Terpaksa Menikahi Om Om

Terpaksa Menikahi Om Om
66. Ryuji melamar Nakura


__ADS_3

Pagi ini, Ryuji membeli cincin di toko emas. Toko yang dulunya juga di kunjungi oleh Aoi dan Makoto.


Ryuji melihat berbagai cincin indah yang berkilau, semuanya akan pas dan cantik di jari manis Nakura.


Ryuji tak peduli dengan keadaan Nakura saat ini, cintanya sudah sebesar ini pada Nakura.


Pilihan Ryuji jatuh pada cincin aquamarine.


Selesai membeli cincin, Ryuji ingin melamar Nakura di rumah cewek itu sendiri. Kedua orang tuanya pun sudah pulang. Untuk hal itu, mereka belum mengetahuinya.


***


Berbeda dengan Aoi yang kesal setengah mati, memang dirinya sedang sarapan, tapi 4 bodyguard-nya itu memandanginya.


"Ya, tau kalau aku cantik. Gak usah liat sampai gak kedip juga kali," Aoi kembali memakan sandwich-nya.


"Sarapan, duduk aja lah. Apa kalian gak lapar?" tanya Aoi heran, semuanya menampilkan ekspresi yang sama.


"Kami udah kenyang," jawab Ryou menggeleng.


"Kenyang? Makan angin apa cinta?" tanya Aoi dengan terkekeh, bahkan mereka pun sama sekali tidak menunjukkan senyumannya. Apa mereka masih hidup? Entahlah, Aoi sangat penasaran dengan senyum indah milik Ryou.


"Sudah kenyang. Nona makan saja yang banyak agar bayi nona sehat," sahut Nonomura.


Ryoto lebih banyak diam, sama halnya dengan Tsubasa kalau tak penting. Ryou dan Nonomura lebih easy going.


"Ok, tapi kalau lapar ambil saja makanan di kulkas. Jangan di habisin!" seru Aoi mendelik tajam.


***


Di rumah Nakura, cewek itu lebih ceria dari sebelumnya. Meskipun dirinya sedang hamil, tapi kedua orang tuanya tidak tau. Nakura belum siap memberitahukannya.


"Kamu masih sering ke klub?" tanya Ryuma setelah menghabiskan rotinya.


Nakura mengangguk, untuk hal ini ia harus jujur. Percuma saja ayahnya itu sangat tau kebiasaannya.


"Yah, tapi sekarang aku udah gak mau ke klub lagi," lirih Nakura dengan sedihnya.


"Kenapa gitu?" tanya Hinana heran.


"Megumi meninggal. Mama sama ayah gak tau, aku kecelakaan. Melewati itu semua sendiri," kedua mata Nakura berkaca-kaca.


Ryuma dan Hinana terkejut.


"Maafin kita ya nak, janji. Kita gak akan terlalu sibuk dengan pekerjaan. Karena kamu adalah harta paling berharga bagi mama," Hinana memeluk Nakura dan mengecupnya sayang.


Nakura mengangguk. "Makasih ma."


"Bagaimana hubunganmu dengan Ryuji? Masih pacaran?" tanya Hinana menggoda Nakura, anaknya itu tersenyum malu-malu.

__ADS_1


Nakura mengangguk pelan. "Masih ma, bahkan Ryuji akan-"


"Nakura? Nakura?" suara Ryuji dari depan rumah dan bel di tekan tiga kali itu membuat hati Nakura senang.


Dengan langkah tergesa, Nakura membukakan pintunya.


"Iya? Ada apa? Tumben banget kamu kesini pagi-pagi. Mau ngajakin aku jogging?"


Ryuji menggeleng. "Gak di ajak masuk nih? Masa berdiri disini terus, pegel kaki ku Naku," jawab Ryuji berpura-pura lemas.


"Oh ya, ayo masuk," hati Nakura berdebar-debar berdekatan dengan Ryuji, cintanya pada cowok itu tak pernah kurang dan selalu bertambah setiap harinya.


"Eh Ryuji," Hinana tersenyum hangat pada Ryuji yang kini duduk bersebelahan dengan Nakura.


"Halo mama Hinana, halo ayah Ryuma. Aku rindu banget sama kalian, udah lama banget hampir satu bulan keluar kota. Aku selalu menemani Nakura," Ryuji menatap Nakura yang hanya menunduk malu-malu.


"Terima kasih banyak ya Ryuji. Kami hanya menitipkan Nakura padamu. Ada perlu apa kamu kesini?" tanya Hinana ramah.


Ryuji merogoh kotak cincin di saku celananya. Di bukanya kotak beludru merah itu, cincin aquamarine yang indah.


Nakura terkejut, tak bisa berkata-kata. Ryuji melamarnya? Benarkah ini?


