
Di hari Minggu, akhirnya Hikaru bisa beristirahat di rumah. Acara puncak-nya sudah selesai, sangat melelahkan.
Omah Eva memasuki kamar Hikaru. "Hikaru capek?"
Hikaru yang tadinya rebahan pun mengubah posisinya menjadi duduk. "Gak kok. Lebih nyaman di rumah daripada di tenda kayak kemarin."
"Besok kamu sekolah?"
Hikaru mengangguk. "Iya dong. Aku kangen banget belajar apalagi ke kantin, disana banyak makanan loh. Omah gak mau nyobain?"
Omah Eva menggeleng. "Gak usah Hikaru, makan disini aja udah cukup. Kamu gak nyiapin pelajarannya buat besok?"
"Nanti aja omah. Aku masih capek banget. Kan aku belajarnya pas malem, jadi sekarang aku boleh main dulu," Hikaru beranjak dari duduknya, tapi langkahnya berhenti ketika omah Eva mengatakan...
"Mau gak belajar sama omah? Kamu pasti tambah pinter di sekolah nanti," bujuk omah Eva, sebenarnya ini hanya berlaku untuk Hikaru saja. Sangat penting.
"Belajar?" Hikaru mengernyit heran. "Emangnya omah mau ngajarin aku apa? Gak ada PR kok," ungkapnya, semua tugas di kerjakan saat sekolah jika PR hanya sebagai nilai tambahan atau bisa melanjutkannya di rumah.
"Kamu duduk aja di meja belajar. Omah ambilin dulu bukunya."
"Omah, jangan lupa bawa makanan juga. Aku bakalan laper pas lagi belajar," tambah Hikaru, makanan teman belajar yang pas. "Tapi jangan yang pedes, rasa rumput laut aja."
Omah Eva mengangguk. "Iya siap deh."
Omah Eva mengambil dua buku yang lumayan tebal seperti kamus bahasa. Dua buku itu tentang ekonomi dan bisnis. Ya, Hikaru harus belajar ini sejak awal agar menjadi penerus yang baik.
"Hikaru pasti langsung faham sama semua teori yang ada di buku ini," omah Eva tersenyum, otak Hikaru pasti sama dengan Aoi meskipun sedikit lama memahaminya.
Hikaru menunggu. Entah apa yang akan di pelajarinya dengan omah Eva hari ini.
"Sebenernya aku gak mau. Tapi karena omah yang ngajarin aku, seneng deh."
"Hikaru, nih omah udah bawa makanannya," omah Eva meletakkan camilan rasa rumput laut itu di meja yang dekat dengan Hikaru duduk. "Dan ini, adalah buku yang bakal omah jelasin ke kamu."
Hikaru masih bingung. "Omah, kok bukunya tebel banget? Emangnya aku harus baca ini sampai selesai?"
Omah Eva menggeleng. "Kamu harus memahaminya. Kita mulai ya."
"Pengertian ekonomi bisnis adalah bidang ekonomi terapan yang mempelajari masalah keuangan, organisasi, terkait pasar, dan lingkungan yang di hadapi oleh perusahaan."
"Perusahaan? Itu apa?" tanya Hikaru, ia masih tak mengerti dengan maksud omah Eva. "Ekonomi? Kok ada uangnya. Ini pelajaran apa?" terlalu banyak tanya, tapi di sekolahnya sama sekali tak ada ekonomi.
"Biar kamu nanti setelah lulus sekolah jadi penerus keluarga. Dan, kamu pasti di kasih semuanya. Termasuk kantor, mobil, helikopter. Itu bakalan jadi milik Hikaru. Rumah ini juga," jelas omah Eva.
"Wah! Aku mau banget omah. Ayo, aku jadi semangat nih belajarnya," Hikaru sangat antusias, kalau semua itu untuknya.
"Karakteristik ekonomi dalam bisnis itu ada tiga. Pertama, ekonomi bisnis berarti penerapan konsep ekonomi, terori dan prinsip dalam kegiatan bisnis. Kedua, ekonomi dalam bisnis terkait dengan ekonomi mikro terutama terkait dengan masalah unit individu. Yang terakhir, ekonomi dalam bisnis juga berkaitan dengan ekonomi makro. Seorang pengusaha juga harus mampu mempelajari konsep ekonomi makro seperti Pendapatan Nasional, Siklus Bisnis, Hubungan Perburuhan, Kebijakan pemerintah tentang perpajakan, anggaran, masalah moneter dan perdagangan internasional, dll."
