Terpaksa Menikahi Om Om

Terpaksa Menikahi Om Om
75. Lucu


__ADS_3

Selama Makoto makan di kantin, beberapa suster yang sedang lewat itu menyapanya ramah tapi senyumannya itu seperti menyukai Makoto pada pandangan pertama awal berjumpa.


"Pagi pak."


Makoto mengangguk. "Pagi juga."


"Mari pak."


"Iya, silahkan."


"Hari ini bapak ganteng banget."


Kalau yang ini Makoto tidak menanggapinya, karena itu berakhir menggodanya atau modus saja.


"Yah di cuekin," suster cantik berambut sebahu itu cemberut dan pergi.


Makoto menarik senyumnya. Berhasil. Sudah tau dirinya beristri masih saja di godain.


"Aku mau pulang. Bosen disini terus, tiap hari makan bubur sama susu. Gak bisa makan apa-apa," keluh Nakura.


"Tapi kan kamu masih sakit sayang. Nanti juga pasti di izinin pulang. Ayo di makan lagi buburnya," bujuk Ryuji dengan sabar.


Mendengar suara yang di kenal itu Makoto mencari sumbernya. Sampai menemukan Nakura dan Ryuji yang hanya berjarak 2 meja dari ia duduk.


Makoto menghampiri keduanya, sudah lama tak pernah bertemu.


"Hai, bagaimana kabar kalian?" tanya Makoto sekedar basa-basi, yang ia herankan adalah kenapa Ryuji bisa se-dekat ini dengan Nakura? Ada hubungan apa mereka ini?


Nakura tersenyum simpul. "Baik, pak Makoto sendiri aja disini? Aoi mana?"


"Aoi bersama Hikaru. Anak pertamaku, kalian pacaran?"


"Gak," jawab keduanya kompak. Hm, kalau barengan begini memang sudah jodohlah.


"Kita udah nikah pak," ungkap Ryuji dengan wajah yang sedih, peristiwa itu masih melekat di pikirannya dimana ada orang misterius membawa senpi (senjata api) berusaha mencelakai Nakura.


"Baguslah kalau menikah. Siapa yang sakit?" Makoto merasa senang juga bahagia, akhirnya Ryuji bisa menemukan pengganti Aoi.


"Aku pak. Bukan sakit, melahirkan saja."


"Kok bisa barengan sama Aoi ya?" Makoto heran, apa hanya kebetulan?


Nakura mengernyit tak faham. "Maksud bapak? Barengan sama Aoi? Lahiran juga?" tebaknya.


Makoto mengangguk. "Dan namanya Hikaru. Apa anak kalian sudah di berikan nama? Kalau boleh tau siapa?"


"Aiko, Ryuji yang memilihkannya pak. Namanya bagus, kembar seperti teman sekelasnya Aoi, namanya Hikari. Dulu dia adalah sekretaris kelas," Nakura mulai bercerita.

__ADS_1


"Lalu, Hikari sekarang?"


"Hikari mengurus toko rotinya. Dia sibuk membantu ibunya, hidup tanpa seorang ayah sejak lahir ke dunia. Ayahnya Hikari kecelakaan selama perjalanan menuju ke Jepang setelah pulang dari luar negeri," perasaan Nakura kembali sedih, nasib teman-teman Aoi tak sempurna seperti temannya yang selalu bahagia.


"Maaf, lupakan saja. Kita bahas yang lain daripada bersedih. Apa kamu sering bermain dengan Aoi? Kalian sudah berdamai ya?" Makoto tau dari Ryou, perasannya lega dan tenang setelah mendengar kabar Aoi berteman baik dengan Nakura.


"Sudah pak. Aoi sangat ramah dan humble. Aku sudah meminta  maaf karena dulu membuat Aoi marah dan kesal."


"Lebih baik begitu. Oh ya, aku harus kembali. Aoi menungguku, nanti dia nangis karena terlalu kangen," ucap Makoto percaya diri, kalau Aoi dengar mungkin bantal empuk sudah melayang untuk di lempar.


Nakura terkekeh. "Iya pak, silahkan. Sampaikan salamku pada Aoi ya. Selamat pak, anaknya perempuan."


"Selamat juga untuk kalian berdua. Selamat pagi dan beraktifitas," Makoto melangkah pergi.


Nakura menghela nafasnya. "Aku pingin liat Aoi. Tapi gak mau menganggu pak Makoto yang lagi kangen," raut wajahnya sedih, sudah berminggu-minggu tak bertemu dengan Aoi.


