wajahnya memerah karena salah tingkah.
"Mama. Aku masih ngantuk tau," Hikaru berjalan dengan lesu menuju meja makan. Langkahnya gontai tak bersemangat di pagi yang cerah tapi hati mendung.
"Kamu harus sekolah. Biar punya teman baru, pasti kamu seneng," Aoi tersenyum tulus.
Hikaru duduk. "Mama, aku makan sedikit aja ya?" nafsu makannya hilang tiba-tiba, rasanya malas untuk sarapan meskipun yanya selembar roti gandum dan susu coklat kesukaannya.
"Kenapa sedikit nak? Nanti kamu sakit, lapar loh. Yang banyak ya? Apalagi sekarang hari Senin. Upacara kan? Udah panas, harus kuat dong. Kalau gak nanti sakit di suruh pulang. Hikaru gak mau kan pulang?"
Hikaru menggeleng. "Gak mau, aku pingin main sama teman baru disana," membayangkan punya teman baru yang bisa diajak bermain, pasti seru.
"Kalau gitu, ayo di habisin. Terus berangkat ke sekolah."
__ADS_1
Selesai sarapan, Hikaru melangkah keluar rumah tepatnya halaman. Menunggu sang ayah mengantarkannya ke sekolah.
"Ayah! Ayo cepetan! Nanti aku terlambat di hukum sama bu guru loh yah!"
Teriakan Hikaru itu menyudahi obrolan Makoto dengan Amschel soal bisnis.
"Aku berangkat dulu ya? Nganterin Hikaru tuh. Udah semangat banget ke sekolahnya," pamit Makoto pada semuanya.
"Hati-hati ya mas."
"Iya sayang. Kamu di rumah sama mama aja ya? Temenin Aoi ya ma?"
Karin mengangguk itu pasti. "Iyalah, bosen kerja terus. Libur seminggu juga gak apa-apa."
"Berangkat dulu ya? Bye bye muach jangan kangen," itu Amschel yang cium jauh kepada Karin, istrinya itu hanya mendengus. Kumat lagi modusnya.
"Apa? Sana berangkat. Siapa juga yang kangen," Karin berpaling dari tatapan Amschel.
"Nanti juga mama bilang duh ayah lagi ngapain ya? Jadi kangen nih," Aoi jujur, biasanya mamanya itu curhat jika sudsh bosan tak tau harus melakukan apa.
"Awas aja-udah pergi," Karin ingin mengomeli Amschel, tapi suaminya itu sudah keluar di ambang pintu.
Di dalam mobil, Hikaru bermain tebak-tebakan dengan Amschel.
"Kenapa setelah hujan ada pelangi?"
Hikaru tampak berpikir. Sangat susah untuk di jawab.
"Gak tau. Emang apa om?" Hikaru terkadang memanggil Amschel om atau kakek, tapi lidahnya terbiasa om. Mungkin karena Amschel tampak masih muda.
"Karena setelah hujan menangis, pelangi datang membawa sebuah kebahagiaan," jawab Amschel.
"Aku gak suka hujan karena sedih. Pelangi selalu bahagia," Hikaru masih belum faham tentang cuaca.
'Baguslah kalau gak suka hujan, daripada nanti sakit terus demam,' batin Makoto. Hikaru selalu menurut jika itu tak di perbolehkan.
Tak lama kemudian sampai di sekolah. Makoto berpesan pada Hikaru agar langsung pulang dan ia akan menjemputnya.
"Iya ayah. Aku langsung pulang kok. Mau main sama mama juga. Em-itu yah uang sakunya?"
"Emang belum di kasih?"
Hikaru menggeleng pelan. Tadi mamanya hanya menyiapkan buku pelajarannya dan sarapan, tak sempat memberikan uang saku.
"Ya udah. Nih, jangan di habisin semuanya. Di tabung ya?" Makoto memberikan uang lima ribu pada Hikaru, tak perlu banyak-banyak karena Hikaru juga belum mengerti tentang uang.
"Siap ayah! Nanti aku tabung sampai banyakk banget uangnya," ujar Hikaru riang.
"Bye ayah. Aku masuk ke kelas dulu ya bentar lagi upacara nih."
"Bye juga nak. Semoga sukses ya!"
Setelah Hikaru masuk ke dalam halaman sekolah. Makoto melajukan mobilnya menuju kantor.
***
__ADS_1
Selesai upacara, Hikaru duduk di bangku paling depan.
"Disini lebih keliatan. Daripada di belakang nanti aku gak keliatan sama ibu guru," Hikaru meletakkan tasnya, menyiapkan sebuah buku dan satu pensil beserta kawannya penghapus. Pelajaran pertama akan di mulai.
Seorang anak perempuan berkucir dua menghampiri Hikaru. Menyapanya.
"Hai! Namamu siapa?"
"Hikaru. Kamu?"
"Aiko. Aku boleh gak duduk disini?"
Hikaru mengangguk antusias. "Boleh banget. Biar kita bisa jadi teman baru."
"Iya dong, teman sekelas dan main. Oh ya, kalau boleh tau rumah kamu dimana? Biar aku bisa main kesana."
"Alamatnya jalan sakura nomor 4 terus di gerbang ada tulisan Rotschild. Kamu tau kan?"
Aiko berpikir. Nama itu terdengar familiar. "Tau kok. Itu kan rumahnya teman mamaku namanya tante Aoi."
"Benar banget! Emang kamu kenal mamaku?"
"Halo selamat pagi anak-anak," seorang guru perempuan berkacamata memasuki kelas.
"Hari ini hanya perkenalan dulu ya? Gak apa-apa kalau mau maju. Hanya menyebutkan nama, alamat dan nama panggilan."
"Saya bu!" Hikaru mengangkat tangannya, agar ia pertama kali dikenal di kelas.
"Silahkan maju ke depan."
Aiko berdecak kagum. "Wah, Hikaru berani banget. Aku aja nunggu semuanya udah selesai."
"Hai namaku Hikaru Rotschild. Alamatku di jalan sakura nomor 4. Panggil aja Hikaru. Semoga kalian jadi teman baruku," dengan senyuman yang ceria Hikaru memperkenalkan diri.
"Apa? Rotschild? Itu kan presiden kita?"
"Wah, beruntung banget satu kelas sama anak presiden."
"Pasti kaya nih."
"Hey, jangan macam-macam. Dia itu baik."
"Siapa juga yang macam-macam sama Hikaru. Pingin tau aja rumahnya pasti mewah."
"Baiklah, Hikaru. Silahkan duduk. Sekarang giliran yang lain."
Hari ini, Hikaru langsung dikenal sebagai anak presiden karena nama belakang Rotschild itulah menunjukkan identitas dirinya.
***
Ngebut cepet upload.
7:12 malam.
See you-,
__ADS_1