"Gimana? Kamu faham?" omah Ev menatap Hikaru yang serius memperhatikan buku yang ia pegang. "Mau baca?"
Hikaru mengangguk. Tangannya membuka lembar demi lembar secara acak. Sampai ia menemukan angka-angka yang sama seperti matematika di sekolahnya.
"Ini kok ada matematika? Kata omah ekonomi yang jelasin tentang uang. Apa perlu di hitung juga ya?"
Omah Eva mengangguk. "Itu namanya akuntansi nak. Apa kamu mau belajar itu?"
Hikaru mengangguk lagi. Tentu saja. "Tapi, ada mata uang Yen. Banyak banget ya uangnya," ia meneliti angka nol yang tertera di buku. Aduh jadi kesulitan deh jelasinnya bagaimana.
__ADS_1
"Hikaru! Ayo sarapan! Kamu masih tidur? Loh?" Aoi terkejut, melihat Hikaru tampak serius belajar dengan omah Eva. Tangannya menghitung sesuatu.
"Hikaru? Kamu belajar apa sama omah?" tanya Aoi menyelidik, curiga. Bisa saja omahnya itu memberikan pelajaran sulit.
"Udah dulu ya belajarnya. Sekarang ayo sarapan dulu. Masa pagi-pagi udah belajar, jangan mikir dulu nak. Nanti kamu sakit," ucap Aoi khawatir. Hikaru tak menghiraukannya. Ia di cuekin.
"Omah, aku ingin bicara," Aoi sudah berusaha sabar. Hikaru sekarang tak peduli dengannya semenjak omah Eva ada.
Di luar kamar Hikaru, Aoi dan omah Eva berbicara empat mata.
"Kenapa omah ngajarin Hikaru matematika? Itu tadi menghitung uang. Apa omah gak kasihan? Hikaru gak bisa berhitung," tekannya kesal. Hikaru lemah dalam matematika apalagi menghitung. Anaknya itu akan berpikir keras.
"Aww pusing," keluh Hikaru tangannya meremas buku yang ia bawa. Sampai tenaganya tak kuat menahan berat, buku tebal itu terjatuh bersamaan dengan Hikaru yang pingsan di lantai.
"Hikaru! Ya ampun nak. Bangun," dengan langkah tergesa Aoi menghampiri Hikaru. Aoi menggendong Hikaru, menidurkannya di kasur.
Aoi mengecek dahi Hikaru. "Panas."
Omah Eva tak peduli, langkahnya pergi menjauh dari kamar Hikaru. Ia tak mau ikut campur dan di salahkan lagi.
Aoi menelepon Makoto. "Mas, Hikaru pingsan. Cepetan pulang," Aoi panik, Makoto sedang ada di luar membeli garam sesuai titahnya tadi.
"Hikaru pingsan? Iya, aku segera kesana."
"Hikaru, bangun. Kenapa kamu harus nurut sama omah? Jadi kayak gini kan. Udah capek dari puncak kamu malah sakit tiba-tiba," Aoi menatap Hikaru yang memejamkan matanya, bibirnya pucat.
"Kenaoa bisa pingsan?" Makoto datang dengan langkah cepat menghampiri Aoi. "Apa dia kecapekan?"
Aoi menggeleng. "Semua ini karena Hikaru belajar berhitung dengan serius. Dia belum sarapan mas. Omah malah nyuruh Hikaru belajar. Kamu tau apa yang di ajarin omah?"
Makoto menggeleng. "Apa?" tanyanya tak sabar. Hal apa yang omah sampaikan pada Hikaru sampai merasa kelelahan.
"Dimana bukunya?"
Aoi menunjuk meja belajar Hikaru, dua buku tebal seperti kamus bahasa itu membuat Makoto berdecak kesal.
"Ini buku ayah kamu Aoi. Kenapa bisa sampai di tangan omah?"
"Aku juga gak tau mas. Bisa aja omah masuk ke kamar ayah dan ngambil itu," jawab Aoi menggeleng. Padahal kamar ayahnya itu sudah di kunci.
"Aku telepon dokter dulu."
Aoi menatap Hikaru sedih. "Cepat sembuh ya nak."