"Would you be my wife to married with me?" Ryuji menatap lekat Nakura, hatinya terasa lega setelah mengungkapkan perasaannya yang serius ini. (Maukah kamu menjadi istriku untuk menikah denganku?)


Nakura mengangguk. "Iya, aku mau."


Ryuji tersenyum. "Sini jari manis kamu."


"Kamu serius dengan anak saya?" tanya Ryuma tak percaya.


Ryuji mengangguk. "Serius yah. Aku akan menikahi Nakura. Seminggu lagi persiapannya sudah siap."


"Kalau memang itu yang terbaik buat Nakura, aku setuju aja. Bahagiakan Nakura ya?" Hinana ikut senang akhirnya Ryuji benar-benar serius dengan anaknya.


***


Nakura memencet bel beberapa kali, ke rumah Aoi dan memberikan kabar baik. Pasti Aoi juga ikut senang.


Bukan Aoi yang membukakan pintunya, melainkan 4 pria berbaju hitam dan kacamatanya yang kece itu. Tentu membuat Nakura bingung dan heran. Siapakah mereka?


"Anda siapa? Kenapa mencari nona Aoi?"


"Perlihatkan identitas anda."


Nakura berdecak kesal. "Aoi! Aoi! Aoi cepet kamu kesini!" teriak Nakura lantang, tak ada pilihan lain memanggil Aoi langsung biar pria-pria di hadapannya ini tau bahwa jati dirinya ini Koko Nakura.


Aoi yang menonton tv mendengar suara menggelegar Nakura pun segera berlari tergesa-gesa. Entah ada apa di luar.


"Iya Nakura?" Aoi menatap datar bodyguard-nya itu. Oh ternyata ini biang keributannya.

__ADS_1


"Kalian masuk aja deh. Ini sahabatku, bukan penjahat," tekan Aoi kesal, semuanya pun mengangguk dan masuk ke dalam. Untung saja menurut.


"Mereka siapa sih? Sok kepo banget sama aku."


"Biasalah, pengawalku yang bakal jagain sampai mas Makoto pulang dari Fukuoka."


"Oh pengawalmu. Sini deh," Nakura menarik Aoi duduk di ruang tamu. "Aku ada kabar baikk banget buat kamu. Gak nyangka lah pokoknya."


"Apa nih? Kamu seneng banget."


"Ryuji melamar aku! Aaa pas banget ada mama sama ayahku. Mereka setuju dan merestuinya!" pekik Nakura heboh.


Aoi menganga tak percaya. "Wah? Benaran? Selamat ya Nakura. Ada calon ayahnya nih."


Nakura terkekeh. "Ya dong, jangan lupa nanti seminggu lagi aku sama Ryuji bakalan nikah. Ajak Haruka sama Fumie ya?"


Aoi mengangguk. "Pasti."


Tak jauh dari keduanya, para bodyguard hanya mendengarkan sampai bosan.


"Kenapa kalau cewek sama cewek kumpul bisa seheboh itu?" tanya Tsubasa heran.


"Mereka kan suka gosip juga. Nyambung aja sih apa yang di omongin," jawab Ryou ada benarnya.


"Sepertinya nona Aoi sangat bahagia mendengar kabar dari temannya itu," ujar Nonomura. Senyuman Aoi begitu lebar dan tulus.


"Berarti cewek itu sering kesini ya? Apalagi tuan Makoto kan lagi kerja. Aoi jadi gak merasa kesepian," sahut Ryoto setelah terdiam tak tau apa-apa.


Ryou mengangguk. "Pasti. Yang terpenting nona Aoi bahagia."


***


Malam ini, Aoi mengajak Nakura, Haruka dan Fumie ke mall untuk merayakan Nakura yang sudah di lamar oleh Ryuji. Aoi juga menyuruh bodyguard-nya jaga jarak karena mereka berempat itu suka kepo.


Haruka juga ikut bahagia, akhirnya Ryuji langsung move on secepatnya.


"Cepetan nikah deh," titah Haruka tak sabaran, biar Ryuji tak mengganggu Aoi lagi.


"Eh, belum Haru. Baru aja Ryuji melamar Nakura masa langsung nikah. Ya butuh persiapan dulu," sahut Fumie sedikit ngegas.


"Apa kamu juga pingin kayak aku?" tanya Nakura pada Haruka, langsung terdiam. "Haha, semoga kalian berdua nyusul juga ya?"


"Amienn semoga Tuhan memberkati," Aoi ikut mendoakan Haruka dan Fumie.


"Amienn," ucap Haruka dan Fumie kompak.


***


Lega lah Nakura sama Ryuji. Tapi...apa berjalan lancar pernikahannya? Atau...hm tunggu aja yo.

__ADS_1


2:25 siang.


See you-,


__ADS_2