"Kalau Aoi sudah di perbolehkan pulang, kita ke rumahnya ya?"


Nakura mengukir senyumnya. Benarkah?


"Makasih sayang," Nakura mengecup pipi Ryuji, hatinya sangat menyayangi suaminya itu dari dulu sampai kapan pun.


"Sama-sama," Ryuji merapikan rambut Nakura yang menutupi sebagian wajahnya, ia ingin melihat sepenuhnya wajah cantik sang istri.


***


"Mas, kayaknya perlu di ganti popoknya."


"Iya, biar suster aja yang gantiin. Aku gak bisa, nanti kulitnya bisa iritasi."


Seorang suster cantik yang tadi menggoda Makoto itu melangkah masuk. Sempat terkejut dengan kehadiran Makoto.


"Pak ganteng? Kenapa disini?" karena namanya tidak tau, jadi nama pak ganteng cocok untuk Makoto.


Aoi mendengus kesal. Pak ganteng katanya?


'Itu suster genit banget sih. Gak tau kalau mas Makoto itu suamiku?' batinnya kesal.


"Kamu gantiin popoknya yah. Aku mau melepas kangen sama istriku. Bisa kan?"


Terkejut sekaligus sakit hati ketika kata istriku terlontar dari Makoto.


"Pak ganteng udah nikah? Ini anaknya ya?"


"Iya! Itu anakku! Sana gantiin cepetan," seperti mengusir, Aoi tak suka dengan suster genit itu. Sepertinya menunjukkan rasa tertaril pada Makoto. Aoi bisa merasakannya dari tatapan suster genit yang jarang berkedip itu.


"Gitu aja marah. Galak banget sih," sahut si suster kesal.

__ADS_1


Setelah suster genitnya pergi, Makoto duduk di kursi yang dekat dengan Aoi.


"Kamu udah berdamai sama Nakura ya?"


"Iya. Kamu tau darimana?"


"Ada deh. Kepo!" Makoto tersenyum penuh arti. Ini rahasia hati dan perasaan, hm.


"Mas, aku serius," wajah Aoi berubah datar.


"Tau dari Ryou. Dia selalu memberikan informasi tentang kamu. Makannya kenapa Ryou dekat banget sama kamu. Dia pingin tau apa aja yang kamu lakukan terus lapor ke aku deh," dengan riangnya Makoto mengucapkan itu. Seperti anak kecil yang mendapatkan permen kaki.


'Oh kirain Ryou suka sama aku. Terlalu ge'er banget ya aku?' batin Aoi, dugaannya salah ternyata itu alasannya.


Melihat Aoi senyum-senyum pun aneh.


"Kamu kenapa senyum? Ada yang lucu?"


Aoi menatap Makoto kaget, jangan sampai tau kalau di pikirannya sekarang masih ada Ryou si tampan bodyguard.


"Kenapa aku bisa cinta sama kamu?" Aoi hanya iseng bertanya, entah Makoto sanggup menjawabnya atau diam. Dulu ia tidak mencintai Makoto, bahkan membencinya.


"Karena cinta datang itu gak akan ada yang tau. Seperti aku dan kamu. Awalnya aku menolak perjodohan ini, tapi setelah aku mengenalmu lebih jauh kamu itu baik. Baik hatinya, meskipun galak terus," di akhir ucapannya Makoto tersenyum, ia rindu dengan omelan Aoi.


"Apa?! Galak? Aku gak galak ya! Cuman marah aja," sangkal Aoi salah tingkah. 'Galak juga bukan berati marah, bisa aja karena perhatian atau cemburu,' ucapnya dalam hati, ingin di sampaikan tapi Makoto akan semakin ge'er.


"Di Fukuoka, setiap aku liat taman selalu ingat kamu. Aku duduk disana sendirian," dimana ia duduk memandangi foto Aoi, suasana taman melekat dengan istrinya itu.


"Taman? Kenapa gak sama ayah dan mama aja?" Aoi pikir Makoto akan selalu bersama dengan orang tuanya, tapi memilih sendiri.


"Karena aku ingin membayangkanmu sendiri. Kapan-kapan kita ke sana lagi ya?"


"Kemana? Fukuoka?"


"Kemana aja kalau itu mau kamu," Makoto hanya ingin membahagiakan Aoi.


"Makasih ya mas. Selalu ada di sisi aku selama ini," Aoi memeluk Makoto dengan hati yang rindu teramat dalam.


"Sama-sama sayang."


***


Mentok idenya nih gak tau udah buntu.


8:45 malam.


Bye manis.

__ADS_1


__ADS_2