***
Setelah di periksa dokter dan menjelaskan kondisi Hikaru tak boleh terlalu memikirkan hal berat.
"Apakah sebentar lagi Hikaru sadar?"
Sang dokter mengangguk. "Iya, saya permisi dulu."
"Bagaimana kondisi Hikaru Aoi?" Karin memasuki kamar, ia sangat khawatir dengan cucunya itu. "Kok bisa pingsan? Apa Hikaru telat makan?"
Aoi dan Makoto saling lirik. Haruskah di jelaskan bahwa semua ini karena omah Eva?
"Hikaru-" belum selesai Aoi menjawab, Amschel tiba-tiba masuk.
__ADS_1
"Kenapa Hikaru sakit? Udah mendingan kan?" Amschel datang, baju piyama dan rambut yang awut-awutan khas bangun tidur keluar dari goa.
Aoi mengamgguk. "Udah kok. Ayah baru bangun?"
"Kamu mandi sana. Jam segini baru bangun. Tadi udah di teriakin susah banget gak bangun-bangun. Sana ihh, kamu bau asam," Karin mendorong Amschel menjauh dari jaraknya yang tadinya dekat sekarang menjauh tanpa alasan hm.
"Mandiin," Amschel cemberut.
Karin terbelalak. "Enak aja. Mandi sendiri sana. Gak usah aneh-aneh atau kamu tidur di-"
"Iya ya ah. Kenapa ancamannya tidur di luar? Dingin, banyak nyamuk genit yang gigit aku."
"Kita kalah mas, pagi-pagi gak bisa romantisan. Aku masak dan mas ke warung beliin belajaannya," celetuk Aoi, jangan iri dong Aoi.
"Kan mama juga bantuin kamu," elak Karin, padahal masih sibuk membangunkan Amschel.
"Mama di kamar sama ayah. Aku di dapur nyiapin makanannya."
"Sayang, senyum," Makoto membujuk Aoi. "Nanti aku bantuin kamu juga."
"Iyaa bantuinn. Kalau udah selesai belanja langsung pulang, bukan asyik ngobrol sama ibu-ibu mas," Aoi lama-lama gemas ingin mecubiti Makoto.
"Siap ibu negara!"
"Kok kita kayak obat nyamuk ya?" tanya Karin pada Amschel.
"Nyamuk? Ma, jadi nyamuk itu gak enak. Masa kerjaannya gigitin aku terus tiap malem," keluh Amschel, padahal lupa tak memakai lotion anti mantan, nyamuk.
"Itu kamu gak mau pake nyamukan. Udah aku kasih malah gak mau, kalau pakai nyamukan gak akan di gigit," Karin selalu memberikan merk lotion anti-nyamukan.
"Kapan akurnya ma?" tanya Aoi heran. "Sekali-kali gombal."
"Aku gak pandai merayu nak. Apalagi gombal receh," jujur Amschel, melukuhkan Karin karena ia memiliki jiwa tampan dan pemberani melamar di depan orang tuanya.
"Gak pandai merayu? Status WhtasApp kamu gombalan semua. Jangan ngerjain aku. Ikan hiu makan kaca. I love you buat yang baca. Kalau yang baca cewek gimana? Nakal kamu ya," Karin memukuli lengan Amschel kezel.
"Kamu beda lagi. Rintik hujan dan sendu. Aku lagi rindu. Aku disini ma, tinggal peluk aja rindumu akan terobati."
"Ma, yah. Kalian keluar dulu ya? Hikaru pingin istirahat. Lanjut aja ributnya di luar," pinta Aoi, kalau sudah mode ribut mama dan ayahnya rame. Dua suara seperti di pasar Senin kan sekarang?
"Eh nanti tambah rame loh sayang."
"Mama sama ayah emang gitu mas. Tapi nanti baikan lagi damai tentram. Kalau ayah beliin produk terbaru buat mama. Mas, gak sarapan? Makanan udah siap di meja, biar aku disini sama Hikaru."
"Tapi kan kamu harus makan juga. Aku bawain kesini ya?"
Aoi mengangguk. "Makasih mas."
"Kembali kasih untukmu sayang."
Aoi berpaling, pasti pipinya merah-merah tersipu.
***
Merenung dan berkelana dengan pikiran yang tak karuan.
11:51 siang.
__ADS_1
See you-,